
Setelah berkomunikasi dengan Dewa Ashura, Liu Ryu kembali menuruni gunung, kembali menemui kedua Istrinya.
Liu Ryu tidak menyangka bahwa ada orang yang mengetahui tentang mantra pemanggilan, sehingga dia terseret ke dunia itu.
" Sepertinya aku harus mencari keberadaan orang yang memanggilku ke dunia ini, agar bisa kembali ke Dunia Tiantang." Gumam Liu Ryu sambil melesat ke kaki gunung.
Liu Ryu yang sudah berada di kaki gunung, kini langsung disambut oleh kedua Istrinya yang terlihat khawatir.
" Suamiku, bagaimana caramu bisa bertahan di puncak gunung ini?" Tanya Elena, karena di puncak gunung tidak ada lagi udara.
" Suatu saat kalian akan mengetahuinya sendiri." Jawab Liu Ryu.
Kedua wanita itu terlihat cemberut karena Liu Ryu tidak menjawab pertanyaan mereka. Liu Ryu meminta kepada kedua istrinya untuk melanjutkan perjalanan, karena masih banyak tempat yang harus mereka kunjungi.
Sebelum Liu Ryu dan Istrinya sampai di kaki gunung tertinggi, mereka sudah berkali-kali berhadapan dengan hewan buas.
Namun itu semua tidak menjadi halangan bagi Liu Ryu dan Istrinya yang kini kedua wanita itu sama-sama sudah mencapai Pendekar Semesta tahap akhir.
Nama yang tidak menutup kemungkinan bahwa Liu Ryu mendapatkan kendala saat berada di dalam perjalanan.
" Suamiku, apa yang kamu temukan di dalam peta itu?" Tanya Dewi Arinia yang merasa penasaran dan peta yang Liu Ryu dapatkan dari Apollo.
" Sepertinya di daratan ini memiliki tempat yang sangat berbahaya yang bisa saja mengancam kehidupan manusia." Jawab Liu Ryu, karena dia sudah mengetahui bahwa pasukan Iblis Merah sedang tersegel di daratan Muktho.
Tentu Liu Ryu mengetahuinya dari Dewa Ashura yang memiliki kemampuan khusus untuk mengetahui segala sesuatu yang berada di dunia itu.
Liu Ryu menjelaskan kepada kedua istrinya bahwa dunia itu tidak sesederhana yang dipikirkan, karena dengan adanya pasukan Iblis Merah.
" Meskipun sekarang pasukan Iblis Merah sedang tersegel, namun aura jahat yang mereka lepaskan bisa mempengaruhi pikiran hewan buas bahkan Siluman." Liu Ryu menjelaskan, sambil menatap ke arah Dewi Arinia yang juga memiliki darah campuran Siluman.
" Apa itu akan berpengaruh denganku?" Tanya Dewi Arinia yang terlihat panik.
" Ya... Namun jika kamu sudah mencapai Bintang Roh, maka itu tidak berpengaruh lagi." Jawab Liu Ryu.
Meskipun Liu Ryu memiliki Batu Roh yang berlimpah, namun tidak bisa digunakan secara terus-menerus, karena Dewi Arinia harus mengikuti setiap prosesnya.
Dengan kata lain Dewi Arinia harus mencari Sumberdaya untuk meningkatkan kualitas fisiknya agar bisa kembali meningkatkan Kultivasi.
" Jika saja harta langit itu tidak terkena efek energi di dunia ini, mungkin kalian bisa menggunakannya untuk meningkatkan kualitas fisik kalian." Liu Ryu menggelengkan kepala, karena kelima harta langit di Dunia Quzhu tidak bisa dipanen lagi.
__ADS_1
Mendengar penjelasan dari suami mereka, Dewi Arinia terdiam sejenak sambil memikirkan cara untuk meningkatkan kualitas fisik mereka dengan cepat.
Salah satu cara yang paling cepat, yaitu Liu Ryu harus membiarkan Dewi Arinia dan Elena bertarung melawan apa saja yang mereka temui.
" Kita harus mencari sesuatu yang berharga untuk meningkatkan kualitas fisik kalian." Meskipun demikian, Liu Ryu juga ingin mencari Sumberdaya yang cocok untuk meningkatkan kualitas fisik mereka.
Jika Dewi Arinia dan Elena terus meningkatkan Kultivasi tanpa Fondasi yang kokoh, maka mereka akan mengalami kebuntuan sehingga tidak bisa Berkultivasi lagi.
