
Pada keesokan hari, Liu Ryu dan Elena kembali ke Serikat Petarung dengan menggunakan kuda mereka.
Sepanjang perjalanan Elena menunjukkan kemesraan mereka, dengan memeluk erat tubuh suaminya.
Kejadian itu tidak lepas dari pandangan para warga yang kebetulan berpapasan dengan mereka.
Namun tidak ada yang berani mengusik Liu Ryu dan Elena, mengingat kejadian sebelumnya saat keluarga Barley mendatangi mereka.
" Istriku, apa kamu tidak malu dilihat orang lain?" Liu Ryu merasa tidak enak karena wanita itu selalu menunjukkan kemesraan mereka.
" Biarkan saja! Itu artinya aku adalah wanita yang paling bahagia di dunia ini." Elena sama sekali tidak memperdulikan tatapan orang lain, karena hatinya sedang berbunga-bunga.
Tentu kejadian pada malam pertamanya Liu Ryu mampu membawanya ke surga hingga lapisan ketujuh, yang membuatnya selalu terbayang keindahan malam pertamanya.
Mendengar ucapan dari Elena, Liu Ryu hanya menggelengkan kepala sambil memacu kudanya menuju Serikat Petarung.
Saat berada di bangunan Serikat Petarung,. kini pria paruh baya dengan buru-buru menyambut kedatangan mereka.
" Salam master." Pria paruh baya menundukkan kepala, sambil menyeka keringatnya yang bercucuran.
Tentu isu tentang keluarga Barley yang tidak berkutik di hadapan Liu Ryu, juga sampai di telinga Serikat Petarung.
" Mmmm... Apa Sandflier sudah dibelikan?" Tanya Liu Ryu.
" Sudah master." Jawab pria paruh baya.
Pria paruh baya menceritakan bahwa ketika dia berkunjung ke kediaman keluarga Barley, Duke Barley langsung menjual Sandflier miliknya.
Semua anggota Serikat Petarung tidak menyangka bahwa Duke Barley dengan mudah menjual Sandflier kepada Liu Ryu.
Semua orang mengetahui bahwa jika tanpa Sandflier, maka keluarga Barley tidak akan bisa pergi ke Ibukota Negara Westland lagi.
Kecuali warga dari Ibukota Negara Westland yang mendatangi Ludya, sehingga mereka bisa menumpang dan membeli kembali Sandflier yang berada di Ibukota Negara Westland.
" Master... Semua keluarga besar di Ludya juga memberikan hadiah kepada master." Pria paruh baya tidak menyangka bahwa pada pagi-pagi buta lima keluarga besar di Ludya mengantarkan beberapa peti yang berisi batu alam.
Sepengetahuan Serikat Petarung, kelima keluarga besar di Ludya sangat pelit dan perhitungan.
Bahkan untuk memberikan satu keping perak saja mereka tidak mau, apalagi dengan batu alam yang sangat banyak.
" Sepertinya keluarga besar di Ludya ini adalah orang yang baik hati." Ucap Liu Ryu, lalu meminta kepada Elena untuk mengambil tumpukan peti tersebut.
__ADS_1
Dengan sebuah anggukan, Elena langsung turun dari kudanya,. lalu mengibaskan tangannya membuat semua orang yang melihatnya sontak kaget.
" Master, silahkan masuk." Pria paruh baya membawa Liu Ryu ke sebuah tempat.
Di tempat itu terlihat sebuah kapal yang memiliki sirip seperti seekor burung dan memiliki kemudi.
Pria paruh baya juga menjelaskan tentang cara kerja Sandflier adalah menggunakan uap panas padang pasir agar bisa bergerak hingga terbang.
Semakin panas uap padang pasir, maka semakin cepat laju Sandflier.
" Master... Jika kalian melewati padang pasir, kalian harus berhati-hati, karena disana sangat banyak ular derik bahkan Dewa Gurun." Pria paruh baya mengingatkan kepada Liu Ryu agar membawa perbekalan yang memadai.
Terlebih untuk Dewa Gurun, pria paruh baya mengingatkan kepada Liu Ryu agar tidak menyinggungnya.
" Tuan tidak perlu khawatir, kami masih bisa menjaga diri." Jawab Liu Ryu, karena dia justru tertarik dengan Dewa Gurun yang disebutkan.
Jika Dewa Gurun sama persis dengan Dewa Gunung yang pernah dia bunuh, maka kemampuan Elena juga semakin meningkat.
