SANG DEWA AGUNG 2

SANG DEWA AGUNG 2
Ch 399. Busur Panah


__ADS_3

Saat itu juga Elena memakai baju Zirah yang diberikan Liu Ryu kepadanya.


" Bagaimana?" Tanya Liu Ryu.


" Sepertinya sangat sejuk." Jawab Dewi Arinia, karena dia tidak menyangka bahwa baju Zirah ciptaan Liu Ryu sangat bagus.


" Jika kamu masih memperlihatkan lekuk tubuhmu kepada orang lain, aku tidak segan meninggalkanmu." Ucap Liu Ryu dengan nada tinggi.


Meskipun Liu Ryu memiliki banyak Istri, namun baginya tetap memperlakukan mereka dengan sama.


Terlebih untuk Dewi Arinia yang memiliki kulit hitam manis dan memiliki lekuk tubuh yang sempurna, tentu Liu Ryu tidak ingin wanita itu mempertontonkan bagian tubuhnya.


" Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tubuhku hanya untuk suamiku seorang." Jawab Dewi Arinia, sambil menggoda suaminya.


Liu Ryu mengangguk pelan, lalu mengeluarkan empat pedang sabit, dan memberikan kepada kedua istrinya masing-masing dua bagian.


" Terimakasih suamiku." Jawab mereka serempak lalu memperhatikan pedang sabit yang berada di kedua tangan mereka.


" Mmmm... Jika kalian menggabungkan kedua pedang sabit itu pada ujung gagangnya, maka akan menjadi busur panah." Liu Ryu menjelaskan tentang senjata yang dia berikan kepada kedua istrinya.


Dewi Arinia dan Elena yang terlihat kebingungan, kini langsung menggabungkan ujung gagang kedua pedang sabit, hingga menyatu dengan sempurna dan membentuk busur panah.


" Lalu bagaimana cara menggunakan panah ini?" Tanya Elena yang terlihat kebingungan karena tidak memiliki anak panah.


" Teteskan darah kalian pada senjata itu, lalu gunakan Qi kalian untuk menciptakan anak panah." Liu Ryu menjelaskan cara kerja senjata yang dimiliki kedua Istrinya.


Meskipun masih belum mengerti, keduanya mengangguk lalu meneteskan darahnya pada busur panah.


Buussshh!


Seketika energi tidak kasat mata, keluar dari busur panah, yang kini sudah mengenal tuannya.


Tanpa menunggu lama, Dewi Arinia dan Elena menyalurkan Qi pada busur panah, hingga muncul sebuah cahaya berbentuk anak panah.


" Ini..." Dewi Arinia dan Elena tidak menyangka bahwa Liu Ryu bisa menciptakan senjata yang memiliki kemampuan khusus.


Keduanya langsung mengarahkan panahnya pada pohon besar yang berada di tempat itu, lalu melepaskan anak panahnya.


Jleeep! Jleeep!


Kedua anak panah melesat dengan kecepatan tinggi ke arah dua pohon besar yang cukup jauh.

__ADS_1


Bboooom! Bboooom!


Ledakan yang sangat kuat membuat kedua pohon yang sebagai target mereka hancur berkeping-keping.


" Terimakasih suamiku." Kedua wanita itu sangat senang, lalu memeluk suaminya.


" Mmmm... Sekarang gunakan kekuatan pikiran kalian untuk memasukkan senjata itu ke dalam cincin kalian." Ucap Liu Ryu, lalu meminta kepada mereka untuk menyimpan kembali senjatanya.


Dengan sebuah anggukan, Dewi Arinia dan Elena mengikuti arahan Liu Ryu, hingga seketika busur panah menghilang dari tangan mereka.


Tanpa membuang waktu, Liu Ryu membawa kedua Istrinya keluar dari Dunia Quzhu, untuk kembali ke Istana Siluman Ular Gurun.


Ketiganya langsung keluar dari kamar, untuk bertemu dengan para pasukan Siluman Ular Gurun, karena waktunya mereka akan berangkat berperang.


" Salam Yang Mulia Raja, Salam Yang Mulia Ratu." Pasukan Siluman Ular Gurun menyambut kedatangan Liu Ryu dan Istrinya.


" Mmmm... Kita akan berangkat sekarang." Ucap Dewi Arinia, lalu membawa pasukan keluar dari Istana.


Di luar tembok, banyak sekali para prajurit yang sudah menunggu kedatangan Dewi Arinia.


Mereka pun langsung bergegas menuju ke Istana Siluman Kalajengking Gurun, dengan menggunakan sihir teleportasi.


