
Staid langsung menarik pedang dari sarungnya, sedang Priscilla langsung mengarahkan senjatanya ke depan untuk menyambut kedatangan gerombolan hewan buas.
Duaarr! Duaarr! Duaarr!
Terdengar suara yang sangat nyaring dari senjata yang dimiliki Priscilla, dimana satu-persatu hewan buas mati seketika.
Liu Ryu dan kedua Istrinya sampai menutup kedua telinganya karena suara menggelegar dari senjata yang dimiliki Priscilla tidak seperti biasanya.
Bahkan beberapa hewan buas meraung keras karena mendengar suara nyaring dari senjata yang membunuh hewan buas yang lain.
" Senjata apa itu?" Tanya Dewi Arinia, sambil menunjuk senjata yang dimiliki Priscilla.
Priscilla tersenyum lembut, lalu menjelaskan bahwa senjata yang dia gunakan adalah pistol.
Sambil melepaskan tembakan ke arah hewan buas, Priscilla menjelaskan bahwa Pistol yang dia miliki berasal dari daratan Muktho dan tidak ada di daratan Efhoria.
Pistol itu diciptakan oleh salah satu keluarga bangsawan yang memiliki kemampuan khusus untuk menciptakan senjata.
Hanya saja Pistol sangat sulit diciptakan, karena memerlukan bahan yang sangat langka dan memerlukan proses yang sangat rumit.
" Pistol ini tidak dijual bebas, sehingga hanya bisa didapatkan dari para bangsawan dengan cara bekerja untuk mereka." Priscilla melanjutkan ucapannya, sambil melepaskan tembakan.
Dari keterangan Priscilla, Liu Ryu dapat menarik kesimpulan bahwa pistol yang dimaksud bahwa senjata itu bisa digunakan oleh siapapun tanpa harus memiliki kemampuan sihir ataupun seorang Kultivator karena tidak memerlukan Qi ataupun energi sihir.
" Meskipun tidak memiliki aura yang sangat kuat, namun benda ini bisa membunuh seorang Kultivator yang sudah mencapai Pendekar Bumi." Gumam Liu Ryu, sambil memperhatikan cara kerja Pistol tersebut.
Karena tidak ingin terlalu lama, Liu Ryu langsung terbang ke arah gerombolan hewan buas, lalu melepaskan Aura Dewa Agung, membuat semua hewan buas mati seketika.
Melihat apa yang dilakukan Liu Ryu, Staid dan Priscilla membuka matanya lebar-lebar, karena tidak tau jenis sihir macam apa yang digunakan oleh Liu Ryu yang membuat semua hewan buas mati tanpa perlawanan.
" Apa dia manusia?" Gumam Staid dan Priscilla, karena kemampuan Liu Ryu sudah diluar nalar pemikiran mereka.
__ADS_1
" Apa kalian berpikir bahwa suami kami adalah monster?" Tanya Dewi Arinia lalu melesat ke arah Liu Ryu yang sudah menyelesaikan pertarungannya.
Liu Ryu mengibaskan tangannya untuk memasukkan semua mayat hewan buas yang membuat Staid dan Priscilla kesulitan untuk bernafas.
" Sepertinya aku harus membawa hewan buas ini hidup-hidup ke Dunia Quzhu." Gumam Liu Ryu, karena sangat menyayangkan jika semua hewan buas mati sia-sia.
Setelah selesai menarik semua mayat hewan buas, Liu Ryu menoleh ke arah Staid dan Priscilla untuk menuntun jalan kepada mereka.
Meskipun terlihat ketakutan, Staid dan Priscilla berjalan ke arah Liu Ryu dan kedua Istrinya, lalu melanjutkan perjalanan mereka.
Sepanjang perjalanan mereka tidak hentinya disambut oleh gerombolan hewan buas, sehingga Liu Ryu harus mengambil alih langsung menarik semua hewan buas ke Dunia Quzhu agar bisa hidup di tempat itu.
Melihat apa yang dilakukan oleh Liu Ryu, Staid dan Priscilla tidak bisa berkata apa-apa lagi karena setiap kali mereka disuguhkan dengan pemandangan yang tidak masuk akal.
" Apa suami kalian sekuat itu?" Tanya Priscilla yang begitu penasaran dengan kemampuan Liu Ryu.
