SANG DEWA AGUNG 2

SANG DEWA AGUNG 2
Ch 412. Mantra Pemanggilan


__ADS_3

Ma Gui Lie yang begitu bersemangat, meminta kepada pengawal itu melanjutkan apa saja yang dia ketahui tentang Kekaisaran Atas Awan.


" Yang Mulia Kaisar... Penjagaan di Kekaisaran Atas Awan sangat ketat, sehingga kami tidak mampu menggali informasi lebih dalam lagi." Jawab pengawal itu.


" Itu masalah gampang. Kita tinggal kerahkan semua prajurit untuk menghancurkan Kekaisaran Atas Awan." Ma Gui Lie begitu bersemangat, meminta kepada para Jenderal Besar untuk mengumpulkan pasukan.


Namun pengawal itupun mencegah agar Ma Gui Lie tidak bertindak gegabah, karena pertahanan Kekaisaran Atas Awan sangat menakutkan.


" Disamping mereka memiliki kubah pelindung yang selalu aktif, Kekaisaran Atas Awan juga memiliki benda yang menyamai senjata tingkat Dewa di seluruh benteng pertahanan."


" Benda itu mereka namakan sebagai meriam peledak yang daya hancurnya sangat menakutkan. Jika terkena seorang Kultivator yang sudah mencapai Bintang Langit, maka tubuh mereka akan hancur berkeping-keping." Pengawal itu menceritakan tentang bagaimana kuatnya senjata yang dimiliki Kekaisaran Atas Awan.


Ma Gui Lie menelan ludah kasar saat membayangkan bagaimana kuatnya meriam peledak.


Meskipun Ma Gui Lie masih mampu menghalau meriam peledak, namun dapat dipastikan seluruh prajuritnya akan menjadi tumpukan daging.


" Ternyata Kekaisaran Atas Awan memang sulit untuk disentuh." Ma Gui Lie kembali duduk, sambil memijat keningnya.


Meskipun dia sangat berambisi untuk mendapat pemilik Tubuh Abadi, namun Ma Gui Lie juga memikirkan keselamatan pasukannya dan anggota Klan Ma.


" Kalau begitu, kumpulkan semua Ahli Penempa di seluruh dunia ini dan berikan kepada mereka upah sepuluh kali lipat."


" Aku ingin mereka menciptakan senjata terkuat untuk menghancurkan pertahanan Kekaisaran Atas Awan." Ma Gui Lie langsung memberi perintah kepada bawahannya untuk mencari semua Ahli Penempa.


Meskipun keberhasilannya sangat tipis, namun Ma Gui Lie masih sangat antusias untuk mendapatkan pemilik Tubuh Abadi.


Entah itu satu tahun atau seribu tahun kemudian, Ma Gui Lie tetap menginginkan pemilik Tubuh Abadi bisa jatuh ke tangannya.


*******


Di sebuah tempat yang sangat jauh dari tempat Liu Ryu berada, kini terlihat tujuh sosok pria sepuh yang semuanya menggunakan tongkat Sihir.

__ADS_1


Tujuh pria sepuh itu berdiri melingkari sebuah Altar Pemanggilan Dewa, saling berpandangan satu sama lain karena mereka merasa telah gagal.


" Kenapa tidak ada satupun dari Dewa tertinggi yang yang datang ke dunia ini?" Pria sepuh yang menggunakan jubah putih merasa heran karena sudah berkali-kali mereka merapalkan mantra pemanggilan, pasti akan ada salah satu dari Dewa tertinggi yang turun ke dunia itu.


" Apakah mantra pemanggilan itu sudah tidak berfungsi lagi?" Tanya pria sepuh yang menggunakan jubah merah.


" Tidak. Mantra pemanggilan ini tidak ada yang salah. Mungkin Dewa tertinggi yang kita panggil terlalu kuat." Jawab pria sepuh yang menggunakan jubah emas.


Ketujuh pria sepuh itu adalah penyihir Legenda yang mendapatkan ramalan bahwa akan ada malapetaka datang ke dunia mereka, sehingga mereka merapalkan mantra pemanggilan untuk memanggil Dewa tertinggi.


" Sudah tiga bulan kita berada di Altar Pemanggilan Dewa ini, namun tidak ada tanda-tanda bahwa Dewa tertinggi akan muncul." Pria sepuh yang menggunakan jubah ungu menghela nafas panjang.


Kini kondisi ketujuh penyihir Legenda itu tidak dalam keadaan baik-baik, karena siang-malam selalu merapalkan mantra pemanggilan selama tiga bulan.


