SANG DEWA AGUNG 2

SANG DEWA AGUNG 2
Ch 460. Tongkat Api


__ADS_3

" Seni Naga Kehampaan, Pelahap Kekosongan."


Duuung!


Sebuah cincin raksasa membentuk lubang hitam, melahap semua hujan lahar api yang turun dari langit.


Raja siluman kera memasang wajah serius, karena semua sihir terkuatnya sudah dia lepaskan, namun belum mampu mengalahkan Liu Ryu.


Di sisi lain, Liu Ryu kembali mengangkat tangannya hingga Pedang Naga Petir kembali ke tangannya.


Liu Ryu menarik napas dalam-dalam, lalu menatap ke arah raja siluman kera yang masih berada di tempatnya.


" Seni Naga Kehampaan, Jalan Bayangan."


Wuush!


Sebuah bayangan yang sangat cepat, melesat ke arah raja siluman kera.


Craaakk! Craaakk! Craaakk!


Liu Ryu yang sudah menggunakan kecepatan penuh, kini bergerak liar dari berbagai arah sambil menebas tubuh raja siluman kera.


Kali ini raja siluman kera sama sekali tidak berkutik, karena kecepatan Liu Ryu sama sekali tidak terbaca.


Ggooooaaarr!


Ggooooaaarr!


Ggooooaaarr!


Raja siluman kera meraung keras, karena Liu Ryu terus menyerangnya dari berbagai arah.


" Sihir Api, Kubus Api."


Duuung!


Dengan sisa tenaganya, raja siluman kera dengan buru-buru menciptakan sihir kubus transparan untuk melindungi tubuhnya.


Traaang!


Benturan keras dari Pedang Naga Petir bersarang pada kubus api, membuat Liu Ryu terlempar ke udara.


Liu Ryu dengan buru-buru menyeimbangkan tubuhnya, lalu melemparkan Pedang Naga Petir ke arah raja siluman kera.


Saat Pedang Naga Petir melesat ke arah raja siluman kera, Liu Ryu langsung mengeluarkan Qi dalam jumlah besar, lalu merentangkan kedua tangannya ke atas hingga tercipta bola Kehampaan berukuran besar.


" Seni Naga Kehampaan, Malapetaka."


Wuush!


Bola Kehampaan melesat cepat ke satu arah dengan Pedang Naga Petir yang melesat dengan kecepatan tinggi.


Traaang!


Pedang Naga Petir membentur kubus api yang melindungi tubuh raja siluman kera, hingga menimbulkan retakan membentuk jaring laba-laba.


Bboooom!


Saat yang bersamaan, bola Kehampaan menyelimuti Pedang Naga Petir, hingga terus menekan kubus api.


Traaang!

__ADS_1


Kraaack!


Gabungan dari Pedang Naga Petir dan Bola Kehampaan, membuat kubus api hancur berkeping-keping.


Raja siluman kera terlihat pucat, karena serangan dari Liu Ryu sangat mematikan, sehingga dengan buru-buru menyilangkan kedua tangannya.


Craaakk!


Bboooom!


Namun semuanya terlambat, karena Pedang Naga Petir sudah menusuk dada raja siluman kera, hingga efek bola Kehampaan membuat tubuh raja siluman kera hancur berkeping-keping.


Wuush!


Sebuah benda berwarna merah menyala, melayang di udara, yang merupakan Inti Roh dari raja siluman kera.


Wuush!


Tongkat raksasa milik raja siluman kera juga tidak tinggal diam, langsung melilit Inti Roh tersebut, seperti benda lentur.


" Hmmm." Liu Ryu menyipitkan matanya, karena pusaka milik raja siluman kera seakan melindungi Inti Roh tuannya.


Wuush!


Tubuh raja siluman kera yang awalnya berserakan, kini mulai berkumpul hingga mulai menyatu.


Melihat kejadian tersebut, Liu Ryu juga tidak tinggal diam, langsung melesat cepat ke arah Inti Roh yang dilindungi tongkat raksasa.


" Segel Tuan-Hamba."


Wuush!


Liu Ryu melepaskan tetesan darahnya menuju tombak raksasa, hingga tombak itupun melesat cepat untuk menghindar dari tetesan darah Liu Ryu.


Wuush!


Traaang!


Traaang!


Traaang!


Kedua jenis senjata yang seakan memiliki kesadaran tersendiri, kini saling bertarung di atas udara.


Karena Pedang Naga Petir terus menyerangnya, tongkat raksasa itupun melepaskan Inti Roh, agar bebas untuk bertarung.


