Mencintaimu Dengan Caraku

Mencintaimu Dengan Caraku
BAB 170


__ADS_3

Cukup lama mereka berbincang di ruangan Tuan Kaisar hingga pembicaraan mereka sampai ke kediaman Ayyub.


"Jadi selama ini Abang berdiam diri di apartemen Ayyub, tau gitu kan mama kesana. Mama udah pusing nyariin kamu karena udah lama gak kelihatan, mama tanya Shintia dia tidak tau" ujar Mama.


"Bukan berdiam diri ma, tapi menenangkan diri. Abang belum siap untuk bertemu Shintia di tambah lagi Ayyub dan Neera membantu Abang mencari beberapa bukti" jelas Hakim.


"Loh, Neera juga ikut ?" tanya Mama.


"Wah... jangan salah Ma. Neera itu jenius banget Ma, Abang sudah hampir dua hari mencoba membuka kunci handpone Shintia dan selingkuhannya tidak bisa-bisa sementara dia tidak sampai lima menit sudah terbuka. Abang merasa bodoh saat itu ma" keluh Hakim pada orang tuanya.


"Oh ya ?" kaget Tuan Kaisar.


"Wah... bahaya nih Yub. Kamu jangan macam-macam sama istrimu" sambung Tuan Kaisar yang membuat Ayyub menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya Pa. Ayyub saja tidak tau Neera bisa melakukan itu" jawab Ayyub dengan muka bodohnya.


"Hal yang lebih lucu lagi, aku diceramahi habis-habisan oleh anaknya Yub Pa" ujar Hakim yang membuka aibnya.


"Siapa ?" tanya mama penasaran.


"Siapa lagi kalah bukan Qeenan, cucu papa yang sangat pandai bicara" tebak Papa yang diangguki Hakim.


"Bagaimana Papa bisa tau ?" tanya Hakim penasaran.


"Ya sudah jelas. Beberapa hari disana Papa juga sudah melihat karakternya. Ia sangat peka dan cepat mencerna situasi sekitar ditambah lagi dengan mulutnya yang bijak dan hatinya yang lembut" jelas Papa.


"Wah.. iya Pa. Dia sampai menasehati Abang agar tidak terus bersedih saat ia melihat Abang tengah bengong sendirian di kamar. Bahkan bocah lucu itu memeluk dan menenangkan Abang saat merasa Abang terpuruk" kisah Hakim pada kedua orang tuanya.


"Itulah, terkadang kita tidak tau perkataan siapa yang akan menyangkut dipikiran dan mengena dihati. Meskipun saat itu Papa mengatakan hal yang sama belum tentu Abang akan menerimanya sama seperti saat Qee menyampaikannya" ujar Papa.


"Iya Pa, Abang merasa bersyukur berada di tengah keluarga mereka saat kemarin tengah kalut bukan malah ke hotel yang berujung di tempat maksiat" ujar Hakim.


"Tapi apapun itu, kalian sungguh baik dalam membesarkan dan mendidik cucu-cucu mama. Mereka tumbuh menjadi anak yang cerdas secara intelektual, emosinal dan spiritual" puji Mama.


"Alhamdulillah Ma, semuakan bekal dari Papa dan Mama juga" jawab Ayyub.


"Tapi kan Ma beberapa hari disana aku merasa nyaman. Apa tidak seharusnya kita paksa saja mereka tinggal disini daripada di apartemen, kita bisa bermain sepuasnya dengan triplets" ujar Hakim yang langsung mendapatkan tendangan di kakinya dari Ayyub.


"Berhenti menggosipkan keluargaku, lebih baik sekarang kita makan. Ma, Ayyub lapar sekali" alih Ayyub agar pembicaraan itu tidak terus berlanjut.


"Ah iya... baiklah, Ayo kita ke meja makan. Mama sudah menyuruh orang dapur untuk menyiapkan makanan" ajak Mama.


Mereka semua berjalan ke arah dapur setelah sebelumnya menunaikan sholat ashar. Entahlah ini bisa digolongkan makan malam atau makan sore yang jelas saat mereka susah menempati meja makan hari sudah menjelang magrib.

