Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Tiba-tiba..


__ADS_3

Aku tiba dirumah, mengganti pakaianku dengan pakaian rumahan yang lebih nyaman. Aku meraih ponselku untuk mengabari Fauzi, dia akan khawatir karena panggilannya yang tidak terjawab. Satu pesan dari Fauzi.


"Kamu dimana?"


Aku langsung menelfonnya.


"Kamu dimana?" Tanya Fauzi setelah telfonku terhubung.


"Aku dirumah"


"Tadi?"


"Ya aku dirumah, aku dibawah cerita dengan Ibu dan ponselku ku charger.." Kataku berbohong, aku belum siap mengatakan yang sebenarnya pada Fauzi.


"Oh iya, aku khawatir karena kamu gak ngangkat telfonku"


"Aku baik-baik saja kok.."


"Syukurlah.."


"A aku mau bilang sesuatu" Sebenarnya aku ragu-ragu untuk mengatakannya, tapi kurasa ini hal baik jadi aku harus menyampaikannya dengan cepat.


"Apa?"


"Ka kakĀ  Farhan minta maaf sama kamu"


"Sama aku?"


"Tadi kamu ketemu dia?"


"G gakk.. Farhan mengirimiku pesan" Kataku sedikit terbata-bata.


"Kenapa gak langsung ngirim pesannya ke aku?"


"Katanya dia gak berani"


"Kenapa harus seperti itu. Aku temannya, harusnya tidak perlu seperti ini"


Benar saja, Fauzi berfikiran dewasa dan tetap melihat Farhan sebagai temannya.


"Aku juga gak tau.."


"Ya sudah, biar aku yang menghubunginya nanti.."


"Ka kamu gak marah sama kak Farhan?"


"Mau marah juga gak ada gunanya, itu hanya akan memperbesar-besar masalah"


"Lalu kenapa sama aku kamu marah?"


"Gak tau juga, mungkin karena aku sudah menyiapkan masa depan sama kamu.."


Aku terdiam saja mendengar jawaban Fauzi. Setiap kali ini dibahas, setiap itu juga aku merasa bersalah.

__ADS_1


"Salwa, kalau ada sesuatu ceritakan saja padaku.."


"Sesuatu apa?"


"Apa saja, kan aku sudah bilang kalau aku mau jadi pendengar yang baik dari semua cerita dan keluh kesahmu"


"Ah iya, aku pasti ceritanya ke kamu.. Hem, kamu sedang apa?"


"Aku lagi dijalan dari beli sesuatu"


"Yasudah aku matiin dulu telfonnya, kamu harus fokus nyetir kan.."


"Kamu, udah gak ada lagi yang mau kamu ceritain ke aku?"


"Emh.. nanti malam aku telfon lagi. Sekarang kamu harus fokus nyetir dulu.."


"Okey.."


"Hati-hati dijalan Ozi.."


Aku mengakhiri panggilanku.


Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur, memandangi langit-langit kamar dengan pikiranku yang entah kemana. Aku sudah melalui banyak rintangan pada hubunganku dengan Fauzi, sangat banyak dan rasanya melelahkan sekali jika dipikir-dipikir.


Ponselku kembali berdering, satu panggilan masuk dari Nina.


"Salwaaaa..." Teriak Nina dari seberang telfon ketika aku menjawab panggilannya.


"Ah maap, maap.."


"Hem kenapa?"


"Kak Farhan mau keluar kota?"


"Keluar kota? Tau darimana?"


"Tadi aku liat kak Farhan dibandara, nah aku samperin aku tanya-tanya deh.."


"Apa Farhan sudah berangkat? Secepat itu?" Pikirku


"Kamu keponya sudah tak tertolongkan.. ya lagian kalau kak Farhan mau keluar kota kenapa?"


"Ck.. bukan itu yang jadi pokok pembahasan utama ghibah kita hari ini?"


"Terus?"


"Tebak-tebak kak Farhan lagi sama siapa?"


"Ya ampun Nina, buat apa juga aku nebak-nebak kak Farhan perginya sama siapa"


"Hem.. aku bilang langsung deh.. Kak Farhan pergi sama cewek"


"Sama cewek?"

