Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 35


__ADS_3

Siang itu Neera terburu-buru meninggalkan kampus. Beruntung jadwalnya hanya ujian hari ini, sedangkan untuk jadwal lain bisa ia kerjakan di rumah.


Neera sudah menduga, setidaknya ada beberapa keributan atau kasus yang terjadi selama Ayyub dan triplets bersama.


Dengan langkah pasti ia berjalan ke arena bermain itu, disana terlihat Qalundra yang masih di gendongan William dan Qai dan Qee berdiri disisinya. Sementara Ayyub hanya berdiri menyandar dengan ekspresi sulit dijelaskan.


"Assalamu'alaikum sayang" salam Neera pada keluarganya, karena hanya mereka yang muslim disana.


"Wa'alaikumsalaam, bundaaaaa" seru triplets.


Qalundra langsung berpindah ke gendongan Neera dan membenamkan wajahnya di pundak sang bunda.


Setelah puas mencium dan memeluk ketiga buah hatinya, Neera sedikit mendorong tubuh Qal agar berhadapan dengannya dan menatap putrinya dengan senyuman.


"Oh, jadi anda ibu yang tidak becus itu" tiba-tiba suara seorang ibu mengalihkan perhatian mereka.


"Terima kasih atas kata-kata anda, tetapi saya harus menjelaskan kejadian sebenarnya" ucap Neera dengan tersenyum membuat orang yang ada disana melongo.


"Apanya yang perlu dijelaskan, memang anak kamu yang tidak tau aturan dan tidak sopan" ucap ibu itu ketus.


"Baiklah kalau begitu, tetapi jika nanti terbukti jika anak saya tidak bersalah kamu harus meminta maaf pada anak saya" ucap Neera yakin.


"Yang.." Ayyub tiba-tiba terkejut dengan wajah yang penuh ketidakpercayaan.


"Baiklah, saya setuju kita lihat saja nanti, jika tidak kamu yang harus memohon ampun dari kami" ucap ibu-ibu itu pongah yang dibalas Neera dengan senyuman.


"Baby, bisakah kamu ceritakan kepada bunda apa yang terjadi ?" alih Neera pada sang putri.


Triplets langsung berkumpul dan menatap Neera dengan wajah sedih mereka.


"Oke, i know kalian semua tahu, ayo jeleaskan pada bunda" sambung Neera yang paham akan arti tatapan mereka.


"Bunda, apakah bunda akan memarahi kami, akankah bunda nanti sedih" tanya Qal.


"Tidak sayang, bunda tidak akan. Bunda mempercayai kesayangan bunda" ucap Neera mencolek hidung Qal.


"Bunda, anak itu mendorong Qee dengan beberapa anak lain. Dia juga menarik baju dan membuat Qee jatuh dari perosotan" ucap Qal sembari menunjuk anak yang bersama ibunya itu.


"Oke, lalu apa yang terjadi ?" tanya Neera menatap Qee yang mulai meneteskan air mata lalu membawanya dalam pelukan.


"Qai sudah bilang untuk kasih tau uncle William atau ayah tapi Qee bilang ia tidak apa-apa dan takut jika merepotkan dan membuat ayah sedih" ucap Qai tiba-tiba.


"Oh babies.., kenapa kalian menyimpannya sendiri, kesinilah" Neera membawa triplets dalam pelukannya.


Sementara Ayyub mendengar kalimat yang keluar dari anaknya merasa bersalah atas apa yang terjadi.


"Jadi apa yang selanjutnya yang terjadi ?" tanya Neera melanjutkan.


"Qal sudah tidak tahan melihat dia terus mengganggu Qee lalu melemparnya dengan bola. Kemudian dia memukul Qal dan melempari Qal dengan teman-temannya. Setelah itu Qal kesal dan melemparkan serangga mainan kearahnya lalu ia jatuh sendiri dari perosotan itu" jelas Qal sembari menunjuk tempat kejadian yang dimaksud.


"Cih., perkataan anak kecil itu tidak berarti, aku tidak percaya. Jangan-jangan ia berbohong" ucap ibu itu menimpali.

__ADS_1


"Baiklah, jika anda tidak yakin kita bisa mengecek kejadian melalui cctv ucap Neera tegas dan lugas.


"William, bisakah kamu hubungi bagian keamanan. Apakah bisa kita melihat rekaman kamera pengawas ?" pinta Neera pada William.


