
"Sayang sekalii.. Padahal ini enak rasanya" Ucap Shata sembari membuka buntalan berwarna putih yang berisi bapao buatan ibu Alysa.
"Bisa-bisanya aku lupa, seharusnya tadi ku berikan pada ayah saja agar di makan di kuil daripada menjadi busuk begini. Mubadzir sekali..!!" Gumam Shata yang menyayangkan keteledorannya. Diapun segera merapikan ruangannya dan membersihkan dirinya, kemudian dia merebahkan tubuhnya di atas alas kasur yang empuk.
"Hah.. Sudah larut malam, sayang sekali ayah belum bisa di sini bersamaku, aku sangat iri kepada Pangeran Tara, dia memiliki orang tua yang lengkap, kehidupan yang mewah tapi kenapa dia malah ingin merasakan hidup seperti rakyat biasa ya? Padahal rakyat sendiri menginginkan kehidupan istana. Tapi kenapa juga dia memakai topeng emasnya? Bukankah selama hidup bersamaku dia tidak pernah memakai topengnya? Jika karena kutukan itu, kenapa aku tidak mati dari dulu? Bahkan aku selalu melihat wajahnya setiap hari bahkan setiap detik. Apa ada sesuatu ya? Aarrggh.. Ternyata kehidupan di istana itu sangat sulit ya. Daripada aku makin pusing, mending aku tidur saja" Oceh Shata sebelum dia tidur.
Shatapun tertidur dengan sangat nyenyak. Selain karena nyaman, dia juga sangat kelelahan hingga dia bangun kesiangan.
......................
Keesokan harinya
"Hmmm.. Apa sih ini" Ucap Shata sembari mencoba menepis telinganya yang terasa tidak nyaman dengan tetap menutup matanya.
"Arrggghh... hewan apa sih di sini" Teriak Shata dengan kesal kemudian langsung terbangun.
"Astagaa...ternyata anda Pangeran..!!" Ucap Shata.
"Hihihihihi.. udah siang begini kamu belum bangun juga. Bahkan aku masuk ke sinipun kamu tidak mendengarnya. Pengawal macam apa kamu ini" Ucap Pangeran Tara.
"Mm-aaf Pangeran, saya sangat kelelahan, hingga tak mendengar Pangeran masuk" Jawab Shata.
"Ya sudah, cepat cuci muka dan sarapan. Sup mu sudah sedingin es" Ucap Pangeran Tara.
"Siap Pangeran, terima kasih. Apa pangeran yang membawakan saya semua makanan ini?" Jawab Shata.
__ADS_1
"Ya tentu bukanlah, ngapain saya bawain kamu makanan, ada pembantu kerajaan tadi kesini dan aku yang menerimanya" Jawab Pangeran Tara.
"Ooh.. Begitu Pangeran.. Hehehehe maaf Pangeran, saya cuci muka dulu" Jawab Shata.
"Ya cepat" Jawan Pangeran Tara.
Shatapun bergegas menuju kamar mandi yang terletak di belakang bangunan rumah miliknya. Dia mencuci muka sembari membersihkan seluruh tubuhnya. Kini dia telah tampak sangat segar, tampan, dan berkharisma.
"Waktunya sarapan" Ucap Shata sembari tersenyum bersemangat karena dia telah merasa sangat kelaparan.
Ceklekkk* bunyi pintu yang dibuka oleh Shata.
"Kamu sudah kembali? Ayo cepat duduk sini, kita makan bersama" Ucap Pangeran Tara.
"Siap Pangeran" Jawab Shata. Shatapun mendekati Pangeran Tara dan segera duduk di bantal kecil yang terletak di sisi meja.
"Yuk makan sama-sama seperti biasa. Jangan canggung seperti ini" Jawab Pangeran Tara sembari memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.
"Hehehe.. Siap Pangeran" Jawab Shata yang kemudian mengambil sebuah tempe dari piring saji.
Disela-sela makan.. Seperti biasa mereka selalu membicarakan banyak hal..
"Kamu sudah tidak penasaran dengan Zio? Padahal aku sangat ingin menceritakan siapa dia" Celetuk Pangeran Tara.
Iya Zio, anak sang pengabdi dewa, Zian. Dahulunya adalah pengawal pribadi Pangeran Tara yang kemudian kini menjadi salah satu pasukan keamanan kerajaan.
__ADS_1
"Ahh.. Zio, sebenarnya saya sangat penasaran Pangeran, tapi saya selalu lupa dan sedikit tidak enak hati jika terus-terusan bertanya pada Pangeran" Jawab Shata sembari tersenyum tipis.
"Padahal aku menunggumu bertanya, jika kamu tidak menanyakan ya aku tidak akan bercerita" Jawab Pangeran Tara.
"Memangnya Zio itu seperti apa Pangeran? Dan kenapa dia tidak menjadi pengawal pribadi Pangeran lagi? Bukankah Pangeran sudah kembali ke istana?" Tanya Shata.
"Emmm ceritanya panjang.." Jawab Pangeran Tara.
"Astaga.. Untung kamu pangeran ya Tara. Kalau bukan sudah ku telan hidup-hidup kamu!" Jawab Shata.
"Hahahahahaha 😂😂😂" Ketawa Keras Pangeran Tara.
"Malah ketawa.. Cepat ceritakan siapa sih Zio.. Kenapa juga dia tidak jadi pengawal pribadimu lagi?" Ucap Shata.
"Jadi gini, Zio sudah menemaniku sedari aku kecil sekitar usia 8 tahun. Dia diperintahkan oleh ayahku untuk menjagaku. Dia seseorang yang kaku, patuh, tetapi sangat setia. Semenjak aku keluar dari istana dan tinggal bersamamu, ada banyak rumor yang menyebar ke seluruh istana" Jawab Pangeran Tara lalu meneguk segelas air.
"Rumor apa Pangeran?" Tanya Shata dengan sangat penasaran.
"Katanya sih dia keturunan dari Kerajaan Baradha tapi kita tidak tahu bagaimana pastinya, untuk itulah dia dipindah tugaskan menjadi penjaga keamanan kerajaan. Padahal dia seorang petarung yang luar biasa, dia pandai memainkan pedang dan panah. Pedangnya sangat besar dan tajam bahkan sangat mengkilap. Dulu, aku sangat senang melihatnya memainkan pedangnya itu, bahkan dia selalu mengajariku bagaimana cara memainkan pedang dengan cepat dan tepat " Jawab Pangeran Tara.
"Tapi Pangeran, berarti pengabdi dewa Zian? Apakah beliau adalah keturunan kerajaan Baradha?" Sahut Shata.
"Emm.. "Jawab Pangeran Tara sembari berfikir.
"Apa iya Pangeran?" Sahut Shata.
__ADS_1
"Kalau menurutku............
......................