Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Tugas..


__ADS_3

Aku menjalani hari-hariku sebagai mahasiswa baru. Dunia Farmasi tidak semudah yang aku pikirkan, awalnya aku mengira aku hanya akan berurusan dengan obat tapi rupanya tidak. Aku tau, tiap-tiap pembelajaran yang kudapatkan ada hubungannya dengan obat, tapi tetap saja rasanya terlalu rakus kalau ingin mempelajarinya semuanya.


Perlahan aku mulai akrab dengan teman sesama jurusanku, bahkan aku mengenal beberapa teman dari jurusan lain. Menjadi satu kelompok dengan yang lainnya adalah keharusan di kampus yang membuatku harus bisa bergaul dengan semuanya.


Kami dibagi menjadi beberapa kelompok setiap praktikum untuk memudahkan dosen dan asisten dosen untuk mengarahkan kami dalam laboratorium, karena itu aku jadi terbantu untuk bisa bergaul dengan teman-temanku. Ya aku punya banyak teman sekarang tapi tetap saja Annisa orang yang mengajakku bicara pertama kali yang paling dekat denganku.


Ada waktu dimana aku khawatir bagaimana jika nanti aku berpapasan dengan Farhan, aku masih sangat canggung dan masih bingung mau memasang ekspresi bagaimana jika bertemu dengan Farhan. Tapi rupanya itu hanya kekhawatiranku saja. Dunia perkuliahan membuatku sangat sibuk sampai tidak punya waktu untuk sekedar berjalan-jalan dikoridor kampus. Hanya beberapa kali aku berpapasan dengan Farhan hanya saling menyapa dan berlalu. Aku sangat sibuk, tidak terkecuali dengan Farhan juga apalagi sekarang dia setingkat diatasku yang jelas tugas-tugasnya lebih banyak dan lebih sulit.


Awalnya aku kira hanya kebiasaan seorang guru, tapi rupanya dosen juga punya kebiasaan yang sama, mungkin karena mereka sama-sama berprofesi sebagai tenanga pengajar. Sering sekali dosen menjelaskan tentang matakuliahnya, saat dia menjelaskan kami merasa paham betul dan serasa siap menjawab jika ada pertanyaan yang berhubungan dengan itu, tapi ketika dosen memberi tugas entah mengapa tugas itu menjadi sangat rumit dan keluar dari pembahasan yang sudah dia jelaskan semuanya. "Ini sebuah penipuan" Umpatku.


"Ini jadinya gimana Nis?" Tanyaku pada Nisa.


"Ya mana aku tau, kalau aku tahu udah aku kerjain dari tadi.."


"Ck.. kamu kan dari SMK Farmasi, masa gak tau yang ini.."


"Di SMK kita belajar cuman kulit-kulitnya, kalau udah sampai bijinya begini ya aku udah gak tau.."


"Ya terus ini gimana?"


"Sabar, ini kamu lagi gak liat aku lagi seacrhing buat nyari caranya.."


Aku bersandar dikursi, rasanya lelah sekali.


Kami mendapatkan tugas perhitungan dosis dari dosen, hanya saja tugas yang diberikan sedikit berbeda dengan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Sebenarnya tugas ini sudah diberikan dari tiga hari yang lalu tapi karena sibuk dengan mata kuliah dan aktifitas yang lainnya akhirnya baru sekarang tugasnya bisa aku kerjakan. Sayangnya entah kenapa tugasnya terasa sulit sekali.


"Udah ah, aku nyerah.. Aku nemu sama yang dimaksud tapi tetap saja belajar otodidak perhitungan begini lewat abang Yutub susah dimengerti.." Kata Nisa mengikuti bersandar penuh putus asa.


"Bagaimanalah nasib kita, besok akhir pekan dan kita gak bisa masuk kampus nyari orang buat ngajarin kita soal ini dan lagi senin pagi ini jadi soal yang harus dijawab sebagai respon pintu masuk laboratorium. Kayaknya kita bakalan absen satu Lab deh Nis.."


"Ya begitu.. Kalaupun kita datang pagi-pagi kekampus minta ajar dengan yang lainnya, kita juga bakalan gak punya waktu buat mempelajarinya sebelum masuk Lab"


"Hemm... Yasudahlah terima nasib saja.." Kataku dengan putus asa.


Aku melirik Annisa yang duduk disampingku sepertinya juga sudah sangat putus asa.


"Haa aku tahu.." Katanya dengan nada yang cukup tinggi.


"Kamjagiyaa... Apaan sih bikin kaget saja.." Jawabku terkejut


"Aku tahu kita harus apa.."


