Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
END


__ADS_3

Dear jodohku, terimakasih karena telah datang menjemputku dalam penantianku, terimakasih karena telah bersedia mengambil alih tanggung jawab orangtuaku dan terimakasih karena telah siap menjadi pilar pelindung untukku.


Kita adalah dua mahluk Ilahi yang dititipkan pada orangtua masing-masing dan terselubung dalam takdir hingga menyatu dalam ikatan cinta yang suci.


Aku dan masalaluku adalah urusanku dan kamu dan masalalumu adalah urusanmu, sedangkan masa depan adalah milik kita bersama. Mari menyusun masa depan itu dengan cinta dan kasih sayang, mari menjadikan masa depan itu menjadi lebih indah dari masa lalu kita masing-masing.


Aku ataupun kamu pernah larut dalam cinta yang berbeda, pernah menyayangi orang yang berbeda sampai akhirnya kita dipertemukan dan saling berpaut dalam cinta yang sama.


Sekali lagi, terimakasih karena telah hadir. Aku tidak akan bertanya mengapa terlambat dan hati siapa saja yang pernah kau temui sebelum pada akhirnya berakhir padaku. Semua itu tidak akan menjadi hal yang kupermasalahkan karena hadirmu saat ini sudah cukup membungkam semua pertanyaanku itu.


.


.


.


Tiga bulan setelah menikah.


"Sayang bangun.." Aku berusaha membangunkan Fauzi yang sepertinya dengan sengaja bermalas-malasan.


"Bentar sayang.." Keluh Fauzi.


"Ishhh banguunn.." Aku menarik selimutnya dengan kuat.


"Bentar sayang.. Mumpung hari libur.." Kata Fauzi kembali menarik selimutnya.


"Ck.. Yaudah terserah kamu, tidur aja terus.." Kataku bersungut keluar kamar dengan kesal.


Seperti yang dikatakan ibunya dulu, Fauzi benar-benar malas saat hari libur. Dulu aku masih bisa membangunkannya karena harus bertemu, tapi sekarang karena kami sudah tinggal bersama, Fauzi benar-benar sangat sulit dibangunkan.


Aku melanjutkan aktifitas memasakku setelah tadi sempat menjedanya karena harus membangunkan Fauzi meski tidak berhasil membuatnya terbangun. Ya sekesal-kesalnya aku pada Fauzi, aku tetap menyiapkan sarapan untuknya meski masakanku kadang-kadang rasanya seperti tidak layak konsumsi.


"Masak kok sambil ngebanting2 alat dapur sayang" Kata Fauzi memelukku dari belakang.


"Gak papa.." Jawabku judes karena masih kesal.


"Marah nih ceritanya??" Tanya Fauzi menyenderkan kepalanya dipundakku.


"Sana ah.. Aku lagi masak, jangan digangguin.."


"Gak mau.. Aku senang meluk kamu kayak gini.."


"Ya tapi aku lagi masak.." Kataku semakin kesal.


"Sayang, jangan marah-marah..." Rengek Fauzi.


"Ya makanya kamu jangan ngegangguin.."


"Aku kan cuman meluk kamu doang..."


"Udah ah, aku jadi malas masak.." Kataku melepaskan pisau yang kugunakan memotong-motong wortel.


Fauzi membalikkan tubuhku menghadapnya.


Cup.. Fauzi memberikan ciuman manis di pipiku, Aku hanya menatapnya dengan tatapan kesal.


"Kamu kok marah aja tetap cantik ya.." Goda Fauzi.


Aku hanya terus menatapnya tanpa merespon perkataan Fauzi.


"Sayang.. Udah dong jangan marah.. Iya besok-besok aku gak bangun telat lagi, pokoknya tiap kamu bangunin aku langsung bangun..."


Aku tetap terdiam, yah lebih tepatnya sedang mengumpulkan tenaga untuk balas mengomeli Fauzi.


"Sayanggg..."


"Kamu itu apa susahnya sih bangun pagi?" Tanyaku kesal.


"Maaf sayang, kan mumpung hari libur"


"Yaudah gitu aja terus sam..."


Cup.. Fauzi mengecup pelan bibirku membuatku kata-kataku terhenti.


"Kalau aku lagi ngomong kamu.."


Cupp.. Fauzi lagi memberikan kecupannya yang membuatku tidak bisa melanjutkan kata-kataku.


"Kamu.."


Cup cup cup cup... Fauzi memberiku ciuman bertubi-tubi sampai aku tidak bisa mengatakan satu katapun.