" Sebenarnya apa yang diinginkan pasukan Iblis Merah datang ke dunia ini?" Tanya Elena, yang penasaran dengan tujuan pasukan Iblis Merah.
" Tujuan mereka adalah untuk menciptakan danau darah dari manusia. Jika danau darah tercipta, maka Dewa Iblis Merah akan bangkit kembali." Jawab Liu Ryu, meskipun dia belum mengetahui apakah itu ada hubungannya dengan Xu Tianpeng dan Dewi Malam.
Namun dari penjelasan Dewa Ashura, Xu Tianpeng tidak bisa datang ke dunia itu, dimana besar kemungkinan bahwa Xu Tianpeng hanya mengutus Jenderalnya untuk pergi ke dunia itu.
Mendengar penjelasan dari Liu Ryu, Dewi Arinia dan Elena berkeringat dingin, karena itu artinya dunia yang mereka tempati akan musnah.
" Kita harus menggagalkan rencana mereka. Aku tidak ingin malapetaka datang ke dunia ini." Ucap Elena, karena bagaimanapun dia adalah seorang manusia dari dunia itu.
" Untuk daratan Efhoria, mungkin masih lama. Namun untuk daratan Muktho, pasti akan banyak tempat yang menjadi lautan darah." Liu Ryu tidak dapat membayangkan jika pasukan Iblis Merah berhasil keluar.
Daratan Muktho memang memiliki populasi manusia yang sangat banyak dari daratan yang lain, karena itulah pasukan Iblis Merah langsung datang ke daratan tersebut.
" Kalian harus berhati-hati! Tidak lama lagi akan ada serangan." Liu Ryu mengingatkan kepada kedua istrinya untuk meningkatkan kewaspadaan.
Kedua wanita itupun mengangguk pelan, lalu mengambil panah yang mereka miliki.
Meskipun Liu bisa mengalahkan mereka dengan mudah, namun itu adalah kesempatan bagi kedua Istrinya untuk melatih fisik dan mental.
Wuush! Wuush! Wuush!
Puluhan bola api keluar dari balik hutan, mengarah ke arah Liu Ryu dan Istrinya yang sedang terbang.
Kedua wanita itupun dengan sigap melepaskan serangan anak panahnya untuk memblokir puluhan bola api.
Bboooom!
Bboooom!
Bboooom!
__ADS_1
Ledakan demi ledakan akibat benturan kedua serangan, membuat seisi hutan dipenuhi hujan api.
Liu Ryu memicingkan matanya saat melihat pergerakan dari beberapa sosok yang mendiami hutan tersebut.
Sosok itu memiliki wujud seperti manusia, namun memiliki tangan seperti hewan buas dan memiliki ekor kadal.
" Mereka ada disana." Ucap Dewi Arinia, sambil menunjuk ke arah hutan lebat.
Di sisi lain puluhan sosok itupun terlihat marah, karena serangan bola api justru membakar hutan wilayah mereka sendiri.
Gggrrrrrrr!
Gggrrrrrrr!
Gggrrrrrrr!
Puluhan sosok itu seakan sedang berkonsentrasi, karena serangan pertama mereka berhasil digagalkan.
Wuush!
Wuush!
Wuush!
Dewi Arinia dan Elena langsung turun dari udara melesat ke arah hutan lebat dimana tempat sosok yang menyerang mereka.
Jleeep! Jleeep! Jleeep!
Serangan anak panah dari Dewi Arinia dan Elena berhasil membunuh satu-persatu manusia berwujud kadal.
Kecepatan makhluk itu sangat cepat, sehingga mampu menyamarkan keberadaan mereka di balik hutan yang rimbun.
" Kejar mereka." Dewi Arinia memberi isyarat kepada Elena.
Kedua wanita itupun melesat cepat ke arah puluhan sosok yang sedang melarikan diri dan bersembunyi dibalik pepohonan.
Di sisi lain, Liu Ryu hanya mengawasi mereka dari kejauhan, karena dia ingin mengasah kemampuan kedua Istrinya.
" Hmmm... Tidak menyangka mereka sebanyak ini." Gumam Liu Ryu yang mengawasi dari udara, dimana kedua Istrinya sedang dikepung oleh ratusan makhluk seperti kadal.
__ADS_1
Namun Liu Ryu masih terlihat tenang, karena dia berpikir bahwa kedua Istrinya masih mampu mengalahkan mereka, meskipun hanya dua orang.