
Seperti hari-hari sebelumnya, Salwa akan sibuk berkutik di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk suami dan putri tercintanya. Fauzi pun tidak membiarkan istrinya sibuk di dapur, dia turut andil dan menyiapkan meja makan dan juga bekal yang akan dibawa Mikayla sekolah.
Salwa sudah sembuh, namun Fauzi belum juga kembali bekerja. Beberapa kali Salwa mengingatkan, namun ia masih ingin terus menikmati waktu berdua dengan istrinya. Waktu yang pernah begitu lama tidak ia rasakan.
“Mami...” Mikayla keluar dari kamarnya dengan seragam yang sudah lengkap.
“Iya sayang...”
Mikayla menunjukkan ikat rambut dan juga sisir. Meski Mikayla sudah bisa mengenakan seragamnya sendiri, namun ia masih membutuhkan bantuan orang tuanya untuk mengikat rambutnya.
“Sini sayang, biar Papi yang ikatkan. Mami lagi sibuk..”
Mikayla berbalik menatap Fauzi, bibir mungil miliknya dibuat maju kedepan.
“Gak mau, papi gak rapi ikatnya. Rambut Mikayla juga di tarik kenceng-kenceng, kan sakit..”
Salwa hanya tertawa mendengar pengakuan anaknya. Ia berjalan menuju wastafel dan membersihkan tangan sebelum menghias rambut putrinya dengan cantik.
“Sini sayang, mami yang ikatin”
Mikayla berlari kecil menghampiri ibunya.
“Habis ini, Mikayla sarapan ya.. Nanti Papi yang antar Mikayla ke sekolah”
“Iya Mami..”
*****
Fauzi kembali setelah mengantar Mikayla ke sekolah, ia langsung menghampiri istrinya yang mencuci piring.
“Sayang..” Fauzi melingkarkan tangannya dengan manja di pinggang ramping milik istrinya. Ia memeluk Salwa dari belakang.
“Kamu sudah pulang”
“Iya..”
Perhatian Salwa yang sedari terfokus pada piring-piring yang dicucinya, beralih pada kantong kresek yang ditenteng Fauzi.
“Kamu bawa apa?”
“Jambu air”
“Jambu air?” Salwa memperjelas.
“Iya, tadi aku lewat depan rumah pak Ramli, jambu airnya lagi berbuah jadi aku singgah”
“Untuk apa?”
“Ya untuk dimakan lah sayang, aku kepengen” Kata Fauzi melepas pelukannya.
“Kemarin kepengen jeruk bali, sekarang jambu air. Kamu ini kenapa sayang?”
“Gak tahu.. Mungkin lidahku lagi musim buah-buahan, makanya kepengen makan buah”
“Sembarangan aja..”
Salwa tertawa kecil melihat suaminya yang entah beberapa hari ini kesambet apa sampai semua buah-buahan serasa ingin dia makan.
Dering ponsel Fauzi menyentuh indra pendengaran Salwa.
“Sayang.. Telfonmu bunyi..”
Fauzi bergegas meraih ponselnya yang ia letakkan diatas meja.
“Lu dimana?” Tanya Farhan dari seberang telfon.
“Di rumah, kenapa?”
__ADS_1
“Oh oke” Jawab Farhan singkat dan langsung saja memutuskan telfon tanpa menjawab pertanyaan Fauzi.
“Siapa sayang?”
“Farhan”
“Kak Farhan? Kenapa?”
“Gak tahu, dia cuman nanyain aku dimana, terus langsung dimatiin. Gak ada akhlak manusia satu ini”
“Dia ketularan kamu. Kamu juga kalau nelfon Farhan kan kayak gitu” Kata Salwa mengingatkan kelakuan suaminya.
Tidak cukup lama Salwa dan Fauzi saling mendebat perihal siapa yang lebih tidak sopan antara Fauzi dan Farhan, bel pintu rumahnya terdengar berbunyi. Debat antara Fauzi dan Salwa pun terjeda.
