Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 226


__ADS_3

Perlahan pergerakan tubuh mengantarkan kesadaran diri seorang pria. Rasa mual pada perut meminta untuk segera dikeluarkan. Sungguh ini begitu menyiksa, belum sempat menginjakkan kaki di lantai Neera juga ikut terbangun lantas memapah suaminya ke kamar mandi.


Cukup lama Ayyub berjuang menuntaskan rasa mual yang menderanya hingga lelaki yang biasanya terlihat tegar itu bersandar pada dinding kamar mandi, sementara Neera masih sibuk mengelap air sisa mencuci muka suaminya.


Dengan telaten Neera mengurusi suaminya yang lunglai tak berdaya. Membantu mandi, menggantikan baju hingga menyuapi Ayyub yang susah sekali menelan makanan.


Beruntung triplets belum bangun sehingga Neera bisa fokus merawat lelaki yang menjadi sandaran hidupnya kini.


Setelah sholat dan membiarkan Ayyub tidur lagi Neera segera beranjak ke kamar mandi. Penuh keraguan Neera menampung urin dan mencoba test kit yang sudah diberikan dokter semalam.


Jantung yang berdegup kencang menandakan kegugupan yang melingkupi hati perempuan yang tengah menunggu hasil test kehamilan itu.


"Bismillah...."


Perlahan Neera meraih test kit yang ia letakkan diatas wastafel, perlahan namun pasti Neera melihat dua garis merah yang jelas.


Entah harus menangis atau tertawa perempuan cantik itu justru melakukan keduanya. Seketika hatinya membuncah, haru dan kebahagiaan menyatu mengeluarkan air mata dan rasa syukur.


Dengan tangan bergetar Neera mengambil wudhu dan melaksanakan sujud syukur atas anugrah dan kenikmatan yang telah Allah berikan.


Satu lagi pr yang harus Neera selesaikan, ia harus memberitahu triplets agar mereka mengerti dan nantinya tidak akan ada rasa ditinggalkan karena pastinya kehamilan akan membutuhkan perhatian khusus bagi Neera maupun Ayyub.


Sekarang terjawab sudah kenapa kondisi Ayyub seperti ini tanpa diagnosa penyakit yang jelas, lelaki itu tengah mengalami couvide syndrom, yaitu gejala ngidam yang dialami suami akibat rasa simpati yang tinggi terhadap istrinya.


"Terima kasih sayangnya Bunda, kamu sudah hadir di perut Bunda, semoga kelak kamu menjadi anak yang sholeh/sholeha dan tumbuh sehat serta pintar, penambah kebahagiaan keluarga kita" tutur Neera untuk pertama kalinya pada buah hati yang kini tengah tumbuh di rahim.


Penuh semangat Neera menyiapkan makan malam untuk keluarga mereka. Hari ini dia akan mengumumkan tentang kehamilannya. Namun, sebelum itu ia harus memastikan perasaan ketiga buah hatinya terlebih dahulu.


"Bunda..., bunda masak apa ?" ternyata si kecil Qeenan sudah berada didapur disusul dua saudaranya.


"Hanya salad sayang, bunda sedang menyiapkan makan malam untuk kita bertiga" lembut Neera dan membawa ketiga buah hatinya untuk duduk di kursi khusus mereka.

__ADS_1


"Sayang-sayang nya bunda.., Bolehkan bunda bertanya sesuatu Nak ?" lembut Neera memulai pembicaraan.


"Tentu saja boleh Bunda, ada apa Nda ?" tanya Qaivan yang diangguki saudaranya.


"Hmmm, apakah kesayangan bunda ini suka jika memiliki adik ?" tanya Neera hati-hati.


"Adik Bunda ? Apakah dia akan lucu sekali dan tidak nakal ?" tanya Qeenan bersemangat.


"Tentu saja Nak, dia nanti akan menjadi saudara kalian dan saling berbagi bersama" ujar Neera dengan senyuman hangat.


"Apakah jika kita punya adik apakah Bunda akan semakin repot ?" sendu Qaivan dengan wajah tertunduk.


"Sayang...., jika kita punya adik bayi tentu saja bunda akan repot tapi semua itu akan membuat kita bahagia. Lagi pula ada abang-abang dan kakak baik yang akan selalu membantu bunda, bukankah begitu sayang ?" senyum Neera penuh kehangatan.


"Tentu saja Bunda, kami anak Ayah dan Bunda yang hebat" seru ketiganya bersemangat.


