Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 118


__ADS_3

Diluar dugaan Ayyub ternyata Neera telah lebih dulu mengetahui bahwa yang memanggilnya adalah Hanna.


Lebih dari itu bahkan Neera juga melihat dari sana ada kelurga Ayyub dan sepasang suami istri baya yang ia taksir adalah orang tua Hanna.


Bagaimana bisa ia lupa, orang-orang yang hampir empat tahun lalu menghinanya habis-habisan atas cintanya pada anak mereka dan mengusir dirinya tanpa belas kasihan kini berada pelupuk matanya.


Lebih mirisnya lagi mereka sedang bersama keluarga yang akan digadang-gadang nantinya menjadi mantu mereka disaat si anak yang akan dinikahkan masih berstatus suami sekaligus lelaki yang dicintainya.


Bahkan mereka terlihat begitu akrab dan dari penampilannya Neera juga yakin bahwa mereka adalah salah seorang pengusaha kenamaan ibu kota dinegrinya.


Merekalah yang membuat Neera sampai sejauh ini. Melangkah meninggalkan kampung halaman dan keluarga tercintanya demi menyelamatkan buah hati yang ia perjuangan dengan darah, keringat dan air mata.


Memang tiada kebencian ataupun dendam yang ia rasakan namun luka itu seakan masih terasa, kembali terkoyak saat melihat betapa mereka ingin Ayyub melupakan dirinya. Bahkan mereka terang-terangan ingin menikahkan mereka.


Apakah Ayyub memang seorang yang ditakdirkan untuk dirinya, apakah ini hanya permainan takdir semata. Bagaimana jika jodoh mereka telah habis dan ternyata Ayyub bukanlah seorang yang diperuntukkan untuk dirinya dan triplets.


Apa yang harus ia lakukan kedepannya. Ia sudah terlanjur menggantungkan dirinya pada lelaki itu dan kini ia rasanya tidak akan sanggup jika harus kehilangan lagi.


Bagaimana ia harus menjelaskan pada triplets mengenai kepergian ayahnya kelak jika ternyata Ayyub tidak pernah kembali lagi.


Biarlah segalanya ia serahkan pada takdir dan kembali Neera meminta untuk diberi kekuatan dalam menerima segala kemungkinan terburuk sekalipun.


Sebenarnya Neera sangat memahami kegelisahan dan kebingungan Ayyub saat tadi ditempatkan pada situasi itu.


Neera sangat paham bahwa Ayyub tidak akan bisa memilih diantara dirinya dan triplets dengan keluarga yang telah membesarkannya.


Oleh sebab itu ia sekali lagi mengalah dan secara tidak langsung memberikan solusi pada Ayyub untuk lebih memilih keluarganya.


Bagaimanapun posisi Ayyub sebagai seorang anak laki-laki memang harus mengutamakan ibunya yang jelas-jelas sudah ada di depan matanya.


Maka dengan segala kerelaan hati Neera mencoba meredam keegoisannya dan melepaskan Ayyub.


Namun siapa sangka, rasanya sungguh semenyakitkan ini. Apalagi melihat suaminya digelendoti oleh wanita lain walau hanya sesaat.


Sementara Neera yang pergi sembari membawa hatinya yang luka Ayyub malah dibuat resah dengan kepergian anak dan istrinya.


Ingin ia mengejar mereka atau setidaknya menelpon untuk memastikan Neera baik-baik saja namun tak bisa.


Saat ini ia telah diinterogasi oleh keluarganya dan ditodong untuk sarapan pagi bersama di restoran yang sudah mereka reservasi.


Disisi lain Ayyub tetap memerintahan pada semua staffnya mengenai siapa dirinya dan bertingkah seakan tidak mengenal dirinya saat berpapasan.


Pesan itu ia sampaikan pada sang manager melalui pesan seingkat dengan tulisan capslock.

__ADS_1


Saat ini mereka sudah duduk direstoran dan menunggu pesanan mereka.


