
Saat Liu Ryu masuk ke dalam kota tersebut, kini dia disambut dengan pemandangan yang sangat mengerikan.
Banyak sekali para warga yang mengungsi di pinggir jalan, dengan kondisi memprihatinkan, karena kesulitan untuk mendapatkan makanan.
Beberapa dari warga, hanya terlihat kulit membalut tulang, karena kota itu dilanda kelaparan.
" Tuan... Berikan kepada kami sepotong makanan."
" Tuan... Kami sudah berhari-hari tidak makan."
" Tuan... Tolonglah kami."
Beberapa warga yang berada di dekat pintu gerbang, kini menjulurkan tangannya seakan meminta uluran tangan dari Liu Ryu.
Bahkan beberapa warga berusaha untuk keluar dari kota tersebut, karena tidak tahan dilanda kelaparan.
Namun para penjaga gerbang dengan sigap menghalau mereka, dengan buru-buru menutup kembali pintu gerbang.
" Teman... Kenapa mereka dibiarkan kelaparan seperti itu?" Liu Ryu merasa tidak enak, karena kondisi para warga begitu memprihatinkan.
" Teman... Stok makanan dari pihak Walikota sudah habis. Jadi pihak walikota tidak mampu lagi memberikan makanan kepada mereka." Jawab pemimpin penjaga gerbang, meskipun dia sendiri sangat prihatin dengan kondisi para warga.
Namun para penjaga gerbang tidak bisa berbuat apa-apa, karena mereka juga sangat khawatir jika suatu saat mereka juga tidak mendapatkan jatah makanan.
Pihak walikota hanya mampu memberikan makanan kepada para penjaga gerbang, karena merekalah yang bertugas untuk menjaga kota itu.
Tentu selama berbulan-bulan, para warga tidak berani keluar dari tembok pertahanan, karena pasukan Iblis Merah akan memburu dan membunuh mereka.
Bahkan tidak jarang hewan buas juga mendatangi kota tersebut, meskipun tidak bisa menghancurkan tembok pertahanan.
" Untuk hewan buas yang kami bunuh, semuanya tidak layak untuk dikonsumsi karena tubuh mereka mengandung racun." Pemimpin penjaga gerbang menjelaskan situasi yang mereka hadapi.
Tentu akibat aura kematian yang berada di daratan Muktho, membuat semua hewan buas telah berevolusi menjadi sosok monster yang tidak bisa dijadikan sebagai makanan.
Karena itulah para penjaga gerbang hanya bisa membakar mayat hewan buas, agar tidak menimbulkan penyakit bagi para warga.
__ADS_1
" Setiap hari pasti ada warga yang mati kelaparan. Karena itulah beberapa warga ingin keluar dari kota ini untuk mencari makanan diluar." Pemimpin penjaga menjelaskan kepada Liu Ryu.
Sesaat pemimpin penjaga menatap ke arah Liu Ryu yang bisa selamat dari aura kematian dan serangan dari hewan buas ataupun pasukan Iblis Merah.
" Teman... Bagaimana caramu bisa bertahan hidup diluar sana?" Tanya pemimpin penjaga.
" Itu hanya kebetulan." Jawab Liu Ryu dengan singkat.
Meskipun para penjaga gerbang tidak percaya dengan apa yang dikatakan Liu Ryu, namun mereka juga tidak bisa membantah, karena untuk manusia biasa, tidak ada satupun yang bisa selamat.
Tidak lama kemudian terlihat belasan sosok yang berjalan mendekati pintu gerbang.
Belasan sosok itu tidak lain adalah para Dewa yang bertugas untuk membersihkan aura kematian di berbagai tempat.
" Buka pintunya!" Teriak salah satu penjaga gerbang.
Saat itu juga penjaga gerbang yang lain langsung membuka pintu, agar belasan sosok itu bisa memasuki kota tersebut.
" Penjaga... Sampaikan kepada walikota agar menyiapkan makanan, arak dan para wanita untuk melayani kami." Salah satu dari dewa memberi perintah kepada pemimpin penjaga gerbang.
Sesaat belasan dewa tersebut menatap ke arah Liu Ryu, lalu melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah penginapan.
