
Setelah beberapa saat, Tan Shuying kembali merasakan keberadaan Para Bandit tersebut.
Tanpa menunggu aba-aba, Tou Shuijing, Jiu Tou She, Xie Shui dan Pasukan Semesta langsung menyergap para perampok.
" Hmmm... Sepertinya tidak perlu bantuan kita." Ryu menatap ke arah para perampok yang terlihat panik karena mendapatkan serangan dadakan.
" Ya... Sepertinya kehadiran Tan Shuying cukup membantu kita." Ucap Xie Xian sambil melirik ke arah Tan Shuying yang hanya berdiam diri.
" Dia perlu diajarkan agar sedikit nakal." Ucap Jiu Wei Hu sambil menggoda suaminya, lalu menoleh ke arah Tan Shuying yang wajahnya seperti kepiting rebus.
" Ma... Maksudnya?" Tan Shuying yang mendengar percakapan tersebut menatap ke arah Jiu Wei Hu, lalu menundukkan wajahnya.
" Aku tidak menyangka jika Ras Tanlan yang pernah menggemparkan Dunia Yuzhou memiliki sisi lain." Jiu Wei Hu berjalan mendekati Tan Shuying.
" I... Itu bukan kami." Tan Shuying menggelengkan kepala, karena tidak ingin menerima predikat buruk dari Ras Tanlan.
" Istriku, kamu jangan terus menggodanya." Ryu menggelengkan kepala karena Tan Shuying berkeringat dingin.
" Baiklah, aku ingin menonton pertarungan." Ucap Jiu Wei Hu sambil mengeluarkan sepasang sayap, lalu melayang ke atas mereka.
Melihat hal itu, Istri Ryu yang lain langsung mengeluarkan sepasang sayap seakan ingin menikmati pertarungan.
" Kamu ingin melihatnya juga?" Tanya Ryu sambil menatap ke arah Tan Shuying yang tidak bisa terbang.
Tanpa menjawab apapun, Tan Shuying hanya mengangguk kecil, tidak berani menatap ke arah Ryu secara langsung.
" Baiklah, kita akan menonton juga." Ryu merangkul pinggang Tan Shuying, lalu membawanya terbang ke udara.
Wuush!
Seketika tercipta sebuah awan di kaki Ryu dan Tan Shuying, membuat istrinya yang lain merasa iri.
" Terimakasih suamiku." Ucap Tan Shuying dimana mereka berdua langsung duduk dengan santai di atas awan.
" Jika seperti ini terus, sayapku terasa capek." Jiu Wei Hu beralasan lalu berpijak di atas awan ciptaan suaminya.
" Aku juga." Xie Xian dan yang lain langsung melompat ke arah awan lalu duduk bersama yang lainnya.
__ADS_1
Melihat tingkah Istrinya, Ryu hanya menggelengkan kepala sambil menatap ke arah Pasukan Semesta yang sedang bertarung melawan para perampok.
Tidak lama kemudian Pasukan Semesta telah berhasil membunuh semua para perampok, lalu menguras harta mereka.
Setelah selesai, Ryu kembali membawa bawahannya menuju ke arah lain dengan bantuan Tan Shuying sebagai penunjuk arah.
Tentu saat berada di markas para perampok, Ryu dan Istrinya hanya memperhatikan jalannya pertarungan, karena Pasukan Semesta masih mampu menghalau para perampok.
Hal Itu terus berlangsung hingga hari mulai gelap mereka telah berhasil menumpas empat markas para perampok dan mengumpulkan semua harta yang mereka miliki.
Hal yang tidak mereka lupa, dimana mayat para perampok ditarik menuju Dunia Quzhu agar bisa membuat Dunia tersebut semakin luas dan Qi didalamnya juga semakin banyak.
Hari demi hari mereka terus memburu para perampok tersebut hingga tidak ada satupun yang tersisa.
Tentu saja hal itu sangat mudah mereka lakukan karena para perampok rata-rata hanya mencapai Pendekar Langit.
Walaupun beberapa dari pemimpin mereka ada yang sudah mencapai Pendekar Surgawi tahap awal.
Lebih dari satu bulan telah berlalu, semua kelompok perampok sudah tidak ada satupun yang tersisa.
