SANG DEWA AGUNG 2

SANG DEWA AGUNG 2
Ch 432. Goa Bawah Tanah II


__ADS_3

Liu Ryu pun kembali menarik kedua kepala makhluk raksasa, lalu berjalan mengikuti penjaga gerbang yang mengantar mereka ke goa bawah tanah, diikuti kedua Istrinya.


" Tuan walikota, bukankah tempat itu terlalu berbahaya?" Tanya pemimpin penjaga gawang saat Liu Ryu dan kedua Istrinya sudah tidak terlihat lagi.


" Semoga saja mereka selamat." Jawab walikota, sambil menghela nafas berat.


Dari generasi sebelumnya, goa bawah tanah tidak pernah digunakan lagi, karena disamping dipenuhi aura kematian, goa bawah tanah juga memiliki banyak hewan buas yang tidak lazim.


" Meskipun merasa berasal dari alam Dewa, namun sudah banyak Dewa tertinggi yang tidak pernah keluar dari goa bawah tanah itu." Walikota hanya bisa berharap agar Liu Ryu dan kedua Istrinya bisa selamat.


*******


Di tempat lain, pengawal yang mengantar Liu Ryu dan kedua Istrinya, kini menghentikan langkahnya di depan sebuah sumur yang sangat besar.


" Master... Mohon maaf sebelumnya. Biarkan aku membuka pintu goa ini untuk kalian. Aku tidak ingin makhluk yang berada disana membunuh warga disini." Meskipun terlihat ketakutan, pengawal itu memberanikan diri untuk bersuara, karena itu menyangkut keamanan warga di kota itu.


" Baiklah, aku tau apa yang kamu khawatirkan." Liu Ryu tidak mempermasalahkan hal itu, karena bagaimanapun mereka adalah warga biasa.


Jika satu saja makhluk yang menghuni goa bawah tanah itu keluar, maka dapat dipastikan seluruh kota itu akan musnah.


" Terimakasih master. Aku harap kalian tidak tersinggung dengan ucapanku. Kami disini terlalu lemah untuk menghadapinya." Ucap pengawal itu lagi.


Liu Ryu meletakkan bola kristal itu di sebuah lekukan dinding sumur, dimana pengawal itu langsung meningkatkan kewaspadaan, sambil menyeka keringatnya.


Klaaang!


Sebuah pintu yang menutupi sumur itupun bergerak berputar hingga secara perlahan mulai mengecil.


Buussshh!


Aura kematian yang sangat kuat, keluar dari sumur itu, membuat pengawal langsung jatuh pingsan.


Liu Ryu menggelengkan kepala, lalu menyalurkan energi transparan untuk melindungi pengawal tersebut, hingga secara perlahan mulai sadar.


" Ma... Maafkan aku master." Pengawal yang merasakan tubuhnya menjadi enteng, kini bernafas lega.


Pengawal bernafas lega karena tanpa bantuan Liu Ryu, dapat dipastikan dia akan mati akibat aura kematian yang keluar dari goa bawah tanah.


" Baiklah. Setelah kami masuk, kamu bisa mengunci pintu sumur ini kembali." Liu Ryu mengangguk, lalu menuruni anak tangga yang mengantar mereka ke goa bawah tanah.


Setelah beberapa saat, Liu Ryu dan kedua Istrinya sudah sampai di dasar sumur, lalu mengirimkan transmisi suara kepada pengawal yang mengantar mereka.

__ADS_1


" Saudara, silahkan ambil kembali bola kristal itu." Suara dari Liu Ryu menggema di telinga pengawal itu.


" Maafkan aku master." Ucap pengawal itu, dengan berat hati langsung mengambil kembali bola kristal.


Klaaang!


Pintu yang awalnya mengecil, kini mulai membesar hingga menutup sumur itu kembali.


" Semoga saja Dewa memberkati kalian." Gumam pengawal itu, lalu meninggalkan tempat tersebut, karena merasa ngeri jika terlalu lama di tempat itu.


Di sisi lain, Liu Ryu dan kedua Istrinya yang sudah berada di dasar sumur, kini langsung melanjutkan perjalanan mengikuti lorong yang berada di depan mereka.


Lorong itu sangat gelap, sehingga tidak mudah untuk manusia biasa untuk melewatinya.


Namun bagi Liu Ryu, lorong gelap itu tidak berarti baginya sehingga dia dapat melihat jelas apa saja yang ada di tempat itu.


