
[ Jika menyukai karya ini sempatkan untuk kasih Like, Koment, dukungan dan Rate 🌟 5 ]
*******
Setelah mendengar percakapan mereka, Ryu beranjak dari tempat duduknya menuju kamar yang telah disediakan oleh para pelayan.
Di kamar itu juga terlihat Xie Xian dan Istri Ryu yang lain, karena ruangan itu sangat luas jadi masih mampu menampung mereka.
" Suamiku, kita makan dulu." Ucap She Xia sambil mengambil piring untuk suaminya.
" Mmmm." Ryu mengangguk, lalu duduk di sebuah kursi.
Meskipun bangunan tersebut milik penginapan, namun tempat itu layaknya kediaman pribadi sehingga Ryu dan Istrinya dengan bebas melakukan aktivitas apapun.
Setelah selesai makan, Ryu dan Istrinya berjalan menuju lantai tiga dimana terdapat teras tempat bersantai.
Di teras tersebut, Ryu dan Istrinya menatap ke arah jalan yang ada di Kota Hunnam yang sangat ramai dan padat.
Kota Hunnam adalah kota yang sangat besar, namun tidak dijaga dengan ketat oleh para penjaga karena mereka hanya fokus memungut biaya kepada siapapun yang berkunjung ke kota.
Karena itulah Ryu dan Istrinya dengan mudah memasuki Kota Hunnam hanya dengan memberikan beberapa Batu Roh kepada penjaga gerbang.
" Suamiku, apa yang kita lakukan setelah ini." Tanya Long Que Zhu sambil menatap ke arah para warga yang berjalan.
" Besok pagi kita akan pindah ke Istana Walikota Hunnam." Ryu menjelaskan tentang apa yang dia dengar dari beberapa pengunjung penginapan.
Mendengar perkataan dari suami mereka, Xie Xian dan yang lain mengangguk setuju, karena mereka juga ingin bermain dengan anggota Klan Hun.
Setelah puas menikmati keindahan Kota Hunnam, Ryu dan Istrinya memilih untuk beristirahat sambil menunggu kedatangan Walikota Hunnam bersama bawahannya besok pagi.
*******
Pada keesokan pagi Ryu dan Istrinya keluar dari kediaman mereka karena mendengar suara teriakan dari arah luar rumah.
" Cepat keluar! Atau kami bakar tempat kalian." Teriak salah satu sosok yang memimpin rombongan tersebut.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Ryu dan Istrinya keluar dari rumah, sambil menatap ke arah beberapa prajurit yang berada di depan rumah tersebut.
Sesaat semua mata tertuju pada 24 wanita yang keluar bersama dengan Ryu, dengan tatapan penuh nafsu.
" Apa kalian adalah bawahan dari Walikota Hunnam?" Tanya Ryu sambil berjalan mendekati mereka.
" Ya... Kami datang kesini untuk membawamu ke hadapan Walikota. Juga membawa 24 wanita itu. Sepertinya mereka sangat menggiurkan." Ucap pemimpin prajurit sambil menatap ke arah 24 Istri Ryu seraya menjilati bibirnya.
Bboooom!
Sebuah kibasan tangan dari Ryu, membuat sosok tersebut menjadi kabut darah.
Para warga yang melihat dari kejauhan, merasa merinding saat melihat pemandangan tersebut.
Bahkan para prajurit yang sekitar seratus lebih, kini semua mengencingi celana mereka sendiri, bahkan merasa enggan untuk bernafas.
" Siapa yang berani memandang rendah Istriku?" Ryu yang terlihat geram sambil menatap para prajurit.
Mendengar ucapan tersebut, semua prajurit tertunduk lesu, seakan roh mereka sudah keluar dari jasad, mengutuk keras karena telah berani mengusik orang yang salah.
" Sekarang aku perintahkan kepada kalian untuk membunuh Walikota Hunnam. Jika tidak, maka kalian akan tau sendiri resikonya." Ryu menatap ke arah mereka secara bergantian.
" Tuan Pendekar, kami hanya menjalankan tugas. Kami hanya melayani Kekaisaran Harimau, tapi...." Salah satu prajurit memberanikan diri untuk bersuara, namun ucapannya terhenti seakan ada yang mengganjal di pikirannya.
