
Waktu berlalu dan tidak terasa hari ini adalah hari pernikahan Nina dan Farhan. Hari pernikahan yang Nina perkiraan masih lama ternyata berlangsung lebih cepat dari dugaannya. Sepertinya betul yang dikatakan Nina kalau orangtua Farhan sudah sangat ingin memiliki anak perempuan. Untung saja waktu itu Nina mempersiapkannya semua lebih awal sehingga dia tidak kewalahan dalam menyiapkan semuanya dalam waktu yang cukup singkat.
Sekali lagi sebelum berangkat menuju gedung dimana acara pernikahan Nina berlangsung aku kembaliĀ mengecek penampilanku. Gaun berwarna coksu berbalutkan brukat berlengan seperempat dengan tambahan bawahan rok yang sedikit mengembang karena menggunakan organza dengan warna senada dengan brukat bagian atasan bajuku membuatku terlihat tampil lebih dewasa. Ya hari ini hari pernikahan Nina dan aku ingin terlihat baik di hari pernikahan sahabatku ini.
Semalam aku mendapat pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal. Sebenarnya tidak bisa dikatakan nomor yang tidak dikenal karena nomor yang sama sebelumnya sudah pernah digunakan mengirim pesan untukku.
"Mau berangkat bareng besok ke acara Nina?" Pesan singkat yang dikirim untukku yang tidak lain pengirimnya adalah Fauzi. Entah dari mana lagi dia mendapatkan nomor baruku.
Aku tetap mengabaikan pesan Fauzi. Aku sadar kalau aku akan terbawa perasaan lagi jika menanggapi pesan Fauzi kali ini dan aku tidak menginginkan itu. Karena pesan dari Fauzi ini juga menyadarkanku akan kehadiran Fauzi di pesta Nina hari ini dan aku harus menyiapkan perasaanku jika tidak sengaja berpapasan dengan Fauzi nantinya.
.
.
"Ninaaa..." Kataku berlarian kecil menghampiri Nina di kamar rias. Nina terlihat cantik sekali dengan balutan baju Bodo baju adat bugis yang dimodifikasi sedikit modern.
"Salwaa.." Kata Nina cemberut.
"Loh kamu kenapa?" Tanyaku khawatir.
"Aku deg-deg kan.."
"Ckk.. aku kaget, aku kirain kamu kenapa.."
"Kamu gak dengar suara jantungku? Rasanya bergemuruh sekali.."
"Hem.. Itu wajar, sekarang coba tarik nafas terus hembusin secara perlahan.."
Nina mengikuti intruksiku.
"Mau aku ambilin minum?" Tanyaku menawarkan.
__ADS_1
Nina menggeleng.
"Wa, sebentar lagi aku akan jadi istri.."
"Iya Nin.. Hemm sahabatku yang satu ini akhirnyaa..." Kataku ingin sekali memeluk Nina tapi menahannya karena itu akan merusak letak gaunnya sedangkan dia belum mengambil gambar pertamanya setelah menggunakan gaun pengantinnya.
Aku melihat ketengangan wajah Nina saat mendengar Farhan mengucapkan Ijab kabul dan seketika berubah menjadi terlihat lega dan perlahan tersenyum bahagia saat orang-orang menyerukan kata Sah, Nina resmi menjadi seorang istri sekarang. Farhan adalah cinta pertamanya, dari awal kami masuk sekolah menengah atas, Nina lebih terpesona melihat Farhan meski teman perempuan yang lainnya sibuk terpesona dengan Fauzi waktu itu.
Jodoh benar-benar rahasia dan datang dalam cerita yang unik. Siapas sangka orang yang dikaguminya dulu sekarang adalah orang yang mengucapkan Ijab kabul untuknya. Aku tahu, tidak ada sedikitpun Nina berharap menjadi istri dari seorang Farhan, dia hanya mengangumi dan mengidolakannya.
Nina duduk dengan manis dipelaminan, terlihat anggun dan cantik sekali dengan balutan gaun pengantin baju adat Khas sukunya. Senyum manis tidak pernah berhenti terpancar dari bibirnya yang berselimutkan lipstik yang senada dengan warna bajunya. Ah aku terharu dan ikut bahagia melihat Nina yang sekarang.
"Cantiknya Nina.." Kata Annisa memuji Nina yang benar-benar terlihat cantik saat ini.
"Iya kan.. Nina itu jarang make up, jadi sekarang terlihat cantik sekali saat wajahnya dipoles.."
