SANG DEWA AGUNG 2

SANG DEWA AGUNG 2
Ch 374. Hanya Sebesar Tempayan


__ADS_3

Saat tiba di rumah pandai besi, Elena membeli sebuah pedang yang dimiliki kualitas terbaik menurut pandai besi itu.


Namun di mata Liu Ryu pedang tersebut memiliki kualitas yang sangat rendah. Jika digunakan dalam waktu lama, dapat dipastikan pedang itu akan tidak berbentuk lagi.


" Apa anda meragukan kualitas senjata milikku?" Tanya pandai besi, saat melihat ekspresi dari Liu Ryu yang tidak begitu puas.


" Ya." Jawab Liu Ryu dengan singkat.


Elena yang berada di sampingnya, kini membuka mulutnya lebar-lebar, karena dia sendiri sudah mengetahui tentang kualitas pedang yang dimiliki pandai besi itu.


Bahkan untuk membeli satu pedang terbaiknya saja Elena mengeluarkan koin dalam jumlah besar.


" Baiklah, aku akan memintamu untuk mengujinya sendiri. Kamu boleh membawa pedang itu tanpa harus membayar."


" Anda boleh kembali kesini satu tahun lagi. Jika pedang itu rusak, maka anda tidak perlu membayar. Namun jika pedang itu masih utuh, anda harus membayar dua kali lipat dari harga sebenarnya." Pandai besi merasa tertantang untuk menguji kemampuan pedang buatannya.


Terlebih di tempat itu ada Elena yang merupakan putri tuan kota sebagai saksinya, sehingga Liu Ryu tidak bisa melarikan diri.


Bahkan pandai besi juga bisa menagih tuan kota Kyria jika Liu Ryu ingin melarikan diri.


" Baiklah, aku akan membawa semuanya." Liu Ryu langsung membawa sepuluh pedang tersebut, membuat pandai besi merasa sesak nafas.


Untuk menyikapi situasi tersebut Elena akan berjanji akan membayar semua pedang yang dibawa Liu Ryu, meskipun dia tidak yakin jika ayahnya bisa membayar semuanya.


Pandai besi itupun bernafas lega karena, dia masih memiliki jaminan lain dari Elena, ataupun tuan kota Kyria yang dikenal sangat baik dan jujur.


Jika bukan karena Elena, pandai besi itu akan mengejar Liu Ryu dan mengambil kembali pedang yang dibawa pemuda itu.


" Terimakasih nona Elena." Pandai besi menundukkan kepala, karena wanita itu mau menjadi penjamin sepuluh pedang terbaik ciptaannya.


" Mmmm, kalau begitu, kami pergi dulu." Jawab Elena, lalu berjalan mengikuti Liu Ryu yang sudah berada di luar rumah pandai besi.


Selama dalam perjalanan, di pikiran Elena hanyalah tentang pedang yang dibawa Liu Ryu, karena ulah pemuda itu ayahnya bisa jatuh miskin dalam sekejap.


Namun Elena tidak berani berkata apapun, karena kemunculan Liu Ryu masih sangat misterius, sehingga dia ingin menyelidikinya lebih jauh.


Saat berada di sebuah jalan setapak, Elena langsung menuntun jalan, meskipun dia sendiri terlihat sangat ketakutan karena jumlah hewan buas sangatlah tidak masuk akal.

__ADS_1


Ggooooaaarr!


Rrraawr! Rrraawr! Rrraawr!


Baru saja Liu Ryu dan Elena berjalan 20 meter dari muara jalan setapak, kini terlihat ratusan hewan buas yang berlari dengan liar menuju ke arah mereka.


" Gluug." Elena menelan ludah kasar, karena kali ini mereka tidak bisa selamat dari serangan hewan buas tersebut.


" Lebih baik kamu mundur, biar aku yang menghadapi mereka." Liu Ryu langsung berdiri di depan, lalu mengambil salah satu pedang bawaannya.


Saat hewan buas itu berada dalam jarak dekat, Elena justru jatuh pingsan, karena jumlah hewan buas membuatnya seakan lupa cara bernafas.


" Merepotkan saja." Liu Ryu menggerutu karena dia harus melindungi wanita itu.


Liu Ryu langsung melompat ke arah Elena, lalu mengambil jubahnya untuk mengikat wanita itu agar tidak terlepas dari punggungnya.


Sedangkan sembilan pedang yang lain, Liu Ryu lempar ke sebuah arah, agar bisa mengambilnya kembali jika pedang di tangannya rusak.


