Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Review 9


__ADS_3

Uijan semester ganjil yang menegangkan akhirnya selesai juga, perasaan gelisah selama ujian akhirnya bisa menjadi lebih tenang meski belum sepenuhnya bisa tenang karena hasilnya belum keluar.


Fauzi mulai mempertimbangkan untuk segera mengungkapkan perasaannya pada Salwa, dia terngiang-ngiang perkataan Ibu dan Ayahnya akan Salwa yang bisa saja di ambil orang jika dia telat mengungkapkan perasaannya, yah seperti yang Ayahnya bilang untuk maju saja dulu, jangan menunda untuk mengungkapkan perasaan hanya karena takut di tolak.


Fauzi akhirnya meraih ponselnya dan mengirim pesan singkat pada Salwa..


"Hay, lagi ngapain?" Tanya Fauzi membuka obrolan pesan.


Tidak cukup lama, akhirnya Fauzi mendapatkan balasan pesan dari Salwa.


"Rebahan, balas dendam setelah seminggu gak bisa rebahan dengan tenang.." Balas Salwa sambil bercanda.


"Ha ha ha.. Besok keluar yuk.." Ajak Fauzi. Cukup lama Fauzi mempertimbangkan mengirim pesan untuk mengajak Salwa keluar, beberapa kali dia mengetik lalu menghapusnya dan kemudian mengetiknya lagi sampai akhirnya dia benar-benar mengirimnya pada Salwa.


"Keluar kemana??"


"Kemana saja, ya ngerileks pikiran setelah seminggu tegang mulu sama Ujian.." Alasan Fauzi.


"Hem.. Boleh juga.."


"Jadi gimana? Besok mau keluar??"


"Oke deh.."


"Oke, besok mau aku jemput atau ketemu dimana??"


"Tentuin tempat ketemu aja, aku ngerepotin kakak aja kalau dijemput"


"Ya gak lah. Yaudah kalau gitu besok aku jemput ya, sharelock aja besok.."


"Beneran gak ngerepotin??"


"Kan ya ngajak aku, jadi wajar aja kalau aku ngejemput.."


"Oke deh kalau gitu.."


Jantung Fauzi mulai kumat berdetak tidak karuan, ya Fauzi akan mengatakan perasaannya besok, dia tidak mau menunda-nunda mengungkapkan perasaannya lagi.


"Besok aku ngomongnya gimana ya?? Mulainya kayak gimana??" Pikir Fauzi. "Argghh kenapa aku gak bisa mikir sih??" Kata Fauzi mengacak-acak rambutnya. "Udah ah seperti yang Ayah bilang saja, pokoknya aku bilang saja sesuai yang ada dipikiranku, kalau aku tulus ngomongnya pasti dia bisa lihat kesungguhanku" Dumel Fauzi. "Hufft sekarang tidur dulu biar besok gak telat bangunnya.."


Fauzi mencoba untuk tidur, tapi seperti malam-malam sebelumnya dia masih saja sulit tidur terlebih besok adalah hari dimana dia akan mengungkapkan perasaannya. Berguling ke kanan dan ke kiri, tapi masih saja Fauzi kesulitan tidur.


Fauzi beranjak dari tempat tidurnya, duduk di kursi belajarnya dan kembali mengambil buku yang dia gunakan untuk meluapkan perasaannya.


"Aku ragu, apa boleh mengatakan ini sekarang? Tapi jujur saja, membiarkanmu sendiri saat ini adalah caraku untuk memberikan peluang laki-laki lain untuk memilikimu, dan aku tidak ingin itu.."


.


.


.


Semalam Fauzi sulit tidur hingga akhirnya dia tertidur tapi tetap saja bangun lebih awal. Ada perasaan gelisah dan tidak jelas yang dia rasakan. Janji bertemu dengan Salwa adalah jam sembilan dan sekarang masih pukul tujuh Fauzi sudah siap. Fauzi kembali meraih bukunya dan menuliskan sesuatu lagi sebelum Salwa memberinya kabar untuk menjemputnya.


"Aku akan mengatakannya..


AKu akan mengatakannya


Aku akan mengatakannya..


AKu tidak bisa hanya memandangnya dari jauh saja sekarang.."


