
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan, untuk menyusuri goa bawah tanah, hingga saat berada di tempat sebelum, satu-persatu Flains mulai berdatangan.
" Hmmm... Mereka sama sekali tidak peduli dengan nyawa mereka, meskipun rekan mereka sudah banyak yang mati." Dewi Arinia mendengus dingin, karena Flains seakan tidak takut kematian.
Wuush! Wuush! Wuush!
Satu-persatu Flains melesat dengan kecepatan tinggi, sambil mengayunkan tangannya membentuk cakaran.
Dewi Arinia juga tidak tinggal diam, langsung mengarahkan busur panahnya hingga tercipta belasan anak panah.
Ccuuumbb!
Ccuuumbb!
Ccuuumbb!
Satu-persatu Flains berjatuhan, saat mata mereka terkena serangan anak panah dari Dewi Arinia.
Dengan tingkat Kultivasi Dewi Arinia dan gabungan kekuatan energi ungu yang mereka dapatkan sebelumnya, kini kemampuan serangan anak panah dari Dewi Arinia mampu menembus Flains yang berada di barisan depan dan kembali menancap di tubuh Flains di barisan belakang.
" Kali ini mereka tidak bisa lepas lagi! Dengan tingkat Kultivasi yang sekarang, mereka akan banyak yang mati." Ucap Elena, sambil melepaskan serangan anak panahnya.
Jleeep! Jleeep! Jleeep!
Dalam satu serangan anak panahnya, mampu menembus Flains hingga lima lapis barisan, meskipun tidak mengenai mata mereka.
Namun karena serangan anak panah dari Dewi Arinia dan Elena yang sudah mengandung racun korosif, secara perlahan tubuh Flains yang terkena anak panah langsung meleleh.
Ccuuumbb!
Ccuuumbb!
Ccuuumbb!
Tembakan laser Kehampaan dari Liu Ryu juga mampu menembus Flains hingga beberapa lapis dan serangan terakhir bersarang pada dinding goa.
Rrrggghhh!
Rrraawr!
Rrraawr!
Melihat rekannya yang bertumbangan hingga mencapai puluhan, Flains yang lain terlihat marah, langsung melesat dengan kecepatan tinggi untuk menyerang balik Liu Ryu dan kedua Istrinya.
Namun dalam sekejap jumlah Flains yang berdatangan seakan menghilang menjadi asap ungu dan masuk ke dalam tubuh Liu Ryu dan kedua Istrinya.
__ADS_1
" Tidak menyangka bahwa kristal ungu yang berada di punggung mereka sangat berguna." Ucap Liu Ryu, sambil mengarahkan kedua telapak tangannya secara bergantian ke depan.
Rrraawr! Rrraawr! Rrraawr!
Terdengar suara raungan keras dari Flains menggema di goa bawah tanah, dimana lautan Flains saling berdesakan untuk menyerang Liu Ryu dan kedua Istrinya.
Bahkan akibat saling berdesakan itu, seluruh goa bawah tanah menciptakan getaran gempa seakan goa itu mau runtuh.
" Kita harus membereskan mereka secepat mungkin." Ucap Liu Ryu, lalu melemparkan Pedang Naga Petir ke arah gerombolan Flains.
Buussshh!
Pedang Naga Petir berputar dengan kecepatan tinggi, lalu melesat ke arah gerombolan Flains.
Slaaash! Slaaash! Slaaash!
Pedang Naga Petir yang seakan memiliki pemikiran tersendiri, kini menebas satu-persatu Flains yang dia lewati.
" Suamiku, apa kami juga bisa melakukannya?" Tanya Dewi Arinia, karena merasa tertarik dengan teknik yang digunakan oleh Liu Ryu.
Bahkan Elena juga sangat tertarik dengan Pedang Naga Petir milik Liu Ryu yang bisa bergerak sendiri.
" Kalian bisa mencobanya! Gunakan sedikit kesadaran kalian, maka senjata kalian bisa bergerak sendiri." Ucap Liu Ryu, sambil mengarahkan telapak tangan untuk menembakkan laser Kehampaan ke arah Flains.
Kedua wanita itupun mengangguk, lalu memutar busur panah, hingga membentuk huruf 'S' dimana bilah yang tajam berada di dua sisi yang berbeda.
Wuush! Wuush!
Slaaash! Slaaash! Slaaash!
Satu-persatu Flains bertumbangan dengan kondisi tubuh terpotong, hingga seketika membentuk asap ungu.
" Sepertinya sangat mudah." Dewi Arinia dan Elena tersenyum puas, karena senjata mereka juga memiliki kesadaran tersendiri.
