Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Flashback : Story of Faiq & Karin (1)


__ADS_3

Tetesan air dari rambutnya menetes membasahi beberapa bagian lantai pada kamarnya. Karin masih sibuk menyeka rambutnya dengan handuk sebelum ia keringkan dengan haiydryer.


Perempuan dengan rambut yang lumayan panjang itu berjalan menuju meja hias yang terletak tidak jauh dari tempat tidurnya, memandangi wajahnya pada cermin yang bebas make up sembari masih sibuk menggosok-gosokkan rambutnya pada handuk agar air yang bertengger dirambutnya bisa terserap kedalam handuk.


Wajah putih mulus miliknya terpampang nyata di cermin. Entah hal apa dan hubungan apa yang membuatnya kembali mengingat kejadian siang tadi saat memandangi gambar dirinya pada pantulan cermin.


Ingatannya kembali pada kejadian siang tadi. Sebuah pertemuan yang tidak ia kira-kira dengan mantan suaminya, membuatnya terkejut hingga spontan memulai drama yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.


Sejenak Karin bingung sendiri dengan apa yang dia lakukan hari ini. Kenapa ia harus memainkan drama tidak jelas itu dan mengambil tindakan pura-pura tidak mengenal Faiq, sedang sebelumnya ia sudah pernah bercerita pada Fauzi mengenai mantan suaminya.


Hal sepele yang terlintas di benak Karin, hanya tidak ingin merasa canggung, dan tidak ingin membuat suasana menjadi muram mengingat Fauzi tahu betul, seperti apa luka yang pernah ia dapatkan dari mantan suaminya itu.


Hal lainnya yang kemudian muncul dalam pikiran Karin dan membenarkan perlakuannya siang ini ialah, mengenai hubungan bersama Fauzi yang dia idam-idamkan selama ini, meski jalan itu bisa di katakan mustahil.


“Jalanku akan semakin tertutup untuk bisa bersama Fauzi, kalau Fauzi tahu tentang mantan suamiku yang sebenarnya adalah Faiq. Ia akan sungkan pada Faiq nantinya, dan bisa saja menjauhiku” Pikir Karin. Sebuah pikiran yang sangat tidak berdasar dan tidak masuk akal, mengingat Fauzi sama sekali tidak memiliki niat ataupun pikiran untuk memiki hubungan seperti sebuah ikatan pasangan dengan Karin suatu hari nanti.


Hal yang terjadi 3 tahun lalu adalah misteri yang berusaha Karin dan Faiq sembunyikan saat ini.


.


.


.


.


3 tahun yang lalu..


Karin begitu anggun dengan floral dress tanpa lengan yang dia kenakan. Rambut ikal yang dibiarkan teruai dengan jepitan kecil yang ia sematkan dekat telinga, membuat tampilan Karin terlihat dewasa namun sangat manis.


Karin sibuk menyapa tamu-tamu yang datang dengan tak lupa memperlihatkan senyumnya yang manis. Hari ini Ayahnya menggelar acara sebagai bentuk rasa syukur atas berdirinya anak perusahaan baru milik Ayahnya. Banyaknya tamu yang datang memperlihatkan, bagaimana Ayah Karin cukup di kenal dikalangan masyarakat elit.


Tidak sedikit yang datang dengan membawa putra atau putri mereka. Selain untuk memperkenalkan putra putri mereka pada dunia bisnis dan juga orang-orang yang bermain dalam dunia bisnis, beberapa pengusaha juga membawa putra putri berbakat mereka untuk melakukan ajang pamer keberhasilan mereka dalam mendidik atau kemampuan putra putri mereka dalam mendongkrak dunia bisnis. Sebuah hal lumrah yang terjadi pada kaum-kaum elit dalam menampilkan kemampuan mereka.


Karin tengah bergabung dengan beberapa wanita-wanita muda seumurannya yang hadir pada pesta yang di selenggarakan Ayahnya. Tentunya, selain para bapak-bapak, para pengusaha muda juga tidak ingin melepas kesempatan untuk bisa hadir dalam pesta perkumpulan orang-orang elit yang bermain bisnis dengan level yang terbilang diatas.


“Yang disana bukan sih??” Tanya seorang wanita berkulit sawo matang sembari mengarahkan pandangannya pada salah seorang pria yang menikmati minumannya sendiri di salah satu meja.

__ADS_1


“Iya, visualnya luarbiasa..” Decak kagum dari wanita lainpun di tujukan pada laki-laki yang di maksud.


“Ada apa?” Tanya Karin menyela obrolan keduanya yang masih duduk satu meja dengan Karin.


“Karin, kamu lihat laki-laki yang disana?” Tunjuk salah seorang wanita dengan gelas yang masih di pegangnya.


