Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Mengingat..


__ADS_3

Farhan terus menjelaskan dengan baik, dia benar-benar membantuku dalam menyelesaikan tugas-tugasku.


"Kak, aku mau nanya sesuatu"


"Apa?"


"Tapi ini agak diluar dari pembahasan kita, cuman aku agak penasaran"


"Tentang apa?"


"Tentang obat yang bukan indikasinya tapi bisa menyembuhkan"


"Maksudnya.."


"Contoh kayak Amoxicillin gitu kak, kebanyakan orang beranggapan Amoxicillin itu untuk obat luka dan nyeri padahal kan Amoxicillin itu antibiotik kak.. Tapi kok beneran setelah dia konsumsi Amoxicillin orangnya bisa sembuh.."


"Tapi Amoxicillin itu emang untuk luka Salwa.."


"Loh kok untuk luka? Bukannya antibiotik"


"Luka kan mudah ditumbuhi bakteri, jadi kalau Amoxicillin dijadiin obat luka emang boleh-boleh saja, tapi kembali lagi lukanya yang seperti apa dulu.."


"Maksudnya?" Aku mulai bingung dengan apa yang dimaksud Farhan.


"Contoh, pasiennya luka sampai lukanya mulai terbuka dan berair, itu kan sudah butuh antibiotik karena jelas lukanya itu udah ditumbuhi bakteri. Cuman salahnya kadang-kadang masyarakat, dia luka baru-baru kegores pisau atau kakinya ketimpa batu dia udah mau minum Amoxicilin padahal kan seharusnya enggak. Tahu kan kalau luka yang dikasi antibiotik itu yang lukanya sudah sampai tiga hari.."


"Ya maksud aku kayak gitu kak, kadang kan cuman luka kecil tapi udah minum antibiotik katanya buat ngilangin sakitnya, padahal kan itu bukan untuk ngilangin sakit kak.."


"Hem.. itu yang udah jadi masalahnya Salwa, mindset itu sangat berpengaruh dalam menyembuhkan pasiennya. Kalau pasiennya udah percaya banget obat ini bisa nyembuhin sakit, maka bisa saja beneran sakitnya hilang, meski gak semuanya bisa kayak gitu, tapi kembali lagi ke efek samping obatnya. Kita sekarang sudah jadi Farmasi, kita harus bisa menyampaikan ke masyarakat atau setidaknya keluarga kalau Amoxicillin itu bukan obat nyeri atau luka, dan bahaya kalau terus-terusan mengonsumsi Amoxicillin, bisa menyebabkan resistensi.."


"Iya kak, aku rasa itu sangat penting untuk di kasi tahu ke masyarakat luas"


"Berdoa saja, semoga besok-besok Masyarakat bisa lebih paham tentang obat dan bahayanya mengonsumsi obat yang tidak sesuai indikasinya.."


"Iya kak.."


"Yaudah ini gimana tugasnya? Kamu udah ngerti?"


"Udah kak, makasih udah mau ngebantu aku ngerjain tugasku.."


"Iya sama-sama. Intinya rajin-rajin buka buku dan jurnal. Ini kamu masih semester satu, semester kedepannya kamu akan dihadapkan sama matakuliah yang lebih sulit lagi dan lebih membutuhkan banyak buku untuk literaturnya.."


"Iya kak.. "


"Hem.. jadi ini udah kan?"


"Iya.. engg anu.."


"Kenapa?"


"Kakak gak lapar? Gak mau makan dulu?"


"Hem boleh.."


"Aku traktir sebagai ucapan terimakasih"


"Haha gak perlu sampai begini Salwa.."

__ADS_1


"Gak apa kak, toh kakak udah repot-repot ngajarin aku"


"Aku gak ngerasa direpotin kok jadi gak harus.."


"Pokoknya kakak harus mau aku traktir.." Kataku memotong pembicaraannya.


"Haha Okelah kalau kamu maksa.."


"Yaudah kakak mau pesan apa?" Kataku memberinya daftar menu makanan.


Farhan memilih menu makanan kemudian memesannya.


Sambil menunggu pesanan datang kulihat Farhan sedikit sibuk dengan ponselnya dan sesekali mengkerutkan keningnya. Sepertinya ada sesuatu yang sedang dia pikirkan.


"Kakak kenapa?"


"Ah apa? Aku? Aku baik-baik saja" Jawabnya sambil tersenyum.


"Kakak ada janji atau gimana? Jangan sampai aku ngehalang-halangi kakak disini"


"'Haha gak kok.. Hem betewe ini makanannya kok lama datangnya" Katanya mengalihkan pembicaraan.


"Masih dimasak kak"


"Ohaha iya ya.."


Farhan kembali fokus pada ponselnya. Aku merasa sedikit menyesal karena sudah menahannya makan bersamaku. Farhan seperti sedang kepikiran sesuatu dan aku sudah membuatnya harus tinggal makan siang denganku.


