Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 16


__ADS_3

Neera Pov


 


Sepanjang hari ini aku begitu gelisah setelah pertemuan di bandara tadi. Bisa\-bisanya aku begitu ceroboh dan menabrak seseorang yang lebih parahnya itu dia.


Untungnya seminar hari ini berjalan lancar dan tanpa masalah, baguslah mereka membuat suasana kondusif sehingga aku bisa mengalihkan pikiranku sejenak.


Huffftt... bagusnya aku bertemu dengannya di London, sehingga dia tidak bisa menebak keberadaanku. Ku harap dia tidak mengenaliku, ternyata sulit juga berpura\-pura.


Terima kasih kepada Tuhan yang telah memberikanku otak yang mampu bekerja cepat. Apa jadinya dia bisa menangkapku bisa tamat riwayatku.


Kini aku sudah tiba kembali di Bandara Edinburg dan melajukan mobilku untuk segera pulang. Tidak lupa aku membelikan hadiah untuk triplets karena telah memberikan ku izin pergi hari ini. Begitu juga dengan nanny mereka. Sebagai ucapan terima kasihku telah menjaga mereka.


Tidak berapa lama mobilku membelah jalanan Edinburg yang di penuhi perbukitan dan gedung\-gedung tinggi model klasik aku telah sampai di depan rumah sederhana kami.


 


"Assalamu'alikum my babies triplets" sapaku memasuki rumah.


"Wa'alaikumsalaam bunda" terdengar suara padu dari ketiga buah hatiku.


 


Mereka berlari memelukku dan memberikan ciuman padaku yang sudah berjongkok sembari merangkul mereka secara bersamaan


Inilah yang membuat lelahku hilang segera setelah pulang kerja, bahkan perjalanan bolak balik london tidak berasa sama sekali setelah melihat senyum di wajah mereka.


Mereka seperti vitamin dan candu bagiku. Triplets alasanku selalu ingin cepat pulang, mereka lah yang membuatku tidak bisa berpisah sehari semalam dengan mereka.


 


"Bunda punya sesuatu untuk sayang-sayangnya bunda" seruku mengeluarkan bingkisan dari tanganku.


"Yeayy..., i want it, bunda" balas mereka serentak.


"oke, here you go.." aku memberikan mereka satu persatu.


"Thank you bunda, we love you" mereka kembali memelukku.


"you're welcome honey" balasku.


 


Kemudian aku membawa mereka ke ruang keluarga dan memberikan nanny mereka hadiah yang ku belikan.


 


"Terima kasih Zee, you're so kind" ucap nanny triplets.


"No Risse, seharusnya aku yang berterima kasih padamu karena mau menjaga mereka" balasku sembari memandang ketiga anakku.


"Aku sangat senang Zee, mereka anak yang baik. Oh ya apakah aku sudah boleh pulang sekarang ?" tanyanya.


"Apakah kamu tidak tinggal untuk makan malam ?" tanyaku.

__ADS_1


"No, Zee kami sudah selesai makan malam barusan, aku juga membuatkan lauk untukmu di dapur. Jangan lupa makan nanti" tutur nanny mereka dengan senyuman.


"Oh, Thank you so much Risse" ucapku tersentuh.


"Sama-sama Zee, aku akan pamit sekarang anakku sudah menunggu di depan" balasnya.


"Baiklah Risse, sekali lagi terima kasih" ucapku tulus.


 


Disini mereka memanggilku Zee, karena lebih simpel. Panggilan ini kudapatkan begitu saja ketika mulai mengajar di universitas dan begitulah seterusnya.


Nanny triplets juga hanya memanggil namaku karena aku meresa tidak nyaman di panggil nyonya, Mrs, atau apapun itu oleh orang yang usianya jauh di atasku. Apalagi usianya sepantaran Ama, jadi aku meminta untuk di panggil nama saja.


Setelah puas bermain dengan mainan baru mereka akhirnya berakhir dengan pertengkaran yang memperebutkan satu pesawat mainan.


Pertengkaran itu semakin menjadi tatkala Qaivan menarik pesawat itu dengan kuat dan membuat Qeenan terjatuh telungkup di lantai. Pecahlah tangisan bocah dua tahun itu, sementara Qalundra hanya terdiam memberhatikan kedua saudaranya.