Karin menoleh, pandangannya menangkap laki-laki dengan jas hitam, tengah menikmati minumannya seorang diri. Aura dingin jelas terpancar dari laki-laki itu.


“Iya, dia kenapa?” Tanya Karin.


Perempuan yang Karin kenal adalah putri dari salah satu rekan kerja Ayahnya itu, sepertinya memperlihatkan ketertarikannya pada laki-laki yang sedari tadi asyik dengan minumannya sendiri.


“Dia keren gak sih?”


“Iya. Kenapa? Kamu suka?”


Naura, perempuan yang menjadi lawan bicara Karin saat ini, hanya tersipu-sipu malu mendengar pertanyaan Karin, dari tingkahnya seperti itu jelas sekali kalau perempuan itu sangat tertarik.


“Iya..”


“Kenapa gak diajak kenalan”


Karin kembali mengarahkan pandangannya pada laki-laki itu. Ya seperti yang Naura katakan, laki-laki itu sangat cuek dengan keadaan sekitarnya. Dia tidak mungkin tidak menyadari bahwa beberapa pasang mata sedang tertuju kearahnya dengan berbisik-bisik tentangnya.


“Dia jual mahal? Atau memiliki kelainan?” Gumam Karin.


“Maksudmu?”


Meski Karin bergumam kecil, rupanya itu masih terdengar oleh Naura dan teman lainnya yang duduk di dekat Karin.


“Dia gak mungkin gak sadar diri, kalau lagi diperhatikan sama cewek-cewek disekitarnya, dan kurasa yang memperhatikan dia pun bukan perempuan dengan wajah standar. Semuanya cantik-cantik dan elegan, dan jelas dari keluarga yang berlatar belakang luarbiasa. Masa iya dia gak kecantol dari salah satu dari mereka”


“Hem.. Jangan salah Rin, dia normal dan tipenya bener-bener tinggi”


Karin berbalik menatap Naura, tidak cukup mengerti dengan apa yang Aura katakan.


“Yang aku tahu, dia pernah jalan sama Alesha”

__ADS_1


“Alesha?? Putri dari..”


“Iya, dari pemilik perusahaan terbesar di timur itu”


Karin spechless, seketika pikiran Karin berubah haluan, rupanya benar saja jika dia tidak tertarik dengan perempuan-perempuan cantik yang sedang meliriknya saat ini, karena jelas beberapa wanita yang tengah meliriknya saat ini tidak akan bisa jika di bandingkan dengan perempuan yang dirumorkan pernah jalan dengannya.


Karin tahu betul siapa Alesha itu, seorang wanita yang bisa dikatakan sempurna dari segi paras, juga status sosial yang jelas berbeda tingkatannya dengan mereka-mereka yang ada disana saat ini.


Karin tersenyum simpul, rupanya ia sudah salah menilai laki-laki dingin yang tidak bisa juga ia pungkiri visual luarbiasa yang dia miliki.


“Haduh... Kita-kita disini jelas hanya bisa ngelirik-lirik seperti ini. Rasanya cari malu saja kalau mau coba-coba dekat sama dia”


Karin meletakkan gelas minuman yang sedari tadi dipegangnya, beranjak dari duduknya dengan senyum manis yang berhias di wajahnya.


“Mau kemana??”


“Ngajak ngobrol”


“Dia??”


Karin tersenyum dengan anggukan kecil


“Dia gak mungkin mengabaikan aku, kan keberadaannya disini sekarang karena undangan Ayahku” Kata Karin dengan pikirannya yang cukup logis.


Naura tersenyum, apa yang dikatakan Karin cukup masuk akal sebagai alasan untuk bisa berbincang dengan laki-laki yang sedari tadi menjadi pusat perhatian wanita muda yang ada disana.


“Goodluck..”


Karin mengangkat tangannya sembari memberi simbol ‘Ok’ pada Naura.


Karin yang awalnya dipenuhi rasa percaya diri untuk mengajak salah satu tamu Ayahnya itu untuk mengobrol, perlahan menjadi ciut ketika langkahnya semakin dekat kearah laki-laki itu. Karin semakin bisa merasakan aura dinginnya, sehingga membuat langkah yang mantap tadi menjadi sedikit ragu-ragu. Namun Karin yang sudah terlanjur turun dari kursinya, tidak memiliki jalan lain selain melanjutkan langkahnya untuk mempertahankan harga dirinya pada teman-teman yang sudah melihat langkahnya menuju laki-laki yang menikmati minumannya sendiri itu.


.


.


.

__ADS_1


Maafkan diriku yang sering telat up akhi-akhir ini 😥


__ADS_2