Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Undangan..


__ADS_3

Bagaimana bisa aku baik-baik saja ketika seseorang yang aku tunggu selama ini akhirnya muncul di depanku dengan statusnya yang tidak sendiri lagi. Seluruh tubuhku rasanya menjadi lemah meski jantungku berdetak dengan kencang. Aku sangat merindukannya, melihat wajahnya tadi dan mendengar suaranya membuatku ingin berlarian memeluknya untuk melepaskan semua rinduku yang tertampung sampai saat ini. Tapi nyatanya, jangankan memeluknya, bertanya tentangnya saja aku tidak bisa. Yang bisa aku lakukan hanya terus tersenyum meski hatiku meronta-ronta kesakitan.


Aku selalu memimpikan pertemuan yang tak terduga dengannya, tapi bukan yang tak terduga seperti ini. Aku selalu berharap akan bertemu dengannya di waktu yang tepat, dimana ketika waktu itu datang yang kurasakan hanyalah kebahagiaan, bukan malah sebaliknya seperti ini.


Aku selalu menunggu waktu dimana aku bisa duduk berdua dengannya sambil menikmati coklat hangat dan beberapa sajian manis saling menceritakan hal-hal yang terjadi pada kami selagi kami tidak bersama, tertawa bersama dan menghabiskan waktu seharian untuk sama-sama melepas rindu. Tapi sepertinya itu hanya ekspektasiku yang terlalu tinggi saja, itu semua hanya sebatas pemikiranku saja yang tidak akan terealisasikan.


Semua salahku, sekali lagi semua ini karena salahku. Aku yang telah menyakitinya sampainya membuatnya pergi jadi bagaimana bisa aku berharap dia akan kembali padaku dan ingin melanjutkan kisah drama romantisme seperti sebelumnya. Sebagaimanapun aku memikirkannya rasanya memang tidak ada kemungkinan Fauzi ingin kembali padaku lagi. Happy ending bersamanya hanyalah sebuah dongeng yang aku gunakan untuk menina bobokan diriku sendiri agar tertidur dan melupakan masalah bagaimana aku yang telah menyakitinya dulu.


Aku langsung meminta izin untuk pulang lebih awal, aku tidak akan bisa menahan lebih lama perasaanku, teman-teman kerja akan khawatir jika melihatku menangis disana.


Aku menghempaskan tubuhku ketempat tidur, perlahan airmataku mulai mengalir. Aku sudah menunggu terlalu lama, aku berharap sudah terlalu jauh tapi apa yang aku temui setelah semuanya itu, hanya kekecewaan dan sakit yang tak bisa kuatasi.


Selama aku berharap dan menunggu, aku selalu menyiapkan diriku untuk menerima kenyataan buruk semisal Fauzi bukan jodohku, aku selalu mempersiapkan diri agar setidaknya nanti bisa mengatasi sedikit rasa kecewaku, tapi sepertinya persiapanku tidak ada artinya, aku tidak menyangka kalau rasa sakitnya akan seperti ini.


.


.


.


.


.


"Kamu dimana?" Pesan singkat yang dikirimkan Annisa sore ini.


"Di Rumah sakit, kenapa?"


"Besok sibuk gak?"


"Gak sih, kenapa?"


"Temani aku dong.."


"Kemana?"


"Ketemu pelangganku.."


"Ck pelanggan, udah kayak jualan aja.."


"Lah iya emang, aku kan penjual undangan.."


"Iya sih, istilah wedding organizer terlalu baik buat kamu yang selalu beranggapan sebagai penjual undangan.."


"Ya ya terserah deh, besok temani aku oke? Aku teraktir makan.."


"Oke, oke, kabari aja besok.."


"Ashiaapp nyonya, aku padamu.."


Berbeda dengan aku yang meninggalkan orangtuaku saat menempuh pendidikan, Annisa meninggalkan tempat tinggalnya dan ikut pulang denganku untuk bekerja disini. Orangtuanya sesekali datang menjenguknya untuk memastikan putrinya baik-baik saja.