"Iya sayang, aku gak bakal bangun telat lagi jadi udah ya jangan ngomel lagi, jangan marah lagi.."


Aku diam saja menatapnya, karena jika aku membalas perkataannya dia akan menciumku lagi sampai aku tidak bisa berkata apa-apa.


"Aku janji.. Tadi itu yang terakhir kali aku malas bangun, pokoknya besok aku gak gitu lagi.. Yaaa..." Rengek Fauzi.


Aku mengalihkan pandanganku dari Fauzi tapi Fauzi dengan cepat memegang pipiku dan mengarahkan wajahku melihatnya.


"Sayangg... Udah ya jangan marah lagi, aku gak tahan kalau kamu marah sama aku.."

__ADS_1


"Yaudah.. sana duduk, aku mau lanjut masak lagi.."


"Jadi kamu udah gak marah lagi kan?"


"Iya.."


"Beneran kan?"


"Iya.."


"Seriuu...."


Cup.. Seperti Fauzi yang menghentikan kata-kataku dengan kecupan, aku balas mencium bibirnya agar dia berhenti.


"Aku udah gak marah.. Sana dulu, tungguin aku sampai selesai masak"


Fauzi tersenyum menatapku. Aku kembali berbalik dan mulai memotong-memotong wortel kembali.


"Sayangg..." Fauzi kembali memelukku dari belakang, melingkarkan tangannya dengan manja dipinggangku.


"Hem.."


"Habis ini ayo jalan.." Kata Fauzi sambil menyenderkan dagunya di bahuku.


"Mau kemana?" Tanyaku sambil terus sibuk memotong-motong wortel.


"Lapangan hijau dekat lepas landas pesawat"


"Kesana lagi? Kamu kok suka sekali kesana" Tanyaku.


"Ya suka saja. Disana itu pemandangannya luas dan bagus, anginnya sejuk dan aku senang aja kesana karena tiap disana aku selalu ingat gimana kamu nerima lamaranku waktu itu.."


"Aku juga senang kalau ingat itu.."


"Jadi nanti kita kesana ya sayang..."


Aku hanya mengangguk mengiyakan permintaan Fauzi.


"Yaudah sana kamu siapin piring, gelas, dan minumnya biar selesai masak kita makan terus kesana.."


"Gak mandi dulu?"


"Ya mandi lah sayang.. Masa iya aku keluar masih pake piyama begini dan belum mandi.."


"Kemarin waktu aku ngelamar kamu, kamu juga masih pake piyama dan belum mandi juga..."


"Ya tapi kan beda.. Udah ah sana siapin meja makan, aku mana bisa selesai masak kalau kamu kayak gini terus.."


.


.


.


Tempat ini benar-benar bersejarah buatku, meski sebelumnya ini adalah tempat yang memberikan ingatan pahit, tapi sekarang semua kenangan pahit itu sudah hilang dan menjadi kenangan manis yang hanya dengan mengingatnyapun membuat hatiku bahagia.


Tempat ini menjadi tempat favorite bagi kami, berjalan ditengah rerumputan hijau sudah menjadi hobby baru bagi kami. Ah bukan, aku tidak bisa bilang kalau itu adalah hobby kami karena yang berjalan di rerumputan hijau ini hanyalah Fauzi, aku hanya perlu melingkarkan tanganku di leher Fauzi dan memeluknya dengan erat dari belakang, tiap kesini Fauzi akan menggendongku selama apapun kami berjalan.


"Sayang..."


"Hem..."


"Terimakasih.."


"Untuk?"


"Karena sudah bersedia menjadi istriku, meninggalkan kedua orangtuamu dan ikut bersamaku, meninggalkan kenyamananmu dan ikut bersusah-susah denganku. Terimakasih karena sudah bersedia menemaniku dan mengurusiku, aku sangat bersyukur atas hadirmu dan aku sangat bahagia karena bisa bersamamu seperti sekarang ini. Aku janji, aku akan berusaha sebisaku membuatmu bahagia terus bersamamu, nyaman bersamaku dan merasa aman akan perlindunganku. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu, yang tidak akan membuatmu menangis kecuali itu menangis karena terharu"


Aku terharu mendengar perkataan Fauzi. Kueratkan pelukanku.


"Aku juga mau bilang makasih, karena sudah datang menjemputku dengan cara yang baik-baik, siap menggantikan beban orangtuaku dalam menjaga dan menuntunku, juga makasih karena sudah memberiku kebahagiaan ini. Kedepannya aku menyerahkan semuanya padamu untuk menjadikanku istri yang lebih baik lagi.."


"Aku sayang sama kamu.."