__ADS_1


"Siapa yang ditemani Farhan? Dia tidak bilang tentang itu sama aku tadi. Ck kenapa juga dia harus bilang sama aku, tapi rasanya penasaran" Pikirku


"Iya.. Aku kira selama ini kak Farhan itu jomblo. Ya habis dia gak mungkin kan rela-rela ngejemput kamu disekolah tiap kali Fauzi minta tolong sama dia kalau dia punya pacar"


Nina masih tidak tahu tentang hubunganku dengan Farhan dan sampai sekarang dia selalu mengira Farhan datang menemuiku karena permintaan Fauzi.


"Kamu yakin itu pacarnya?"


"Hem.. aku gak nanya soal cewek itu sih.. Cuman masa iya bukan pacar tapi merengek-rengek ke kak Farhan"


"Merengek-merengek gimana?"


"Ya gitu.. ngegandeng tangan kak Farhan dengan manjyaahh, kak Farhan juga ngelus kepalanya dengan lembut. Heh teman macam apa coba yang diperlakuin kayak gitu"


"Mungkin memang benar kalau itu pacarnya.."


"Uwu.. kak Farhan romantis sekali, gak pernah ngumbar-ngumbar hubungannya sama pacarnya tapi ternyata kalau lagi bareng bisa semanis itu.."


Aku terdiam saja, aku tidak tau harus menanggapi seperti apa percakapan ini dengan Nina, pikiranku juga sudah mulai tidak jelas.


"Ck.. kamu diam saja.. yaudah deh aku matiin dulu telfonnya.."


"Okey.."


"See you Salwa.."


Apa ini? Siapa yang ditemani Farhan di bandara? Aku bukannya memikirkan hal ini karena masih ada perasaan pada Farhan atau menyesali tentang berakhirnya hubunganku dengannya. Hanya saja kenapa bisa secepat itu? Kenapa bisa Farhan secepat itu mendapatkan perempuan lain, dan lagi kalau benar apa yang dikatakan Nina perempuan itu sampai merangkul manjah pada Farhan, itu berarti hubungan mereka sudah cukup lama. Lalu selama ini aku dan Farhan? Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui.


Selama ini Farhan selalu meyakinkanku bahwa akulah perempuan satu-satunya yang dia cintai, dia sampai sesekali melakukan hal nekat untuk memintaku tetap tinggal di sisinya, lalu apa ini? Kenapa hanya berselang beberapa hari saja Farhan sudah bisa membuka perasaan dengan perempuan lain? Apakah bisa secepat itu melupakan perempuan yang katanya dia sangat sayangi? Ataukah dia memang sudah memiliki wanita lain selagi bersamaku waktu itu.


Mungkin saja semua ucapan rasa bersalah Farhan pagi tadi hanya sebuah karangan semata, hanya untuk menjaga imagenya didepanku agar aku bersimpati, kenapa sampai harus seperti itu. Tidak, bisa saja itu hanya temannya dan Nina hanya membesar-besarkan saja bicaranya.


Pikiranku jadi berputar disekitar pembahasanku dengan Nina tadi. Sesekali aku merasa di khianati mengingat bagaimana Farhan memperlakukanku sampai aku sempat luluh sejenak, tapi aku seperti kembali lagi memikirkan posisi Farhan. Aku mengabaikannya cukup lama, kurasa dia butuh perempuan lain untuk memperbaiki perasaannya. Ah, kenapa juga hal seperti ini membuatku kepikiran.


.


.


.


Cahaya matahari menerobos masuk melalui celah-celah jendela kamarku, meski mataku masih tertutup tapi tetap saja terasa silau sekali.


Aku melirik jam dinding yang tergantung disudut kamarku, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi lewat beberapa menit. Semenjak aku tidak aktif ke sekolah dan hanya menunggu hasil ujian kelulusan sambil mempersiapakan ujian masuk Universitas, aku selalu terlambat bangun pagi. Awalnya hanya sekali dua kali aku terambat bangun pagi, tapi sekarang terlambat bangun sudah seperti kebiasaanku.


Aku meraba-raba meja samping tempat tidurku dimana kuletakkan ponselku sebelum tidur. Bangun pagi mengecek ponsel sudah seperti rutinitas yang tidak terlewatkan.


Satu pesan masuk dari Fauzi, dikirim jam tiga pagi. "Apa yang dia lakukan sampai jam tiga pagi masih terjaga?" Pikirku.


Mataku yang sedari tadi sayu karena setengah sadar dari bangun tidur seketika membelalak membaca pesan Fauzi, perlahan mataku mulai berkaca-kaca.


"Aku sudah memikirkannya beberapa kali dan aku sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita"


Kenapa? Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba??

__ADS_1


__ADS_2