SANG DEWA AGUNG 2

SANG DEWA AGUNG 2
Pertarungan Tidak Berujung


__ADS_3

Tanpa menunggu lama, Ryu langsung melesat terbang ke udara dengan kecepatan tinggi untuk menerobos masuk asap racun Kultivasi.


Xie Tang yang melihat kejadian tersebut tidak bisa berkata apa-apa lagi dimana dia begitu lama berdiri mematung.


" Semoga saja Hua'er sekuat suaminya." Xie Tang tersenyum pahit karena di usianya sekarang bisa dikalahkan oleh seseorang Pemuda dengan perkembangan layaknya monster.


Saat Ryu sudah tidak ada lagi, Xie Tang langsung pergi dari tempat tersebut menuju kediaman Klan Xie.


Di sisi lain, Ryu terus menerobos asap racun Kultivasi dimana dia sama sekali tidak terkena racun tersebut.


Api Hitam yang mengelilingi tubuhnya seakan membakar semua yang dia lewati.


Setelah beberapa jam kemudian, kini Ryu sudah berada di bagian luar asap racun Kultivasi, dimana dia disambut dengan pemandangan yang mengerikan.


Sesuai dengan namanya yaitu Benua Pembantaian. Baru saja Ryu muncul, kini segerombolan Manusia berkepala Serigala langsung mendatanginya.


Tidak ada waktu untuk beristirahat, tidak ada waktu untuk bicara santai. Yang ada hanyalah bertarung dan bertarung.


" Sepertinya memori itu terulang lagi." Ryu tersenyum lebar sambil mengeluarkan Pedang Naga Petir miliknya.


" Ggooooaaarr."


" Ggooooaaarr."


" Ggooooaaarr."


Hampir seratus sosok yang berlari ke arah Ryu dengan kecepatan penuh, seakan saling berebut mangsa.


" Kemarilah wahai para budak! Aku harap kalian tidak mengecewakan ku." Ryu yang sudah bersiap dalam posisi bertarung menatap para gerombolan manusia berkepala serigala seperti bahan mainan.


Seakan mengerti apa yang dikatakan Ryu, manusia berkepala serigala merasa marah langsung melompat ingin mencabik-cabik tubuh pemuda itu.


Slaaash!


Ryu membelah tubuh salah satu dari mereka dengan kecepatan tinggi hingga sesaat mayat tersebut menjadi kabut asap hitam masuk ke tubuh Ryu.


Slaaash!


Dua sosok terpotong dengan sempurna, tanpa melakukan perlawanan dimana mayat mereka kembali membentuk asap hitam masuk ke tubuh Ryu.


Dengan insting mereka, manusia berkepala serigala langsung meningkatkan kewaspadaan berusaha mencari celah untuk merobek tubuh Ryu.


Slaaash! Slaaash! Slaaash!

__ADS_1


Ryu bergerak cepat ke berbagai arah menebas gerombolan manusia berkepala serigala.


" Aauuuuuu."


Beberapa sosok manusia berkepala serigala mengaum seakan meminta pertolongan kepada rekannya.


Kini suara Auman tersebut terdengar dari berbagai arah hingga gerombolan manusia berkepala serigala yang lain mulai berdatangan.


" Kemarilah kalian semuanya! Bila perlu,. kumpulkan semua ras kalian kesini." Ryu berseru dengan lantang seakan memprovokasi gerombolan manusia berkepala serigala di sela pertarungannya.


Namun sebanyak apapun mereka Saat mereka mendekati Ryu, tubuh manusia berkepala serigala langsung terbelah ataupun terpotong.


Hal yang membuat darah Ryu seakan mendidih, gerombolan manusia berkepala serigala itu tidak merasa takut sedikitpun, meskipun mereka dalam posisi kalah telak.


" Sepertinya aku tidak mampu menampung semua Aura dari manusia berkepala serigala ini. Jika tidak, pikiranku akan rusak." Di sela pertarungannya Ryu memikirkan cara untuk menampung Aura Pembunuh dari manusia berkepala serigala.


Wuush!


Ryu melesat cepat menjauhi gerombolan manusia berkepala serigala untuk mengambil Pagoda Jiwa miliknya.


" Hmmm... Sepertinya Pagoda Jiwa sangat cocok untuk menampung Aura mereka." Ryu bergumam sambil mengeluarkan Pagoda Jiwa.


Kini Pagoda Jiwa muncul di atas kepala Ryu dalam bentuk ukuran kecil, namun tidak mengurangi fungsinya.


Ryu yang sudah lama tidak menggunakan teknik tersebut, kini harus menggunakannya lagi.


" Ggooooaaarr."


Gerombolan manusia berkepala serigala seakan marah karena Ryu sudah tidak ada di tempat, lalu menoleh ke arah kemunculan Ryu.