"Baiklah Mrs. anda bisa langsung ke lantai dasar, disana ada ruang kontrol yang dapat melihat rekaman cctv, aku akan menelpon bagian pengawas" balas William.


"Baiklah William, thank you so much dan maaf sudah merepotkanmu" ucap Neera lembut sembari tersenyum.


"Sama-sama Mrs. aku tidak merasa direpotkan" balas William sopan.


Mereka semua berjalan kearah ruangan yang dimaksud. Neera bersama triplets berjalan didepan. Ayyub beserta ibu dan anaknya itu mengikuti dari belakang.


Setelah sampai diruangan itu, mereka bersama-sama melihat rekaman kejadian yang terlihat jelas persis seperti cerita triplets bahkan Neera begitu tidak tahan melihat anak-anaknya diperlakukan oleh anak laki-laki yang lebih besar dari mereka.


"Maaf nyonya, apakah anda sudah melihat sendiri kelakuan anak anada ?" ucap Neera dengan wajah tegas dan penuh penekanan.


"Wajar saja anak-anak bermain seperti itu" elak ibu itu yang sudah malu.


"Anda bilang inu wajar, sementara anak anda menangis saja anda sudah memaki anak saya ?" ucap Neera penuh nada intimidasi.


Sementara Ayyub telah mengepalkan tangannya, melihat anak-anaknya diperlakukan buruk ditambah sikap itu pada Neera.


"Sayang, bagaimana kalau kita laporkan saja kejadian ini, biar diproses dan kita serahkan saja pada mereka" ucap Ayyub yang tengah mengeluarkan ponsel.


"Silakan saja, apakah kamu tidak tau bahwa suami saya manager disini" ucap ibu itu masih sombong.


Tidak berapa lama ibu itu menelpon suaminya, dan dengan sombongnya memandang rendah Neera.


Sementara Neera hanya bersikap biasa dan meminta petugas yang ada disana untuk menyalin rekaman kejadian hingga peristiwa penghinaan ibu itu terhadap anak juga dirinya saat di sekitar arena bermain.


Melihat itu Ayyub geram dan hendak memukul pria itu, namun tiba-tiba Neera menahan tangannya dan mengelus ringan sehingga memudarkan emosinya dan kembali ke tempatnya.


"Untuk kalian semua yang berani melaporkan apa-apa akan saya pecat sekarang juga, dan lagi ini adalah salah anaknya berani sekali mencari masalah dengan keluargaku" ucap pria itu pongah.


Melihat situasi ini Neera berpikir sejenak, ia sebenarnya tidak ingin merepotkan orang lain dalam masalahanya dan menyelesaikan sendiri, tapi masalah ini berkaitan dengan triplets maka apapun itu caranya akan dia lakukan.


Kemudian ia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang dengan tenang, beruntung orang tersebut juga ada di tempat sehingga Neera memutuskan untuk minta tolong padanya.


"Hi Neera, ada apa gerangan tumben sekali kamu menghubungiku. Hampir saja aku terbang kemari saat kamu meminta berjumpa" ucap lelaki tampan yang tiba-tiba masuk dan mengejutkan semua yang ada disana terutama suami ibu-ibu itu sekaligus manager humas di pusat perbelanjaan ini.


"Hi Peter, merepotkan kamu. Aku butuh bantuanmu untuk mengurus masalah ini. Maafkan aku harus menyita waktumu dengan hal ini" ucap Neera santai pada lelaki dengan nama Peter tersebut.


Melihat siapa yang datang, seketika muka manager itu memucat dan menunduk. Sementara istrinya kebingungan melihat reaksi sang suami.


"Kamu lihat rekaman ini dan berikan pendapatmu" ucap Neera sembari meminta Peter menonton kejadian di arena bermain itu.


"Oh God, apakah mereka anakmu,triplets wow kamu memang selalu luar biasa Neera" ucap Peter yang salah fokus.


"Oh Peter fokuslah sedikit" ucap Neera yang sedikit kesal.


"Oh baiklah Nona, ups maaf aku sudah terbiasa memanggilmu Nona" ucap Peter kembali jenaka.

__ADS_1


"Yah, whatever jadi bagaimana seharusnya tempatmu ini mengatur semua pekerja dan keamanan tempat bermain ini" ucap Neera mulai serius.


"Oh, i see. Baiklah segalanya harus dipertegas, sepertinya aku terlalu memanjakan pegawai" ucap Peter menatap manager yang sudah menunduk itu.