Annisa mengembangkan hobbynya dalam mendesain undangan cetak dan digital dan itu dijadikan pekerjaannya sekarang. Aku masih ingat saat pertama kali bertemu Annisa pernah bilang kalau dia lebih tertarik dengan pekerjaan yang berhubungan dengan Wedding organizer dibandingkan Farmasi, dia melanjutkan pendidikannya di bidang Farmasi karena tidak ingin Ilmu yang dia pelajari selama tiga tahun di bangku sekolah menengah kejuruan Farmasi menjadi sia-sia begitu saja. Alhasil sekarang dia melakukan keduanya, melanjutkan hobbynya dan menjadi wedding organizer dan juga membuka sebuah Apotek, toh dia bisa membuat desain undangannya sambil berjaga di Apoteknya. Annisa mempekerjakan satu orang TTK untuk pelayanan di Apoteknya ketika dia harus keluar bertemu dengan kliennya.


Sekitar dua minggu yang lalu aku bertemu dengan Fauzi, aku yang sangat merindukannya. Ketika bertemu jangankan memeluknya, bertanya tentang kabarnya saja aku tidak bisa karena harus menerima kenyataan pahit dimana Fauzi sudah tidak sendiri lagi bahkan seperti yang dikatakan perempuan itu, mereka sedang disibukkan dengan rencana pernikahan mereka.


Aku mengambil libur tiga hari setelah hari itu, aku bertukar shift dengan teman lainnya agar tetap ada yang mengisi tugasku di tempat kerja. Selama tiga hari itu aku kembali murung, bagaimana kondisiku yang terpuruk 7 tahun lalu setelah ditinggal Fauzi seperti itulah lagi aku tiga hari ini. Namun pada akhirnya aku kembali, aku sudah belajar dan melihat hasil yang terjadi 7 tahun lalu ketika aku membiarkan diriku terpuruk, sangat banyak hal yang aku lewatkan karena terlalu larut dalam keterpurukanku, sekarang aku tidak boleh seperti itu.

__ADS_1


Aku tidak bisa mengatakan kalau aku baik-baik saja sekarang, bagaimana bisa aku merasa baik secepat ini setelah selama 6 tahun aku menunggu seseorang dan akhirnya dia datang dengan perempuan lain disisinya. Aku berusaha menyibukkan diriku sebisa mugkin agar tidak terpengaruh dengan perasaan sedihku. Ya kesibukanku benar membantuku mengatasi perasaanku tapi itu hanya sementara, aku tetap akan termenung dan melamun ketika sekelebat pikiranku tentang Fauzi terlintas. Beberapa kali teman-teman kerja mendapatiku melamun danΒ  menangis, mereka khawatir tapi aku bilang kalau aku baru saja menonton drama dan aku terbawa perasaan dengan tontonanku itu. Tentu saja teman-temanku tidak akan percaya dengan jawaban yang klise seperti itu, tapi mereka tidak lanjut menanyaiku karena mereka menghargai privasiku.


Aku menyadari diriku yang lebih baik dari aku yang dulu, setidaknya aku sekarang ada keinginan untuk berdiri kembali setelah terjangan badai perasaanku, bukan malah membiarkan diriku iikut hanyut seperti yang aku lakukan 7 tahun yang lalu. Sekali lagi, Jodoh sudah diatur oleh Tuhan dan itu akan tetap menjadi rahasia-Nya.


.


.


.


Hari ini adalah hari dimana aku berjanji untuk menemani Annisa bertemu dengan kliennya, aku mengiyakan permintaan Annisa untuk menemaninya agar setidaknya aku bisa keluar dan tidak terlalu memikirkan tentang Fauzi, meski sebenarnya aku juga sedang mencari masalahku yang baru. Aku tidak akan bisa menyembunyikan perasaanku dari Annisa, Annisa akan bisa membaca ekspresiku atau bisa saja aku akan menangis lagi ketika Annisa terus mencercaiku dengan pertanyaannya nanti, tapi tetap saja aku ingin keluar karena cepat atau lambat Annisa akan mengetahui semuanya.


"Enaknya makan apa ini?" Kata Annisa sambil membuka lembar-lembar menu.


"Aku mau bubur ayam.."


"Lah? Neng coba lihat tingginya matahari sekarang, mana ada jual bubur ayam jam begini. Lagian kita lagi di Cafe, cafe mana yang jual bubur ayam.."


"Tapi aku kepengen bubur ayam.."


"Pesan *bassang saja, sama-sama bubur kan.." *Makanan khas sulawesi selatan yang dibuat dari jagung ketan.