Setelah menjelaskan fungsi dari Sandflier, pria paruh baya meminta kepada anggota Serikat Petarung untuk mendorong Sandflier ke arah gurun pasir.
" Tidak perlu, aku bisa membawanya." Ucap Elena, lalu mengibaskan tangannya membuat Sandflier langsung menghilang dari pandangan.
Para petarung yang menyaksikan kejadian tersebut, menganggap bahwa Elena adalah seorang penyihir Legenda karena hanya penyihir Legenda saja yang bisa menghilangkan sebuah benda.
" Mmmm.... Sekarang tuntun jalan kepada kami." Liu Ryu mengangguk, lalu naik ke atas kudanya.
Tanpa membuang waktu, Jackson langsung membawa mereka ke sebuah arah, dimana harus melewati hutan terlebih dulu.
" Master... Mohon maaf sebelumnya. Hutan yang kita lewati ini sangat berbahaya. Namun aku tidak punya pilihan lain, karena aku sangat merindukan keluargaku." Jackson berkata dengan lirih, karena sebuah dorongan kuat untuk bertemu keluarganya.
Jika saja itu hanya perjalanan biasa, maka Jackson berpikir dua kali untuk melewati hutan tersebut.
" Kamu tenang saja, aku akan melindungimu. Asalkan kamu bisa menuntun jalan kepada kami." Liu Ryu tidak memperdulikan masalah hewan buas, karena semakin banyak hewan buas yang dia dapatkan, maka semakin cepat Qi miliknya bisa terisi penuh.
Jackson mengangguk pelan, meskipun dalam hatinya masih ragu.
Ggooooaaarr!
Ggooooaaarr!
Ggooooaaarr!
__ADS_1
Saat sudah masuk ke dalam hutan, kini gerombolan hewan buas berlarian menuju ke arah rombongan Liu Ryu.
" Ma... Master." Jackson terlihat pucat karena apa yang dia pikirkan sebelumnya kini telah terjadi.
Bahkan jumlah hewan buas jauh lebih banyak dari perkiraannya, membuatnya ingin mengencingi celananya.
" Ibu... Aku hanya ingin pulang." Jackson yang terlihat frustasi, kini merengek-rengek seperti anak kecil.
Liu Ryu yang melihat tingkah dari pria botak berbadan kekar seperti itu, kini tertawa dalam hati, karena tidak sesuai dengan postur tubuhnya.
Untuk mempersingkat waktu, Liu Ryu langsung mengeluarkan Pedang Naga Petir,. lalu melesat ke arah gerombolan hewan buas.
Slaaash! Slaaash! Slaaash!
Liu Ryu langsung menebas hewan buas yang mendekatinya, dimana setiap ayunan pedangnya mampu membunuh satu sampai tiga ekor.
Bboooom!
Bboooom!
Bboooom!
Elena juga tidak tinggal diam, langsung mengeluarkan bola cahaya dari tongkat sihirnya, ke arah gerombolan hewan buas.
Ledakan demi ledakan menyebar ke berbagai tempat, membuat puluhan hewan buas melayang ke udara hingga kehilangan nyawa.
" Kedua pasangan ini memiliki kekuatan yang mengerikan." Jackson yang awalnya menutup mata dan bersikap pasrah, kini membuka matanya saat mendengar suara ledakan.
Kini Jackson merasa tertarik untuk belajar kepada Liu Ryu agar bisa menjadi seorang petarung yang sangat kuat.
" Ini adalah kesempatan untukku belajar dari master." Gumam Jackson,. sambil menatap ke arah pertarungan.
Saat berhasil membunuh semua hewan buas, Elena kembali mengumpulkan semua mayat hewan buas pada Cincin miliknya.
Sedangkan Liu Ryu hanya mengambil Inti Roh Siluman, karena dia masih memerlukannya dalam jumlah banyak.
" Sekarang kita lanjutkan perjalanan." Ucap Liu Ryu, membuyarkan lamunan Jackson.
" Baik master." Jawab Jackson, lalu kembali berjalan di barisan depan.
Selama dalam perjalanan, semakin masuk ke dalam hutan, jumlah hewan buas juga semakin banyak.
__ADS_1
Namun sebanyak apapun mereka, seakan tidak berarti bagi Liu Ryu dan Elena, karena kemampuan mereka seakan tidak ada tandingannya di dunia itu.