Saat suasana menjadi hening, kini terlihat pria paruh baya yang merupakan pemilik penginapan langsung berlari dan berlutut di hadapan Ryu.
" Tuan Pendekar, mereka hanya prajurit biasa. Mereka juga tidak berdaya sepertiku." Ucap pria paruh baya dengan tangan gemetar.
Melihat pemilik penginapan yang berlutut di hadapan Ryu, semua prajurit langsung berlutut di tanah seakan meminta pengampunan.
" Tuan Pendekar, saat ini kami sedang kesulitan." Pria paruh baya menceritakan tentang kebusukan Walikota Hunnam bersama anggota Klan Hun.
Salah satu prajurit juga menceritakan bahwa mereka sudah muak dengan kepempimpinan Walikota Hunnam.
" Tuan Pendekar, kamu lihat sendiri bagaimana keadaan Kota ini. para wanita dan gadis banyak dijadikan sebagai budak oleh Walikota Hunnam. Hanya di penginapan milikku saja yang tersisa." Ucap pria paruh baya yang menjelaskan situasi tersebut.
__ADS_1
Walikota Hunnam adalah putra Patriak Klan Hun yang membentuk kerjasama dengan Suku Naga, dimana kesepakatan tersebut Klan Hun harus memberikan para wanita Suku Harimau kepada Suku Naga.
Sebagai imbalannya Suku Naga akan melindungi Klan Hun dari invasi yang dilakukan oleh Suku Ular dan Suku Kelelawar yang bekerjasama dengan Ras Org.
Meskipun peperangan belum terjadi, namun dalam beberapa minggu lagi, akan terjadi peperangan.
" Tuan Pendekar, kemungkinan besar para tawanan masih berada di Klan Hun, karena mereka diambil secara paksa beberapa hari yang lalu." Pria paruh baya begitu berharap agar pemuda yang ada di depannya bisa membantu mereka.
Tentu pria paruh baya menganggap bahwa Ryu dan Istrinya adalah bagian dari Suku Harimau, karena wujud yang mereka gunakan sekarang.
" Baiklah, bawa aku ke Istana Walikota sekarang." Ryu meminta kepada seluruh prajurit untuk menuntun jalan kepada mereka.
" Baik Tuan Pendekar." Ucap para prajurit, lalu membawa Ryu dan Istrinya menuju ke Istana Walikota Hunnam.
Meskipun mereka sangat takut, namun mereka berpikir sudah waktunya untuk memberontak terhadap Walikota Hunnam yang sama sekali tidak berpihak pada rakyatnya.
Apalagi dengan adanya Ryu di pihak mereka, para prajurit berharap agar Ryu bisa membantu mereka.
Tidak lama kemudian mereka telah sampai di depan pintu gerbang Istana Walikota Hunnam yang terlihat sangat megah.
Tentu itu terjadi karena disamping mendapatkan bantuan dari pihak Istana Kekaisaran Harimau, Walikota Hunnam juga memungut pajak yang sangat besar kepada warganya.
" Tuan Pendekar, pihak Istana Kekaisaran Harimau tidak pernah memungut pajak kepada warganya agar cepat berkembang. Namun Walikota Hunnam memungut pajak untuk kepentingan mereka sendiri." Ucap pria paruh baya yang ikut bersama rombongan.
" Mmmm... Sekarang lakukan tugas kalian seperti yang aku rencanakan sebelumnya." Ryu memberi isyarat kepada para prajurit.
Meskipun sedikit ragu, beberapa prajurit mengikuti arahan dari Ryu untuk mengikatnya.
" Maafkan kami Tuan Pendekar." Ucap beberapa prajurit sambil mengikat tangan Ryu.
Namun tidak ada yang berani mendekati Xie Xian dan yang lain, sehingga mereka hanya berjalan mengikuti Ryu.
" Oh... Jadi pemuda itu yang berani membunuh tuan muda." Ucap salah satu penjaga Istana Walikota.
" Bagus, biarkan kami saja yang mengantar mereka di hadapan Walikota." Ucap salah satu penjaga yang lain.
__ADS_1
" Tidak! Biarkan kami saja yang mengantar mereka." Ucap salah satu prajurit yang memberanikan diri untuk bersuara.
Mendengar ucapan tersebut, para penjaga terlihat geram karena menganggap bahwa status mereka lebih tinggi dari prajurit tersebut.