
( Istana Teratai )
Dua hari telah berlalu dimana Ryu sudah menghabiskan waktunya bersama Jiang Caiping, kini langsung berpindah tempat ke Istana Teratai dimana tempat Xie Hua, Ting Ye, Zhang Qixuan, Jinying dan Liu Jiang Yu berada.
Di Istana yang terlihat megah, kini hanya mereka berlima saja yang mendiami Istana tersebut.
Sedangkan untuk para Prajurit yang berjaga, hanya bisa berdiri di depan pintu gerbang Istana Teratai atas perintah Walikota Chuang.
Meskipun demikian, para Prajurit yang berjaga di depan pintu gerbang tidak pernah mengeluh sedikitpun karena Istana Teratai adalah kediaman pribadi Ratu Ting Ye.
" Gege... Akhirnya kamu datang juga." Sambut Xie Hua diikuti Ting Ye dan yang lain.
" Mana anak-anak?" Tanya Ryu saat tidak merasakan kehadiran dari anaknya.
" Mereka semua sedang pergi ke tempat pamannya Liu Fang. Sedangkan Liu Bai Jun dan yang lain, mereka juga ikut bersama kakeknya." Ucap Jinying.
" Gege tenang saja... 20 Pelayan dari Kerajaan Awan Timur dan Kerajaan Laut Timur itu masih senang dengan pekerjaan mereka, meskipun kita sudah membebaskan mereka." Ucap Xie Hua.
" Baiklah... Sebenarnya apa yang kalian inginkan sampai menunggu kedatanganku disini." Ryu bertanya kepada Istrinya.
" Tidak ada... Kami hanya ingin pergi bersama Suami kami menikmati keindahan Linka." Ucap Xie Hua.
" Haaahh... Kalian ini. Jika kita berjalan bersama, pasti akan menjadi bahan perhatian orang banyak." Ucap Ryu.
" Tidak masalah... Jika ada yang berani menatap kami dengan mesum, maka aku akan membunuhnya." Ucap Jinying.
" Lebih baik kita berangkat sekarang." Ucap Ting Ye, lalu menarik tangan Ryu lalu berpindah tempat ke sebuah pohon besar di luar Gerbang Istana Teratai.
Begitupun dengan Xie Hua dan yang lain, mereka juga langsung menyusul.
Tanpa diketahui oleh para Prajurit, Ting Ye membawa mereka menikmati pemandangan wilayah Linka dengan mengambil jalan setapak menuju pinggir Hutan.
" Gege... Dulu aku dengar di kedalaman Hutan sana terdapat banyak sekali jenis Anggrek yang tumbuh liar. Kami ingin mengambilnya agar bisa ditanam di Dunia Quzhu." Ucap Ting Ye.
" Apa anggrek itu memiliki khasiat?" Tanya Ryu.
__ADS_1
" Itu hanya anggrek biasa, namun sangat langka dan sulit ditemukan di tempat lain. Tapi jika di tangan Chie'chie dan Xuan'xuan, dari berbagai jenis bunga biasa dijadikan sebagai bahan untuk meningkatkan tubuh racun penggoda." Jawab Xie Hua.
" Itu lagi yang kalian pikirkan." Ucap Ryu seraya menggelengkan kepala karena dia sendiri tidak pernah menuntut Istrinya agar memiliki tubuh yang sangat wangi.
" Aku tau Gege tidak pernah meminta kepada kami agar lebih sempurna, namun sebagai seorang wanita kami ingin memberikan yang terbaik untuk Suami kami." Jawab Liu Jiang Yu.
" Yu'er... Sepertinya kamu sudah terpengaruh oleh yang lain." Ryu sambil menatap ke arah Liu Jiang Yu.
" Itu wajar saja... Yu'yu juga ingin melayani Suaminya dengan baik." Ucap Ting Ye yang membela Liu Jiang Yu.
Meskipun Ryu sedikit kesal, namun dia tetap mengikuti keinginan Istrinya tersebut. Bagaimanapun namanya seorang wanita, pasti menginginkan penampilan yang sempurna walaupun Istrinya memiliki kecantikan Dewi-Dewi.
Dalam perjalanan sesekali mereka merasakan ada yang mengikuti mereka. Tentu saja hal itu telah dirasakan oleh Ryu , Xie Hua dan yang lain.
Namun mereka lebih memilih untuk tetap melakukan perjalanan, karena mereka dapat merasakan bahwa beberapa kelompok tersebut hanya mencapai Pendekar Bumi tahap menengah.
Namun jika kelompok tersebut bertindak terlalu jauh, maka Ryu tidak akan membiarkan mereka hidup.