"Bang Ayyub dari mana, kok bisa ada disini ?" tanya Nola.


"Ya bisa lah, abang kan kerja bawa pesawat" balas Ayyub.


"Iya tapi kok bisa tiba-tiba gitu" tanya kembali adiknya.


"Kok tiba-tiba, kan abang biasanya juga begini keliling benua. Kebetulan abang mendaratnya di Paris ya mau gimana lagi. Kamu nih yang aneh" jelas Ayyub cuek.


"Iya Nola, kan itu kerja abang kamu. Terus kenapa tadi malam mama telpon hpnya gak aktif Yub ?" lerai sang mama sekaligus dengan pertanyaan lain.


"Ayyub lagi kerja ma, kan kalau di pesawat hpnya harus dimatikan. Ayyub sampainya baru subub tadi ma" balas Ayyub santun.


"Yasudah, rencana berapa lama kamu disini ?" tanya mama Ayyub kembali.


"Belum tau ma, jadwal aku belum keluar lagi" jawab Ayyub.


"Yasudah kalau gitu kamu ikut kita aja liburan sampai jadwal kamu ada lagi" putus sang mama yang tidak bisa dibantah.


"Ohiya yub, tadi itu siapa yang ada dimobil ?" tanya Hanna yang sepertinya sempat melihat sekilas.


"Bukan siapa-siapa" balas Ayyub acuh.


"Gak tau" balas Ayyub kembali cuek.


"Sayang, gak boleh begitu. Hanna tanyanya baik-baik loh masa kamu jutek begitu" tegur mama Ayyub.


"Iya Ayyub gak tau ma" balas Ayyub sopan.


"Yasudah kalau kamu tidak tau, tapi jangan jutek gitu gak sopan jadinya" lerai mama Ayyub yang sudah melihat perubahan mood pada anak kebanggaannya.


"Ohiya Bang, katanya Abang kenal ya dengan Zee yang punya 'Zane' itu ya ?" tanya Nola memancing reaksi abangnya sekaligus Hanna.


"Hmm" balas Ayyub.


"Kok hmm aja sih, tau gak Bang kemarin kami lihat dia loh di Paris Fashion Week. Cantik banget keren lagi uhhh juara deh" puji sang adik menggebu-gebu yang hanya ditanggapi senyuman oleh Ayyub.


"Iya yub, saking terpesonanya kami jadi kehabisan koleksi yang baru keluar kemarin. Katanya langsung sold out. Kamu boleh minta tolong beliin lagi dong Yub, sayang banget soalnya" keluh sang kakak yang mencoba mencari celah.


"Kalau sudah habis mah aku gak bisa bantu lagi, tunggu aja seri selanjutnya. Aku juga gak enak ngerepotin dia lagi kemarin kan udah" balas Ayyub santai.


"Yah sayang banget, padahal kita udah jauh-jauh ke Paris loh" Melas sang kakak.

__ADS_1


"Iya mau gimana lagi, anggap aja liburan" jawab Ayyub santai.


"Kenapa gak minta tolong Hanna saja, katanya dia kenal dekat dengan Zee itu ?" tanya suami Riezka tiba-tiba yang membuat muka Hanna seketika pias.


"Hah? gimana ?" tanya Hanna berusaha tenang namun terlambat Ayyub sudah menangkap reaksi sesaatnya itu.


"Ohiya ya, tau gak Bang. Kak Hanna bahkan sempat diminta untuk jadi modelnya Zane loh, tapi jadwal Kak Hanna penuh banget. Sayang sekali ya" sambung Nola.


"Oh ya ?" tanya Ayyub sarat dengan ketidak percayaan.


"Iya benar, bahkan tadi malam dia diundang untuk dinner merayakan kesuksesan acara mereka di restoran dekat Menara Eiffel. Tanya saja kalau tidak percaya" pembenaran dari mama Ayyub yang membuat Hanna semakin tersudut.


