Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 136


__ADS_3

"Kok bisa sih Bg mereka lancar bahasa minangnya, tidak tidak tidak sebenarnya berapa bahasa sih yang mereka bisa ?" tanya Upi masih dalam kebingungannya.


"Tanya saja sama bundanya" balas Ayyub santai.


"Sebenarnya Bang Ayyub ayah mereka bukan sih, apa-apa tanya bundanya. Gak ada perannya ya" cibir Upi yang membuat Ayyub segera menggetok kepalanya.


"Bagaimana bisa mereka begitu pintar berbahasa adik ipar" tanya Hakim memotong perdebatan kedua adiknya.


Mereka semua tidak menyangka bahwa anak berumur tiga tahun itu akan pandai menggunakan berbagai bahasa.


"Tidak begitu pintar Bg, mereka masih dalam proses belajar" sanggah Neera yang masih merendah.


"Wah, kalau belajarnya begini bagaimana expertnya" celutuk Fazreen.


"Jadi berapa bahasa yang mereka kuasai sampai saat ini Nak ?" tanya Papa yang tak melepaskan pandangan kagumnya pada triplets.


"Sayang, sini nak. Opa mau tanya itu" panggil Neera pada buah hatinya.


Ketiganya lantas mendekat membuat mata Tuan Kaisar berbinar bahagia.


"Sayang, cucunya Opa bahasa apa saja yang bisa kalian gunakan nak ?" tanya Papa Ayyub kembali.


"Indonesian, Minang, English, Franch, Japan, Hangeul, Germany, Mandarin, Arabian, Italian and a little bit Rusian Opa" jawab Qee diangguki kedua saudaranya.


"Bagaimana bisa kalian bisa menggunakannya ?" tanya Papa lagi.


"Bunda selalu mengajari kami dan saat kita pergi jalan-jalan bunda akan berbicara bahasa sana setiap terus kita berbicara dengan orang disana menggunakan bahasa itu" jelas Qai.


"Lalu bahasa minang kenapa bisa lancar sekali ?" heran Hakim.


"Mereka berbicara dengan Atuk dan Nana nya menggunakan bahasa daerah" jelas Ayyub yang diangguki semuanya.


"Wah... luar biasa sekali adik ipar" puji Fazreen dengan dua jempolnya.


Setelah mengetahui triplets bisa menggunakan berbagai bahasa ketiga saudara laki-laki Ayyub beserta Papa berusaha mendekati ketiganya dengan perbincangan yang membuat mereka semakin dekat.


Begitu hari sudah semakin larut dan triplets yang terlihat sudah mulai mengantuk Papa mengakhiri pembicaraan mereka dan menyarankan agar mereka pulang mengingat keluarga Ayyub yang juga baru datang ke tanah air.

__ADS_1


"Yasudah, sekarang kita pulang dulu. Besok kita main lagi ya, Om Fazreen akan belikan kalian mainan yang banyak" seru Fazreen yang saat ini menggendong Qai.


"Mereka tidak terbiasa dengan mainan Bg, belikan saja mereka scooter kebetulan mereka belum punya atau tidak belikan buku boleh juga" celutuk Ayyub tiba-tiba yang merik perhatian mereka yang sudah berada di pintu keluar.


"Uda mulutnya deh" bisik Neera yang takut Abang Ayyub itu tersinggung.


"Oh jadi begitu, baiklah besok akan Om kirimkan ke rumah kalian atau besok kita akan membelinya bersama, oke ?" setuju Fazreen yang diangguki triplets.


Melihat pola asuh yang diterapkan Neera pada anaknya membuat kedua abang Ayyub itu terkagum dan ingin juga mengadopsi cara pendidikan itu. Namun, apa daya hingga sampai saat ini mereka belum diberikan titipan rezki itu.


Menyadari wajah sendu kedua abangnya Ayyub langsung mencairkan suasana dengan meminta triplets berpamitan dan menyalami semua anggota keluarganya yang datang saat ini.


Akhirnya kendaraan mereka berpisah arah, Ayyub bersama keluarga kecilnya menuju apartemen dan Tuan Kaisar bersama tiga putranya menuju kediaman keluarga besar.


Ditengah jalan triplets yang sudah menempati seat car mereka tertidur akibat kelelahan bermain seharian ini. Neera melihat wajah lelah dari ketiganya yang saat ini menghembuskan napas teraturnya.


Melihat buah hatinya sudah pulas Ayyub segera meraih tangan istrinya yang berada dipangkuan wanita cantik itu.


