
Seminggu terlewati dengan suka cita, banyak tawa yang menghiasi liburan Neera dan triplets. Mereka menyewa satu hostel seperti rumah mini untuk mereka tempati selama liburan ini.
Berbagai kegiatan mereka lakukan, mulai lagi ice skitting, meluncur di salju, membuat bola salju didepan rumah hingga pergi berbelanja bersama.
Seakan terlupa Neera selalu dibuat tertawa dengan tingkah lucu triplets bahkan terkadang tak jarang ia harus bersikap tegas karena triplets yang mulai berulah.
Tetapi hal inilah yang membuat Neera benar-benar lupa dan teralihkan untuk sesaat. Meskipun begitu dalam setiap do'anya Neera selalu meminta ketenangan hati dan petunjuk penyelesaikan dalam setiap permasalahannya.
Bahkan sering kali ia terbangun saat tengah malam dan bersujud memohon ampunan dan petunjuk dari Sang Khalik. Namun setelah itu ia seakan lupa pada setiap permasalahan yang ia hadapi.
Dalam sujudnya Neera meminta keikhlasan dalam setiap keadaan. Meminta diberikan kelapangan hati dan pikiran, apapun yang akan terjadi kelak ia meminta untuk diberi kekuatan hati dalam menjalani takdirnya.
Esok adalah hari kepulangan mereka, Neera mengambil penerbangan sore karena tempat tinggal mereka lumayan jauh dari bandara sehingga memang membutuhkan waktu yang lumayan lama.
Hari ini Neera telah mengirimkan barang dan belanjaan mereka ke rumah dengan pengiriman tiga hari sehingga akan datang nanti saat mereka sudah dirumah.
Neera hanya menyisakan dua pasang baju triplets dan dirinya beserta peralatan penting lainnya sehingga nanti tidak menyulitkannya saat membawa triplets.
Maka malam ini Neera sudah packing barang mereka esok hari karena akan berangkat setelah subuh dari tempat tinggal mereka menggunakan mobil yang sudah Neera pesan.
Saat ini Neera tentunya mengambil penerbangan langsung dengan maskapai terbaik tentu saja maskapai penerbangan suaminya. Karena menurut Neera suaminya itu tentu sudah pulang dan libur saat ini menurut jadwal yang dulu pernah disampaikannya.
Malam ini seperti malam-malam sebelumnya mereka tidur meringkuk berpelukan bersama karena memang udara Norwey saat ini memang sangat dingin meskipun mereka sudah menghidupkan penghangat.
Pagi hari seakan damai, tanpa ada drama triplets bangun dengan mudahnya setelah mandi, sholat dan sarapan bersama mereka bersiap segera dan bertolak menuju bandara untuk kepulangan mereka nanti ke Edinbrugh.
Cukup jauh perjalanan yang akan mereka lalui, selama kurang lebih delapan jam dengan satu kali transit di Prancis meskipun Neera sudah mengambil bussines class.
Kini mereka telah berada di pesawat yang nanti akan membawa mereka menuju Paris, beruntung pilot pesawat ini lihai mengendarai burung besi sehingga saat take off tidak terjadi perubahan yang signifikan bahkan kini triplets sudah mulai terbawa alam bawah sadar karena mereka bangun terlalu pagi.
Begini lebih baik, bahkan Neera membangunkan mereka saat akan makan dan setelahnya mereka akan tidur kembali. Tumben sekali karena biasanya mereka akan terbangun dan bersemangat sekali saat menaiki pesawat bahkan tidak berhenti bertanya berbagai hal.
__ADS_1
Paris merupakan negara romantis yang menjadi tujuan destinasi pasangan. Melihat banyaknya pasangan yang berseliweran di bandara membuat hati Neera sedikit ngilu.
Bagaimana bisa kisah cintanya begitu tragis, apakah memang ia tak memiliki sisi kehangatan dalam sebuah hubungan asmara. Ia sungguh tak mengerti hatinya, jika ditanya masih cinta tentu saja hati terdalamnya berkata ya.
Tetapi Neera adalah seorang wanita realistis yang mengenyampingkan urusan emosi dibandingkan kebahagiaan anak-anaknya. Maka ia akan berusaha tegar dan mengikhlaskan semuanya, toh selama inj ia mampu melewati ini sendiri. Menjadi orang tua tunggal untuk triplets bukan masalah.
Sementara di bagian crew center tempat para awak kabin bertemu sebelum memasuki pesawat dihebohkan oleh bisik-bisik beberapa pramugari yang mendapatkan foto lucu dari bayi kembar.
Ayyub yang berada diantara mereka seolah acuh dan terhanyut dengan pemikirannya sendiri. Memikirkan kemana lagi ia harus mencari anak dan istrinya.
Ditengah lamunannya, tanpa sengaja ekor mata Ayyub mendapati pemandangan tiga balita lucu dengan seorang wanita berhijab dari lounge mewah yang khusus diperuntukkan bagi awak kabin itu.
Sungguh jarang orang berhijab dinegara ini apalagi saat ini ada tiga balita lucu dengan baju yang sama, bolehkah ia berharap kalau itu Neera dan triplets..?