__ADS_1


Bersamaan dengan Riezka dan suaminya masuk membawa tentengan barang belanjaan yang begitu banyak.


Suasana di ruang makan tiba-tiba tegang, yang sebelumnya susah dingin kini bertambah beku. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara sebelum Riezka dengan suara cemprengnya menyela.


"Kenapa sih, kok pada diam aja. Tumben Ayyub ada disini sama Bang Hakim juga, sudah pulang Bang. Kemana aja selama ini kasihan istrinya kesepian" celutuk Riezka yang ditanggapi dingin oleh Hakim.


"Huh.. tak akan kesepian dia karena ada yang menghangatkannya" dengus Hakim dengan nada mengejek.


"Apa maksud kamu sayang, aku di rumah saja beberapa hari ini. Aku sudah minta maaf sayang dan aku sudah berjanji tidak akan mengulanginya lagi" jawab Shintia yang merasa tidak terima.


"Sudah, sudah diamlah. Ini di meja makan, tidak baik bertengkar di depan makanan. Kalian berdua duduklah, ikut makan bersama" lerai Tuan Kaisar pada semua anggota keluarganya.


Akhirnya makan sore menjelang malam itu selesai dengan menyisakan banyak makanan. Sungguh tidak ada yang berselera makan saat itu kecuali Fazreen dan istrinya juga Riezka beserta suaminya.


"Setelah sholat magrib nanti, Hakim dan Shintia, juga Riezka dan Dio datang ke ruangan Papa" perintah Tuan Kaisar sebelum meninggalkan kursinya.


Sementara Mama berlalu menuju kamar Nola untuk memberitau putrinya agar nanti datang ke ruangan Papanya karena orang tuanya ingin bicara sekalian melihat keadaan Nola yang saat ini sudah lebih baik.


Sunyi seketika selepas kepergian kedua orang tua mereka. Ada yang bertanya-tanya, ada yang menerka-nerka. Hanya Ayyub dan Hakim yang terlihat santai diantara semua orang yang ada disana.


"Ada apa sih Bang ?" tanya Fazreen yang tidak mengerti. Masalahnya yang ia tau Nola yang hamil kenapa jadi Hakim dan istrinya beserta Riezka dan pasangannya yang dipanggil Papa.


"Gak tau" jawab Hakim cuek.


Tok...tok...tok..


"Pa, ini Ayyub. Boleh Ayyub masuk Pa ?" tanya Ayyub yang takut mengganggu waktu Papanya.


"Ya, masuk" jawab Papa yang langsung dilaksanakan Ayyub.


"Assalamu'alaikum Pa" jawab Ayyub yang langsung masuk dan mengunci pintu ruangan itu.


"Wa'alaikumsalaam" Papa yang mengerti langsung duduk di sofa tengah bersamaan dengan Ayyub.


"Ada apa Nak ?" tanya Papa yang seolah mengerti.


"Ini Pa, ada yang harus Ayyub sampaikan pada Papa" jawab Ayyub dengan pembawaan tenang.


"Ya, apa itu" tanya Tuan Kaisar yang mulai memasang wajah serius.


"Mengenai pertengkaran Kiki dengan Nola, Ayyub rasa Ayyub tau penyebab mereka bertengkar Pa" ungkap Ayyub.


"Apa masalah mereka ?" tanya Tuan Kaisar.

__ADS_1


"Ayyub rasa masalah Dio, lebih baik kita cek saja untuk memastikan Pa" jawab Ayyub.


Merekapun menuju meja kerja Papa dan mencari rekaman hari ini, cukup lama mencari akhirnya Ayyub menemukan rekaman kejadian di dapur rumah siang itu.


"Dasar jalang" maki Nola yang melihat Kiki tengah bersantai.


"Hei apa maksud loe ?" balas Kiki yang merasa tersinggung.


"Loe pikir gue gak tau perbuatan loe sama Bang Dio, loe goda dia kan. Dasar gatel" hardik Nola.


"Eh jangan asal tuduh ya, loe kira gue takut" balas Kiki yang sudah mulai berdiri.