Fauzi melangkah keluar, membuka pintu untuk tamu yang datang diawal hari. Wajah Farhan dan Nina muncul dari balik pintu.
“Rasanya lama banget gue gak mampir..”
Mendengar suara Farhan, Salwa bergegas keluar.
“Wah Nina.. Perutnya udah besar banget..” Pelukan hangat Salwa berikan sebagai sambutan untuk Nina. “Udah berapa bulan?”
“Bulan depan udah brojol, doain ya..” Jawab Nina.
Salwa mengangguk dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya, memperlihatkan bagaimana ia selalu merasa senang setiap kali Nina datang berkunjung.
“Ritual perempuan” Kata Fauzi melihat istrinya yang selalu saja memberikan Nina pelukan tiap kali mereka bertemu.
“Apa kita harus seperti itu juga?” Tanya Farhan sembari memperlihatkan ekspresinya yang aneh.
“Jangan gila Lu” Timpal Fauzi kesal melihat ekspresi Farhan.
Mereka memulai obrolan ringan, saling melempar candanya sebagaimana biasanya.
“Oh ya Zi, Tetta minta Lu balik ke perusahaan”
“Posisi direktur tiga hari lagi bakal kosong, dan Tetta maunya Lu lagi yang ngurus perusahaan cabang itu”
“Kosong? Faiq kemana?”
“Kemarin dia nemuin Tetta, katanya dia mau ngundurin diri. Dia juga yang saranin Tetta buat manggil Lu lagi, karena Salwa udah sembuh”
“Ngundurin diri? Kenapa?”
“Nanya mulu Lu.. Ya gue juga gak tahu. Dia kan temen Lu, sana dah Lu tanyain”
“Gaji yang Tetta Lu kasi cukup kan?”
“Lu tuh ya, Lu pikir Tetta gue kikir apa sampai gak ngasih uang orang-orangnya sesuai pekerjaannya. Tetta cuman bilang, kalau ada hal lain yang harus dia urus, makanya dia ngundurin diri”
Fauzi terdiam sejenak, tidak terlintas sedikitpun di benaknya, apa yang menyebabkan Faiq mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Selepas menyampaikan maksud utamanya ia berkunjung, Farhan kembali membahas hal-hal lainnya, sekedar bercerita hal ringan.
.
.
.
Matahari mulai berubah warna menjadi orange, sebentar lagi ia akan tenggelam dan tergantikan oleh sang bulan. Fauzi duduk disebuah cafe sembari memainkan ponselnya, tengah menunggu seseorang.
“Sorry gue telat, jalanan macet banget”
“Its okey, sekarang jam pulang kantor, jadi wajar kalau macet”
“Hem kenapa Lu ngajak ketemuan?” Tanya Faiq to the point
__ADS_1
“Lu ngundurin diri? Kenapa?”
“Gue bakal sibuk beberapa minggu ke depan, jadi gak bisa ngurus perusahaan. Gue juga berniat buat turun tangan langsung ngurus perusahaan gue kembali, yang selama ini gue percayakan ke orang lain”
“Lu tau kan, gak segampang itu buat resign”
“Iya, dan gue tau trik biar gue bisa resign dengan cepat”
Dahi mulus milik Fauzi berkerut, ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan.
“Lu adalah kunci utamanya, cukup gue nyebut Lu, permintaan berhenti gue langsung diterima. Ya kinerja Lu hebat, jadi dia gak mikir dua kali buat ngelepas gue dan minta Lu balik ke perusahaan”
“Emangnya Lu bakal sibuk apa?”
“Gue mau nikah?”
“Uhuk uhukkk...” Begitu terkejutnya Fauzi mendengar apa yang dikatakan Faiq. “Nikah?? Sama siapa??”
“Karin”
“Lah, kalian rujuk?”
Faiq tersenyum dengan anggukan kecil.
