
Mendengar keterangan tersebut, Liu Ryu sedikit mengerutkan kening, karena harga tersebut sangat murah.
Namun jika dipikir lagi, tentu bagi mereka harga itu sangat mahal, karena para warga sangat kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan.
" Bagaimana jika aku menyewa semuanya untuk malam ini?" Ucap Liu Ryu, lalu mengeluarkan dua batangan emas dari ruang hampa, membuat semua yang berada di tempat itu sontak kaget.
Wanita penghibur yang melihat kejadian itu langsung berjalan mendekati Liu Ryu, karena mereka menganggap bahwa pemuda itu sangat kaya.
Dengan demikian mereka bisa merayunya agar bisa mendapatkan keuntungan besar untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.
Tanpa berkata apapun, wanita itu meminta kepada salah satu petugas keamanan untuk memanggil pemilik Istana Bordil.
Tentu petugas keamanan sangat senang, karena jumlah yang diberikan oleh Liu Ryu bisa mencukupi kebutuhan hidupnya selama bertahun-tahun jika diberikan tips.
Tidak lama kemudian terlihat sosok pria paruh baya berjalan mendekati meja yang ditempati Liu Ryu dengan ramah.
" Apakah tuan benar-benar ingin menyewa semua wanita penghibur di Istana ini?" Tanya pria paruh baya yang merasa heran atas tindakan dari Liu Ryu.
Dengan kata lain Liu Ryu menyewa 900 wanita penghibur sekaligus, dimana menurutnya itu sangat tidak masuk akal sehat.
" Ya... Apa masih kurang?" Tanya Liu Ryu lalu mengeluarkan dua batangan emas lagi, membuat Viktor yang berada di sampingnya merasa sesak nafas.
" Ini lebih dari cukup tuan." Pria paruh baya dengan buru-buru mengambil empat batangan emas dari atas meja, lalu meminta kepada petugas keamanan untuk mengusir para tamu yang lain.
Mendapatkan perlakuan seperti itu, para tamu yang lain terlihat kesal, karena keinginan mereka belum terpenuhi.
Namun tidak ada yang berani bertindak, karena petugas keamanan rata-rata adalah Petarung kelas B.
" Master... Apa kamu serius?" Viktor yang berada di samping Liu Ryu, seakan tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh pemuda itu.
Tanpa berkata apapun, Liu Ryu hanya mengangguk kecil karena dia ingin menyerap energi Yin dari semua wanita penghibur di Istana Bordil agar bisa mengumpulkan Qi miliknya.
__ADS_1
' Semuanya sudah terlanjur. Jadi jangan salahkan aku.' Liu Ryu tersenyum pahit, karena dia berada dalam posisi dilema.
" Baiklah, lakukan sesukamu selama satu bulan. Kalau begitu aku pamit dulu." Pria paruh baya tidak ingin terlalu lama, karena dia tidak ingin mengganggu kesenangan Liu Ryu.
" Master, apa boleh?" Tanya Viktor, karena dia juga ingin mencicipi salah satu dari wanita penghibur di lantai dasar.
Liu Ryu hanya mengangguk, dimana Viktor hanya mengambil satu wanita penghibur di lantai dasar saja, karena dia masih tau diri.
" Silahkan kita ke kamar saja tuan!" Wanita penghibur menarik tangan Liu Ryu, dimana wanita yang lain seakan menunggu antrian.
Semua petugas keamanan juga dikerahkan untuk memanggil para wanita yang lain di lantai satu hingga lantai delapan.
Tentu para wanita itu sangat senang karena mereka kali ini mendapatkan bayaran yang sangat besar, saat petugas keamanan menceritakan kepada mereka.
*******
Di sisi lain Liu Ryu yang berada di sebuah kamar yang dipenuhi aroma wangi yang khas, kini langsung duduk di kursi sambil menatap wanita itu yang sudah melepaskan pakaiannya hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya.
" Sebelumnya aku ingin bertanya tentang Ling Tian." Liu Ryu lebih fokus pada tujuannya, karena dia harus mencari keberadaan Ling Tian.
Dengan senyuman yang menggoda, wanita itu menarik tangan Liu Ryu dan membawanya ke tempat tidur.