" Itu hanya sebagian kecil dari kekuatannya." Dewi Arinia berkata jujur.
Setelah menempuh perjalanan selama seharian, Staid dan Priscilla meminta kepada mereka untuk beristirahat, karena tenaga mereka habis terkuras.
Kali ini Dewi Arinia dan Elena berinisiatif untuk membuat api unggun untuk memanggang daging hewan buas untuk mengganjal perut mereka.
Sedangkan Staid dan Priscilla hanya memperhatikan dari kejauhan, karena masih penasaran dengan apa yang dilakukan kedua wanita itu.
" Apa kalian tidak mau memakan daging panggang ini?" Tanya Dewi Arinia, sambil menunjukkan daging hewan buas di tangannya.
Karena tidak ada pilihan lain, dengan terpaksa Staid dan Priscilla berjalan mendekati mereka lalu mengambil salah satu potongan daging yang sudah masak.
Tentu karena berjalan selama seharian Staid dan Priscilla juga merasa lapar, sehingga mau tidak mau harus memakan apa saja yang disediakan oleh Dewi Arinia dan Elena.
" Ini." Staid dan Priscilla membuka matanya lebar-lebar, karena daging panggang yang dimasak oleh Dewi Arinia dan Elena sangat menggugah selera mereka.
__ADS_1
Melihat tingkah kedua sosok itu, Dewi Arinia dan Elena hanya tersenyum sambil melahap potongan daging yang berada di tangan mereka.
" Pada awalnya kami juga seperti kalian. Tapi setelah suami kami menyajikan untuk kami, akhirnya kami justru ketagihan." Elena berkata jujur.
" Kalian tidak perlu sungkan. Lagi pula hewan buas sangat banyak. Jadi makanlah sepuasnya." Ucap Dewi Arinia, sambil melahap potongan daging di tangannya.
Begitupun dengan Liu Ryu, meskipun hewan buas yang mereka makan hanyalah hewan buas biasa, namun juga ikut menikmatinya.
Jika saja Liu Ryu dan kedua Istrinya memasak daging Siluman atau yang lainnya, maka tubuh kedua sosok itu akan meledak.
Setelah selesai menikmati potongan daging, Staid dan Priscilla mengambil tempat untuk beristirahat, sementara Liu Ryu dan kedua Istrinya juga menyandarkan tubuhnya di bawah pohon besar.
Sesekali Priscilla melirik ke arah Dewi Arinia dan Elena yang selalu menempel pada suaminya.
" Bagaimana mereka bisa sedekat itu? Meskipun harus berbagi suami." Pikir Priscilla yang melihat kedekatan kedua wanita itu yang sedang menyandarkan kepalanya di bahu Liu Ryu.
*******
Pada keesokan pagi, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju ke tempat kediaman Dewa Laut.
Selama dalam perjalanan, mereka berkali-kali dihadang oleh gerombolan hewan buas, namun tidak menjadi halangan karena Liu Ryu selalu menarik mereka ke Dunia Quzhu.
Tepat tiga hari kemudian, mereka telah sampai di bibir pantai yang terlihat ada sebuah tanah kering yang muncul di permukaan laut.
Tanah kering yang muncul di permukaan laut itulah satu-satunya akses untuk menuju ke sebuah pulau yang merupakan tempat tinggal Dewa Laut.
" Master... Disinilah jalan menuju ke pulau disana?" Ucap Priscilla, sambil menunjuk ke arah tanah kering memanjang dengan lebar sekitar dua meter.
Liu Ryu mengangguk pelan, lalu menatap ke arah lautan luas, dimana pandangannya hanya mampu melihat samar-samar sebuah pulau kecil dari kejauhan.
" Master... Jalan ini juga sangat berbahaya. Aku pernah mendengar bahwa sepanjang jalan ini, banyak dihuni oleh ular laut." Staid mengingatkan kepada Liu Ryu, meskipun dia merasa yakin bahwa Liu Ryu bisa menghadapi semua ular laut.
__ADS_1
Liu Ryu mengangguk pelan, lalu melangkahkan kakinya di tanah kering itu dimana mereka seakan berjalan di tengah lautan luas.
" Tidak buruk." Gumam Liu Ryu, karena tanah yang merupakan penghubung antara daratan Efhoria dan pulau kecil seperti sebuah jembatan.