
Melihat serangannya tidak bisa menembus pertahanan dari ratu siluman tikus darah, Elena menyipitkan matanya, lalu mengarahkan kembali busur panahnya.
" Seni Cahaya, Pedang Cahaya."
Wuush!
Sebuah anak panah melesat cepat ke arah ratu siluman tikus darah hingga semakin lama semakin membesar dan membentuk sebuah pedang raksasa.
Melihat datangnya siluet pedang raksasa, ratu siluman tikus darah terlihat serius, sambil memperkuat pelindung yang dia ciptakan.
Bboooom!
Traaang!
Benturan dari pedang raksasa menciptakan gelombang energi membuat pelindung darah yang diciptakan ratu siluman tikus darah langsung hancur berkeping-keping.
" Seni Cahaya, Pedang Cahaya."
Tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut, Elena kembali melancarkan serangan anak panahnya hingga membentuk siluet pedang raksasa ke arah ratu siluman tikus darah.
Ratu siluman tikus darah yang sudah kelelahan karena sudah banyak mengeluarkan tenaga, kini hanya bersikap pasrah menanti ajalnya.
Jleeep!
Siluet pedang raksasa menancap sempurna di tubuh ratu siluman tikus darah, hingga menembus tubuhnya.
Bboooom!
Qi unsur cahaya yang menancap di tubuh ratu siluman tikus darah kini langsung meledak membuat tubuhnya hancur berkeping-keping.
Wuush!
Sebuah benda raksasa berwarna merah darah melayang di udara seukuran bukit kecil, hingga secara perlahan tubuh ratu siluman tikus darah mulai menyatu.
Wuush!
Tanpa membuang waktu, Elena langsung melesat cepat untuk mengambil Inti Roh dari ratu siluman tikus darah, lalu menyimpannya di Cincin pemulihan.
" Manusia rendahan." Ratu siluman tikus darah terlihat marah karena Elena sudah mengambil Inti Roh miliknya.
Tubuh ratu siluman tikus darah yang sudah menyatu, kini menatap tajam ke arah Elena.
" Sihir Darah, Pengorbanan Darah."
Bboooom!
Ratu siluman tikus darah meledakkan tubuhnya sendiri untuk membunuh Elena dengan sisa kekuatannya.
Dengan sigap, Elena menyatukan kedua telapak tangannya, lalu mengeluarkan Qi dalam jumlah besar.
" Seni Cahaya, Gerbang Cahaya."
" Seni Cahaya, Pelindung Cahaya."
Buussshh!
Buussshh!
Sebuah gerbang raksasa berwarna keemasan muncul di hadapan Elena, diikuti tubuhnya diselimuti pelindung transparan.
Bboooom!
Traaang!
Sebuah energi membentur gerbang raksasa, hingga hancur berkeping-keping.
Bboooom!
Traaang!
__ADS_1
Gelombang energi terus menjalar dan bersarang di tubuh Elena, hingga terpental belasan kilometer.
" Uhuuuk." Elena memuntahkan darah segar, lalu bangkit berdiri.
Merasakan bahwa ratu siluman tikus darah sudah mati karena mengorbankan dirinya sendiri, Elena menghela nafas berat lalu mencari tempat yang aman untuk memulihkan diri.
Tentu serangan dari ratu siluman tikus darah sebelumnya, membuat Elena mengalami luka dalam, sehingga dia memilih untuk memulihkan diri secepat mungkin.
*******
( Pertarungan Dewi Arinia dan raja siluman tikus darah )
Dewi Arinia yang sudah berada di depan raja siluman tikus darah, kini menatap ke arah makhluk raksasa yang tubuhnya sudah ditumbuhi pepohonan.
Beberapa saat kemudian, gunung itupun bergetar hebat hingga menciptakan gempa bumi, dimana pepohonan yang berada di tubuh raja siluman tikus darah langsung bertumbangan.
Dewi memasang wajah serius, sambil menatap ke arah sepasang mata berwarna merah darah yang sedang menatapnya.
" Darah campuran Dewa dan Siluman? Tidak menyangka jika ada darah campuran yang memiliki kekuatan besar sepertimu."
" Kemarilah! Aku ingin menikmati dagingmu sebagai hidangan pembuka." Raja siluman tikus darah menatap tajam ke arah Dewi Arinia.
" Kamu pikir bahwa aku adalah hidangan yang lezat?" Ucap Dewi Arinia, sambil mengarahkan busur panahnya.
" Dewi Gurun, Serangan Pasir."
Jleeep!
Sebuah anak panah berukuran besar melesat cepat ke arah ratu siluman tikus darah.
