
Kami sama-sama terdiam cukup lama, aku tidak tahu harus memulai percakapan darimana dengan Fauzi sehingga aku diam saja. Aku juga merasa tidak enak jika harus pergi meniggalkan Fauzi.
"Aku benar-benar gak nyangka mereka berdua berjodoh.." Kata Fauzi memulai percakapan memecahkan keheningan sejenak yang terjadi diantara kami.
"Engg.. eh i iyaa.." Jawabku sedikit terbata-bata.
"Ya ampuun Salwa.. Ada apa dengan cara bicaramu yang terbata-bata seperti ini" Batinku kesal.
"Nina terlihat cantik sekali dan Farhan juga.. Ah tidak terlalu tampan, biasa-biasa saja.." Fauzi memulai cara bicaranya yang sesekali diselingi dengan candaan.
"Kak Farhan juga terlihat tampan kok.." Kataku sambil memandang Farhan yang tersenyum manis menerima tamunya.
Spontan Fauzi berbalik menatapku, menatapku dengan tajam lalu mengalihkan pandangannya beberapa saat kemudian.
"Apa? Kenapa menatap begitu? Apa aku salah bicara?" Pikirku kebingungann.. "Oh Astagaaa..." Aku sampai terkejut sendiri setelah menyadarinya. "Kenapa aku harus memuji mantan selingkuhanku didepan mantan pacarku?? Dasarrr Salwaaa.." Gerutuku dalam hati kesal pada diri sendiri.
Aku mengambil segelas minuman yang tersedia di meja kami berusaha menghilangkan sedikit kecanggungan ini.
"Kamu kapan nyusul?"
"Apanya?" Tanyaku bingung.
"Ya nikah kayak Nina.."
Uhuukkkk.. Aku sampai terbatuk-batuk karena terkejut dengan pertanyaan Fauzi.
"Ka kamu gak papa?" Tanya Fauzi memberiku selembar tissue.
Aku mengangguk memberi isyarat kalau aku baik-baik saja.
"Makasih kak.." Aku membersihkan sedikit tumpahan di gaunku.
"Salwaa..." Kata Fauzi sambil memegang ujung bibirnya.
"Apa?" Tanyaku bingung.
Fauzi mengulang memegangi ujung bibirnya dan sesekali memegang pipinya. Aku bingung dan tidak mengerti dengan isyarat yang diberikan Fauzi.
"Ada bekas air di samping bibirmu.." Jelasnya.
"Oh.." Aku berusaha membersihkan bibirku. "Ck kenapa jadi memalukan begini sih Salwa.." Gerutuku dalam hati
__ADS_1
"Bukan disitu, tapi disini.." Kataku Fauzi membantuku membersihkan ujung bibirku. Seperti biasa, tangan Fauzi selalu hangat.
Blusssshhhhh... Aku tidak bisa menggambarkan seperti apa rasanya. Malu, senang, bingung dan canggung bercampur menjadi satu.
Aku dengan cepat mengalihkan wajahku.
"Ah maaf.." Kata Fauzi yang terlihat canggung juga.
"Ga gak apa.." Jawabku dengan sedikit terbata-bata.
Kami kembali sama-sama terdiam dan kecanggungan diantara kami semakin meningkat saja.
"Engg.. anu.." Aku mencoba membuka percakapan agar kecanggungan tidak semakin menjadi-jadi. Tapi kenapa aku jadi terbata-bata begini.
"I iya ke kenapa?" Bukan hanya aku, perasaan Fauzi juga tidak jauh berbeda dari perasaanku. Dia sampai terbata-bata begitu menjawabku.
"Kakak sudah baikan sama kak Farhan?" Tanyaku dengan nada rendah. Aku tidak tahu apakah pertanyaan ini pantas untuk dipertanyakan, tapi aku cukup penasaran dan hubungan mereka yang sepertinya sudah membaik.
"Iya.." Jawab Fauzi singkat sambil tersenyum menatapku.
Aku balas menatapnya dengan tatapan tidak puas dengan jawabannya dan mengharapkan jawaban lebih.
"Aku sempat ketemu dengan Farhan saat di Makassar. Waktu itu aku ada pertemuan dari pihak kantor lain dan ternyata itu adalah Nina, hari itu Nina dijemput Fauzi. Haha sebenarnya aku juga cukup terkejut dengan hubungan antara Nina dan Farhan waktu itu, gak nyangka saja mereka berdua ternyata punya hubungan yang serius. Lucu aja gitu kalau aku ngebayangin gimana Nina waktu sekolah dan gimana juga Farhan. Haha benar-benar jodoh gak ada yang tahu..." Jelas Fauzi.