Makanan yang kami pesan sudah datang, aku dan Farhan makan dengan baik sambil berbincang sedikit masalah perkuliahan.


"Oh iya Salwa, Fauzi gimana kabarnya.." Tanya Farhan sambil menikmati makanannya.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Farhan sambil memberiku segelas air.


Aku mengangguk memberi isyarat kalau aku baik-baik saja.


"Makannya pelan-pelan.."


"Iya kak, makasih.."


"Fauzi gimana kabarnya? Semenjak kejadian itu aku gak pernah komunikasi lagi sama Fauzi. Aku malu dan terlalu pengecut buat bicara langsung sama Fauzi"


"Tapi Fauzi berharap kakak yang ngomong langsung sama dia, dia bilang gak seharusnya kakak seperti ini"


"Hem.. seperti biasanya, Fauzi selalu baik. Dia bersikap lebih dewasa dalam berfikir"


Aku diam saja.


"Kalau kamu ketemu atau kebetulan telfonan sama Fauzi, sampaikan maafku sekali lagi. Aku benar-benar belum bisa ngomong langsung sama Fauzi. Ck aku pengecut sekali.."


"Aku juga gak bisa sampaiin maaf kakak ke Fauzi.." Jawabku dengan nada rendah.


"Ke kenapa? Fauzi gak suka kalau kamu ngebahas aku?"


Aku menggeleng.


"Terus?"

__ADS_1


"A aku gak bisa ngehubungi Fauzi kak.."


Terlihat jelas ekspresi bingung di wajah Farhan.


"Ma maksud kamu?"


"Aku udah lama gak sama Fauzi lagi dan sekarang aku gak punya kontak Fauzi"


Farhan diam sejenak, sepertinya dia sedang mencerna apa saja yang baru aku katakan.


"Ka kalian putus?" Tanya Farhan ragu-ragu.


Aku mengangguk mengiyakan pertanyaan Farhan.


"Kok bisa? Sejak kapan? Ada apa? Kalian udah bicarakan semuanya?" Farhan menghujaniku dengan pertanyaan beruntun.


"Udah lama.."


"Lama?"


"Sudah setahun kak"


"Sudah selama itu? Kenapa bisa?"


"Ya begitulah.." Aku mencoba tersenyum.


"A apa karena aku?" Farhan kembali bertanya dengan ragu-ragu. "Apa karena hari itu aku ngajak kamu keluar?" Farhan terlihat merasa bersalah.


"Bukan begitu.." Jawabku masih berusaha tersenyum. "Kami putus mungkin karena memang takdirnya sudah begitu.."


"Jadi sekarang kalian sama sekali gak ada komunikasi?"


Aku mengangguk.


Farhan terdiam sejenak.


"Kalau benar karena aku, aku minta maaf Salwa. Semuanya karena aku yang terlalu egois, aku yang hanya mementingkan perasaanku sendiri tanpa peduli dengan perasaan kalian berdua. Maafkan aku.."


"Sudahlah kak, gak usah dibahas lagi. Semuanya sudah berlalu, disesali pun gak ada gunanya" Jawabku mencoba terlihat tegar dan ikhlas meskipun disudut hatiku yang terdalam mulai berkecamuk kembali mengingat Fauzi.


"Semoga ada yang bisa menjagamu yang lebih baik dari Fauzi nantinya. Aku beneran berharap hal yang baik seperti itu"


"Makasih kak" Jawabku tersenyum.


"Maaf karena sudah membahas ini lagi, ini pasti ngebuat kamu ingat sama Fauzi lagi.."


"Gak apa, toh kakak juga gak tau.."


.


.


.


.


Farhan mengantarku pulang setelah kami selesai makan siang bersama tadi, aku tiba dirumah rasanya sepi sekali. Aku berjalan masuk kekamar, menghempaskan tubuhku ke tempat tidur. Perlahan airmataku mulai menetes, rasanya aku rindu sekali dengan Fauzi, membahasnya dengan Farhan tadi membuatku kembali teringat dengan Fauzi. Apa pernah sekali juga Fauzi memikirkanku disaat aku memikirkannya seperti orang gila saat ini.

__ADS_1


Ternyata betul sudah cukup lama aku tidak berkomunikasi dengan Farhan juga, dia juga tidak berkomunikasi sama sekali dengan Fauzi. Kalau kita kembali mengingat bagaimana kita 2-3 tahun yang lalu, kita tidak akan menyangka kalau pada akhirnya kita seperti ini. Semua berakhir karena keegoisan kita masing-masing.


Farhan yang sekarang sudah lebih dewasa dari yang sebelumnya, apalagi saat dia menjelaskan tentang tugasku tadi rasanya Farhan benar-benar berbeda dari yang sebelumnya. Dia sudah bukan lagi Farhan yang kukenal dulu, sekarang dia sudah jauh lebih baik. Tunggu tunggu.. Kenapa aku jadi kepikiran Farhan sih?? Shiitttt... Aku bergegas bangun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan pikiran.


__ADS_2