Karena tidak menutup kemungkinan mereka membunuh para warga yang melewati jalan setapak itu.
Di balik pepohonan kini ada beberapa orang berpakaian serba hitam yang sedang mengawasi mereka dari kejauhan.
" Tapi aku yakin mereka banyak menyimpan banyak Harta pada Cincin Ruang. Kalian lihat saja dari pakaian mereka. Apalagi kelima wanita itu sangat cantik, sedangkan mereka hanya ada satu Pria. Ini adalah tangkapan yang luar biasa." Ucap Ketua perampok.
" Tapi Ketua... Tingkat Kultivasi mereka berada di atas kita."
" Benar Saudara... Ini terlalu beresiko, sedangkan kita hanya menang dalam jumlah saja." Ucap yang lain.
" Hahahaha... Kalian tidak perlu khawatir. Serang mereka secara bersamaan. Kapan lagi kita bisa mendapatkan kelima wanita secantik itu?" Ucap Ketua perampok, karena keindahan di depan matanya seakan menghilangkan akal sehatnya.
Mendengar ucapan dari ketua mereka, mau tidak mau para bawahan harus menuruti keinginan ketua mereka dan berniat untuk menyerang secara bersamaan.
" Wuush... Wuush... Wuush." 50 kelompok Perampok dan Ketua mereka berdiri di depan Ryu dan Istrinya.
" Hahahaha.... Serahkan semua harta yang kalian miliki, mungkin aku akan mengampuni kalian." Ucap ketua perampok.
__ADS_1
" Sekelompok semut. Apa kalian ingin mati?" Ucap Yuwang sambil tertawa kecil.
" Cari mati? Lihatlah posisi kalian sendiri hanya berlima. Tapi tenang saja Nona manis... Kalian akan aku ajak untuk bersenang-senang." Ucap Ketua Perampok sambil menjilat bibirnya.
" Mau bagaimana lagi. Kita bunuh saja mereka, mereka sangat menggangu ketenangan warga." Ucap Jinying seraya berjalan mendekati mereka dengan sebilah pedang di tangannya.
'' Traaang.... Traaang... Traaang.." Bunyi benturan Pedang terdengar.
" Sial ternyata wanita ini menyembunyikan Kultivasi mereka" Gumam Ketua perampok berkeringat dingin saat melihat Jinying membunuh bawahannya dengan satu kali terbasan.
Di sisi lain, Ryu dan Istrinya yang lain terlihat santai melawan para perampok tersebut seakan hanya ingin bermain.
Dalam hati Ketua perampok ingin cepat kabur dari situ mengingat mereka sudah pilih lawan. Ditambah lagi saat melihat anak buahnya mulai berjatuhan oleh Jinying seorang diri.
" Craaash... Craaash." Kedua tangan Ketua perampok terpotong.
" Aaarrrggghhhh." Ketua meringis kesakitan.
" Ciihhhh... Mulut besar" Jinying menusuk Pedang ke mulut ketua perampok.
Melihat ketua mereka sudah mati, Para perampok yang tersisa berniat melarikan diri. Namun tidak mudah bagi mereka, mengingat jumlah mereka tersisa sedikit hingga akhirnya mereka juga ikut mati.
" Banyak juga harta si mulut besar ini. Sayangnya sama sekali tidak berguna untuk kita." Jinying memeriksa Cincin Ruang milik ketua perampok yang dia bunuh.
Melihat ketua mereka yang sudah mati, anggota perampok yang tersisa berkeringat dingin lalu berlari meninggalkan tempat tersebut.
Namun itu adalah hal yang sia-sia, karena Jinying langsung melesat cepat dan membunuh mereka semua.
Tanpa menunggu lama, Jinying langsung menarik semua mayat tersebut ke Dunia Quzhu.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah Hutan yang dimana tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Tidak lama kemudian Ryu dan Istrinya langsung masuk ke dalam Hutan untuk mencari berbagai jenis anggrek.
Di dalam perjalanan, mereka tidak mengalami kendala apapun karena hanya menemukan beberapa kelompok Hewan Roh yang masih berada di tingkat langit tahap akhir kebawah.
__ADS_1
Namun Ryu tidak ingin ikut serta dalam pertarungan tersebut, karena dia berpikir jika semua Hewan Roh yang ada di Hutan tersebut habis, maka calon Kultivator Muda akan sulit untuk berkembang.
Oleh karena itu Ryu melepaskan Aura Dewa Agung dalam skala rendah, agar semua Hewan Roh sempat melarikan diri.