Salwa mengirim lokasinya pada Fauzi dan Fauzi segera menjemputnya. Ini adalah pertama kali bagi Fauzi menjemput seorang perempuan kerumahnya, karena Salwa sudah menunggu di depan akhirnya Fauzi tidak sempat mampir untuk sekedar meminta izin pada orangtua Salwa untuk membawa putri mereka.


Fauzi sangat gugup, berbeda dengan Salwa yang menikmati jalan-jalan mereka dengan ceria. Namun ke gugupan Fauzi juga perlahan hilang seiring keseruan mereka di taman bermain yang mereka pilih.


Salwa duduk tersungkur di salah satu kursi peristirahatan di taman bermain itu, tenggorokannya nyaris kering karena keseringan berteriak saat naik salah satu wahana tadi.

__ADS_1


"Minum dulu.." Kata Fauzi sambil memberikan sebotol air pada Salwa.


"Makasih kak.." Jawab Salwa masih setengah terengah-engah.


"Aku gak kira kamu teriaknya kencang banget.." Kata Fauzi sambil ikut duduk disamping Salwa.


"He he refleks kak.."


"Hem gimana? Mau lanjut naik wahana atau mau jalan-jalan aja.."


"Kayaknya jalan-jalan aja deh kak, suaraku udah hampir habis.."


"Ha ha iya, suaramu kedengarannya mulai serak"


Setelah duduk beristirahat sejenak akhirnya Salwa dan Fauzi berjalan mengelilingi taman bermain.


"Kak ayo coba itu.." Kata Salwa menunjuk rumah hantu.


"Kamu gak takut??" Tanya Fauzi.


"He he takut gak takut sih.. Tapi kepengen liat dalamnya kayak apa"


"Yakin mau kesana??"


Salwa mengangguk sambil tersenyum "Ck manisnyaaa.." Pikir Fauzi.


"Yaudah ayo.."


Seperti rumah hantu pada umumnya, ada jalan masuk dan setelah masuk harus keluar dari pintu yang berbeda. Sepanjang perjalanan dari pintu masuk untuk menemukan pintu keluar akan dibuat terkejut dengan beberapa hal yang terlihat seram, dari benda mati yang sengaja dipajang hingga orang-orang yang memakai kostum untuk menakut-nakuti.


"Lah kok gelap??" Tanya Salwa.


"Namanya juga rumah hantu, kalau terang mah rumahnya spongebob.."


Fauzi dan Salwa perlahan jalan masuk, tanpa sadar Salwa melingkarkan tangannya di tangan Fauzi untuk pewaspadaannya, Fauzi sendiri juga tidak sadar.


"Woah aku lebih terkejut lagi sama teriakanmu kebanding tengkorak ini.." Goda Fauzi sambil terkekeh.


"Aisshh.." Tatap Salwa dengan cemberut.


"Ha ha yaudah ayo lanjut cari jalan keluarnya"


Sesekali Salwa berteriak bahkan sampai melompat ketika ada yang mengejutkannya.


"Jalan keluarnya mana sih ini kak..." Keluh Salwa.


"Kayaknya benta...."


"Huwaaaa..." Teriakan Salwa memotong perkataan Fauzi. Salwa refleks memeluk Fauzi saat orang yang menggunakan kostum hantu berjalan mendekatinya.


"Jangan mendekat jangaan mendekaaatttt...." Jerit Salwa sambil memeluk Fauzi dengan erat.


Fauzi dengan cepat mengarahkan Salwa berjalan menjauh sambil balik memeluk Salwa tanpa sadar.


"Udah pergii..."


"Beneran??" Tanya Salwa masih memeluk Fauzi dengan erat dan tidak berani membuka matanya. Tiba-tiba "Ehh.." Salwa melepas pelukannya dan mundur beberapa langkah saat sadar bahwa dia sedang memeluk Fauzi sekarang. Fauzi pun baru sadar bahwa sedari tadi Salwa memeluknya bahkan dia sempat memeluk Salwa juga saat Salwa melepas pelukannya.


"Ma.. Maaf kak.." Kata Salwa tertunduk tidak berani menatap Fauzi.


"Ga gak papa.." Jawab Fauzi terbata-bata.