"Terima kasih sayang, Neera sudah membuka hati dan memberikan kesempatan untuk keluarga Uda merasakan bahagia bertemu dengan Neera dan triplets kembali" ucap Ayyub sembari mengecup lembut punggung tanggan Neera yang bertaut dengan jemarinya.


"Kita sayang, bukan cuma Neera saja" balas Neera masih dengan tatapan lembutnya.


"Love you more sayang" balas Neera yang memberikan kecupan di pipi suaminya itu.


Keduanya tersenyum ditengah remang cahaya malam yang kian menambah nuansa intim. Rasanya ada sesuatu yang menyeruak dihati keduanya. Perasaan hangat yang begitu nyaman.


Namun, lelaki tetap saja lelaki perasaan cinta yang begitu indah itu seketika diikuti oleh perasaan lain yang menggelora dan membutuhkan kehangatan lebih.


Melihat wajah sendu bak porselen dibawah cahaya malam membuat Neera semakin cantik terlebih bibirnya yang selalu tersenyum menimbulkan perasaan lain dalam diri Ayyub.


Tatapan dalam yang diberikan istrinya semakin menenggelamkan Ayyub dan terasa desiran halus yang menstimulasi otaknya membuat bagian bawah perlahan bangun dan meminta segera dimanja.


Melihat ada kilatan lain dari mata suaminya Neera segera memalingkan wajahnya dan memutus pandangan mesra mereka. Ia sudah yakin ini akan terjadi bahkan sebentar lagi suaminya itu akan melantur.


"Sayang, kamu cantik malam ini" basa basi Ayyub yang sudah tertebak oleh Neera.


"Iya, Terima kasih" balas Neera acuh.

__ADS_1


"Sayang, lihat sini dong" rengek Ayyub yang sudah mulai aneh.


"Tunggu sebentar, Neera lagi cek kerjaan" dalih perempuan cantik itu menyibukkan diri dengan tabletnya.


Melihat reaksi istrinya Ayyub segera mengambil paksa satu tangan Neera dan meletakkannya diatas bagian yang berdiri dan menahannya.


"Astaghfirullahaladzim Uda, aneh-aneh aja deh, ini lagi di jalan loh. Udah jangan ngaur, nyetir yang benar" protes Neera yang segera menarik tangannya.


"Sayang, ayolah..." goda Ayyub dengan tangan yang sudah mulai kian kemari.


"Udah ah, Uda jangan aneh-aneh deh" kesal Neera mencoba menepis tangan besar itu.


"Sayang..., galak banget sih. Ayolah yang, bentar aja" rengek Ayyub kembali.


"Uda, sudah deh. Nyetir dulu yang benar, nanti kenapa-kenapa gimana" kesal Neera.


"Tapi benar ya, nanti tapi double" goda Ayyub lagi pada istrinya yang sudah terlihat kesal.


Bagaimana tidak kesal suasana yang awalnya sangat romantis tiba-tiba buyar oleh kelakuan nyeleneh suaminya yang tidak tau tempat.


Segera Neera mengecek kalender wanitanya di tablet seakan terlihat sibuk dengan kerjaannya.


'Bagaimana caranya, hari ini termasuk dalam masa subur ku meskipun dihari terakhir tetapi tidak mungkin aku menolak jika nanti Ayyub benar-benar meminta, haruskah aku pura-pura tidur atau beralasan capek, tidak- tidak, dia pasti akan melakukan sendiri' batin Neera yang terlihat mengerutkan keningnya.


"Kenapa sih yang, gitu amat mikirnya. Emangnya kerjaan apasih, sini aku lihat" seru Ayyub yang membuyarkan lamunan Neera.


"Ah engga kok Uda, ini ada pesanan masuk tapi sudah tidak bisa diproses lagi" jawab Neera asal.


'Duh... gawat juga kalau empat bulan bareng terus dengan Ayyub, bisa-bisa aku hamil beneran lagi. Mana triplets masih kecil dan keluarganya belum menerima kami sepenuhnya lagi' resah Neera yang kembali membatin


"Sayang, sayang" seru Ayyub yang berusaha menyadarkan Neera dari lamunannya.


"Ah iya, kenapa Uda ?" tanya Neera linglung.


"Kmau kenapa yang, apasih yang kamu pikirin sampai segitunya" khawatir Ayyub pada istrinya.


"Ah engga kok Uda, Neera cuma mikirin series yang akan Zane keluarkan musim depan" kilah Neera.

__ADS_1


"Sudahlah sayang, kan sudah ada timnya. Kamu serahkan saja semuanya pada mereka dan kita nikmati liburan kita" lembut Ayyub sembari membelai lembut kepala Neera.


__ADS_2