
Meski Fauzi sudah mendapatkan izin untuk resign, namun ia masih sibuk mengurus beberapa pekerjaan sembari menunggu orang yang akan menggantikannya datang. Fauzi masih mengerjakan semua yang bisa dia kerjakan, agar orang yang akan menggantikannya tidak dibuat kewalahan dengan pekerjaan yang sudah terlanjur Fauzi mulai. Ayah dari satu anak itu pun tidak ingin membebani oranglain dengan apa yang seharusnya menjadi bebannya.
Hari ini, Fauzi dihubungi oleh Ayah Farhan untuk bertemu dengan seseorang yang akan menggantikannya. Karena tidak ingin membuat seseorang yang cukup penting baginya itu menunggu, akhirnya Fauzi datang lebih awal dari waktu yang ditentukan. Ya, datang di waktu yang tepat dan bukannya terlambat, memiliki satu poin positif. Itu juga akan membuktikkan, bahwa Ayah Farhan tidak asal memilih seseorang untuk memegang kendali di perusahaannya, juga memperlihatkan bahwa dia mendapatkan posisi spesial itu, bukan semata-mata karena hubungan yang dia miliki dari putra tunggal sang pemilik perusahaan. Kedisplinan adalah salah satu hal yang paling penting untuk sebuah kesuksesan.
Seperti biasa, Fauzi akan duduk bersandar pada punggung kursi sembari memonitoring istrinya, kiranya itu bisa menurunkan sedikit kegugupan yang dia miliki, juga untuk melihat hal apalagi yang tengah dilakukan istri tercintanya itu di siang hari.
“Fauzi??”
Sapaan seseorang mengalihkan pandangan Fauzi yang sedari tadi fokus pada layar ponselnya.
Fauzi tercengang, wajah yang entah berapa lama sudah tidak dilihatnya itu, kini hadir di depan matanya. Wajah yang tak asing, namun penampilan yang dimiliki orang itu membuat Fauzi bertanya pada dirinya sendiri, benarkah dia adalah orang yang sama dengan orang yang kukenal sebelumnya?
“Awalnya aku hanya mengira-ngira, dan ternyaata benar kalau Fauzi yang dimaksud itu kamu”
Dia dengan cepat mengambil posisi duduk tepat di depan Fauzi. Dan Fauzi hanya memperlihatkan senyum keramahannya.
Mendengar laki-laki yang kini duduk di depannya itu berbicara seolah mengenal dirinya, akhirnya pertanyaan Fauzi tentang kebenaran dari dugaannya tentang orang itu akhirnya terjawab. Ya, dia adalah orang yang sama, meski penampilannya berbeda.
“Gimana kabarmu?”
“Baik. Bagaimana dengan kamu?” Tanya Fauzi kembali.
“Yah seperti yang kamu lihat” Jawabnya sambil menaikkan kedua bahunya.
Keduanya adalah orang yang profesional, benar-benar melaksanakan tujuan awal lebih dulu dibandingkan dengan yang lainnya, sehingga mereka lebih dulu membahas masalah pekerjaan meskipun keduanya memiliki ribuan pertanyaan yang mengingikan jawaban dari satu sama lain, setelah bertahun-tahun tidak bertemu.
“Aku masih memiliki proyek yang sedang berjalan sekarang, tapi semuanya hampir selesai, hanya ada satu dan itu sangat penting”
“Jadi? Apa mau kamu selesaikan dulu lalu resign atau bagaiamana?”
“Sebelumnya aku minta maaf jika ini merepotkan. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk bisa menyelesaikan proyek ini”
“Jadi maksudmu, kamu mau aku yang menyelesaikannya?”
“Jika kamu berkenan”
“Kalau aku tidak masalah, aku memang sudah menyiapakan diri untuk pekerjaan yang sedikit berat. Aku harus mengetes, sudah sejauh mana kemampuanku bertambah setelah menambah ilmu beberapa tahun terakhir ini”
“Kamu terlihat sedikit ambisius sekarang, beda dengan anak laki-laki cungkring yang kukenal sebelumnya”
“Ya begitulah, dunia yang kupunya terlalu kejam, sampai mengharuskan aku berubah seperti ini”
Fauzi hanya tersenyum simpul mendapat respon yang menurutnya cukup berlebihan.
