SANG DEWA AGUNG 2

SANG DEWA AGUNG 2
Ch 264. Telur Naga


__ADS_3

Meskipun Liu Ryu tidak mengalami peningkatan, namun berkat energi Yin Istrinya, tidak lama lagi Liu Ryu akan naik satu tingkat.


" Jika saja ada lagi air seperti di danau ini, kita semua akan lebih cepat naik tingkat." Ucap Sheng Zhishu.


" Ya... Dengan Berkultivasi seperti itu, sangat menyenangkan." Ucap She Ling, sambil menggoda suaminya.


Mendengar ucapan tersebut, Liu Ryu hanya menggelengkan kepala lalu memakai kembali pakaiannya.


Begitupun dengan Sheng Zhishu dan yang lain, juga memakai pakaian mereka masing-masing, juga menggunakan kembali topeng dan baju Zirah.


" Jangan lupa samarkan Kultivasi kalian menjadi Bintang Suci saja. Dengan begitu, kita akan lebih banyak mendapatkan peluang." Liu Ryu mengingatkan kepada Istrinya.


Tentu para Kultivator aliran Hitam akan menganggap bahwa Liu Ryu dan Istrinya adalah sasaran empuk, karena mereka akan menganggap bahwa Liu Ryu dan Istrinya sangat lemah.


Sebuah keuntungan bagi Liu Ryu dan Istrinya, dimana para Kultivator tingkat tinggi tidak akan mengganggu mereka, karena menganggap bahwa target mereka tidak memiliki harta yang cukup.


Setelah menggunakan topeng dan baju Zirah masing-masing, Liu Ryu membawa mereka keluar dari goa tersebut untuk melanjutkan perjalanan.


Saat berada di depan mulut goa, kini semua kuda membaringkan tubuhnya karena kekenyangan saat memakan rumput roh.


" Apa kalian masih mampu berjalan?" Tanya Huli Yue, sambil menatap ke arah kuda mereka.


Seakan mengerti apa yang dikatakan tuannya, semua kuda langsung bangkit berdiri lalu berjalan mendekati tuannya masing-masing.


Tanpa menunggu lama, Liu Ryu langsung memacu kudanya untuk meninggalkan hutan tersebut bersama Istrinya.


Setelah melakukan perjalanan selama empat hari, kini Liu Ryu dan Istrinya telah berada di sebuah permukiman warga yang berada di bantaran sungai besar.


Melihat kedatangan rombongan yang menggunakan topeng dan baju Zirah, penjaga gerbang terlihat ketakutan, langsung berlutut di hadapan Liu Ryu.


" Tuan Pendekar... Jika kalian ingin mengambil harta para warga disini, maka kalian tidak akan menemukan apapun." Ucap salah satu penjaga gerbang dengan tangan gemetar berkeringat dingin.


" Penjaga... Kami bukan orang jahat. Kami kesini untuk meminta bantuan kalian agar bisa menyebrang sungai besar disana." Ucap Liu Ryu sambil menunjuk ke arah sungai besar dari kejauhan.

__ADS_1


Melihat para penjaga gerbang yang masih ragu, Liu Ryu langsung memperlihatkan Lencana Kekaisaran Han.


Melihat Lencana yang berada di tangan Liu Ryu, para penjaga gerbang dengan buru-buru memberi hormat, terlihat senang seakan memiliki secercah harapan.


" Tuan Pendekar.... Jika kalian ingin menyebrang sungai itu, lebih baik urungkan niat kalian." Ucap pemimpin penjaga yang terlihat serius.


" Penjaga... Apa yang terjadi di tempat ini?" Liu Ryu merasa heran karena, dari raut wajah para penjaga gerbang, tidak ada sedikitpun yang cerah.


Semuanya terlihat murung dan lesu, seakan tidak memiliki semangat untuk hidup.


" Tuan Pendekar.... Satu tahun yang lalu, ada seorang warga disini yang menemukan sebuah telur raksasa diatas puncak gunung belakang desa ini."


" Saat itu dia membawa telur raksasa ke sungai itu, hingga sampai menetas seekor Naga."


" Waktu itu ukurannya hanya sekitar lengan manusia dewasa. Namun perkembangannya sangat cepat, sehingga semua penghuni sungai besar itu banyak yang menjadi korbannya."