Keduanya seketika menjadi canggung, rasa takut Salwa hilang dan berubah menjadi kecanggungan yang luar biasa. Sekitar dua menit keduanya saling diam karena canggung sampai akhirnya.


"Ayo, mau sampai kapan kita disini.." Kata Fauzi memberanikan diri memegang tangan Salwa dan menariknya keluar dari rumah hantu. Salwa ikut saja.


Tidak cukup lama mereka berjalan akhirnya mereka menemukan pintu keluar dari rumah hantu itu. Kecanggungan masih berlangsung bahkan setelah mereka keluar dari rumah hantu. Fauzi sebisanya membuka percakapan dan membuat beberapa candaan agar kecanggungan itu menjadi hilang dan akhirnya Salwa yang sedari tadi terlihat canggung dan kebingunan mulai kembali ceria seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Udah sore, ayo pulang.." Ajak Fauzi.


"Bentar kak, aku mau gula kapas.." Kata Salwa menunjuk penjual gula kapas yang tidak jauh dari mereka.


"Yaudah tunggu disini aku beliin.."


"Tapi.."


"Udah tunggu aja.."


Salwa mengangguk, Fauzi tersenyum kemudian berlari kecil menghampiri penjual gula kapas.


Salwa menepuk-nepuk pipinya. "Salwa.. Tadi kamu ngapain sih?? Sumpah bikin malu bangeeetttt" Gerutu Salwa ketika mengingat kejadian saat dia memeluk Fauzi. "Untung aja kak Fauzi baik, jadi gak mempermasalahkan itu.." Salwa mengelus dadanya dengan sedikit kelegaan, namun sejenak pipinya menjadi merona saat mengingat bagaimana Fauzi memeluknya kembali dan menenangkannya saat itu.


Salwa melihat Fauzi yang sedang menunggu pesanan gula kapas yang dia inginkan. Salwa tersenyum manis melihatnya.


Fauzi dan Salwa akhirnya memutuskan untuk pulang, karena taman bermain yang cukup luas sehingga butuh waktu berjalan beberapa menit untuk tiba diparkiran, Fauzi mulai berfikir keras dan berusaha menghilangkan gugupnya. Ini adalah moment yang tepat untuk dia mengungkapkan perasaannya.


"Salwa.."


"Hem??" Sahut Salwa sambil memakan gula kapas yang dibelikan Fauzi tadi.


"Ng.. Gak.." Fauzi mengalihkan pandangannya dari Salwa, Salwa terlihat imut sekali dimatanya.


"Apa sih kak.. Gak jelas deh.." Gerutu Salwa cemberut.


"Ha ha aku cuman mau tanya gula kapasnya manis gak??


Krikkk kriikk.. Salwa menatap Fauzi dengan kebingungan.


"Fauzi begoo emanggg... Ngapain nanya begitttuuu cobaaa???? Bikin kelihatan bodoh aja dimatanya Salwa, namanya aja gula kapas ya pasti manis lah..." Batin Fauzi kesal.


"Ya manis lah kak, namanya juga gula kapas.." Jawab Salwa, lalu mengalihkan pandangannya dari Fauzi.


"Sama kayak kamu dong.. Kamu juga manis.."


Salwa spechless sejenak mendengar perkataan Fauzi.


"Begoo begoo begooo.. Fix gue bego, ngapain gue ngomong kayak gitu.. Bikin gue terlihat sebagai cowok yang hobbi ngegombal aja..." batin Fauzi semakin kesal.


"Oh.. He he he ma makasih kak.." Jawab Salwa terbata-bata.


Salwa melanjutkan langkahnya tanpa berani menoleh kebelakang meninggalkan Fauzi yang berdiri mematung sejenak.


"Gak.. Gue gak boleh asal ngomong lagi, pokoknya gue langsung ngomong ke intinya saja.."


Fauzi mempercepat langkahnya, dan meraih pergelangan tangan Salwa dengan cepat.


"Salwa tunggu..."


Salwa menoleh.


"Aku mau ngomong sesuatu..."


Salwa hanya menatap Fauzi dengan tatapan bertanya.


"Salwa, aku suka sama Salwa. Salwa mau gak jadi pacarku????"


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2