" Teleportasi."


Duuung!


Liu Ryu berpindah tempat, hingga muncul di depan Inti Roh raja siluman kera, lalu menyimpannya di Cincin pemulihan.


Ggooooaaarr!


Raja siluman kera yang baru saja menyatukan tubuhnya, kini meraung keras, sambil menatap ke arah Liu Ryu yang sudah mengambil Inti Roh miliknya.


Liu Ryu membalikkan badannya, lalu menoleh ke arah raja siluman keras, seraya menyatukan kedua telapak tangannya.


" Seni Naga Kehampaan, Menggeser Alam."


Creeessh!

__ADS_1


Sebuah jurang raksasa seakan memisahkan daratan, membuat tubuh raksasa raja siluman kera seakan ditelan bumi.


Bboooom!


Saat tubuh raja siluman kera jatuh ke jurang raksasa, tanah itupun kembali menyatu, hingga menutup dengan sempurna.


" Meskipun kamu masih hidup, tapi kamu tidak akan mampu bertahan lebih lama di dalam tanah." Ucap Liu Ryu, lalu menoleh ke arah Pedang Naga Petir yang sedang bertarung melawan tongkat raksasa.


" Seni Naga Kehampaan, Pelahap Kekosongan."


Buussshh!


Sebuah cincin raksasa kembali muncul di depan Liu Ryu, hingga tongkat raksasa seakan ditarik paksa ke arah lobang hitam.


Meskipun daya hisap lobang hitam sangat kuat, namun tongkat milik raja siluman kera berusaha untuk melepaskan diri dari hisapan tersebut.


Sedangkan Pedang Naga Petir, sama sekali tidak terkena dampak hisapan, sehingga kembali membentuk ayunan pedang.


Traaang!


Pedang Naga Petir membentur tongkat raksasa, hingga terpental ke arah lobang hitam.


Saat tongkat raksasa berada di depan mulut lobang hitam, kini senjata itupun terus memberontak agar tidak masuk ke dalam.


Wuush!


Liu Ryu kembali melepaskan tetesan darahnya ke arah tongkat raksasa, untuk membentuk segel Tuan-Hamba.


Creeessh!


Tetesan darah dari Liu Ryu menempel pada tongkat raksasa, sehingga Liu Ryu mulai merapalkan Segel Tuan-Hamba.


Setelah beberapa saat, Liu Ryu berhasil mengendalikan tongkat raksasa, hingga efek hisapan lobang hitam tidak lagi berfungsi.


" Sekarang akulah tuanmu." Ucap Liu Ryu, lalu mengarahkan tangannya ke depan.


Saat itu juga tongkat milik raja siluman kera melesat ke arah telapak tangan Liu Ryu.


" Karena aku adalah tuanmu, maka aku akan memberikan nama untukmu Tongkat Api." Ucap Liu Ryu, lalu memasukkan ke Cincin miliknya.


Wuush!


Saat itu juga Pedang Naga Petir, kembali ke tangan Liu Ryu, hingga menghilang dari pandangan.


Liu Ryu kembali ke wujud semula, lalu menoleh ke arah ketiga Istrinya yang sudah menyelesaikan pertarungan mereka.


" Suamiku." Ketiga wanita itu terlihat senang karena bisa mengalahkan lawannya masing-masing.


Liu Ryu mengangguk kecil, lalu mendongakkan kepalanya ke atas langit yang berwarna merah keunguan.


" Aura ini bisa membuat hewan buas dan siluman bisa menjadi kuat." Liu Ryu memasang wajah serius, karena semakin hari dunia itu mulai berubah.


Bahkan matahari seakan tidak memancarkan sinarnya, karena ditutupi kabut asap merah keunguan.


" Aku rasa di daratan Muktho, kemungkinan tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan dari ras manusia." Liu Ryu menghela nafas berat, karena dunia itu sudah mengalami bencana besar.


" Kita tidak bisa melakukan sesuatu diluar kemampuan kita. Aku hanya berharap agar umat manusia masih ada yang tersisa." Liu Yunxia yang memahami kegelisahan suaminya, kini hanya menggelengkan kepala.


" Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan." Liu Ryu tidak ingin terlalu lama, langsung membawa ketiga Istrinya menuju ke sebuah tempat.


Tidak lama kemudian mereka telah sampai di sebuah tanah gersang bekas pertarungan mereka sebelumnya.

__ADS_1


Meskipun tanah itu banyak mengalami kerusakan, namun ada satu tempat yang tidak terpengaruh oleh goncangan pertarungan sebelumnya.


__ADS_2