Seketika senyum smirk muncul di wajah Ayyub, ternyata Hanna yang dikiranya baik bahkan dipuja-puji oleh keluarganya ternyata pembohong.


Ingin sekali ia membongkar kedok Hanna sat itu namun tidak mungin juga jika ia mengatakan bahwa dirinya turut hadir dalam makan malam itu sementara dirinya mengaku baru datang tadi subuh.


Untuk memastikan segera Ayyub mengirimi asisten Neera pesan memastikan kalau-kalau dirinya ternyata salah tidak melihat Hanna dalam acara itu sekaligus mengkonfirmasi keikutsertaan Hanna sebagai model yang dipakai Neera.


Sementara disisi lain Neera telah sampai di bandara dan meminta waktu sebentar sopir yang mengantarkan mereka untuk sejenak membongkar barang mereka.


Segera Neera memindahkan barang-barang Ayyub ke tas kerjanya. Dua set seragam pilotnya lengkap dengan atribut. Ditambah beberapa baju santai dan baju kerja beserta kebutuhan lain yang mungkin dibutuhkannya.


Tidak ada lagi barang Ayyub yang tersisa di travel bag besar mereka hanya ada pakaian Neera dan triplets. Setelah memastikan semua rapi dan tidak bercecer Neera menutup kembali koper dan menguncinya begitupun dengan milik Ayyub.


"Pak, saya titip tas bapak. Tapi nanti sebelum memberikannya tolong hubungi bapak dulu. Biar nanti bapak saja yang memutuskan bagaimana mengambilnya. Jangan diantar ke kamarnya langsung" pesan Neera pada petugas yang menyopiri dirinya dan teiplets hingga ke bagian lapangan terbang.


"Baik bu, nanti akan saya hubungi bapaj dulu" jawab petugas itu sembari membukuk.


"Ohiya, terima kasih atas bantuannya selama kami disini. Senang bertemu denganmu. Semoga kita berjumpa lagi. Ini sedikit rasa terima kasihku untukmu, semoga bermanfaat" Neera mengucapkan terima kasih tulusnya sembari memberikan sebuah amplop yang tentu saja berisikan uang.


Neera merasa sangat terbantu dengan petugas itu yang senantiasa siap membantu Neera kapanpun. Menyopiri, membawakan barang bahkan beberapa kali sempat membantu menggendong triplets yang tertidur.


"Sama-sama buk, saya yang seharusnya berterima kasih. Ibu sangat baik, saya senang bekerja untuk ibu. Sampai bertemu lagi buk. Terima kasih banyak ibu. Semoga selamat sampai tujuan" balas petugas itu dengan membungkuk lebih dalam lagi sebagai ungkapan terima kasih terdalamnya.


"Yasudah, kami berangkat dulu ya. Bye" balas Neera yang menuntun triplets menaiki tangga pesawat sementara barang mereka dibawakan oleh kru pesawat.


Setelah memastikan ketiga buah hatinya duduk dengan aman. Neera kembali ke kursinya dan memasang sabuk pengaman untuk dirinya karena baru kru kabin mengumumkan perintah itu sebab pesawat akan segera lepas landas.


Sembari melihat ke jendela jauh dilubuk hatinya berharap bahwa tiba-tiba pria itu akan datang dan menghapiri mereka namun harapan hanya tinggal kenangan.


Hingga pesawat itu perlahan bergerak yang terlihat hanya mobil yang mereka tumpangi tadi perlahan menjauh dan menyisakan bangunan bandara yang lama kelamaan mengecil seiring menjauhnya jarak mereka.


"Good Bye Paris, semoga takdir mempertemukan kita lagi baik dirimu begitupun dengan dirinya. Terima kasih untuk kebahagiaan yang telah kau pancarkan untukku" begitulah salam perpisahan Neera untuk kota yang menjadi kiblat fashion dunia dan telah turut serta dalam kisahnya.

__ADS_1


__ADS_2