"Terima kasih sayang, Bunda bersyukur sekali memiliki putra dan putri hebat seperti cintanya Bunda ini" gemas Neera mencium satu persatu buah hatinya.


"Oh sayang.., tentu saja tidak. Apapun yang terjadi kalian adalah cintanya Ayah dan Bunda, semua tidak akan berubah, hanya saja kita memiliki tambahan anggota keluarga lagi dan mungkin saja jika punya adik Qal akan punya teman bermain perempuan" jelas Neera yang membuat wajah balita kecil itu berbinar.


"Qal mau Bunda, Qal mau" soraknya yang memenuhi ruang makan kamar hotel mereka.


Tanpa mereka sadari keributan itu telah membangunkan seorang pria dewasa yang kini tengah berjalan menuju meja makan.


"Wah.. seru sekali pembicaraannya. Apakah Ayah boleh ikut ?" seru Ayyub yang langsung menempati kursinya.


"Tentu saja boleh Ayah, kita sedang membicarakan adik" jelas Qal penuh semangat.


"Adik ?" bingung Ayyub.


"Iya Ayah, Bunda tanya apakah kita mau punya adik lagi" jelas Qee.

__ADS_1


"Lalu, apakah kalian menginginkannya ?" tanya Ayyub penasaran.


"Tentu saja Ayah, kami sangat ingin punya adik kecil" sorak Qai yang disambut seruan kedua saudaranya.


"Hmmm sepertinya ada yang sudah Ayah lewatkan disini" ujar Ayyub menatap curiga istrinya, terlebih sedari tadi ia menangkap pergerakan yang tidak biasa dari tubuh wanita yang sangat dicintainya itu.


"Baiklah, karena kalian semua sangat ingin memiliki adik, maka Bunda akan mengabulkannya. Alhamdulillah, Allah sudah kasih kita adik kecil yang sekarang ada di perut Bunda" jelas Neera yang membuat semua orang bersorak gembira kecuali sang kepala keluarga yang masih melongo kebingungan.


"Sayang, apakah..." tanya lelaki itu linglung.


"Ini sayang, kejutan untuk suamiku tercinta" bisik Neera sembari tangannya menarik telapak besar suaminya dan meletakkan hasil tespack dengan garis dua.


"Sayang..." lirih Ayyub dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan perlahan merosot dari kursinya.


Lelaki itu melakukan sujud syukur sembari memuji Allah atas semua nikmat yang sudah mereka dapatkan. Terlebih diberi kepercayaan lagi memiliki anak dari rahim wanita yang sangat amat dicintainya.


Perlahan Ayyub merengkuh wanita yang tengah bersimpuh disampingnya sembari menghujani istrinya itu dengan ciuman dan ucapan terima kasih tiada henti.


Tidak sampai disana, ia juga menggendong sekaligus triplets dan mendekap ketiganya sembari memberikan ciuman hangat.


"Alhamdulillah, sekarang kita sudah punya adek di perut bunda. Tapi adik kita masih kecil, oleh sebab itu dia mudah sekali sakit dan lelah. Makanya kita harus menjaga bunda bersama ya Nak.." jelas Ayyub memberi pengertian pada buah hati mereka.


"Iya Ayah, apa itu artinya kita tidak boleh minta gendong bunda lagi ayah ?" sedih ketiganya.


"Boleh sayang, tapi tidak selama kemarin. Bunda akan selalu menemani kesayangan Bunda kapanpun itu, tetapi abang dan kakak harus belajar lebih mandiri ya sayang" ujar Neera yang mengerti kegelisahan anak dan suaminya.


"Tapi kalau kalian ingin digendong, ayah akan menggendong kemanapun dan kapanpun yang kalian inginkan, okay ?" tawar Ayyub yang membuat mereka bersorak bahagia.


"Baiklah, karena sekarang Ayah memiliki anak-anak yang hebat maka Ayah akan membawa kita semua jalan-jalan dan belanja apapun yang kalian mau besok hari, Apakah semua setuju ?" semangat Ayyub.


"Yeay.., makasih Ayah" jawab keempatnya sembari memberi pelukan hangat bagi pria yang saat ini tengah merasa bahagia dan begitu berarti dalam hidupnya.

__ADS_1


"Baiklah, karena besok kita akan pergi maka cepat selesaikan makan malam, baca buku dan lalu istirahat yang cukup ya sayang" instruksi Neera dan diikuti keempat bayinya.


__ADS_2