Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Terungkap


__ADS_3

Waktu berlalu, dan hubungan antara Faiq dan Sasa semakin baik, keduanya menikmati masa-masa bersama. Tak jarang Faiq datang berkunjung ke rumah Sasa, sekedar membawa makanan atau mengobrol bersama Sasa ketika keduanya memiliki waktu yang senggang.


Berangkat dan pulang kerja bersama meski keduanya memiliki tempat kerja yang berbeda. Sepulang bekerjapun terkadang mereka luangkan waktu masing-masing untuk sekedar jalan-jalan menikmati waktu berdua.


Ya, hubungan yang baik meski belum ada pembicaraan yang serius untuk melanjutkan hubungan mereka ke tahap yang lebih dari sekedar pacaran. Kesibukan keduanya di dunia kerja masing-masing, membuat mereka terkadang tidak memikirkan perihal pernikahan, meski sesekali mereka membahas perihal hubungan yang lebih serius itu.


Hari ini Sasa mendapat shift siang, sehingga di jam satu siang, Sasa masih duduk santai di koridor sembari menunggu pergantian shift dengan temannya yang bertugas pagi hari ini.


Sasa tidak suka datang terlambat, ia paham betul bahwa teman-temannya sudah kelelahan, jadi tidak seharusnya lagi dia datang terlambat yang bisa menyebabkan teman-temannya pulang melebihi jam kerja mereka. Karena itu juga, Sasa sering kali datang sekitar 30 menit hingga satu jam lebih awal dari waktu pergantian shift.


Sasa sedang duduk di koridor sembari membaca beberapa jurnal kesehatan, sekiranya itu akan menambah ilmu pengetahuannya.


“Hai.. Sasa kan?” Tegur seseorang yang membuat Sasa mengalihkan pandangannya dari jurnal yang sedang dia baca.


Sasa menoleh, menatap sejenak wanita cantik nan elegan dengan rok span yang di padupadakan bersama kemeja pink muda pas body ditambah dengan blezer maroon yang dia gunakan.


Sasa tersenyum, meski ia tidak mengingat wanita yang tengah menyapanya seolah mengenalnya dengan akrab.


Perempuan cantik itu mengambil posisi duduk tepat di samping Sasa. Meski sedikit canggung karena tidak mengenal wanita yang duduk disampingnya, namun Sasa tetap tersenyum memperlihatkan keramahannya.


Melihat kecanggungan sikap dan tatapan bingung di mata Sasa, wanita itu kembali memperkenalkan dirinya.


“Ah, sepertinya kamu gak ingat sama aku ya.. Maaf, karena aku langsung menyapamu, kamu pasti kaget”


“Ah tidak apa-apa” Jawab Sasa tersenyum.


“Aku Karin”


Tangan mulus milik karin dengan gelang cantik yang berukir namanya menghias cantik di pergelangan tangannya.


“Aku mitra kerjanya Fauzi. Kita pernah ketemu waktu aku ngadain pertemuan dengan Fauzi dan direktur baru yang menggantikannya”


Sasa terdiam sejenak, berusaha menggali kembali ingatannya, hingga akhirnya ia tersenyum ramah menjabat tangan Karin setelah ingatannya telah menemukan tentang sosok wanita cantik yang kini duduk disampingnya.


“Sasa. Ah maafkan aku karena sempat gak ngenalin kamu..”


“Gak apa-apa, toh kita ketemunya waktu itu sebentar sekali, wajar saja kalau kamu gak ingat sama aku” Senyum manis Karin terus terpancar.


“Ingatanku memang sedikit dangkal, terlebih lagi kita bertemu baru sekali kemarin”


Karin dengan sifatnya yang friendable, mampu dengan cepat mengusir kecanggungan yang sempat terbentuk pada Sasa.


“Tadinya aku mau langsung ngejenguk temenku, tapi ngeliat kamu disini jadi aku mampir dulu. Aku gak ngeganggu waktu kamu kan?”


“Gak kok, waktuku senggang sekarang. Belum waktunya pergantian shift” Kata Sasa mengangkat lengannya dan melirik jam tangan mini yang dia kenakan. “Masih ada sekitar 30 menit baru masuk waktu kerjaku”


“Wah rajin sekali” Puji Karin.