" Dewa? Kenapa sikap mereka seperti para bandit?" Pikir Liu Ryu, sambil menatap kepergian belasan para dewa.
" Beruntung sekali kelompok suci itu bisa mendapatkan pelayanan istimewa dari walikota." Ucap salah satu penjaga gerbang.
" Itu wajar saja, karena mereka adalah dewa yang memiliki kekuatan besar."
" Bahkan para wanita juga sangat senang melayani mereka, agar bisa dihormati oleh para bangsawan bahkan walikota."
Terdengar bisikan dari para penjaga gerbang yang begitu mengagumi para dewa yang membersihkan kota tersebut dari aura kematian.
Bahkan beberapa penjaga gerbang ingin sekali menjadi seorang dewa, agar hidup mereka selalu diagungkan oleh para warga.
" Sayangnya untuk menjadi seorang dewa bukanlah perkara mudah, karena harus membutuhkan usaha dan kerja keras." Ucap salah satu penjaga gerbang.
__ADS_1
Tentu para dewa yang mereka sebut adalah seorang penyihir atau petarung yang sudah mencapai tahap tertentu, sehingga mereka bisa tinggal di alam dewa dan hidup abadi.
" Sayangnya mereka tidak mengetahui bahwa para dewa tersebut berada dibalik bayang-bayang para Immortal yang kapan saja menjadikan mereka sebagai Pil Inti Jiwa." Pikir Liu Ryu.
Mendengar bisikan dari para penjaga gerbang, Liu Ryu hanya menggelengkan kepala lalu berjalan menuju penginapan yang berada di kota tersebut.
Saat berada di depan penginapan, Liu Ryu langsung dihadang oleh tiga sosok pelayan.
" Mohon maaf tuan... Tempat ini sudah dipesan oleh para pelindung kota ini. Jika tuan mau menunggu, silahkan menunggu sampai para dewa ini keluar." Bisik salah satu pelayan kepada Liu Ryu.
" Apa ini tidak cukup?" Tanya Liu Ryu, sambil mengeluarkan satu batangan emas.
Melihat batangan emas di tangan Liu Ryu, ketiga pelayan itupun saling berpandangan karena dengan adanya batangan emas itu, maka pihak penginapan bisa menutupi kerugian dari para dewa yang menyajikan makanan dan arak dengan gratis.
Sementara itu belasan sosok itu sama sekali tidak peduli dengan batangan emas di tangan Liu Ryu, karena apapun yang mereka inginkan, pasti akan dipenuhi oleh pemilik penginapan bahkan walikota.
" Biarkan saja dia masuk, agar dia tau bahwa situasi sekarang harta sama sekali tidak berharga." Salah satu dari para dewa meminta kepada pelayan agar mempersilahkan kepada Liu Ryu untuk masuk.
" Baik tuan suci." Ketiga pelayan menjawab dengan serempak, lalu mempersilahkan kepada Liu Ryu untuk masuk.
Para dewa yang turun untuk membantu manusia, mereka menamakan diri mereka sebagai kelompok suci.
Kelompok suci juga dengan senang hati membantu para warga, asalkan mereka bisa memenuhi keinginan mereka.
" Terimakasih pelayan." Liu Ryu mengangguk kecil, lalu mengambil sebuah kursi yang berada di tempat yang paling pojok.
Liu Ryu juga meminta kepada para pelayan untuk menyediakan makanan dan arak terbaik di restoran yang di lantai dua adalah tempat penginapan.
Tidak lama kemudian terlihat puluhan sosok wanita yang berpakaian mewah mendatangi belasan kelompok suci.
Puluhan wanita itupun langsung mendatangi kelompok suci dan melayani keinginan mereka, karena berkat kelompok suci kota tersebut bisa diselamatkan.
" Tuan suci. Terimakasih atas bantuan kalian, karena sudah membantu kami." Salah satu wanita dengan manja duduk di samping salah satu kelompok suci.
" Kalian tidak perlu khawatir... Tidak lama lagi wilayah ini bisa kembali seperti semula." Ucap salah satu kelompok suci, sambil memegang dagu wanita yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
Setelah selesai makan dan minum arak, belasan kelompok suci itupun membawa , para wanita ke kamar masing-masing untuk menyalurkan hasratnya masing-masing.