“Waahh selamat-selamat... Gue gak nyangka kalian bakal balikan. Ya Lu cakep dan mapan, wajar kalau Karin masih cinta sama Lu”
Faiq menatap Fauzi sejenak yang turut bahagia akan kabar yang dia berikan. “Gue? Yang terakhir jadi idaman hatinya tuh Lu, Fauzi”
“Sebenarnya gak dibilang Karin langsung mau waktu gue ngelamar dia. Gue ngelamar dia sekitar dua bulan yang lalu, dan dia ngasih jawabannya seminggu yang lalu”
“Lama bener?”
“Iya, gue sama dia kan pernah gagal dalam berumah tangga. Gue kesusahan ngeyakinin dia kalau sekarang gue bener-bener serius. Sempat di tolak sih, tapi gue usaha lagi” Jelas Faiq.
“Syukurlah, setidaknya usaha Lu buat ngeyakinin dia gak sia-sia”
Fauzi dan Faiq larut dalam obrolan mereka. Faiq bercerita perihal bagaimana susahnya dia meyakinkan Karin, hingga ia yang nyaris putus asa. Namun niat tulus dan keseriusannya kembali membuatnya bersemangat untuk mengejar Karin, hingga akhirnya Karin menerimanya dengan meminta Faiq untuk tidak mengulangi hal yang sama di waktu yang lalu.
.
.
.
.
Benar saja apa yang dikatakan Faiq. Sebulan setelah ia mengundurkan diri dari perusahaan milik orangtua Farhan, ia melangsungkan pernikahannya dengan Karin. Tidak semewah dulu, dan tidak seramai yang dulu. Pernikahan mereka kali ini lebih privasi dan hanya mengundang beberapa saudara dan teman dekat saja. Acara yang lebih khidmat dan lebih hangat dari yang sebelumnya.
“Karin, makasih karena bersedia ngasih aku kesempatan kedua. Aku gak akan pernah minta kesempatan ketiga dan seterusnya, karena aku akan membuatmu bahagia. Aku mencintaimu”
Karin tersenyum dengan manis. Dulu ia pernah di pinang oleh laki-laki yang sama, namun nuansa dan perasaannya jelas berbeda. Laki-laki yang dulu meminangnya hanya memperlihatkan senyum tanpa arti, sedang yang laki-laki yang kini di depannya, memperlihatkan senyum kebahagiaan dengan tatapan yang penuh cinta.
Mungkin seperti itu takdir mempermainkan benang merah pada seseorang. Ada yang harus berpisah dengan saling melukai perasaan satu sama lain, namun akhirnya dipertemukan dalam ikatan cinta yang sah melalui pernikahan.
Ada juga yang saling menumbuhkan perasaan melalui perjodohan, hingga mereka saling mencintai seolah tidak akan terpisahkan kecuali dengan maut.
Tidak hanya itu, beberapa cinta juga tumbuh karena terbiasa. Terbiasa di istimewakan dan dicintai dengan tulus. Meski saat mengikat janji suci, ia masih menyimpan nama sang mantan dalam hati, tapi pada akhirnya semuanya berubah dan sekarang dia hanya melihat suaminya saja sebagai laki-laki yang dia cintai.
Ada lagi yang lebih rumit. Ketika mereka sudah pernah terikat janji suci sebelumnya, namun harus terpisah karena ikatan pernikahan tidak bisa menciptakan cinta diantara mereka. Namun takdir tetaplah takdir, sejauh apa kamu melangkah, jika dia adalah takdirmu, maka tetaplah kamu kembali menjadi miliknya meski ikatan pernikahan pernah putus sebelumnya.
Itu semua tidak lepas dari siapa yang telah ditakdirkan denganmu untuk menjadi kekasih sehidup semati. Tulang rusuk tidak akan tertukar, benang merah akan tetap terbentang meski pernah berkalut. Dan jodoh.. Siapa yang tahu? Itu rahasia Ilahi, dan Ilahi punya caranya untuk mempertemukan.
Percayalah, pada akhirnya kamu akan dipertemukan dengan dia yang akan mencintaimu melebihi apa yang bisa dia ungkapkan.
END
Terimakasih sudah bersama Lina sampai sejauh ini 💜💜
__ADS_1