"Aku juga.." Jawabku sambil memberikan kecupan manis dipipi Fauzi.


Aku berharap, kedepannya kami bisa terus saling menjaga, saling memahami dan saling mencintai satu sama lain. Aku tahu, manisnya kehidupan pernikahan kami selama ini akan dibumbui dengan masalah-masalah kedepannya, tapi aku berharap sampai bila masalah itu datang kita tetap bisa melaluinya berdua.


Jodoh, dia rahasia Ilahi yang sebagaimanapun kamu berusaha mengetahuinya itu tidak akan bisa sebelum dia yang pemilik tulang rusuk ganjil datang mencarimu untuk melengkapi tulang rusuknya.


Aku sudah pernah memimpikannya sebagai jodohku meski aku pernah membuang mimpi itu karena kesalahanku yang membuatnya harus mengambil langkah meninggalkanku. Tapi dengan dia yang sekarang berada disisiku membuktikan bahwa meski sesulit apa hubungan kami sebelumnya, sejauh apa kami terpisah sebelumnya, sebuta apa kita tentang kabar masing-masing sebelumnya pada akhirnya tetap akan bersama jika digaris tanganku sudah menentukan takdir bahwa dialah jodohku.


"Oweeeekkkk....."


"Sa sayang.. Kamu kenapa?" Tanya Fauzi khawatir.


"Gak tau, rasanya mual aja..."Jawabku.


"Kamu sakit??"


"Gak tau, tapi sebelumnya aku baik-baik aja.."

__ADS_1


"Jangan-jangan kamu masuk angin.. Yaudah ayo kita pulang.."


"Tapi anginnya gak terlalu kencang kok, biasanya juga lebih kencang dari sekarang tapi aku baik-baik aja..."


"Atau tadi kamu habis makan sesuatu? Kamu habis makan apa tadi??"


"Ya kan aku sarapannya sama kamu sayang.."


"Ah iya ya.. Yaudah ayo kita pulang dulu, kalau masih ngerasa mual nanti kita ke Rumah sakit periksa kesehatanmu"


"Iya.."


Fauzi mempercepat langkahnya, menggendongku menuju mobil kami yang terparkir tidak cukup jauh.


"Sayang.. Aku kepengen makan mangga"


"Mangga? Yaudah nanti kita singgah di supermarket nyari mangga"


"Di supermarket kan adanya mangga masak sayang.."


"Lah iya.."


"Tapi aku maunya mangga muda.."


"Lah, mangga muda kan masam sayang.. Kamu ada-ada aja deh"


"Tapi aku beneran kepengen mangga muda.."


"Kamu bisa tambah sakit kalau makannya mangga muda.."


"Tapi aku maunya itu..."


"Iya iya nanti aku cariin.. Sejak kapan sih kamu suka makanan masam.."


"Tapi sayang kayaknya aku kepengen makan jagung rebus juga deh.."


"Kamu maunya makan mangga atau jagung rebus?"


"Mau dua-duanya..."


"Ya gak bisa dua-duanya, kamu bisa sakit perut kalau makan dua-duanya.."


"Tapi aku mau dua-duanya..."


"Iya iya.. Nanti kita cari jagung rebusnya juga..."


"Sayang kayaknya rambutan juga enak deh.."


"Ya Allah sayang.. Kamu kenapa jadi mau makan banyak gini sih.."


"Ya aku mana tahu, tiba-tiba aja kepengen.."


"Lagian mau nyari rambutan dimana sayang? Itu kan buah musiman, kalau gak musim ya gak ada.."


"Tapi aku lagi kepengen.."


"Tapi sayang..."


"Pokoknya aku mau rambutan.."


"Sayang..."


"Aku mau rambutan, pokoknya cariin"


"I iya sayang.. Nanti aku cariin, kamu sejak kapan sih jadi kepengen yang aneh-aneh gini.." Kata Fauzi kebingungan sambil terus berjalan sambil menggendongku.


"Oweeekkk..." Aku kembali mual.


"Ah sayang.. Iya tunggu-tunggu bentar lagi kita sampai mobil.."


Fauzi berlari kecil berusaha lebih sampai dimobil lebih cepat.


"Aku baik-baik aja kok sayang, cuman agak mual aja.."


"Baik-baik apanya? Pokoknya kita ke dokter dulu sekarang.."


"Sayangg.."


"Hem.. Kepengen makan apa lagi????"


"Gak, aku cuman mau bilang kalau sayang sama kamu.."


"Aku juga sayang sama kamu"


cup..


.


.


.

__ADS_1


END


__ADS_2