Pemimpin penjaga menjelaskan tentang apa yang terjadi di desa tersebut, sehingga para warga tidak ada yang berani turun ke sungai.


" Tuan Pendekar... Saat terakhir kali aku melihat Naga itu sangatlah besar, bahkan mampu menelan sebuah bangunan besar." Pemimpin penjaga melanjutkan ceritanya.


Walikota di wilayah tersebut juga sudah meminta bantuan kepada beberapa Kultivator, namun semuanya tetap tidak berhasil.


Mendengar ucapan tersebut, Liu Ryu dan Istrinya terdiam sejenak, karena dalam kurun waktu satu tahun Naga yang mereka katakan bisa menjadi raksasa, itu sangatlah mustahil.


" Penjaga... Apa kami bisa bertemu dengan orang yang menemukan telur raksasa itu sebelumnya?" Tanya Liu Ryu.


" Bisa tuan Pendekar. Mari saya antar." Ucap pemimpin penjaga gerbang, lalu menuntun jalan kepada Liu Ryu dan Istrinya.


Saat berada di tengah perjalanan, banyak pasang mata yang tertuju kepada Liu Ryu dan Istrinya yang menggunakan topeng dan baju Zirah.


Terlihat jelas dari wajah mereka sangat ketakutan, membuat pemimpin penjaga menerangkan kepada para warga bahwa rombongan tersebut berasal dari Kekaisaran Han.


Mendengar penjelasan dari pemimpin penjaga gerbang, para warga bernafas lega lalu melanjutkan aktivitas mereka sebelumnya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian pemimpin penjaga gerbang membawa mereka ke kediaman sosok yang menemukan telur raksasa.


Rumah tersebut sangat sederhana, dimana alasnya hanya menyatu dengan tanah, hingga dari dalam, terlihat pria sepuh keluar dari rumahnya.


Pemimpin penjaga gerbang itupun menjelaskan tujuan Liu Ryu dan Istrinya yang ingin bertemu dengan pria sepuh yang menemukan telur raksasa.


" Paman... Saat kamu menemukan telur raksasa itu, apa ada hal yang lain yang berada di tempat itu?" Tanya Liu Ryu, sambil menatap ke arah pria sepuh.


Sesaat pria sepuh berfikir sejenak, mengingat kembali saat dia menemukan telur raksasa.


" Tuan Pendekar... Pada saat itu aku sedang mencari kayu bakar. Namun tanpa sengaja, aku terpeleset ke sebuah jurang yang ada di kaki gunung di belakang desa ini."


" Agar bisa kembali ke desa ini, aku mencari jalan agar bisa keluar dari jurang, hingga menemukan sebuah goa yang aku pikir bahwa itu adalah jalan untuk keluar dari jurang."


" Namun saat berada di dalam goa, aku menemukan sebuah telur raksasa yang dikelilingi batu besar."


" Saat aku menyentuh telur raksasa itu, aku tidak tau apa yang terjadi padaku, hingga aku sadar saat sudah menaruh telur raksasa itu ke dalam air."


Pria sepuh menjelaskan panjang lebar saat dia menemukan telur raksasa, hingga berujung malapetaka bagi para warga yang tinggal di bantaran sungai besar.


Mendengar cerita dari pria sepuh, Liu Ryu dan Istrinya menghela nafas berat, karena untuk menyelesaikan masalah tersebut bukanlah perkara mudah.


Tentu Liu Ryu tidak meragukan kemampuan para Kultivator yang sudah berusaha untuk membunuh Naga tersebut, meskipun tidak membuahkan hasil.


" Paman... Apa kamu bisa mengantar kami ke tempat itu?" Liu Ryu merasa ada sesuatu yang mengganjal tentang kejadian tersebut.


Apalagi pria sepuh itu mengatakan bahwa dia tidak bisa mengetahui apa yang terjadi pada saat menyentuh telur raksasa.


' Suamiku, aku fikir bahwa telur raksasa itu dilindungi sebuah Formasi khusus, atau sebuah Ilusi.' Xian Yin mengirim pesan jiwa kepada suaminya.


Mendengar permintaan dari Liu Ryu, pria sepuh terdiam sejenak sambil menyeka keringatnya yang bercucuran.


Tentu pria sepuh itu masih memiliki rasa trauma pada saat mengalami kejadian itu yang diluar nalar.

__ADS_1


__ADS_2