Begitupun dengan Dewi Arinia dan Elena, dengan tingkat Kultivasi mereka yang sudah mencapai Bintang Perunggu, mereka juga bisa berjalan di kegelapan lorong itu, meskipun tidak setajam penglihatan Liu Ryu.


" Suamiku, aura ini sangat mengerikan." Ucap Elena, karena aura kematian membuatnya merasa sesak nafas.


" Sepertinya kami tidak bisa bertahan lama disini." Dewi Arinia juga merasakan hal yang sama, dimana dia juga merasa sesak nafas.


Liu Ryu berfikir jika mereka melanjutkan perjalanan, maka yang dia khawatirkan adalah kedua Istrinya.


Sosok yang menghuni goa bawah tanah pasti tidak bisa dianggap enteng, karena yang bisa bertahan hidup dengan aura kematian seperti itu, pasti adalah sosok yang kuat.


Liu Ryu mengambil dua buah Batu Bintang yang sudah diberikan sebuah Formasi khusus, lalu memberikan kepada kedua Istrinya.


" Suamiku, untuk apa ini?" Tanya Dewi Arinia yang merasa heran.


" Seraplah Batu Bintang itu, sebelum kalian Berkultivasi." Jawab Liu Ryu, karena dia tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut agar kedua Istrinya bisa menggunakan aura kematian untuk meningkatkan Kultivasi.


Kedua wanita itupun mengangguk pelan, lalu mengambil posisi duduk bersila untuk menyerap Batu Bintang yang diberikan oleh Liu Ryu.


Buussshh!


Batu Bintang yang kedua wanita itu telan, kini secara perlahan menjalar menuju dantian mereka.


Meskipun proses penyerapan Batu Bintang sangat menyakitkan, namun Dewi Arinia dan Elena harus berjuang sekuat tenaga.


Di sisi lain Liu Ryu dan juga menciptakan sebuah Formasi khusus untuk menarik semua aura kematian agar bisa dimurnikan oleh kedua Istrinya.

__ADS_1


Membutuhkan waktu selama beberapa jam, kini Dewi Arinia dan Elena berhasil menyerap Batu Bintang, hingga masuk dan mengurai di lautan Qi milik mereka.


" Berhasil." Kedua wanita itu terlihat senang, karena proses penyiksaan yang mereka alami sudah terlewati.


" Sekarang seraplah aura kematian yang berada di tempat ini." Liu Ryu memberi Instruksi kepada kedua Istrinya.


" Mmmm." Kedua wanita itupun mengangguk, lalu kembali memejamkan mata.


Buussshh!


Liu Ryu menyatukan kedua telapak tangannya, hingga tercipta pelindung tidak kasat mata mengelilingi tubuh Dewi Arinia dan Elena.


Wuush!


Sebuah terpaan angin yang berasal dari aura kematian di tempat itu, kini dengan cepat tersedot dan masuk ke dalam dantian Dewi Arinia dan Elena.


" Untung saja aura kematian ini sangat cocok untuk meningkatkan Kultivasi mereka." Gumam Liu Ryu, sambil menatap ke arah kedua Istrinya yang sedang Berkultivasi.


Kini tubuh kedua wanita itu mengeluarkan cahaya berwarna putih yang merupakan berasal dari kemampuan khusus mereka.


Dengan adanya cahaya berwarna putih, Dewi Arinia dan Elena bisa memurnikan aura kematian agar menjadi energi murni.


" Tidak lama lagi, kalian akan menerobos Bintang Perak." Gumam Liu Ryu, lalu mengambil tempat untuk menyandarkan tubuhnya.


Satu hari....


Dua hari...


Tiga hari...


Bboooom! Bboooom!


Dewi Arinia dan Elena berhasil menerobos Bintang Perak, dimana mereka masih melanjutkan untuk Berkultivasi, karena aura kematian masih banyak.


Tentu dengan Formasi khusus yang Liu Ryu ciptakan sebelumnya, dalam radius puluhan kilometer, aura kematian akan tersedot ke arah Dewi Arinia dan Elena.


Sambil menunggu proses Kultivasi kedua Istrinya, Liu Ryu masih dalam terjaga, karena dia mulai merasakan kehadiran beberapa sosok yang mendatangi mereka.


" Makhluk apa ini? auranya sangat kuat." Gumam Liu Ryu sambil menatap lurus ke depan.


Agar tidak menggangu proses Kultivasi kedua Istrinya, Liu Ryu memilih untuk berjalan mendatangi pemilik aura yang sangat kuat.

__ADS_1


__ADS_2