"Apaan?" tanyaku malas-malasan.

__ADS_1


"Kakak yang itu.. Kakak yang itu pasti tahu dan mau ngebantuin kita.."


"Kakak yang mana?"


"Kakak kenalan kamu yang kakak kelas kamu waktu SMA, hemm siapa lah lagi namanya..." Kata Nisa berusaha mengingat nama seseorang yang dia maksud "Haa.. kak Farhan.."


"Ka Kak Farhan?"


"Iya.. Dia pasti tahu. Cepat hubungi.." Kata Nisa penuh semangat.


"Ta tapi.."


"Haiss.. gak ada tapi-tapian kalau kondisi sudah gawat seperti ini"


"Iya sih cuman.."


"Ayolah.. Besok kita harus berguru biar bisa lolos respon pintu.."


"I iya deh.. Coba aku tanya dulu.."


Aku meraih ponselku, Farhan bilang dia masih menggunakan nomornya yang dulu aku mencoba menghubunginya.


"Halo.." Panggilanku terhubung.


"Oh, Salwa ya?" Tanyanya, entah nomorku masih tersave di ponselnya atau karena Farhan yang mengenali suaraku.


"I iya kak.. Maaf kalau aku ganggu.." Shitt rasanya masih saja canggung.


"Gak kok, ada apa?"


"Kakak pernah bilang kalau ada tugas yang aku gak bisa, kakak bisa ngebantu aku.."


"Bisa.. Tapi tergantung tugas juga hehehe, kalau susah mungkin aku gak bisa bantu, tapi coba kuliat dulu.."


"Iya kak.."


"Kapan mau diajarin?"


"Bisa secepatnya gak kak? Soalnya ini jadi pelajaran buat respon pintu masuk Lab hari senin.."


"Hem.. Gimana kalau besok saja? Soalnya malam ini aku ada kerjaan.."


"Bisa.."

__ADS_1


"Oke, selamat ketemu besok nanti aku kabari.."


"Maaf aku jadi ngerepotin kak"


"Gak papa, lumayan kan aku jadi ngulang-ngulang pelajaran lagi"


"Kalau gitu makasih kak.."


"Oke oke.."


Panggilanku berakhir.


"Hufftt syukurlah, akhirnya kita bisa terselematkan" Kata Nisa dengan lega.


"Belum wei, kan dia bilang kalau dia tahu soalnya.."


"Semoga dia tahu.. Oh iya kamu gak tanya kita besok ketemunya jam berapa?"


"Katanya besok dia ngabarin.."


"Lah, besok kan aku mewakili kelompok kita buat beli bahan persiapan praktikum Wa. Nanti waktunya tabrakan kalau aku gak tau pasti jam berapa"


"Tapi aku gak enak buat nanya lagi Nis.."


"Hem, semoga besok waktunya gak tepatan"


"Berdoa saja.."


"Yaudah aku balik dulu.."


"Aish jangan balik dulu, kan aku sendirian lagi dirumah"


"Yaudah aku nginap deh, bentar aku izin dulu sama Ummi"


"Uwu.. Salwa sayang deh sama Nisa.." Kataku memeluknya manja.


Nisa hanya tersenyum melihat tingkahku.


Annisa malam ini tidur dirumahku menuruti permintaanku. Aku melirik melihatnya yang sudah tertidur pulas sedangkan aku yang masih sulit memejamkan mata. Pikiranku terus berputar bagaimana dan seperti apa besok ketika aku bertemu dengan Farhan. Mungkin aku bisa menutupi kecanggunganku di depan Farhan, tapi besok Annisa juga akan ikut, apa aku bisa menyembunyikan kecanggungan di depan Annisa juga?


Aku selalu meyakinkan diriku untuk tidak canggung lagi dengan Farhan, tapi kenapa rasanya sulit sekali. Kenapa aku harus merasa canggung, toh semuanya sudah berlalu dan Farhan juga sudah tidak mempermasalahkannya. Tapi kenapa aku teus-terusan merasa seperti itu.


Apa aku batalkan saja pertemuan besok? Tapi bagaimana dengan tugasku? Argghhh pikiran-pikiran ini semakin membuatku tidak bisa tertidur.

__ADS_1


Aku kembali mengingat, dulu jika aku tidak bisa tidur aku akan terus-terusan menghubungi Fauzi dan Fauzi akan menemaniku sampai aku tertidur. Tapi sekarang tidak ada lagi yang bisa menemaniku seperti itu.


__ADS_2