"Iya betul.."
Aku tidak terbiasa menggunakan make up lebih seperti ini, jujur saja aku merasa sedikit kerepotan dengan bulu mata palsu ini sehingga aku harus sering-sering ke toilet untuk bercermin memperhatikannya. Entah kenapa rasanya seperti selalu mau terjatuh.
Aku kembali dari toilet, langkahku terhenti. Aku melihat Fauzi sedang mengobrol dengan Annisa.
Ah kenapa aku harus canggung lagi seperti ini? Bukannya aku sudah mempersiapkan hatiku karena tahu akan ada waktu aku bertemu dengan Fauzi dipesta ini.
Hufffttt.. Aku melangkah, aku yakin aku bisa menangani perasaanku.
"Oh sudah kembali?" Tanya Annisa yang melihatku berjalan menghampiri mereka.
Aku hanya tersenyum menanggapi Annisa. Fauzi menatapku, entah apa yang dipikirannya, membuatku nyaris salah tingkah saja.
"Baru pertama aku ngelihat Salwa make up seperti ini, aku hampir gak ngenali.." Kata Fauzi tersenyum. Aku hanya balas tersenyum.
__ADS_1
"Ya sekarang Salwa cantiknya masih seperti ini dulu, gak lama lagi juga Salwa bakalan cantik seperti Nina sekarang yang dibalut dengan gaun pengantin.." Kata Annisa sambil menyerahkan tasku.
"Ga gak lama lagi?" Tanya Fauzi memperjelas.
"Ya kan, Salwa kelihatan cantik sekali hari ini. Itu beberapa orang sedari tadi sibuk ngelirik kesini.." Kata Nina mengarahkan pandangannya ke beberapa orang yang benar saja entah saja kapan mereka menyiksa matanya dengan terus-terusan melirk ke arahku.
"Jangan ngaco.." Tegurku pada Annisa.
"Oh ya Fauzi kapan nyusul ngeganti status kayak Farhan?" Goda Annisa.
Fauzi hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Annisa.
"Ck, ini anak ngapain sok bertanya lagi sih. Kan dia yang ngedesain undangan Fauzi, harusnya dia tahu tanpa harus bertanya. Ini bocah sengaja mau ngebuat hatiku sakit?" Gerutuku dalam hati.
"Ha ha ha nanti saja kalau jodohnya sudah datang..."
"Kalau jodohya sudah datang? Ma maksud Fauzi apa? Bukannya dia dan Afifah sebentar lagi akan menikah?" Tanyaku dalam hati dengan pikiranku yang mulai berkecamuk.
"Ck itu jawaban untuk cewek, kalau cowok mah harus nyari.." Gerutu Annisa.
"Ha ha ha tenang saja, nanti juga kamu tahu kalau aku nikah, kan yang bakal ngedesain undangannya kamu.." Kata Fauzi tertawa ringan.
"Ha ha ha, Alhamdulillah dapat job ngedesain undangan dari orang yang jangankan calon istri, pacar aja gak punya.." Balas Annisa sambil tertawa.
Aku semakin bingung dengan pembahasan mereka berdua. Bukannya beberapa waktu yang lalu Fauzi sedang mengurus undangan pernikahannya dengan Afifah?
"Aku ke toilet dulu.." Kata Annisa izin dan meninggalkanku berdua dengan Fauzi.
Ck suasana apa ini? Rasanya awkard sekali kalau hanya berdua saja dengan Fauzi disini. Aku mencoba tenang dan berusaha mengendalikan perasaanku, aku tidak boleh terlihat canggung atau salah tingkah di depan Fauzi.
Bukannya hanya beberapa pasang mata laki-laki saja yang sesekali melirik kesini, beberapa pasang mata perempuan juga sepertinya begitu. Itu kembali menyadarkanku betapa visual Fauzi ini cukup tampan dimata perempuan, itu mengingatkanku dengan beberapa tahun yang lalu saat kami masih pacaran dan jalan berdua. Ada saja beberapa orang yang melirik Fauzi.
__ADS_1
Aku terdiam saja, aku tidak tahu harus memulai percakapan seperti apa dengan Fauzi, Fauzi juga tidak mengeluarkan sepatah kata. AkuĀ melirik Fauzi, dia seperti terpesona sekali dengan dua mempelai pengantin yang sedang duduk dipelaminan sampai tidak mengalihkan pandangannya dari sana.