“Jadi bagaimana dengan mitra yang bekerjasama sama kamu? Apa dia bersedia untuk melanjutkan kerjasamanya sama aku dan membiarkan kamu meninggalkan pekerjaanmu begitu saja?”
“Ya, dia sudah setuju”
Kedua alisnya refleks ia naikkan, sebuah gerakan impulsif dari dia yang tidak menyangka akan Fauzi yang bisa mendapatkan persetujuan itu dari mitra kerja sebelumnya.
__ADS_1
“Wah, sepertinya kamu tipe orang yang hebat dalam bernegoisasi. Kamu sampai bisa membuatnya mengangguk untuk memindahtangankan pekerjaanmu”
“Tidak juga, dia menyetujuinya karena kami berasal dari alumni yang sama”
“Teman kampus kita?”
Fauzi menggeleng. “Kakak kelasku sewaktu SMA”
“Oh pantas saja. Kamu tidak akan bisa melakukan ini dengan mudah. Memindahtangankan pekerjaan pada oranglain, masuk dalam pelanggaran kontrak kerjasama bukan?”
Fauzi hanya mengangguk. “Tapi ini tidak lagi bisa dikatakan melanggar kontrak, karena dia sudah menyetujuinya”
“Ya, kamu benar”
“Untuk membahas lebih lanjut masalah proyek yang sedang berlangsung. Aku meminta dia untuk bertemu denganku beberapa hari kedepan, dan aku berharap kamu juga bisa hadir dalam pertemuan itu sehingga kita bisa menyelaraskannya”
“Tentu, hubungi aku dan beritahu waktu pertemuannya”
“Iya, terimakasih sebelumnya”
Pembicaaraan yang langsung to the point itu, akhirnya berjalan dengan lancar tanpa memakan waktu yang lama. Keprofesionalan keduanya membuat pembicaraan tanpa hambatan.
“Jadi kemana kamu selama ini?”
“Ck, berhenti pakai bahasa formal begitu Fauzi. Kita udah gak ngebahas pekerjaan lagi” Tegurnya sembari meneguk caramel macchiato yang tersedia di depannya.
Faiq, seorang teman lama yang kini kembali hadir dalam kehidupan Fauzi. Faiq yang dulu di kenal oleh Fauzi, sangat berbeda dengan dia yang sekarng. Faiq yang dulunya humoris, santai dan hangat, kini terlihat sedikit dingin dengan ambisius yang meluap-luap dari tatapannya.
Fauzi tidak tahu, apa saja yang sudah dilewati laki-laki yang dulu pernah tinggal bersamanya setelah minggat dari rumah, hingga berubah menjadi laki-laki dengan sosok yang sangat berbeda sekarang, hingga nyaris membuatnya bertanya tentang apakah orang yang diihatnya hari ini adalah orang yang sama yang dia beberapa tahun lalu saat mereka masih sibuk dengan dunia perkuliahan.
“Maaf, karena menghilang tiba-tiba waktu itu. Aku sendiri juga gak punya pilihan lain waktu itu”
“Apa yang terjadi..”
“Masalah biasa dalam keluarga kaya raya. Orangtua yang memotong sayap anaknya dan memaksanya untuk melakukan apa yang dia harapkan dari seorang anak, bukan apa yang anak itu inginkan. Kehidupan yang tragis”
Fauzi merasakan betapa dalamnya kalimat yang keluar dari bibir seorang Faiq. Dia tidak pernah menyangka, ah tidak.. semua orang tidak akan menyangka, Faiq yang begitu ramah dan menyenangkan dulunya itu, telah berubah menjadi laki-laki yang bernampilan sangat manly dengan gerak-gerik yang sedikit membuat lawan bicaranya merasakan sedikit tekanan. Hal yang telah Fauzi sadari akan kemungkinan perubahan Faiq ini, setelah mengingat apa yang Farhan tuturkan tentang Faiq beberapa hari yang lalu saat mereka bertemu.
“Jadi waktu itu?”
“Bodyguard Ayahku datang menjemputku secara paksa. Jelas saja aku menolak, aku bukan anak penurut yang asal ikut saja meski dipaksa”
“Terus kenapa pada akhirnya ikut juga?” Tanya Fauzi penasaran.
“Karena kalian. Karena kamu, karena Sasa dan untuk kebaikan kita semua”
“Maksudmu?”