"Aku pikir, kita sudah sama-sama dewasa. Kita sudah bukan lagi anak remaja yang mempertahankan ego dan saling mengabaikan satu sama lain, toh sebelumnya kita ini adalah teman" Lanjut Fauzi mulai kembali ke pembahasan.
"Jadi..??"
"Ya jadi aku baikan sama Farhan. Kejadian yang lalu biar saja berlalu, kita masih sangat muda waktu itu jadi wajar saja kalau kita melakukan kesalahan-kesalahan seperti itu, lagian siapa yang bisa menahan perasaan suka. Di umur sekarangpun kita tidak akan bisa menahan perasaan cinta kita ke seseorang, hanya saja kita sudah tahu mana perasaan yang layak dipertahankan dan mana yang harus dihentikan.." Jelas Fauzi.
Aku terkadang tidak bisa menebak jalan pikiran Fauzi dan tidak bisa mengerti bagaimana dia bisa mengendalikan perasaannya. Fauzi selalu baik seperti ini, dia selalu bisa mengedepankan kebaikan bersama dan mengabaikan perasaannya. Untuk oranglain pada umumnya, bagaimana bisa memaafkan begitu mudahnya ketika kekasih kita berselingkuh dengan teman sendiri. Tapi Fauzi bisa mengerti hal itu, membuang sisi buruk seseorang dari pandangannya dan mencoba melihat dari sudut pandang yang lainnya.
"Kenapa nanyain ini?" Tanya Fauzi menatapku. Aku dengan cepat mengalihkan pandanganku, rasanya aku belum bisa kontak mata dengan Fauzi.
"Gak kenapa-kenapa, hanya saja waktu ketemu sama kak Farhan, kak Farhan pernah bilang sama aku kalau dia masih malu buat ngomong dan merasa gak enak sama kakak.."
"Kamu masih sering ketemu sama Farhan??" Tanya Fauzi..
"Gak gak gak... Gak lagi, i itu maksudku waktu dulu.." Jawabku cepat.
"Ha ha ha kenapa responmu seperti itu Salwa?" Fauzi tertawa melihatku.
__ADS_1
Ckk Salwaa.. Kenapa ngejawabnya harus seperti itu. Ck benar-benar bikin malu.. Aku sendiri juga tidak sadar kenapa jawabanku sangat buru-buru dan seperti ini.
"I itu.. Ma maksud akuu.."
"Ha ha kamu seperti orang yang sedang kepergok saja.." Fauzi masih terus tertawa.
"Bu bukannya gitu, aku takutnya kakak ngiranya aku sama kak Farhan dan Nina.." Aku tidak melanjutkan kata-kataku yang melihat respon Fauzi seketika berubah. Dia yang sedari tadi menertawaiku tiba-tiba tawanya itu hilang. Aku menatapnya dengan bingung.
"Sekarang aku juga udah dipanggil kakak ya?" Katanya menatapku sejenak lalu kembali mengalihkan pandangannya dengan senyumannya yang aku tidak mengerti apa maksudnya.
"Te terus aku harus manggil apa?" Tanyaku bingung.
"Panggil sayang lagi juga boleh, hahaha.." Fauzi kembali tertawa.
"Eh??"
"Haha maaf, aku cuman bercanda.." Kata Fauzi dengan ketawanya yang mulai mereda.
Dia bercanda dan bercandanya itu hampir membuat jantungku melompat dari tempatnya.
"Puas ketawa ketiwinya???" Tanya Farhan dengan wajah tanpa ekspresi.
"Omoo...." Aku dan Fauzi sama-sama terkejut melihat Farhan yang entah sejak kapan berdiri dibelakang Fauzi.
"Ck.. bikin kaget aja Lu.." Tegur Fauzi.
"Istri gue sedari tadi cemberut diatas sana manggil-manggil kalian tapi kalian asyik ketawa gak jelas disini.."
Aku mengalihkan pandanganku pada Nina yang duduk dipelaminan dengan mukanya yang mulai kusut. Aku melihat sekeliling tamu tinggal sedikit. Mungkin karena resepsi besar-besarannya akan dilakasanakan nanti malam sehingga siang ini belum banyak tamu yang datang.
"Lah kenapa?" Tanya Fauzi.
"Dia dari tadi maunya foto sama kalian berdua, lah kalian berdua sibuk sendiri disini.."
"Oh ha ha ha maaf-maaf..."
"Udah puas kan reuniannya sama mantan, ronde flashbacknya kalian lanjutkan nanti malam saja oke.."
Aku jadi kikuk sendiri mendengar perkataan Farhan.
"Udah ayoo foto-foto duluu..." Ajak Farhan.
__ADS_1
Aku dan Fauzi beranjak, menuju pelaminan untuk mengambil beberapa gambar sekedar mengabadikan momen bahagia Farhan dan Nina.