" Hah... Tidak terasa kita sudah menghabiskan waktu selama satu bulan di padang rumput ini. Aku yakin kelompok perampok itu sekarang sudah musnah." Ryu bernafas lega karena janjinya kepada Kaisar Sun Gozi bisa diselesaikan dengan mudah.
" Dewa Agung, aku tidak menyangka para kelompok perampok itu banyak memiliki Harta." ucap Guang Cheng.
" Mereka sudah berdiri puluhan tahun. Wajar saja mereka bisa mendapatkan banyak rampasan dari semua pedagang bahkan bangsawan yang mereka temui." Ucap Dao Luo yang terlihat senang.
" Sebaiknya kita melanjutkan perjalanan ke tengah padang rumput ini. Semoga saja tidak mengalami kendala.
" Baik Dewa Agung." Tou Shuijing dan Jiu Tou Shuijing langsung berubah wujud untuk membawa anggota Pasukan Semesta.
Sedangkan Ryu dan Istrinya masih berdiri di atas awan, lalu melesat ke arah tertentu sesuai petunjuk Tan Shuying.
Tiga hari telah berlalu, mereka terus terbang secara perlahan untuk menemukan keberadaan jurang hitam.
Bahkan Tan Shuying juga tidak mampu merasakan dengan jelas kebenaran jurang hitam tersebut.
Saat hari keempat kini Ryu dan Istrinya menemukan sebuah cahaya samar-samar dari kejauhan.
__ADS_1
" Suamiku, sepertinya burung merpati emas itu bisa menuntun kita menuju jurang hitam." Tan Shuying merasa yakin jika burung merpati emas bukankah burung biasa.
Ryu dan Istrinya yang lain juga mengangguk setuju, karena tidak mungkin ada hewan biasa dengan mudah memahami situasi di padang rumput.
" Baiklah, kita ikuti merpati emas itu! Shuijing, Jiu... Bawa Pasukan Semesta kembali ke Dunia Quzhu." Ucap Ryu sambil menoleh ke arah mereka di belakang.
" Baik Dewa Agung." Jawab mereka serempak, lalu menghilang dari pandangan.
" Jika kalian ingin kembali ke Istana Kristal, kalian boleh kembali." Ucap Ryu sambil menatap ke arah Istrinya.
" Suamiku, kami juga ingin melihat seperti apa bentuk penguasa elemen Kegelapan." Ucap Jin Niu.
" Benar suamiku. Kami juga ingin melihatnya secara langsung." Long Que Zhu dan yang lain ikut menimpal.
Melihat wajah penasaran istrinya, Ryu hanya tersenyum lalu melanjutkan perjalanan mereka untuk mengikuti merpati emas.
Saat di tengah perjalanan, merpati emas hinggap di atas batu besar yang memanjang seakan mengetahui bahwa ada yang mengikutinya.
Namun setelah menunggu cukup lama, merpati emas tidak beranjak dari tempat tersebut membuat Ryu merasa kesal.
" Sialan... Apa merpati emas itu ingin aku jadikan merpati panggang?" Ryu terlihat kesal karena seakan dipermainkan oleh seekor burung.
" Tunggu! Biarkan sampai merpati emas itu merasa nyaman dengan kehadiran kita. Merpati emas itu tidak bisa dianggap enteng. Sekalipun kita menyamarkan Aura, dia masih bisa merasakan kehadiran kita." Tan Shuying dengan cepat menghentikan tindakan Ryu.
" Haaahh." Ryu mendengus kesal karena tidak memiliki cara lain selain menunggu merpati emas kembali terbang.
Melihat hal itu Xie Xian dan yang lain hanya menggelengkan kepala karena mereka juga sedikit kesal terlalu lama menunggu.
Tiga hari telah berlalu, Ryu tidak lepas pandangannya terhadap merpati emas, membuat mereka memasang wajah masam.
Bahkan Xie Xian dan yang lain tertunduk lesu, karena merpati emas belum ada tanda-tanda untuk bergerak.
Setelah kesabaran Ryu dan Istrinya hampir habis, kini merpati emas kembali terbang menuju arah tertentu.
Tanpa menunggu lama, Ryu langsung mengikuti arah merpati emas, namun masih menjaga jarak agar merpati emas tidak merasa terganggu.
Setelah penantian yang cukup melelahkan, kini Ryu dan Istrinya melihat asap hitam yang mengepul tinggi hingga mencapai awan.
__ADS_1