__ADS_1
Fauzi dibuat tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Faiq. Seperti sebuah pertanyaan teka-teki yang begitu sulit untuk dimengerti.
“Aku gak bisa menjelaskan secara rinci sama kamu. Garis besarnya saja, aku mendapat ancaman yang ngebuat aku mau ataupun tidak, aku harus menuruti apa yang Ayahku inginkan”
Fauzi terdiam sejenak. Dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, namun apa yang dikatakan Faiq sebelumnya, meski tidak terlalu rinci namun dapat Fauzi simpulkan bahwa faiq mendapat tekanan dari orangtuanya untuk menuruti apa yang orangtuanya inginkan. Dia menjadi tunduk akan keinginan orangtuanya tanpa bisa melakukan perlawanan.
Ya, andai saja Faiq bercerita waktu itu, mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi, dan takdir lain mungkin memiliki hal yang lebih baik untuk Faiq rasakan.
“Kamu berubah..”
“Aku gak akan menyangkal apa yang kamu bilang. Nyatanya memang aku berubah. Aku sendiri juga tidak kenal dengan diriku yang sekarang. Entah aku sedang pakai topeng sekarang, ataukah ini dasar dari sifat asliku”
Senyum smirik berhias di bibir Faiq, mengiringi kata-katanya yang bersamaan dengan kesadaran akan dirinya yang benar berubah saat ini.
“Sepertinya hidupmu berat sekali”
Faiq hanya tersenyum kecil.
“Yah.. Aku telah berubah menjadi monster gara-gara Ayahku. Dan dia sendiripun takut dengan karyanya yang berupa aku sekarang. Aku tidak mau seperti ini, tapi aku tidak bisa menghentikannya. Aku menjadi orang yang dipenuhi ambisi, ambisi untuk melakukan sesuatu yang Ayahku tidak bisa. Aku ingin melampauinya, bagaimanapun caranya”
Cara berbicara Faiq sedikit menakutkan, ia nyaris seperti seorang psikopat tingkat rendah yang membuat Fauzi mengulangi kembali pertanyaan sebelumnya. Benarkah laki-laki yang tengah duduk, bersandar di depannya ini, adalah Faiq orang yang dulunya berbagi suka duka dengannya, ataukah hanya seseorang dengan nama dan wajah yang sama saja.
“Kamu akan merusak dirimu, Faiq”
“Aku sudah terlanjur rusak, Fauzi. Sedari aku mengambil keputusan yang salah beberapa tahun yang lalu, aku sudah rusak. Ambisi awalku yang hanya ingin menjadi orang sukses agar bisa melakukan sesuatu sesuai dengan keinginanku, berformulasi menjadi buruk saat aku salah mengambil keputusan”
Fauzi tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Faiq. Pembahasan mereka saat inipun terbilang cukup berat untuk pembahasan bagi orang yang baru bertemu setelah sekian lama terpisah tanpa kabar.
“Aku mungkin akan berubah nantinya, tapi tidak tahu kapan. Aku juga sedang menunggu orang yang dapat merubahku”
“Sasa?” Tebak Fauzi.
Faiq tersentak, ia menatap dalam ke mata Fauzi. Tatapan matanya perlahan berubah, ekspresinya pun yang sedari tadi dihiasi dengan senyum smirik layaknya seorang penjahat dalam sebuah drama, berubah menjadi lebih teduh.
“Belum move on?” Tebak Fauzi sekali lagi.
Faiq hanya terdiam, kemudian tersenyum.
“Aku terbaca sekali ya..”
“Sebenarnya tidak. Aku hanya menebak-nebak saja. Jadi bagaimana? Apa pernah menghubungi Sasa dari waktu itu?”
Faiq menggeleng. “Aku terlalu pengecut. Aku takut Ayahku tahu dan akan melukai Sasa”
“Jadi??”
“Aku diam saja. Aku tengah berusaha keras waktu itu untuk menjadi laki-laki hebat agar bisa melampaui Ayahku dan bisa melakukan hal yang kusukai.. Tapi faktanya, aku runtuh dalam tindakanku yang mengambil keputusan dalam menentukan hidupku”
Waktu berlalu, dan keduanya masih larut dalam pembicaraan mereka. Namun Fauzi tetap sekali-kali mengecek keadaan Salwa lewat ponselnya sambil tetap mendengarkan cerita Faiq
__ADS_1