“Tidak juga, aku dirumah juga sendiri. Jadi dari pada bosan dirumah, aku datang lebih cepat”

__ADS_1


“Kalau kamu bosan, kamu bisa menghubungi aku, sempat kita bisa jalan bareng..”


Sasa sedikit terkejut. Untuk orang yang baru bertemu dua kali, rasanya terlalu berlebihan jika mereka saling mengontak untuk sekedar jalan bersama. Tapi Karin yang terlihat tulus menawarkan diri, membuat Sasa berpikiran bahwa Karin memang orang yang mudah bergaul dan berteman.


“Iya, jika waktuku dan waktumu senggang, kita bisa jalan-jalan bareng”


Karin tersenyum mendengar tanggapan Sasa.


“Oh ya, kamu masih ngerawat Salwa?” Tanya Karin.


Semenjak pertemuan hari itu, Karin tidak lagi mendapat kabar tentang Fauzi. Dia pun tidak memiliki alasan untuk menghubungi Fauzi, membuatnya benar-benar kehilangan informasi mengenai laki-laki yang mengundang kembali perasaan cinta semasa mereka duduk di bangku sekolah dulu.


Melihat Sasa hari ini, membuat Karin seolah mendapatkan sumber informasi yang bisa memberinya kabar mengenai Fauzi. Selain itu, dengan bertanya pada Sasa, Karin juga bisa mencari tahu sejauh mana hubungan yang dimiliki Sasa dan Fauzi. Mengingat hari itu, mereka terlihat begitu akrab yang membuat Karin jadi salah menilai hingga merasa terancam. Sebuah perasaan yang sangat tidak berdasar.


“Gak” Jawab Sasa tersenym. Sebuah jawaban yang memotong harapan Karin untuk bisa mengetahui sedikit saja informasi yang berhubungan dengan Fauzi. “Aku memang bukan perawat Salwa. Aku hanya teman Fauzi saat kuliah dulu, karena dia tahu aku perawat jadi hari itu dia minta aku buat nemenin Salwa” Jelas Sasa.


“Oh gitu, aku kira kamu perawat khusus yang diminta Fauzi buat jagain Salwa” Kata Karin berusaha tersenyum menutupi kekecewaannya. “Tapi kamu masih sering ketemu Fauzi dan Salwa?”


“Hem.. Sesekali sih. Kalau aku ada waktu, aku sempatin untuk singgah ngejenguk Salwa”


Mendegar jawaban Sasa, meski hal itu membuatnya tidak bisa menemukan informasi lanjut mengenai Fauzi, tapi itu telah memberinya informasi bahwa hubungan Sasa dan Fauzi tidak seperti dengan apa yang dia pikirkan. Seperti yang Sasa katakan, kalau hanya sesekali saja Sasa menjenguk Salwa, yang berarti Sasa pun tidak sering bertemu dengan Fauzi. Karin merasakan kelegaan tersendiri untuk itu.


“Kenapa? Kamu mau ngejenguk Salwa juga” Tanya Sasa, yang berpikiran bahwa Karin cukup akrab dengan Salwa sehingga menanyakan keadaan Salwa saat ini padanya.


“Ah tidak tidak.. Kami tidak seakrab itu. Aku hanya asal bertanya tadi” Jawab Karin tersenyum. “Ya meskipun sebenarnya aku butuh bertemu dengan Fauzi”


“Hem, sebenarnya bukan dibilang masalah juga. Sebelum Fauzi resign dari pekerjaannya, aku punya proyek bersama. Proyek kami baru saja dimulai saat Fauzi memilih resign, jadi aku masih butuh saran-saran dari Fauzi dan beberapa hal lainnya yang berhubungan dengan proyek yang kita mulai bersama waktu itu”


Sasa cukup mengerti akan hal itu, karena sebelumya Fauzi sudah menjelaskan padanya saat Fauzi memintanya untuk menemani Salwa waktu itu.


“Bukannya hari itu kalian bertemu bertiga untuk membahas ini?” Tanya Sasa.


Apa Faiq kurang handal dalam pekerjaannya sampai perempuan cantik yang duduk di depannya saat ini, mengeluh akan pekerjaannya.


“Apa direktur baru yang sekarang tidak sebaik Fauzi?”