" Sihir Darah, Gerbang Darah."
Buussshh!
Sebuah gerbang raksasa berwarna merah darah muncul di hadapan raja siluman tikus darah.
Bboooom!
Traaang!
Bersamaan dengan benturan kedua serangan, gerbang darah hancur berkeping-keping, dimana keempat kaki raja siluman tikus darah ditimbun lautan pasir.
" Tidak menyangka jika kemampuan darah campuran ini sangat kuat." Ucap raja siluman tikus darah, sambil menatap ke arah Dewi Arinia yang melayang di udara.
Buussshh!
Raja siluman tikus darah menciptakan pelindung energi mengelilingi tubuhnya, hingga tercipta seluruh bulunya berwarna merah darah.
" Sihir Darah, Tombak Darah."
Jleeep! Jleeep! Jleeep!
Satu-persatu tombak berwarna merah darah melesat ke arah Dewi Arinia dengan kecepatan tinggi, layaknya meteor.
" Dewi Gurun, Langkah Aurora."
Sriiiiiing!
Tubuh Dewi Arinia seakan membentuk butiran pasir, lalu muncul di lautan pasir di tempat yang lain.
Bboooom!
Bboooom!
Bboooom!
Belasan tombak darah meledak, membuat wilayah sekitar diselimuti lautan darah.
Kini di wilayah pertarungan antara Dewi Arinia dan raja siluman tikus darah diselimuti lautan pasir yang bercampur darah.
__ADS_1
Dewi Arinia yang melihat kejadian itu, kini memasang wajah serius, karena sihir yang dilepaskan oleh raja siluman tikus darah seakan menggerogoti pasir ciptaannya.
Seketika bau amis dari efek serangan menyebar di udara hingga membuat pepohonan seakan meleleh, meskipun tidak terjadi pada pasir ciptaan Dewi Arinia.
" Sangat mengerikan." Gumam Dewi Arinia, lalu menyelimuti tubuhnya dengan pelindung yang membentuk Zirah pasir, lalu menoleh ke arah raja siluman tikus darah.
" Dewi Gurun, Badai Gurun Pasir."
Jleeep!
Buussshh!
Serangan anak panah dari Dewi Arinia, hingga tercipta angin puyuh yang diselimuti butiran pasir yang sangat kuat dan tajam.
" Sihir Darah, Tombak Darah."
Raja siluman tikus darah, kembali mengeluarkan tombak darah berukuran besar ke arah angin puyuh.
Bboooom!
Benturan dari kedua serangan, menciptakan gelombang energi yang membuat tanah dibawahnya menciptakan gunungan pasir berwarna merah darah.
" Dewi Gurun, Badai Aurora."
Jleeep!
Dewi Arinia melepaskan serangan anak panahnya ke arah langit, hingga menciptakan sebuah lingkaran cahaya membentuk aurora di atas langit.
Jleeep! Jleeep! Jleeep!
Ratusan tombak yang tercipta dari pasir yang memadat diikuti terpaan angin kencang ke bawah, melesat ke arah raja siluman tikus darah.
Merasakan terpaan angin yang seakan menekan pergerakannya, raja siluman tikus darah memasang wajah serius.
" Sihir Darah, Pelindung Darah."
Buussshh!
Sebuah kubah berwarna merah darah mengelilingi tubuh raja siluman tikus darah.
Blaaar!
Blaaar!
Blaaar!
Ledakan demi ledakan dari tombak pasir yang memadat, membentur kubah darah dari raja siluman tikus darah menciptakan getaran gempa di wilayah pertarungan.
Seketika tubuh raksasa raja siluman tikus darah seakan ditimbun lautan pasir, meskipun masih berada di dalam perlindungan kubah darah.
Ggooooaaarr!
Sebuah raungan keras dari raja siluman tikus darah, menciptakan gelombang energi yang membuat gunungan pasir yang menimbunnya bertebaran ke berbagai arah.
Melihat kejadian tersebut, Dewi Arinia memicingkan matanya, karena raja siluman tikus darah masih mampu bertahan.
Dewi Arinia memejamkan mata, lalu mengumpulkan Qi dalam jumlah besar pada busur panahnya.
" Dewi Gurun, Retakan."
Jleeep!
Dewi Arinia melepaskan serangan anak panah pada tanah di depan raja siluman tikus darah.
Kraaack!
Tanah di sekitar raja siluman tikus darah, terbelah menjadi dua bagian hingga membentuk jurang besar.
Saat itu juga tubuh raksasa raja siluman tikus darah seakan ditelan bumi, saat jurang tersebut menutup kembali.
__ADS_1