"Bubur ayam sama bassang rasanya kayak utara sama selatan, beda jauh.. Aku pesan hot chocolate saja.."


"Ah oke.. Bentar aku ke toilet dulu.."


Annisa berlalu.


Aku kembali melamun menunggu Annisa kembali dari toilet juga menunggu pesanan datang.


"Salwa.."


"Fa Fauzi...??"


Aku setengah sadar dan tidak sadar melihat Fauzi. Ambyaaarrr hatiku tercabik-cabik lagi dan perasaanku mulai tidak karuan lagi.


"Meja nomor 13.." Kata Fauzi melihat nomor meja. "Bener kok meja yang ini, apa dia salah ngasih nomor meja?" Gumam Fauzi.


"Ada janji?" Tanyaku.


"Iya, hari ini aku ada janji buat ketemu seseorang dan katanya dia sudah sampai dari tadi dan menungguku di meja nomor 13, tapi ini??" Dia terlihat sedikit bingung.


Fauzi janjian dengan seseorang di meja nomor 13? Meja nomor 13 adalah tempatku dengan Annisa, jika bukan aku yang dia temani janjian itu berarti janji ketemuan Annisa adalah Fauzi dan dia?? Undangan.. Astaga kenapa aku tidak kepikiran itu.


Ini benar-benar boomerang, Annisa seorang wedding organizer dan Fauzi sebentar lagi akan menikah, jadi???


"Kamu mesen undangan?" Tanyaku.


"Iya, tapi sepertinya dia salah ngasih nomor meja"


"Gak kok, benar ini mejanya. Yang ngebuat undangannya namanya Annisa"


"Ah iya betul.."


"Sekarang dia lagi di toilet, aku disini buat nemein dia.."


"Kamu temennya Annisa?"

__ADS_1


"Iya.." Jawabku mencoba tersenyum.


"Oh haha, aku kira aku salah meja.." Kata Fauzi mulai duduk.


Aku tidak tau harus berekspresi seperti apa? Aku bingung harus bagaimana, aku gugup dan canggung. Tapi sepertinya itu hanya terjadi di aku saja, Fauzi terlihat biasa-biasa saja.


Tidak lama Annisa kembali dari Toilet.


"Oh sudah datang?" Seru Annisa dengan tersenyum.


Fauzi balas tersenyum.


"Maaf ya aku ngebawa teman.." Kata Annisa.


"Gak apa, kita saling kenal kok.." Jawab Fauzi.


"Loh kalian saling kenal?"


"Iya, Fauzi kakak kelasku sewaktu SMA" Kataku datar mencoba tersenyum. Hatiku sakit sekali mengucapkan ini.


"Wah kebetulan sekali.." Kata Annisa.


Ponselku berdering, panggilan masuk dari Izki.


"Maaf aku angkat telfon dulu.." Kataku dengan sopan.


"Gak apa, angkat disini saja.." Jawab Fauzi juga dengan sopan sambil tersenyum ramah.


"Halo Izki kenapa?" Tanyaku.


"Kak, kakak sibuk gak? Katanya kalau kakak gak sibuk kakak diminta buat ketemu sama beberapa Dokter Spesialis hari ini untuk membahas tentang formularium rumah sakit" Jawab Izki dari seberang telfon.


"Oh oke, aku akan kesana.."


"Oke kak.."


"Kenapa Wa?" Tanya Annisa.


"Ini, aku ada panggilan untuk ke Rumah sakit sekarang, ada kerjaan mendesak.. Aku tinggal gak apa ya?"


"Iya gak apa, makasih udah nemenin.."


"Iya beb.. Maaf aku pamit duluan" Kataku pada Fauzi.


Fauzi hanya balas tersenyum.


Aku melangkah meninggal Annisa dan Fauzi yang seperti sudah mulai membahas permasalahan undangan.


Sepanjang perjalanan aku menangis, wajah Fauzi selalu terbayang-bayang dan semakin sakit rasanya mengingat dia sedang sibuk mengurus undangan pernikahannya sekarang. Aku sudah seperti orang gila yang terus-terusan menangis ditempat keramaian, tapi aku juga tidak bisa menahan tangisku karena sakitnya perasaanku.


.


.


.


.

__ADS_1


Makasih udah ngebaca sampai di Episode ini 😊 Jangan lupa ⭐️ nya ya Kak πŸ˜ŠπŸ’œ


__ADS_2