"Maaf Peter, tadinya aku hanya ingin mereka meminta maaf sudah menghina keluargaku, tapi melihat sikap pegawaimu aku menjadi sedikit sanksi dengan kinerja mereka dalam bekerja" tutur Neera serius.


"Oh ayolah Neera, bukankah kamu juga memiliki saham disini, ini juga bagian dari wewenangmu" celutuk Peter santai.


Mendengar pernyataan CEO muda itu sang manager dan istrinya semakin pucat dan menundukkan kepalanya dalam.


"Tidak, aku hanya pemegang saham bukan bagian operasional. Kamu yang berwenang untuk itu" ucap Neera santai.


"Baiklah Nona, huhfff kamu semakin mengagumkan saja" celutuk Peter.


Sementara Ayyub kembali mengerutukkan gigi melihat betapa Peter mengagumu istrinya dan melihat cara mereka bercanda.


"Maafkan kami Mrs dan nona kecil" ucap manager itu tiba-tiba.


"Hm, permintaan maaf anda terlihat sangat tidak tulus, bagaimana anda memperlakukan pegawai dan bersikap terhadap pengunjung terlalu kelewatan" ucap Neera menatap sang manager dan mengarahkan pandangan pada istri dan anaknya sekaligus.


"Maafkan kami Mrs. kami berjanji tidak akan mengulangi lagi dan mengajari anak kami" ucap manager itu kembali sementara istrinya tetap tidak menunjukkan penyesalan mesti terlihat takut.


"Baiklah saya terima maaf hanya darimu bukan tentang istrimu, tapi kamu harus mencontohkan sikap baik pada anak-anak agar mereka bisa mempelajari itu, sementara selanjutnya saya serahkan pada Mr. Peter selaku pimpinan disini" ucap Neera tegas.


"Peter, kamu bisa melihat sendiri sikap pegawaimu dan tanyakan pada pegawaimu yang ada disini. Aku serahkan ini padamu, maafkan aku karena harus merepotkanmu" tutur Neera pada Peter.


"Baiklah Neera, ini sama sekali tidak merepotkan. Aku akan menurunkan jabatannya dan memotong gaji selama tiga bulan. Serahkan saja ini padaku, sebaliknya bisakah aku berekenalan dengan triplets" ucap Peter santai sementara sang manager beserta istrinya dibuat pucat pasi dan Ayyub kebakaran jenggot.


"Terima kasih Peter, kenalkan ini anak-anakku. Triplets ini teman bunda sayang berikan salam" ucap Neera pada anaknya.


"Hi, triplets aku Peter kalian bisa panggil aku uncle atau daddy jika kalian mau" ucap Peter yang tidak menyadari bahwa Ayyub adalah suami Neera.


Diam-diam Neera melihat Ayyub dengan ujung matanya, mukanya merah padam, tangan mengepal dan urat-urat lehernya menegang.


"Hi, Aku Qaivan, ini adikku Qeenan dan Qalundra"


"Benarkah bisa kami memanggil daddy ?" celutuk Qal yang masih sedikit kesal dengan ayahnya.


"Sayang, panggil uncle saja nanti semua orang salah paham" pengertian Neera pada si bungsu.


"Tidak apa-apa, aku akan sangat senang" timpal Peter.


Neera hanya memberikan tatapan dan gelengan pada putrinya yang menangguk pelan.


"Baiklah Peter, terima kasih untuk hari ini kami akan pergi dulu kuserahkan ini semua pada mu" ucap Neera pada Peter.


"Tentu saja Nona, bye triplets kapan-kapan daddy akan mengajak kalian makan ice cream" ucap Peter yang membuat Ayyub mencak-mencak.


"Oke uncle, kami menunggu. Thank you uncle" ucap ketiganya serentak.


"Bye Peter"

__ADS_1


Mereka meninggalkan ruangan itu, langsung saja Ayyub merapat pada Neera namun secara tiba-tiba triplets mendorongnya dan memeluk kaki Neera posesif kiri dan kanan.


Ayyub hanya bisa menghela napas, inilah salah satu alasan yang membuat ia tidak bisa bertindak sedari tadi, rasa bersalah dan ketidakmengertiannya. Akhirnya ia memilih diam dan menahan semuanya hingga Neera akan menjelaskan padanya nanti.


__ADS_2