Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 66


__ADS_3

Subuh itu Neera telah bersiap dibalik kemudi untuk membawa suaminya ke bandara untuk memenuhi tugasnya. Setelah sebelumnya terjadi peedebatan alot antara keduanya.


Beberapa menit yang lalu...


"Udah yang, Uda aja yang bawa mobilnya" protes Ayyub.


"Gak bisa, pokoknya Neera yang bawa. Uda istirahat aja tidur. Neera tau Uda kurang istirahat dari kemarin mana semalam malah kecapean lagi" Neera enggan menyebut aktifitas mereka itu.


"Tapi yang, kamu juga lelah. Udah biar Uda yang bawa mobil" ungkap Ayyub yang masih berdiri didepan pintu kemudi itu.


"Apa Uda tidak percaya Neera bisa membawa mobil, apa Uda meragukan Neera atau Uda takut akan celaka jika Neera yang mengemudikannya ?" cerocos Neera dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.


Pias, itulah penampakan wajah tampan dengan seragam pilot tersebut. Sekarang ia dalam keadaan serba salah.


"Baiklah sayang, berhati-hatilah. Kalah nanti kamu lelah biar Uda gantikan" putus Ayyub dengan berat hati.


"Yessss" batin Neera. Inilah yang diharapkannya. Sedih ? mana mungkin ia sesedih itu hanya karena tidak diizinkan mengemudi.


Neera melakukan itu karena ia sangat tau Ayyub kelelahan sedari kemarin, ditambah intensitas tidurnya yang kurang. Terlebih saat ini ia harus mengudara dalam keadaan yang Neera yakin setengah mengantuk.


Sebesar itulah perhatian dan cinta Neera pada Ayyub. Tentu saja ! istri mana yang tidak menginginkan suaminya baik-baik saja.


Tapi lebih dari itu, Neera memperhatikan keseluruhan kebutuhan suaminya dan memenuhinya dalam diam.


Meskipun Neera terkesan cuek dalam hubungan ini, tapi percayalah cintanya sungguh besar untuk Ayyub, dan inilah salah satu caranya mencintai lelaki yang telah mengisi kembali relung hati yang sempat terkubur dalam itu.


Kini lelakinya itu tengah tertidur dengan pulasnya di kursi samping kemudi. Senyum terbit dari bibirnya melihat pemandangan dalam mobil yang bisa ia lihat dalam kaca tengah.


Tiga buah hati mereka yang tengah tertidur pulas disampingnya adalah orang yang berperan dalam pembuatan mereka.


Meski tidak ia pungkiri masih ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya mengenai keutuhan keluarganya kelak.


Entahlah, sebut saja ia terlalu pengecut terhadap lermasalahan ini atau egois, ya mungkin saja beberapa istilah lain yang menggambarkannya.


Neera adalah sosok mandiri dengan ketegaran maksimal setelah ia memutuskan untuk hijrah ke Edinbrug, peran ini sudah iya lakoni semenjak tiga tahun lebih. Bagaimana bisa ia merubahnya hanya untuk beberapa bulan saja.


Benar jika orang berkata bahwa menjadi perempuan jangan terlalu keras dan mandiri membuat lelaki merasa tidak berguna dan kehilangan kebanggaannya.


Tapi bagaimanapun ia berusaha tetap saja sifat yang sudah ia biasakan itu sesekali muncul saat bersama Ayyub, membuat suaminya itu merasa tidak dibutuhkan, atau bahkan kehilangan harga diri. Entahlah, hanya Ayyub sendiri yang tau.


Tapi setelahnya Neera akan berjanji dengan dirinya sendiri untuk lebih percaya pada Ayyub, bergantung atau apapun istilahnya nanti.


Perlahan ia akan melunakkan sedikit hatinya yang telah membatu akibat hantaman badai dahulu.


Ditengah dinginnya kota, Neera menyetel lagu dengan nada melow keluaran artis korea selatan sembari menemani keempat cintanya tertidur.


Hingga akhirnya mereka memasuki kawasan bandara dan segera Neera mengambil parkiran khusu yang telat berada di samping gedung keberangkatan.


"Sayang bangun, nanti Uda telat" pelan Neera mengusap lengan suaminya.

__ADS_1


Hanya erangan tidak jelas yang keluar hingga Neera menggunakan cara paling ampuh untuk membangunkan suami mesumnya itu.


"Sayang, bangun ayo bangun" ucap Neera sembari berkali-kali mengecup singkat bibir suaminya.


Benar saja tanpa menunggu waktu yang lama tangan kekarnya menahan tengkuk Neera dan ******* habis bibir munggil dengan lekukan indah itu.


"Ahhhh, ih Uda anakmu ada dibelakang. Heran deh mesumnya gak tau tempat" omel Neera.


"Iya habisnya kamu yang duluan yang, mana tu bibir seksi lagi, sayang kalau dianggurin"


"Udah ah, sana nanti Uda telat. Udah mau setengah empat ni" ungkap Neera.


"Bentar lagi yang, masih ada waktu sepuluh menit lagi"


Mendengar itu segera Neera keluar pintu meninggalkan Ayyub yang tercengang sendirian.


Tak berselang lama istrinya itu sudah kembali lagi dengan dua cup besar minuman dengan asap yang mengepul dari celah tutupnya.


"Ini, Uda minum kopinya dulu. Habis bangun tidur kan tadi"


"Uluuluhh, cayangnya ciapa cih, perhatian banget sama suami" canda Ayyub sembari mencubit pelan pipi Neera.


"Ih apaan sih Uda, sakit tau" kesal Neera.