Meskipun pasukan Siluman Ular Gurun memiliki sihir teleportasi, namun mereka tidak bisa berpindah tempat ke wilayah lain selain wilayah kekuasaan mereka.


Karena itulah mereka hanya bisa berjalan kaki ketika berada di luar wilayah mereka.


Saat berada di luar tembok Istana Siluman Kalajengking Gurun, Dewi Arinia dan Elena langsung mengeluarkan panahnya, lalu mengarahkan ke pintu gerbang.


Jleeep! Jleeep!


Kedua anak panah melesat ke arah pintu gerbang, membuat para prajurit merasa heran.


Bboooom!


Bboooom!


Ledakan yang sangat kuat bersarang pada pintu gerbang, namun tidak memiliki kerusakan apapun.


 " Kalian masih belum mampu, karena Qi milik kalian masih belum cukup." Liu Ryu menggelengkan kepala, karena kedua wanita itu terlalu cepat mengambil keputusan.


Sementara itu pasukan Siluman Ular Gurun sangat kagum dengan senjata yang dimiliki Dewi Arinia, karena daya serangnya sangat mematikan.

__ADS_1


" Yang Mulia Ratu... Apakah panah itu milik para Dewa?" Tanya beberapa pasukan Siluman Ular Gurun.


Terlebih baju Zirah yang digunakan oleh Dewi Arinia dan Elena bukanlah baju Zirah biasa, karena mereka dapat merasakan bahwa ada aura yang sangat kuat pada baju Zirah tersebut.


" Ya..." Jawab Dewi Arinia, karena dia tidak ingin ada yang mengetahui bahwa Liu Ryu yang menciptakan senjata tersebut.


Dewi Arinia berfikir seperti itu karena senjata yang diciptakan Liu Ryu tidaklah biasa. Jika banyak orang yang mengetahuinya, maka dunia itu akan kacau.


Di sisi lain pasukan Siluman Kalajengking Gurun yang berdiri di atas benteng pertahanan, kini terlihat pucat saat melihat panah yang dimiliki Dewi Arinia dan Elena yang memiliki kekuatan besar.


Jika saja tembok pertahanan tidak dilindungi oleh sihir pelindung, maka akan dihancurkan dengan mudah.


" Yang Mulia Raja." Beberapa prajurit menatap ke arah sosok manusia setengah kalajengking.


Tanpa berkata apapun, raja Siluman Kalajengking Gurun memasang wajah serius, karena panah tersebut bukan panah biasa.


" Dari mana Dewi Arinia dan wanita itu mendapatkan senjata Dewa?" Raja Siluman Kalajengking Gurun menyipitkan matanya karena dia tidak yakin bisa mengalahkan Dewi Arinia.


Satu-satunya harapan bagi raja Siluman Kalajengking Gurun agar bisa memenangkan peperangan, yaitu dengan bantuan Dewi Malam.


Namun Dewi Malam masih berada di daratan Muktho, sehingga mereka hanya bisa berkomunikasi melewati bola sihir.


Begitupun saat mereka mempersembahkan darah manusia, Siluman Kalajengking Gurun hanya mencelupkan bola sihir pada kolam darah, sehingga bisa diserap sampai habis.


Saat itu juga Dewi Malam memberikan kekuatan pada bawahannya melalui bola sihir.


" Kita harus bertahan di benteng pertahanan ini." Raja Siluman Kalajengking Gurun tidak ingin mengambil resiko, sehingga dia memberi perintah kepada bawahannya untuk berjaga di benteng pertahanan.


" Baik Yang Mulia Raja." Jawab mereka serempak, lalu bergegas untuk mengambil busur panah untuk mempertahankan benteng pertahanan.


Di sisi lain Liu Ryu menyipitkan matanya karena, pihak musuh lebih memilih untuk bertahan, sehingga sangat sulit bagi pasukan Siluman Ular Gurun untuk menerobos masuk.


" Biarkan aku yang melakukannya." Liu Ryu tidak ingin menjadi bahan perhatian, langsung meminjamkan busur panah milik Dewi Arinia.


" Mmmm." Dewi Arinia memberikan busur panah miliknya kepada Liu Ryu.


Tanpa membuang waktu, Liu Ryu mengarahkan busur panah ke arah pintu gerbang, lalu mengalirkan Qi dalam jumlah besar untuk menciptakan anak panah.


Wuush!


Anak panah yang memiliki ukuran lebih besar melesat cepat ke arah pintu gerbang dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


__ADS_2