 


"Baby, give it to me !" ucapku sembari mengambil pesawat itu dari tangan Qaivan.


"Now, pick up your chair and reflection your self" ucapku tegas.


 


Segera keduanya mengambil kursi kecil mereka dan menempatkannya di depan dinding ruang bermainnya.


Disana aku menyuruh mereka duduk menghadap dinding dan memikirkan perbuatan mereka sehingga nantinya mereka akan sadar.


 


 


Kembali aku melanjutkan makan yang terbengkalai sambil mengambil Qalundra dalam pelukanku. Sesekali kulihat ke ruangan main untuk mengecek mereka sebelum waktunya habis.


Setelah selesai makan dan mencuci piring kotor aku kembali keruangan itu, dan meninggalkan Qalundra di ruang tengah yang sedang asik bermain.


Lima menit telah berlalu, aku harus menemui mereka. Perlahan aku duduk dibelakang mereka dan membalikkan kursi Qaivan dan membuatnya berdiri.


 


"Bunda have talked to you for sharing with your brother and sister, right ?" tanyaku lembut.


"Yes bunda, i'm solly" jawabnya hampir menangis.


"Baby, bunda sayang padamu makanya bunda tidak ingin kalian melakukan kesalahan, bukankah bertengkar itu perbuatan buruk ?" tanyaku lagi.


"yes bunda" jawabnya sudah terisak begitu juga Qeenan yang masih duduk di kursinya.


"Bukankah kamu salah ?"


"yes bunda ?"


"Apa kesalahanmu ?"

__ADS_1


"Fight with Qee"


"So, what do you do ?"


"I plomise don't do that anymole" jawabnya berderai air mata.


"Okay, i keep your word" jawabku sambil memeluknya erat dan menciumi wajahnya.


 


Kemudian aku mendudukkan Qaivan disebelah yang masih terisak dan memeluk pinggangku kemudian membenamkan mukanya di perutku. Setelahnya ku balikkan kursi Qeenan, tangisnya langsung pecah ketika melihatku.


Langsung ku peluk tubuh kecilnya, ku elus belakang kepalanya dan setelah agak tenang kubawa berdiri tegak lagi.


 


"So, apakah yang ingin kamu katakan ?"


"i"m solly bunda"


"for what ?"


"fight with Qai" dengan napas tersenggal menahan tangisnya.


"Apakah itu perbuatan baik?"


"No bunda"


So, what do you do ?"


"I"m plomise don't do it, anymole"


"oh sayang, give me hug baby" Aku membawa Qeenan dalam pelukanku dan menciumi wajahnya.


"Sayang, bunda sangat menyayangimu, bunda tidak ingin kalian melakukan hal buruk, oleh sebab itu bunda meminta kalian untuk berpikir" aku kembali memeluk keduanya dan menciumi mereka.


"Sorry baby, now look at bunda" aku mendudukkan mereka di pangkuanku.


"You're a brother, you must loving and caring each other because you're live in my tummy together"


"Allah creat you for guard each other and loving. Allah will loving you if you love your brother and sister, right ?" tanyaku.


Mereka mengangguk bersamaan.


"Sharing is caring, honey" balasku menciumi puncuk kepala keduanya.


"Now minta maaf and give you brother kiss and hug" titahku.


 


Mereka saling berpelukan sembari mengucapkan permintaan maaf dan memberikan ciuman satu sama lain. Kami kemudian berpelakan bersama dan keluar dengan membawa kembali kursi mereka masing\-masing.


Begitulah caraku mendidik mereka agar sedari kecil mereka di berikan ruang sendiri untuk berpikir atas tindakannya dan menyadari kesalahan mereka.


Setelahnya mereka kembali bermain bersama dan akhirnya satu persatu mengusap\-usap matanya pertanda mata mereka sudah tidak tahan untuk terpejam sementra yang punya mata masih bertahan untuk bermain.

__ADS_1


Segera ku bawa mereka ke kamar setelah membereskan mainan mereka masing\-masing dan meletakkan di ruangan bermain. Tidak membutuhkan waktu lama ketiganya sudah tertidur lelap dan masuk ke alam mimpinya.


 


__ADS_2