Bahkan sudah banyak para murid mereka yang harus mengorbankan dirinya hanya demi melindungi dunia yang mereka tempati.


Sesaat terlihat sosok pria muda datang menemui ketujuh pria sepuh itu, untuk menanyakan hasil yang mereka dapatkan.


" Bagaimana guru? Apakah Dewa tertinggi itu masih belum muncul?" Tanya pemuda itu.


Sudah empat dari Dewa tertinggi yang mereka panggil, namun tidak ada satupun yang mampu mengalahkan pasukan Iblis Merah yang mendiami sebuah jurang.


Tujuh penyihir Legenda sudah mengetahui letak kediaman Pasukan Iblis Merah sekarang. Mereka sedang mengumpulkan kekuatan agar bisa keluar dari segel yang berada di jurang kediaman mereka.


Namun segel itu semakin lama semakin melemah, karena tekanan energi kegelapan terus mengikisnya.


Ketika keempat Dewa tertinggi ingin menghancurkan pasukan Iblis Merah, mereka tidak mampu menahan amukan mereka, sehingga mereka hanya mampu menciptakan segel dengan mengorbankan nyawa mereka untuk membuat segel agar dunia itu tidak hancur.


" Guru... Biarkan kami mengorbankan nyawa kami untuk menggunakan mantra pemanggilan itu lagi." Pemuda itu menawarkan nyawanya demi berjalannya mantra pemanggilan.


" Tidak! Aku tidak ingin mengorbankan kalian lagi. Itu sama saja artinya kami seperti Iblis." Pria sepuh berjubah putih tidak ingin lagi mengorbankan murid mereka.

__ADS_1


" Tapi guru... Keselamatan dunia ini jauh lebih penting dari nyawa kami." Pemuda itu masih bersikeras untuk mengorbankan nyawa mereka.


Ketujuh pria sepuh tidak mau lagi mengorbankan murid mereka, sehingga mereka lebih memilih untuk turun dari Altar Pemanggilan Dewa.


Sebagai penyihir Legenda yang bertugas untuk melindungi dunianya, tetap saja ketujuh pria sepuh tidak ingin mengorbankan nyawa muridnya lagi.


" Sekarang kita kembali ke kota! Kita akan mengatur rencana yang lain untuk menghadapi pasukan Iblis Merah itu." Ucap pria sepuh berjubah hitam.


" Tapi guru...."


" Tidak ada tapi tapi... Jika mantra pemanggilan itu gagal lagi, justru akan mengurangi kekuatan kita untuk menghadapi pasukan Iblis Merah itu." Pria sepuh berjubah putih menggelengkan kepala, lalu berjalan menuruni bukit.


Ketujuh pria sepuh itupun membawa sisa murid mereka meninggalkan bukit dan kembali ke kediaman Serikat Penyihir untuk mengatur rencana selanjutnya.


*******


Di sebuah gunung tertinggi di daratan Efhoria, terlihat Liu Ryu sedang duduk bersila untuk berkomunikasi dengan Dewa Ashura.


Gunung itu seakan membelah awan, dimana untuk kalangan manusia, mereka tidak akan mampu bertahan hidup di tempat itu.


Bahkan Dewi Arinia dan Elena juga tidak mampu mencapai puncak gunung tertinggi itu, sehingga mereka hanya bisa menunggu dibawah kaki gunung.


" Dewa Ashura, apa kamu bisa mendengarku?" Liu Ryu mencoba berkomunikasi dengan Dewa Ashura.


" Hmmm... Kenapa suaramu kurang jelas? Apa kamu berada di tempat yang sangat jauh?" Terdengar suara dari balik awan di sekitar Liu Ryu.


" Benar senior... Aku sedang terdampar di dunia yang sangat asing." Liu Ryu menceritakan tentang gambaran dari dunia yang dia tempati saat ini.


Liu Ryu menjelaskan secara rinci tentang tempatnya sekarang. Bahkan nama-nama kota bahkan nama manusia yang menurutnya tidak ada di dunia mereka.


" Dari ceritamu itu, sepertinya kamu ditarik paksa oleh mantra pemanggilan. Mungkin dunia yang kamu tempati sedang meminta bantuanmu."

__ADS_1


" Karena itulah ada beberapa manusia terkuat mencoba memanggil para Dewa tertinggi. Dan kebetulan kamulah yang mereka panggil." Jawab Dewa Ashura.


Mendengar ucapan tersebut, Liu Ryu memasang wajah masam, karena dia sendiri sudah menerima konsekuensi akan terkena imbas mantra pemanggilan jika menerima anugerah dari penguasa elemen Cahaya.


__ADS_2