Hati Ayyub saat itu bagai gendang yang bertabuh, segera ia memanggil pramugari yang tadi dengan semangat pamer ke teman-temannya dan mengambil hp itu untuk memastikan kebenarannya.
Benar saja, itu Neeranya bersama buah hati mereka, segera Ayyub bangkit dan hendak berjalan keluar lounge namun langkahnya terhenti saat mendengar penggumuman untuk memasuki pesawat bagi para awak kabin.
Sekuat tenaga Ayyub kembali menetralkan perasaannya, ia harus dalam keadaan tenang membawa pesawat. Setelah melakukan semua persiapan Ayyub segera menuju kursinya dan melakukan pengecekan ulang pengaturan di cokpit pesawat.
Setelah benar-benar siap barulah penumpang diizinkan menaiki pesawat secara teratur. Begitu juga dengan Neera dan triplets, mereka memasuki pesawat dengan suka cita terlebih triplets yang heboh sekali.
Sesaat setelah memasuki kabin, Neera dikejutkan oleh kedatangan dua pramugari dan seorang pramugara yang menunduk membarikan hormat padanya.
Dengan senyum lebarnya mereka meminta izin berbicara dengan Neera.
"Selamat siang, mohon maaf mengganggu waktunya, apakah dengan nyonya Zaneera ?" tanya seorang dari mereka yang terlihat lebih tua.
"Ya, selamat siang, dengan saya sendiri. Ada apa Mr. "? tanya Zaneera dengan kebingungannya.
"Begini nyonya, penerbangan anda telah diupgrade menjadi first class, jadi mari nona kami antarkan ?" sopan pramugara itu kembali.
__ADS_1
"Bagaimana bisa, seingat saya kami telah memesan bussines class" sanggah Neera yang mulai tidak mengerti dengan keadaan.
"Mohon maaf nyonya tetapi kami sudah mendapatkan data bahwa kursi anda diupgrade dan kursi ini akan ditempati oleh orang lain nyonya" palar seorang pramugari itu.
Raut kebingungan tercetak jelas diwajah cantik berhijab itu membuat ketiga pramugara dan pramugari itu tidak tega tapi mau bagaimana lagi ini perintah dari kapten sekaligus pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.
Mendengar akan ada orang yang menempati kursi mereka Neera menjadi bimbang karena bagaimanapun ia tidak ingin mendzalimi orang dengan merebut kursi mereka tetapi ia juga tidak yakin, orang gila mana yang memindahkan mereka di first class, apakah ia tidak tau berapa biaya untuk satu kali penerbangan.
Seketika Neera mendapat pencerahan melihat ketiga orang itu hanya terfokus padanya, sekaligus mengetes apakah benar atau hanya main-main.
"Begini tuan, apakah kalian tidak salah periksa lagi pula kami berangkat berempat. Saya tidak mungkin meninggalkan anak saya disini. Jika memang penerbangan ini penuh kami akan mengambil penerbangan selanjutnya" papar Neera yang keberatan untuk pindah karena bagaimanapun ia pikir mereka pindah karena penuh.
"Benar nyonya kami tidak salah, anda bersama triplets sudah dipindah ke firsr class" jelas pramugara itu lagi.
"Hah ?! triplets ? Bagaimana kamu bisa tau anak saya triplets ?" seketika Neera mulai curiga, bagaimana bisa pramugara ini memanggil anaknya triplets sementara itu hanya panggilan mereka dilingkungan dekat saja.
"Mohon maaf nyonya, bukankah anak kembar tiga juga disebut triplets, dan dari penglihatan saya mereka adalah kembar tiga" jelas pramugara itu dengan deg-degan takut ketauan oleh perempuan ayu didepannya.
"Baiklah, dapat saya terima" angguk Neera yang mungkin memang benar adanya penjelasan pramugara itu.
"Jadi bagaimana nyonya, bisakah kita pindah karena sebentar lagi penumpang akan terus masuk dan pesawat akan segera lepas landas" ungkap pramugara itu lagi.
Dengan berat hati Neera terpaksa mengangguk dan mengikuti ketiga petugas kabin itu, Neera juga merasa bersalah jika ia terus berdebat tugas mereka yang lain juga akan terbengkalai dan menghambat operasional pesawat ini.
"Mari nyonya kami bantu" ucap ramah ketiga awak kabin itu.
Akhirnya mereka berjalan menuju first class yang mana Neera mengawasi ketiga putra putrinya yang berjalan didepan sementara tasnya dibawa oleh seorang pramugara dan pramugari dan satu diantara mereka berjalan didepan segabai penunjuk arah.
Saat sampai disana, mereka menempati seperti satu bilik yang lebih terkesan seperti hotel. Para petugas kabin itu menyusun barang Neera dan triplets dan mereka berpamitan.
Sebelum mereka benar-benar pergi Neera mengucapkan terima kasih dan selamat bekerja tidak hanya itu Neera juga mengode triplets dan langsung mengerti, ketiga nya berucap dengan suara lucu mereka.
__ADS_1
"Mercy, Uncle and Aunty, selamat bekerja kembali" ucao mereka seraya menunduk yang membuat ketiganya ikutan menunduk dan tersenyum hangat.