"Gue gak asal tuduh, gue lihat sendiri dengan mata kepala gue sendiri. Loe melakukan itukan di sudut sana semalam" ujar Nola menunjuk celah antara shower kolam renang dan taman yang seketika membuat Kiki terkejut namun dengan berusaha menetralisir keterkejutannya.


"Hah ?! terus kenapa, loe mau apa hah ? Bukan salah gue kalau dia tertarik sama gue, lagian Abang loe itu membosankan. Loe juga gak punya buktinya kan. Apa jangan-jangan loe main juga sama si Dio. Gimana ? Enakkan goyangannya ? Dasar !" remeh Kiki yang membuat Nola makin naik pitam.


"Loe pikir gue gak punya bukti, apa harus gue tunjukkin rekamannya" pekik Nola yang membuat Kiki marah dan mendorongya hingga jatuh ke lantai yang keras.


"Awas loe sampai berani, loe pikir gue takut. Gue bakal buat loe yang bersalah, jangan berani macam-macam sama gue" sentak Kiki yang memegangi leher kerah baju Nola dan mendorongnya.


Tidak lama setelah itu Fazreen datang dan terkejut melihat keadaan adiknya. Seketika itu juga Kiki bertingkah seolah ketakutan dan mengadu pada Fazreen bahwa Nola memarahinya.


Tangan Tuan Kaisar mengepal menyaksikan cuplikan video itu. Beruntung ia meletakkan kamera cctv disetiap sudut rumah dan tidak ada blind spot.


"Papa, untuk sementara ini kita harus keep dulu masalah ini. Kita harus membuat Kiki tetap berada di sisi kita sehingga kita bisa menemukan celah untuk membuktikan penyelewengan dana perusahaan. Dia lebih licik dari yang kita kira Pa. Oleh sebab itu kita harus lebih licik darinya Pa. Kita ikuti permainannya Pa" ujar Ayyub yang membuat Tuan Kaisar menghembuskan napas kasar.


"Terlalu banyak hal yang terjadi dalam waktu yang bersamaan. Apa ini karma atas perlakuan keluarga kita pada Neera. Apakah ini balasan atas perbuatan kita padanya dahulu" ucap Papa yang langsung dibantah Ayyub.


"Papa jangan bicara begitu. Ini adalah ujian Pa. Semua ini tidak ada hubungannya dengan Neera. Istri Ayyub sudah memaafkan dan mengikhlaskan segala yang terjadi dahulu bahkan dia yang banyak membantu Ayyub menyelidiki masalah ini dan mencari penyelesaiannya Pa. Neera saja bisa mengikhlaskan padahal dia yang terluka kenapa kita tidak bisa. Papa harus tau kalau istri Ayyub itu sangat menyayangi keluarga ini" jelas Ayyub agar Papanya itu tidak selalu berpikir tentang kesalahan mereka dimasa lalu.


"Baiklah, Papa paham maksudmu Nak" jawab Tuan Kaisar.


"Sekarang Papa jangan banyak berpikir tentang masalah ini. Jangan khawatir, Ayyub yang akan menyelesaikannya. Papa cukup mainkan peran Papa dan sisanya serahkan sama Ayyub. Papa percayakan sama Ayyub" ujar Ayyub yang tidak ingin Papanya terbebani .


"Tentu saja Papa percaya padamu. Terima kasih Nak" ujar Papa bangga.


"Iya Pa, sama-sama. Sudah seharusnya kami anak-anak papa yang bekerja. Papa hanya harus duduk santai menikmati hari" ujar Ayyub.


"Baiklah, Ayo Nak kita sholat magrib dulu. Kita tenangkan pikiran sebelum menyelesaikan masalah yang akan menguras emosi" ajak Papa yang sudah mendengar kumandang Azan dari mesjid.


"Mari Pa" balas Ayyub.


Merekapun berjalan beriringan menuju mushalla yang ada di rumah itu. Mereka berdo'a meminta petunjuk Sang Pencipta dan Pemilik Hati memohon diberi petunjuk dalam penyelesaian masalah dan diberi kemudahan dalam setiap langkah.

__ADS_1


__ADS_2