SANG DEWA AGUNG 2

SANG DEWA AGUNG 2
Ch 376. Mengembalikan Pedang


__ADS_3

Tanpa berkata apapun, Liu Ryu mengukur besar ruangan di tempat itu, karena jika dia mengeluarkan semua hewan buas, maka dapat dipastikan ruangan itu akan penuh.


" Hei orang baru... Kamu jangan membual. Jika kamu tidak mampu menjalankan misi, lebih baik kamu minum arak bersama kami disini." Ucap pria berbadan besar mengejek Liu Ryu yang diikuti tawaan rekannya.


Dengan senyuman khas dari wajahnya, Liu Ryu langsung mengeluarkan mayat hewan buas, membuat para petarung yang lain hampir terjepit oleh tumpukan mayat hewan buas.


Bahkan beberapa petarung yang sudah mabuk karena terlalu banyak minum arak, kini langsung tersadar saat melihat tumpukan mayat hewan buas.


Semua yang berada di tempat itu merasa mual mengeluarkan isi perutnya, karena pemandangan tersebut begitu mengerikan.


Kini para petarung terlihat pucat, karena mereka telah menyinggung sosok yang terlihat mengerikan.


Cleo Ellen juga terlihat pucat, karena mayat yang dibawa oleh Liu Ryu sangatlah tidak masuk akal.


" Apa kalian bisa menghitungnya?" Tanya Liu.


" Bi... Bisa." Cleo Ellen yang terlihat gugup, langsung meminta bantuan kepada rekannya untuk menghitung jumlah mayat hewan buas, dan menyimpannya di sebuah gudang.


Itupun dengan bantuan para petarung yang lain agar bisa membersihkan ruangan tersebut dari mayat hewan buas.


Meskipun terlihat jengkel karena Liu Ryu mengganggu kesenangan mereka, namun tidak ada yang berani mengeluarkan sepatah katapun, justru mereka menyapa ramah kepada Liu Ryu.


Semua petugas juga dikerahkan untuk membawa hewan buas ke gudang penyimpanan, dimana Cleo Ellen harus menghitungnya dengan teliti agar tidak ada kesalahan.


Di sisi lain Liu Ryu sama sekali tidak memperdulikan berapa jumlah koin yang dia dapatkan, karena tujuannya hanyalah reputasi agar bisa mengumpulkan batu alam sebanyak mungkin.


Setelah memakan waktu yang cukup lama, kini semua hewan buas telah berhasil dipindahkan ke gudang penyimpanan, dimana Liu Ryu kembali mengeluarkan tumpukan mayat hewan buas, membuat para petugas dan anggota Serikat Petarung memasang wajah masam.


Tentu mereka membutuhkan tenaga ekstra untuk memindahkan semua hewan buas tersebut, hingga mencapai sore hari.

__ADS_1


" Tuan Petarung. Kami hanya bisa membayar sebesar dua juta koin emas. Sisanya akan kami berikan satu bulan lagi." Cleo Ellen harus menjelaskan situasi mereka, karena hasil buruan Liu Ryu sudah diluar prediksi mereka.


Bahkan untuk membayar harga hewan buas, Serikat Petarung harus meminta bantuan kepada beberapa cabang Serikat Petarung di kota yang lain.


" Aku akan menukar semuanya dengan batu alam." Liu Ryu tidak ingin terlalu banyak menyimpan koin tersebut, karena nantinya akan menjadi sampah di Cincin miliknya.


" Baik Tuan, aku akan berjanji untuk mengurus semuanya." Jawab Cleo Ellen tidak berani untuk membantah perkataan dari Liu Ryu, meskipun itu adalah pekerjaan yang sulit.


" Baiklah... Apa ada misi yang lain?" Tanya Liu Ryu yang membuat semua yang mendengarnya hampir muntah darah.


Bagaimana mungkin dengan hasil harga hewan buas itu saja Liu Ryu bisa hidup bersenang-senang selama belasan tahun, kini justru mengambil misi lagi.


" Untuk sementara waktu, tidak ada lagi tuan. Kecuali menjadi pengawal keluarga besar." Cleo Ellen menjelaskan bahwa sekarang Liu Ryu sudah biasa mendapatkan Lencana Serikat Petarung kelas D, meskipun dari segi kekuatan sudah berada di kelas S.