Slaaash! Slaaash! Slaaash!


Dengan kekuatan fisiknya, setiap ayunan pedang dari Liu Ryu mampu membunuh satu-persatu hewan buas.


" Semua hewan buas ini seakan tidak takut mati, meskipun banyak rekannya sudah terbunuh." Gumam Liu Ryu, sambil mengayunkan pedangnya.


Secara perlahan pedang yang di tangan Liu Ryu sudah tidak berbentuk lagi, setelah berhasil membunuh lebih dari seratus hewan buas.


Wuush!


Liu Ryu melempar pedang yang sudah rusak, lalu melompat ke arah pedang yang dia letakkan sebelumnya.


Ggooooaaarr!


Rrraawr! Rrraawr! Rrraawr!


Semua hewan buas terlihat marah, karena sudah banyak rekannya yang terbunuh oleh Liu Ryu.


Slaaash! Slaaash! Slaaash!

__ADS_1


Liu Ryu terus mengayunkan pedangnya dimana di tempat itu jumlah hewan buas sudah tidak terhitung lagi yang sudah kehilangan nyawa.


" Hmmm." Liu Ryu sedikit menaikkan alisnya, karena beberapa hewan buas yang berada di barisan belakang sudah ada yang menjadi Siluman.


Dengan demikian Liu Ryu merasa sedikit lega, karena dengan adanya Inti Roh dari Siluman, maka dia bisa memulihkan Qi miliknya secara perlahan.


Namun keberadaan para Siluman seakan tidak berarti bagi Liu Ryu. Meskipun hanya menggunakan kekuatan fisik, dia masih mampu mengalahkan mereka.


Setelah melakukan pertarungan cukup lama, kini Liu Ryu berhasil membunuh semua hewan buas, termasuk mereka yang sudah menjadi Siluman.


Tanpa membuang waktu, Liu Ryu membelah kepala para Siluman, dimana diantara Inti Roh yang dia kumpulkan ada yang seukuran kelereng hingga yang paling besar seukuran kepalan tangan, sesuai dengan usianya.


" Sepertinya ini masih belum cukup." Liu Ryu tersenyum pahit sambil menatap ke arah Inti Roh yang dia kumpulkan.


Sesaat Liu Ryu memejamkan mata untuk menyerap semua Inti Roh tersebut,. hingga satu-persatu berubah menjadi abu.


" Awww..." Terdengar suara dari punggung Liu Ryu dimana Elena sudah sadarkan diri.


" Akhirnya kamu sadar juga." Liu Ryu melepaskan ikatannya, lalu memasangkan kembali jubahnya.


Di sisi lain Elena yang baru sadarkan diri,. kini merasa mual karena pemandangan di depannya begitu mengerikan.


Elena berusaha mengatur napasnya agar bisa mengendalikan diri, sambil menatap ke arah Liu Ryu seperti melihat monster.


Meskipun Liu Ryu tersenyum seramah mungkin, namun dibalik senyuman itu, justru Elena merasa ngeri.


" Sudah aku katakan sebelumnya, kamu tidak perlu ikut." Liu Ryu menggelengkan kepala lalu mencari tempat untuk duduk bersila.


Dengan jumlah Qi yang dia kumpulan sekarang, paling tidak Liu Ryu bisa mengambil Pil yang berada di Cincin miliknya.


Namun apa yang diharapkan Liu Ryu, semua Pil yang dia miliki hanya bisa berfungsi kurang dari 10% dari khasiat yang seharusnya.


Tanpa berpikir panjang, Liu Ryu menghabiskan semua Pil tersebut untuk memulihkan Qi miliknya.


" Paling tidak, aku bisa menggunakan Cincin milikku dan Pedang Naga Petir." Gumam Liu Ryu sambil menatap ke arah Elena yang masih duduk mematung sambil menatap ke arah tumpukan mayat hewan buas.


Selain merasa kagum dengan Liu Ryu, Elena juga merasa ketakutan, karena apa yang dilakukan Liu Ryu lebih mengerikan dari Petarung kelas S.

__ADS_1


Di sisi lain, Liu Ryu juga berencana untuk berburu Siluman sebanyak mungkin untuk mengumpulkan Qi miliknya.


Meskipun sekarang Liu Ryu memiliki Qi sebesar tempayan, namun dia tidak patah semangat untuk memulihkan Qi secara utuh.


__ADS_2