
Ayyub dan Neera masih betah duduk di sofa grey itu. Sesekali Ayyub menciumi puncak kepala Neera sembari mengelus punggungnya yang masih naik turun.
Neera terlihat seperti anak kecil yang tengah menangis karena tidak mendapatkan keinginannya. Entah mengapa Ayyub begitu senang melihatnya terasa mengeloni anak.
Pembicaraan mereka kali ini menyisakan ketakutan bagi Neera. Tetapi Ayyub masih setia dengan ketidak pastiannya. Ayyub memilih bungkam dan mengikat Neera.
Tentu saja Ayyub ingin segalanya terselesaikan dengan baik, tetapi ia juga tidaj bisa membiarkan Neerae menghilang lagi setelah menunggu selama tiga tahun.
Ayyub akan menyelesaikan permasalahannya tetapi tidak dengan melepas keluarga kecilnya. Ia tidak mungkin bertindak gegabah saat ini.
"Maafkan aku sayang. Aku tidak akan mungkin melepas kalian. Karena aku bertanggung jawab penuh untuk keluarga kita. Bertahanlah sebentar, aku tidak bisa menjanjikan apapun saat ini. Tetapi sebagai suami aku minta kamu jangan pergi kemanapun" ungkap Ayyub.
Malam itu Neera lelah setelah menangis dan akhirnya tertidur dalam dekapan suaminya. Perlahan Ayyub memindahkan tubuh Neera ke kamar mereka yang sekarang sudah ditempati triplets.
Ayyub terus memandangi wajah tidur mereka satun persatu. Sayang sekali ia baru menemukan mereka sekarang, andai dahulu ia berusaha lebih keras dan tidak menerima semua yang ada pasti sekarang Neera tidak akan sesulit ini.
Anak-anaknya tumbuh tanpa seorang ayah disisi mereka. Apalagi Neera yang harus melewati masa hamil, melahirkan dan membesarkan anak mereka seorang diri.
Ayyub terus memandangi mereka hingga ia terpikirkan sesuatu, kemudian ia segera mengambil ponselnya dan melakukan panggilan sembari berjalan ke dekat jendela kamar itu.
"Halo"...
.....
"Ya, bagaimana keadaannya ?"
......
"Baguslah, sudah semua ?"
..….
"Baik, nanti bertemu saat selesai"
.....
"Ya, kumpulkan sebanyak-banyaknya"
__ADS_1
.....
"Bagus, terima kasih"
.....
"Bye"
Ayyub mengakhiri panggilan tersebut. Secepat itu pula mukanya berubah menjadi tegang dan tangannya mengepal kuat.
Tidak berselang lama, kembali ponsel itu berbunyi. Kali ini telpon dari sang mama. Wajar saja karena sekarang di kampung halamannya sekarang siang hari.
"Halo ma"
"Halo Ayyub, kamu dimana ?"
"Lagi diluar negri ma, istitahat terbang"
"Kamu kemana saja, sudah hampir dua minggu kamu tidak pulang kerumah"
"Kan aku tinggal di apartement ma, lagipula aku juga sudah izin mama waktu itu"
"Sudahlah ma, jangan bahas ini lagi. Ayyub kan sudah bilang bahwa Ayyub tidak mau menikah lagi"
"Kenapa memangnya, Vina perempuan baik-baik. Tidak seperti mantan kamu itu yang kabur seenaknya, suka selingkuh, gila harta, kampungan, bodoh lagi"
"Sudah ma, apa mama lupa bahwa Neera pergi karena mama. Dia wanita baik, Ayyub yakin dia tidak akan berbuat buruk seperti yang mama sangkakan. Mama harus ingat dia adalah perempuan yang anak mama cintai" jelas Ayyub memberi pengertian.
"Apanya yang bagus dari dia, palingan sekarang dia juga sudah jadi gembel. Mendingan kamu sama Vina saja yang sudah jelas bibit bebet bobotnya. Keluarganya kita juga sudha kenal baik".
"Ma, Ayyub mohon jangan memaksa Ayyub. Tidak ada pernikahan lagi".