"Haha iyadeh maaf, tapi lain kali kalo kamu mau sesuatu bilang saja sama Uda, biar Uda yang keluar untuk belikan"


Deg. Meskipun Ayyub mengatakannya sambil berseloroh santai tapi Neera mengetahui maksudnya dan tentu saja ia tersentil.


"Baiklah sayang, anything for you" ungkap Ayyub penuh arti.


Perlahan suaminya itu mengeluarkan dompet dan mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dari sana.


"Sayang, ambillah ini. Beli apapun yang Neera inginkan" ungkap Ayyub sembari memberi kartu yang Neera tau tanpa limit itu.


"Tapi Uda, kartu debet yang kemarin masih ada pada Neera. Itu sudah lebih dari cukup Uda"


Ayyub menghela napas dalam lalu berucap.


"Uda tau kamu tidak menggunakannya sepeserpun, Uda mengerti bahwa kamu sangat mampu memenuhi kebutuhan kalian bahkan berlebih mungkin. Tapi kamu juga harus paham, ini kewajiban Uda sebagai suami, ayah dan kepala keluarga" Ayyub menjeda.


"Uda tidak masalah jika kamu belum sepenuhnya bisa menerima Uda seperti suami selayaknya, tapi Uda mohon jangan biarkan Uda melalaikan kewajiban untuk memberi nafkah pada kalian" pinta Ayyub dengan nada permohonan.


"Dan sayang, kamu harus tau Uda bekerja untuk kalian, hanya untuk kalian. Jadi nikmatilah agar Uda merasa pekerjaan Uda tidak sia-sia" akhir Ayyub.


"Baiklah, Neera akan menyimpannya dengan baik" pasrah Neera.


"No honey, you must to use it" pelan Ayyub menatap dalam mata istrinya.


"Tapi.., apakah Neera tidak akan menguras harta Uda lagi ?" suara pelan Neera yang masih dapat ditangkap indranya.

__ADS_1


Napas kasar kembali keluar dari mulut Ayyub dan setelahnya ia mengecup dalam puncak kepala Neera.


"Jangan khawatirkan apapun dan gunakanlah semaumu sayang, kamu tidak mengusik siapapun. Memang tugas istri adalah menguras harta suaminya" putus Ayyub setelahnya beralih kebelakang melihat ketiga buah hati mereka yang masih anteng dalam tidurnya.


Sungguh kejadian dahulu masih sangat membekas di benak istrinya itu dan menjadi trauma baginya.


Ayyub yakin selama ini istrinya itu tidak pernah menerima apapun dari orang lain meskipun mereka dalam keadaan sulit dan terdesak.


Inilah salah satu tugasnya, untuk menyembuhkan pemikiran istrinya yang terlalu mandiri itu.


"Baiklah, ayo antar Uda kedalam. Sudah waktunya berangkat" tentu saja Ayyub ingin seperti rekannya yang selalu diantar istri mereka saat akan bertugas.


"Loh, tapi bagaimana dengan triplets ?" cemas Neera.


"Tidak apa, toh hanya sebentar. Lagian disini aman dan mobil kita sudah memenuhi standart keamanan" jelas Ayyub.


Terpaksa Neera menurut dan turun dari mobil yang mereka kendarai, memegang tas dan topi Ayyub yang kini tengah berpamitan pada ketiga anaknya di kursi belakang.


"Yuk sayang" ajak Ayyub yang kini sudah mengambil alih tasnya dari tangan Neera dan merangkul bahu istrinya berjalan beriringan ke dalam bandara.


Tentu saja hal itu sedikit banyaknya menjadi perhatian bagi mata yang ada disana. Seorang pilot tampan yang tinggi besar dengan perempuan mungkil dalam dekapannya dengan hijab pula.


Sedikit risih, Neera menggunakan kaca mata hitam yang sempat dibawa dan menarik keatas kerah mantel yang digunakannya.


Sampai di pintu keberangkatan ternyata sudah banyak rekan satu tim Ayyub disana dan tentu saja hal itu membuat Neera was-was kalau ternyata ada Vina diantara mereka.


Tanpa rasa bersalah dan beban apapun Ayyub menyapa sekilas mereka yang ternyata sudah menunggu captain yang nantinya akan memimpin penerbangan mereka, tentu saja Ayyub.


"Sayang, aku berangkat dulu. Ingan pesan aku dan hati-hatilah mengemudi pulang. Sampaikan salam kecup aku untuk triplets" ungkap Ayyub.


Tanpa rasa malu lelaki itu menurunkan mantel Neera serta mencium dahi dan bibirnya bergantian setelahnya memeluk erat istrinya itu sampai akhirnya mendapat sorakan dari awak kabin yang tengah menyaksikan romantisne mereka.


Neera terkejut dengan apa yang dilakukan suaminya sepersekian detik itu menimbulkan warna tomat masak disekitar wajahnya.


Segera ia mengambil tangan Ayyub dan mencium punggung tangan suaminya itu setelahnya mengangguk kecil untuk menyampaikan kesopanannya dan berlalu pergi.


"Dasar tidak tau malu, kemana perginya urat malunya itu. Bisa-bisanya dia melakukan itu di tempat umum bahkan di depan teman-temannya. Huh mau ditarok dimana mukaku, pasti mereka sudah berpikir yang tidak-tidak" gerutu Neera sambil kembali kemobilnya.


Ting.


Satu notifikasi masuk ke handphonenya.


Suami ♥️


Sayang, kamu melupakan ciumanmu padaku😘


Segera Neera membalas pesan itu dengan dumelan.


Istri ♥️

__ADS_1


Berikan saja dengan bibirmu sendiri, dasar suami mesum 😠


Tentu saja Ayyub tersenyum lebar membaca balasan dari istrinya yang menimbulkan tanda tanya bagi rekan dan anggota timnya yang ada disana.


__ADS_2