
Seharian ini Neera terkurung di kamar mereka karena Ayyub sama sekali tidak mau melepaskannya. Begitu juga dengan triplets yang juga tidak mau meninggalkan kedua orang tuanya memilih menghafal Al-Qur'an sembari masih tetap dengan kesenangan mereka mengagumi Ka'bah dari jendel hotel.
Sesuai rencana besok mereka akan jalan-jalan wisata sejarah ke beberapa kota dan negara di sekitaran timur tengah. Tiket pesawat dan hotel sudah disiapkan tetapi melihat kondisi Ayyub rasanya Neera tidak mungkin untuk memaksakan pergi.
Memang ia sudah lebih baik, tidak ada masalah tetapi keluhan lemas, mual dan pusing membuat lelaki besar itu tak berdaya.
Berhubung semua hal sudah disiapkan dan kedua putra putri Uni juga sudah antusias sekali membuat Neera membuat keputusan jika tour tetap dilakukan hanya ia akan tetap tinggal bersama Ayyub hingga kondisi suami nya sedikit membaik.
"Apa, Ama, bagaimana jika besok semuanya berangkat saja melanjutkan rencana awal kita. Sayang sekali semuanya sudah disiapkan hingga tour guide pun ada, hanya tinggal mengikuti arahan mereka. Tiket dan hotel juga sudah siap semua" saran Neera malam itu.
"Tapi Nak, apakah kalian tidak apa-apa disini, tidak apa kita batal berangkat yang penting kesehatan Ayyub yang utama" bantah Apa yang khawatir dengan keadaan menantunya.
"Insya Allah Uda tidak kenapa-kenapa Pa, dokter sudah periksa beliau dan tidak ada penyakit yang serius, hanya saja badannya belum fit kembali dan Neera rasa beliau belum bisa perjalanan jauh" jelas Neera agar keluarganya tidak begitu khawatir.
"Benar Pa, kasiahan tiket dan hotel kita yang sudah disiapkan Ayyub dan Neera, mubazir pasti tidak bisa dicancel lagi" ujar Uni membenarkan.
"Tapi Kak, apa kakak yakin bisa menemani Ayyub sendiri ?" khawatir Ama yang diangguki Apa.
"Insyaa Allah Ama, menantu Ama aman di tangan Neera" canda Neera yang disambut tawa semua.
"Yasudah, berarti besok semua jadi berangkat. Mobil akan datang sekitar jam 10 destinasi pertama sekitaran negara Arab dulu dan semua sudah disiapkan dengan matang, ini kontak beberapa agen dan orang yang akan membantu selama disana, nanti jika ada kesulitan silakah hubungi mereka kapanpun, Neera kirim di grup kita ya Pa, Ma.." jelas Neera yang diangguki semua.
"Bagaimana dengan triplets Nak, apa mereka akan ikut kami atau tinggal disini ?" tanya Apa yang memperhatikan cucunya masih asik di depan jendela memandangi Ka'bah.
__ADS_1
"Sayang, kesini Nak" panggil Neera pada ketiganya.
"Sayang, besok Atuk, Nana sama semuanya akan pergi jalan-jalan melihat sejarah peninggalan Islam, anak-anak bunda mau ikut kah ?" tanya Neera yang dijawab muka binggung ketiganya.
"Bunda.., kok bunda tanya kita mau ikut atau engga Bunda ?" tanya Qee yang mewakili keheran tiga bersaudara itu.
"Benar sayang, karena Bunda dan Ayah akan tetap disini, Bunda mau menemani ayah beristirahat beberapa hari lagi, jadi tidak bisa ikut Atuk, Nana dan yang lain" jelas Neera yang diangguki ketiganya.
"Kalau gitu, Qai juga temani ayah disini Bunda, Qai masih mau lihat Ka'bah" jawab cepat Qaivan.
"Qee juga mau disini Bunda" Qeenan.
"Qal juga Bunda, tapi nanti kita bisa jalan-jalan kesana juga kan Bunda ?" tanya Qal yang sebenarnya juga ingin pergi tetapi ia tak mau jika tak bersama kedua orang tua dan saudaranya.