Cleo Ellen hanya bisa mengeluarkan Lencana kelas D, sedangkan untuk mendapatkan Lencana kelas B, Liu Ryu harus menjalankan misi dari Admin Serikat Petarung di Ludya, kota terbesar di negara Westland.


' Aturannya sangat rumit. Jika aku menggunakan kekerasan, sepertinya kurang efektif.' Pikir Liu Ryu sambil memikirkan segala kemungkinan yang terjadi.


" Baiklah, kapan aku bisa mengawal mereka?" Tanya Liu Ryu.


" Untuk masalah itu, kami belum mengetahuinya. Tapi aku berjanji akan memberitahukan kepada tuan, jika salah satu dari keluarga besar pergi ke Ludya." Cleo Ellen menjelaskan kepada Liu Ryu, bahwa untuk pergi ke Ludya harus ikut bersama rombongan keluarga besar.


Jika tidak, maka akan sulit untuk masuk ke dalam kota Ludya. Meskipun dengan kemampuan Liu Ryu bisa menghancurkan kota, namun justru akan mempersulit dirinya.


" Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu." Jawab Liu Ryu, lalu meninggalkan tempat itu bersama Elena yang sejak awal menunggunya.


Saat Liu Ryu sudah tidak terlihat lagi, barulah para petugas dan para Petarung bisa bernafas lega, karena keberadaan Liu Ryu membuat mereka kesulitan bernapas.


" Untung pemuda itu tidak mengambil hati atas tindakan kalian sebelumnya." Cleo Ellen terlihat kesal karena saat berada di depan Liu Ryu membuat rohnya seakan meninggalkan tubuhnya.

__ADS_1


" Apakah dia manusia?" Tanya salah satu dari Petarung.


Namun tidak ada yang menjawab, karena jelas-jelas Liu Ryu terlihat seperti manusia normal, meskipun kekuatannya diluar nalar.


" Nona Ellen, apakah namanya Liu Ryu?" Tanya salah satu anggota Serikat Petarung.


" Ya... Namanya memang sangat aneh. Lalu kenapa?" Jawab Elena, lalu kembali bertanya kepada pria berbadan kekar.


" Namanya sangat aneh, apa dia ada hubungannya dengan Ling Tian atau Dewa Langit?" Ucap pria berbadan kekar, karena dia pernah mendengar nama Dewa Ling Tian.


" Dewa Ling Tian? Apa dia juga seorang Dewa yang turun dari langit?" Semua yang berada di tempat itu tertuju pada pria berbadan kekar.


" Aku hanya pernah mendengarnya saja dari salah satu wanita yang tinggal di Istana Bordil." Pria berbadan kekar tersipu malu, karena secara tidak langsung dia pernah masuk ke Istana Bordil.


Para petarung yang berada di tempat itu hanya menggelengkan kepala, meskipun mereka memiliki rahasia tersendiri mengenai Istana Bordil, namun tidak pernah bertemu dengan wanita penghibur yang mengetahui tentang Dewa Ling Tian.


" Berkat pemuda itu, sekarang kalian bisa mendapatkan pekerjaan baru. Sekarang siapkan diri kalian untuk mendapatkan pekerjaan." Cleo Ellen tidak ingin membahas tentang Dewa, karena itu sudah diluar kemampuan mereka.


Terlebih dengan banyaknya hewan buas yang dibunuh oleh Liu Ryu, maka pekerjaan anggota Serikat Petarung semakin terbuka lebar.


*******


Di sisi lain, Liu Ryu dan Elena yang sudah berada di Kyria, kini langsung menuju ke kediaman pandai besi untuk menyerahkan pedang yang rusak.


" Bagaimana mungkin?" Pandai besi memasang wajah masam karena sepuluh pedang karya terbaiknya sudah tidak berbentuk lagi.


" Apa ada yang salah dengan meterial yang aku gunakan?" Gumam pandai besi seakan ingin menangis sambil melihat pedang ciptaannya.


" Anda tidak perlu khawatir. Aku akan mengganti rugi pedang yang aku gunakan sebelumnya." Liu Ryu memberikan koin senilai satu juta koin emas.

__ADS_1


Pandai besi itupun menatap ke arah Liu Ryu dengan tatapan rumit, seakan tidak percaya jika pedangnya yang memiliki kualitas tinggi justru dengan mudah dihancurkan ketika berada di tangan Liu Ryu.


__ADS_2