"Kamu bagaimana sih, apa otak kamu sudah diracuni oleh perempuan itu, dia sudah pergi dengan laki-laki lain. Pokoknya mama tidak mau tau, kamu harus menikah dengan Vina"
"Mama, Ayyub mohon jangan, jika mama terus begini terpaksa Ayyub disini saja. Ayyub tidak ingin kembali"
"Bagus ya sekarang kamu berani mengancam mama, kamu mau jadi anak durhaka. Nikahi Vina atau setidaknya kalian tunangan dulu. Mama sudah ingin menimang cucu dari kamu. Tidak ada penolakan, mama tidak mau kamu membuat malu keluarg kita"
__ADS_1
Lama Ayyub terdiam memikirkan permintaan mamanya. Memang sangat tidak mungkin jika ia menolak permintaan mamanya saat ini, terlebih beliau telah mewanti sedari awal. Akan tetapi tidak bisa juga jika dia menikahi Vina, wanita itu sungguh sangat tidak dijnginkannya. Lagipula Neera adalah satu-satunha wanita yang dicintainya dan hanya dialah istri Ayyub dan ibu dari anak-anaknya.
"Ayyub, sudahlah jangan kelamaan mikir. Pokoknya mama mau dua minggu lagi kamu tunangan dengan Vina, mama akan urus semuanya dan kamu hanya tinggal datang setelah jadwal penerbanganmu usai"
"Hmmm terserah mama saja" pasrah Ayyub.
"Satu lagi, kalau kamu kemana-mana itu bialng sama Vina, dia kecariin kamu itu. Apalagi sekarang dia sudah jadi tunangan kamu. Kalian harus sama-sama, kalau bisa ambil jadwal terbnag bersama, kamu harus menjaga calon istrimu itu"
"Belum jadi tunangan ma, apalagi calon istri"
"Yaudah sama aja itu, kamu ngak usah ngeyel"
"Hmmmm, mama bagaimana kabarnya ?" Ayyub berusaha mengalihkan percakapan mereka.
"Mama baik-baik saja, semua di rumah baik. Kamu bagaimana kabarnya ?"
"Alhamdulillah Ayyub baik ma, Mama jaga kesehatan banyakin istirahat"
"Iya mama tau, kamu juga ya. Jangan banyak tingkah disana. Mama gak suka kalo kamu sampai ikut-ikutan ke bar atau minum-minum itu. Lihat Vina dia sama sekali tidak kenal dunia malam apalagi minuman beralkohol, makanya mama percayakan kamu sama dia"
"Iiyaaa, baiklah mama yang paling cantik. Ayyub mau tidur dulu ya ma. Sudah malam disini"
"Iya kamu istirahat, jangan lupa pesan mama".
"Iya ma, bye mama sayang"
"Bye anak mama"
Ayyub menutup kembali telpon itu setelah memberi salam pada sang mama. Tiba-tiba muncul ide bagus dikepalanya dan menghasilkan senyuman smirk di wajah tampannya.
Kembali Ayyub menekan beberapa tombol di ponsel pintarnya untuk mengirim pesan pada seseorang. Setelahnya ia berjalan menuju kasur besar itu dan tidur disamping istrinya sembari memeluk erat wanita itu. Ayyub menghirup dalam aroma Neera yang mampu memberi ketenangan pada jiwanya yang tengah bergejolak.
Sejenak biarkan dia menemukan kedamaian, menjalani hari bersama keluarga kecilnya. Sebelum semuanya tidak sempat lagi.
Ketakutan tentu saja menyelimuti Ayyub, khawatir jika Neera pergi lagi entah kemana sembari membawa buah hati mereka, namun semua tidak bisa terelakkan lagi. Tanggung jawabnya sebagai suami dan kewajibannya sebagai anak. Tidak mungkin ia meninggalkan salah satunya.
Apakah mungkin kali ini dia mengorbankan Neera kembali. Entah sudah berapa luka yang ia torehkan kepada istrinya itu. Mungkin saat ini Neera bisa memaafkan dia, tapi bagaimana jika lain kali. Meskipun hatinya teramat baik Neera tetap manusia yang memiliki batas kesanggupan.
__ADS_1
Terlebih istrinya itu telah memperingati mengenai anak mereka. Pastinya triplets akan ikut terluka dengan keadaan ini. Secara tidak langsung mereka menjadi korban dalam situasi ini.
"Tuhan.., semoga engkau berikan jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah hamba, dan jagalah keluarga kecil hamba ini jika suatu saat nanti hamba tidak berada di samping mereka" batin Ayyub dalam do'anya.