"Sepertinya mereka biar tinggal disini saja Pa, Ma kasihan juga mereka nanti kecarian. Maaf ya Apa, Ama dan semuanya. Kakak dan Uda tidak bisa menemani perjalanan kita kali ini" sesal Neera yang diangguki keluarganya.
"Tidak apa-apa Nak, kami paham. Sebagai seorang istri, prioritas utama adalah suami. Karena surganya seorang istri adalah dibawah ridho suami" ujar Apa menenangkan hati putrinya.
"Tenang saja, kami akan baik-baik saja dan menikmati semua yang sudah Kakak dan menantu Ama siapkan. Jangan lupa untuk selalu berkabar sayang" ucap Ama ikut membesarkan hati anaknya.
"Terima kasih Apa, Ama karena sudah mengerti Neera dan mungkin jika kondisi tidak memungkinkan kami akan langsung pulang ke UK karena pekerjaan yang sudah menumpuk dan tidak bisa ditinggalkan" jelas Neera.
"Baiklah Nak, kalau begitu jaga diri baik-baik. Insya Allah kelak kalau ada kesempatan kami akan berkunjung kesana" pesan Apa yang diangguki Neera.
__ADS_1
Akhirnya malam itu mereka mengadakan perpisahan kecil-kecilan dengan dinner malam bersama menu khas timur tengah. Berbagai hidangan menggugah selera terhidang di meja makan kamar Neera yang memang memiliki banyak ruang layaknya apartment mewah.
Mereka tidak turun kebawah mengingat kondisi Ayyub yang belum sepenuhnya pulih dan agar yang perempuan dan anak-anak lebih leluasa.
Suasana yang terasa hangat dan nyaman. Membuat Ayyub dan Luthfi adiknya merasa menjadi bagian keluarga tersebut tanpa adanya penghalang. Seakan hati mereka telah menyatu dengan keluarga yang penuh cinta ini.
Mereka bersyukur Allah memberikan keluarga sebaik ini pada keluaga mereka. Bahkan kini Luthfi tak ada bedanya dengan Rais, diperlakukan sama bahkan juga dinasehati sama oleh orang tua Neera membuat pemuda itu enggan untuk kembali pulang dan meminta magang di kantor Apa dan tinggal di rumah Neera.
Tentu saja ide itu diterima baik oleh keduanya setelah mendapat persetujuan oleh kedua orang tua Ayyub, Tuan dan Nyonya Kaisar.
Setelah berbincang banyak dan menyampaikan pesan dan harapan akhirnya semua pamit ke kamar masing-masing untuk istirahat karena perjalanan besok akan panjang.
Beruntung mereka sudah menyelesaikan packing di sore hari dan tinggal mempersiapkan mental dan fisik yang kuat.
Begitu juga dengan Ayyub yang sedari tadi berusaha menahan sakit kepala dan gejolak di perutnya. Bahkan sedari acara makan malam ia hanya bersandar di pundak istrinya dan hanya mau makan apa yang disuapkan oleh tangan Neera saja.
Bahkan lelaki itu rebutan suap dengan ketiga putra putrinya saat ketiganya lebih memilih makan sambil melihat Ka'bah. Mereka masih terkagum-kagum dengan bagunan megah yang menjadi pusat kiblat umat muslim.
Perlahan lelaki kekar itu tertidur setelah meringkuk di tubuh kecil istrinya hasil rebutan dengan triplets. Ketiganya mengalah karena melihat kondisi ayah mereka yang menyedihkan. Bahkan ketiganya berinisiatif mengelap tangan dan kaki Ayyub yang membuat lelaki itu tersenyum lebar.
Pijatan kecil tanpa tenaga ia rasakan dari tiga pasang tangan mungil yang terus mengkhawatirkan dirinya. Sesering apapun ia berebut dengan anaknya masalah Neera ternyata dihati ketiga malaikat kecil itu ia tetap ayah yang sangat mereka cintai.
Terlihat dari berbagai perhatian dan kekhawatiran mereka sedari bangun dan melihat kondisi ayahnya yang lemah, membuat Ayyub menang banyak.
__ADS_1