" Ggooooaaarr."


Gerombolan manusia berkepala serigala berlari ke arah Ryu yang telah mengeluarkan Pagoda Jiwa.


Slaaash! Slaaash! Slaaash!


Ryu kembali melakukan serangan tebasan pada gerombolan manusia berkepala serigala. membuat tubuh mereka terpotong lalu masuk ke dalam Pagoda Jiwa.


Kejadian itu terus berlanjut hingga malam hari tiba, Ryu tersebut melakukan pertarungan melawan manusia berkepala serigala hingga mereka juga tidak ada yang tersisa.


" Haaahh... Benar-benar sangat liar." Ryu kembali melanjutkan perjalanan, dimana Pagoda Jiwa tersebut berada di atas kepalanya.


Baru saja Ryu berjalan sekitar seratus meter dari tempat sebelumnya, kini dia langsung disambut gerombolan manusia berkepala Kuda.

__ADS_1


" Ini baru namanya pertarungan tanpa ujung." Ryu bergumam seraya menyambut kedatangan mereka dengan sebilah pedang di tangannya.


Malam berganti pagi, Ryu terus berjalan dan bertarung, dimana berjalan ke wilayah lain sudah pasti tidak luput dari pertarungan.


" Benar-benar merepotkan." Ryu sedikit kesal karena tidak ada waktu untuk beristirahat.


Meskipun demikian, dengan kekuatannya sekarang Ryu masih mampu menghalau ribuan gerombolan manusia berkepala hewan.


Bahkan bukan hanya kelompok mereka saja, kini gerombolan manusia berkepala hewan yang lain juga berdatangan dimana Ryu melakukan perjalanan ke wilayah lain.


" Matilah kalian semua!" Ryu yang terlihat sangat marah langsung melepaskan Aura Dewa Agung.


Kini gerombolan manusia berkepala hewan langsung menjadi kabut darah hingga membentuk asap hitam masuk ke Pagoda Jiwa.


Meskipun melihat rekan mereka mati seketika, manusia berkepala hewan seakan tidak gentar menghadapi sosok Pemuda tersebut.


" Kalian memang bodoh"


Entah tertawa ataupun kesal, kini tatapan Ryu selalu tertuju pada gerombolan manusia berkepala hewan seperti ingin mati konyol lebih baik berdiam diri daripada menjauh dari tekanan Aura Dewa Agung.


Setelah memperhatikan gerombolan manusia berkepala hewan begitu berniat untuk merobek tubuh Ryu meskipun dengan jarak dua puluh meter mereka akan menjadi kabut darah, Ryu tersenyum lebar seakan memikirkan sesuatu.


Wuush!


Ryu meningkatkan Aura Dewa Agung hingga berjarak 50 meter, sehingga gerombolan manusia berkepala hewan tidak memiliki celah sedikitpun untuk mendekati Ryu.


" Baiklah, jika itu yang kalian inginkan." Ryu tersenyum licik seraya mengambil beberapa Pil untuk memulihkan Qi miliknya yang banyak terkuras.


Dengan santai Ryu mengambil tempat untuk duduk bersila, dimana Aura Dewa Agung terus dia lepaskan agar tidak ada yang bisa mendekatinya.


Merasa diremehkan oleh Ryu, gerombolan manusia berkepala hewan semakin gencar melakukan serangan, meskipun itu hanya sia-sia.


Setelah beberapa saat, Ryu kembali membuka mata sambil memperhatikan sekelilingnya dimana gerombolan manusia berkepala hewan masih tetap ingin menyerangnya.


Dengan sedikit menaikkan sudut bibirnya Ryu tidak bisa menahan diri untuk tertawa melihat kekonyolan manusia berkepala hewan yang hanya menyumbangkan nyawa saat mendekati wilayah tekanan Aura Dewa Agung.


" Silahkan panggil semua rekan kalian! Aku akan menunggu disini." Ucap Ryu lalu mengambil posisi duduk bersila.


Tanpa merasa terganggu sedikitpun, Ryu lebih memilih untuk mengolah Aura Pembunuh yang dia dapatkan untuk memperkuat Aura Dewa Agung miliknya.


Ryu juga berniat untuk mengelilingi Benua Pembantaian bagian luar untuk mengumpulkan Aura Pembunuh sebanyak mungkin sekaligus meningkatkan kekuatan fisik dari manusia berkepala hewan yang dia kumpulkan di Pagoda Jiwa.


Disamping mengumpulkan energi dari manusia berkepala hewan, Ryu juga tidak lepas untuk mencari keberadaan Xie Xian.

__ADS_1


Ryu sangat yakin bahwa Xie Xian berada di suatu tempat yang ada di bagian luar Benua Pembantaian.


__ADS_2