Faiq selalu bilang sama aku tiap kali dia ngajak jalan, kalau pekerjaannya lancar-lancar saja, dan waktunya sedang renggang. Apa dia bohong sama aku, cuman biar kita bisa jalan-jalan. Aku gak mau, kalau pekerjaan Faiq jadi gak maksimal gara-gara aku.


“Ah tidak tidak..”


Jawaban Karin memberikan kelegaan bagi Sasa. Dia yang sempat menyalahkan diri sendiri karena merasa menjadi pengganggu pada pekerjaan Faiq, kini merasa lebih baik.


“Bukan karena direktur yang sekarang tidak lebih hebat dari Fauzi. Direktur yang sekarang pun sangat hebat dan sangat profesional dalam bekerja, hanya saja aku merasa sedikit canggung”


Kenapa Faiq membuat canggung perempuan yang sangat ramah seperti ini. Aku saja yang baru sekarang lagi bertemu, bisa merasa nyaman mengobrol sama dia.


“Kenapa? Apa direktur yang sekarang terlalu tegas?” Tanya Sasa dengan tersenyum. Karin yang berbicara dengan memperlihatkan suasana yang sangat akrab, membuat Sasa menjadi tidak sungkan untuk bertanya.


“Bukan begitu juga. Mungkin karena aku memulai proyek ini bersama Fauzi, jadi rasanya agak lain-lain begitu saat melanjutkannya sama oranglain. Apalagi dia mantan suamiku” Jelas Karin yang seperti tanpa sadar mengatakan kebenaran tentang hubungan yang dia miliki bersama Faiq.

__ADS_1


GLEB... Apa yang baru saja dia dengar? Apa telinganya tidak salah menangkap. Sasa begitu terkejut mendengarnya.


“Kamu bilang apa tadi? Man-mantan suami??” Tanya Sasa, memperjelas apa yang baru saja perempuan karir itu katakan.


Setelah mendengar pertanyaan ulang dari Sasa, barulah Karin sadar bahwa dia tanpa sengaja sudah mengatakan pada oranglain perihal hubungan yang dia miliki bersama Faiq.


“Ah???” Karin sendiri terkejut mendengar pertanyaan Sasa. “Aduuhhh...” Keluh Karin. Dia jelas-jelas terlihat kekalapan.


“Di-direktur baru itu mantan suamimu??” Sasa kembali memperjelas apa yang baru saja dia dengar.


“Sepertinya aku ngomong hal yang gak seharusnya” Kata Karin gelisah. “Anu.. Bisa gak kamu gak bilang hal ini sama Fauzi? Aku gak mau Fauzi merasa sungkan karena sudah ngebuat aku kerja sama mantan suamiku”


Bukan jawaban dari pertanyaan Sasa yang Karin berikan. Melainkan sebuah permohonan dengan harapan, Sasa bisa menyembunyikan kebenaran ini pada Fauzi.


Meski Karin tidak menjawab jelas pertanyaan Sasa, namun dari jawaban Karin, Sasa sudah dapat menyimpulkan bahwa apa yang dia dengar perihal Faiq itu, tidak lah salah.


Sasa hanya mengangguk mengiyakan permohonan Karin, meski ia sangat terkejut dengan fakta yang di sajikan untuknya saat ini.


“Jadi benar, direktur baru itu mantan suamimu?”


Meski sudah jelas Karin mengatakan hal itu tadi, namun sekali lagi Sasa berusaha memastikan apa yang dia dengar.


“Iya, Faiq adalah mantan suamiku....”


Jadi Faiq selama ini?????


.


.


.


.


.


Ohayooo readers kesayangan 💜


Hihi kemarin ada yang nanyain lagi perihal visual mereka 😁


Serius aku masih pusing banget kalau di tanya masalah itu, aku bingung wajah mereka itu kayak gimana 😅


Tapi, kemarin aku dapat rekomendasi untuk visualnya Fauzi, dan kurasa itu cocok 😁😁


Hehe untuk Salwa dan yang lainnya, aku minta saran dari kalians, sekiranya ada yang pas buat visual mereka..


yuhuu aku tungguin di kolom komentar ya 😁


Salam sayang buat kalianss 💜💜

__ADS_1


__ADS_2