" Tuan... Sebenarnya aku pernah mendengar tentang nama Ling Tian sejak aku masih berusia lima tahun." Wanita berambut coklat itu menjelaskan tentang apa yang dia ketahui tentang Ling Tian.
Sambil meraba bagian tubuh Liu Ryu, wanita itu juga menjelaskan bahwa Ling Tian dipuja dan dimuliakan oleh orang di daratan Muktho.
Daratan Muktho sangat jauh dari daratan Efhoria, karena harus melewati jalur gurun, tempat-tempat yang berbahaya, melewati beberapa pulau hingga bisa mencapai ke daratan Kwanso.
Saat mencapai ujung Utara daratan Kwanso, seorang Petarung harus berjalan ke arah selatan hingga menemukan sebuah lautan dangkal agar bisa menuju ke daratan Muktho dengan berjalan kaki.
" Lalu bagaimana caramu bisa berada disini?" Tanya Liu Ryu yang berusaha menahan diri karena wanita itu sudah melakukan pelayanannya.
__ADS_1
Wanita berambut coklat menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatap ke arah Liu Ryu yang begitu penasaran dengan nama Ling Tian.
" Dulu di dunia ini ada sebuah portal sihir yang menguntungkan daratan Efhoria dan daratan Muktho."
" Sayangnya portal sihir itu telah rusak akibat peperangan antara kedua daratan. Hingga sekarang aku tidak bisa kembali ke daratan Muktho, karena terlalu berbahaya." Wanita itu menjelaskan tentang terjadinya peperangan.
Lima belas tahun telah berlalu, wanita itu tinggal di Istana Bordil, untuk menyambung hidupnya, karena akibat peperangan membuat banyak warga biasa yang terkena imbas.
Beberapa warga yang beruntung harus berjuang untuk bertahan hidup, dimana kelaparan melanda di berbagai tempat.
" Portal sihir?" Liu Ryu sedikit menaikkan alisnya karena baru pertama kali mendengar nama tersebut.
" Benar tuan. Sejak saat itu banyak tempat yang berbahaya. Mulai dari munculnya banyak hewan buas, Siluman bahkan di beberapa tempat terdapat sosok monster yang menyatakan bahwa dirinya adalah Dewa." Wanita itu menjelaskan tentang situasi di dunia yang mereka tinggali.
Salah satu dari mereka yaitu Dewa Gunung yang berada di pertengahan antara Kyria menuju ke Ludya.
Dewa Gunung selalu meminta korban setiap bulan. Jika warga tidak menuruti keinginannya, maka dia menjatuhkan lahar api dan membakar semua perkebunan dan perumahan warga.
Karena itulah kelima keluarga besar di Kyria selalu mengorbankan salah satu dari budak mereka untuk dipersembahkan kepada Dewa Gunung agar tidak menggangu perjalanan mereka ketika pergi ke Ludya.
" Itu hanya salah satunya saja tuan. Masih banyak lagi di tempat lain yang memiliki kejadian serupa." Wanita itu melanjutkan penjelasannya.
Pada saat yang sama, wanita berambut coklat menelan ludah kasar saat melihat benda pusaka milik Liu Ryu yang diluar wajar.
Melihat tingkah wanita berambut coklat,.Liu Ryu hanya tersenyum pahit, karena dia masih berusaha menahan diri karena masih ada hal yang dia tanyakan, sebelum wanita itu pingsan.
" Aku mendengar Dewa Ling Tian bisa mengabulkan keinginan para warga yang berkunjung ke kediamannya."
" Dewa Ling Tian tinggal di Altar Pemanggilan Dewa yang berada di daratan Muktho. Aku harap tuan tidak pergi kesana, karena selama dalam perjalanan, kematian selalu mengintai tuan." Wanita berambut coklat mengingatkan kepada Liu Ryu agar tidak pergi ke daratan Muktho.
Setelah menjelaskan semua yang dia ketahui, wanita itu kembali melanjutkan tugasnya, mengarahkan benda pusaka milik Liu Ryu ke pusaka miliknya, membuatnya menjerit kesakitan.
__ADS_1