Tanpa membuang waktu, Dewi Arinia dan Elena juga mengarahkan kedua telapak tangannya menciptakan tembakan laser cahaya tegak lurus ke depan.
Ccuuumbb!
Ccuuumbb!
Ccuuumbb!
Serangan tembakan laser cahaya dari Dewi Arinia dan Elena, mampu membunuh Flains dalam skala besar.
Meskipun Flains tidak berhasil mendekati Liu Ryu dan kedua Istrinya, namun tetap saja mereka harus mengeluarkan Qi dalam jumlah besar, karena serangan mereka cukup menguras Qi.
__ADS_1
*******
Satu bulan telah berlalu, kini Liu Ryu dan kedua Istrinya berhasil keluar dari goa bawah tanah.
Sepanjang perjalanan mereka, ketiganya tidak pernah berhenti untuk melawan gerombolan Flains karena goa bawah tanah dipenuhi oleh jutaan Flains.
" Akhirnya kita bisa menghirup udara segar." Elena menarik napas dalam-dalam, karena selama berada di goa bawah tanah, udaranya sangat tipis dan pengap.
" Ya... Sepertinya di depan kita adalah kota pelabuhan." Ucap Liu Ryu, sambil menunjuk ke arah depan dimana terlihat tembok yang menjulang tinggi.
Tanpa membuang waktu, Liu Ryu membawa kedua Istrinya berjalan menuju kota pelabuhan, meskipun kota itu tidak terlalu besar.
Saat Liu Ryu dan kedua Istrinya sudah berada di depan pintu gerbang, beberapa penjaga gerbang langsung memasang sikap waspada, karena ketiga sosok itu terlihat asing.
" Saudara... Kami datang kesini dengan niat baik." Ucap Liu Ryu, sambil menatap ke arah para penjaga yang berdiri di atas tembok pertahanan.
" Apa kalian bukan dari jelmaan Siluman?" Tanya pemimpin penjaga gerbang, sambil menyelidiki ketiga sosok itu.
" Saudara lihat sendiri." Ucap Liu Ryu, sambil merentangkan kedua tangannya.
Meskipun sedikit tidak percaya, pemimpin penjaga mengangguk pelan, lalu meminta kepada bawahannya untuk membuka pintu gerbang.
" Silahkan masuk saudara." Ucap salah satu penjaga gerbang, saat pintu gerbang sudah terbuka.
Liu Ryu dan kedua Istrinya mengangguk, lalu berjalan memasuki kota pelabuhan, dimana para penjaga gerbang masih tetap waspada.
Setelah beberapa saat ketiganya tidak menunjukkan tanda-tanda yang membahayakan, pemimpin penjaga gerbang langsung berjalan mendekati Liu Ryu dan kedua Istrinya.
" Maafkan atas ketidak sopanan kami saudara. Ini semua demi keselamatan para warga." Pemimpin penjaga memberi hormat, karena dia berpikir bahwa ketiga sosok itu bukanlah orang biasa.
Terlebih dengan penampilan mereka seperti seorang petarung, sehingga hanya petarung kelas SSS saja yang bisa selamat dari serangan hewan buas.
" Tidak masalah saudara. Kami sudah memakluminya, demi keselamatan para warga." Liu Ryu tidak mempermasalahkan hal itu, karena di semua tempat, semua manusia semakin terdesak oleh serangan dari hewan buas.
" Jika boleh tau, dari mana asal saudara dan saudari semua?" Tanya pemimpin penjaga.
" Kami berasal dari Kyria." Jawab Elena mendahului Liu Ryu.
" Kyria?" Semua yang mendengarnya saling berpandangan, karena sudah puluhan tahun mereka tidak pernah kedatangan tamu dari Negara Westland.
Itu artinya mereka berpikir bahwa Liu Ryu dan kedua Istrinya telah melakukan perjalanan yang sangat jauh dan berbahaya.
" Jika boleh tau, apa tujuan kalian datang kesini?" Tanya pemimpin penjaga, dengan menundukkan kepala.
Tentu pemimpin penjaga gerbang dan bawahannya tidak berani menyinggung ketiga sosok itu, karena dapat dipastikan bahwa Liu Ryu dan kedua Istrinya memiliki kekuatan besar.
__ADS_1
" Sebenarnya tujuan kami kesini meminta bantuan kepada warga disini untuk mengantar kami ke daratan Kwunko." Liu Ryu tidak ingin basa-basi, langsung mengutarakan tujuan mereka.