Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Status Fauzi (2)


__ADS_3

Pembahasan Fauzi, Nina dan Farhan makin membuatku kebingungan. Aku tidak habis pikir bagaimana mereka bisa terang-terangan menggodaku bersama Fauzi sedangkan Fauzi jelas-jelas sudah memiliki perempuan yang dia sukai. Aku sampai bingung dengan mereka, aku sempat menanggapi candaan mereka sekedar memposisikan diri bagaimana jika kekasih Fauzi tahu, tapi mereka malah menatapku dengan aneh dan ekspresi mereka yang secara bersamaan berubah seolah apa yang aku katakan adalah salah.


Acara resepsi Farhan dan Nina selesai, aku pulang dan Fauzi mengantarku. Aku menjadi semakin kikuk karena Fauzi yang tidak membuka obrolan selama kami diperjalanan. Aku kembali mengingat apa ada yang salah yang aku lakukan selama bersama dia disana tadi? Atau mungkin dia seperti ini karena kelelahan hari ini?.


Tidak lama kemudian akhirnya Fauzi membuka obrolan diantar kami dan menanyakan hal yang kurasa sengaja dia tanyakan untuk menyinggungku.


"Kenapa??" Tanyaku setelah melihat Fauzi yang tertawa kecil mendengar jawabanku saat dia bertanya perihal pasanganku.


"Gak, aku cuman mau tahu saja.." Jawabnya.


"Lagi ngejek aku?" Tanyaku semakin kesal.


"Enggak, kenapa aku harus ngejek kamu.."


"Lah terus kenapa?"


"Gak, aku cuman ngerasa kamu ngebangun dinding diantara kita seolah kamu sedang ngejaga perasaan seseorang"


Apa maksud perkataan Fauzi ini, bukannya harusnya dia membenarkan tindakanku yang seperti ini. Aku hanya berusaha memahami perasaan wanitanya tapi kenapa kesannya seolah aku yang sedang menjaga perasaan oranglain dari pihakku.


"Memang seperti itu kan.."


"Jadi beneran kamu sengaja ngehindar dari beberapa gurauan Farhan dan Nina karena ngejaga perasaan seseorang??"


"Iya.."


"Kamu bilang kamu gak punya pacar"


"Memang aku gak punya.."


"Terus perasaan siapa yang kamu jaga?"


Kami jadi saling bertanya dan menjawab pertanyaan yang berputar-putar tidak jelas.


"Aku memang ngebangun dinding antara kita kak, aku cuman ingin memastikan agar perasaanku tidak melewati dinding pembatas itu.."


"Untuk apa?"


"Ya untuk apa lagi selain untuk menjaga calon istri kakak..." Jelasku dengan tegas.


Fauzi seketika menginjak rem mendadak, andai aku tidak menggunakan sabuk pengaman mungkin saja kepalaku sudah terbentur.


"Adduuhhhhh...." Kataku menjerit berusaha mempertahankan posisiku.


"Kamu bilang apa barusan? Calon istri??" Tanya Fauzi terkejut.


"Ah bukan calon istri ya? Sepertinya sekarang sudah jadi istri" Melihat reaksi Fauzi, seperti dia terkejut karena aku masih menganggap istrinya sebagai calon istrinya. Berarti sekarang aku sedang jalan dengan suami orang.


"Istri siapa? Kamu bilang apa sih??"

__ADS_1


"Ya istri kakak, memangnya istri siapa lagi?" Jawabku mulai kesal. Kenapa dia harus pura-pura bodoh seperti ini, apa dia sengaja untuk memperjelas statusnya sekarang didepanku.


"Kamu tahu dari mana kalau aku sudah punya istri??" Tanya Fauzi.


Aku jadi bingung sendiri, kenapa Fauzi jadi bertanya seperti ini.


"Ke kemarin waktu kakak ngantar seseorang ke rumah sakit. Dia bilang kalau dia udah mau menikah, bu bukannyaa...." Aku jadi semakin bingung.


"Afifah?? Iya, Afifah sudah menikah sekarang, terus apa hubungannya denganku.."


"Bukannya dia menikahnya sama kakak?"


"Sama aku? Kenapa aku mau menikah sama sepupuku sendiri?"


"Sepupuu????" Woaahh Fakta baru apa lagi ini.


"Iya, aku nganter dia kemarin ke Rumah sakit karena calon suaminya sedang sibuk dan tidak bisa mengantarnya langsung. Aisshhh seperti dugaanku hari itu sepertinya kamu sedang salah paham sama aku"


"Ta tapi.. Undangan yang kakak bahas dengan Annisa.."


"Kamu pikir itu undanganku??"


Aku mengangguk.


Fauzi tertawa.. Aku juga tidak tahu apa yang dia tertawakan sekarang.


Aku hanya mengangguk. Kenapa sepertinya aku salah pengertian selama ini.


"Ha ha ha Salwa.. Kamu lucu sekali.." Kata Fauzi tertawa.


"Ja jadi Afifah bukan?? Ka kakak be belum menikah??"


Fauzi menatapku sejenak lalu tersenyum.


"Cari tahu sendiri.." Katanya memberikan pukulan kecil di jidatku seperti yang selalu dia lakukan padaku dulu.


Fauzi kembali mulai menyetir yang sebelumnya harus berhenti karena terkejut dengan apa yang aku katakan.


Sepanjang perjalanan Fauzi terus tersenyum bahkan sesekali tertawa, dia tidak mengatakan satu katapun padaku yang membuatku jadi bingung sendiri.


Aku tiba dirumah.


"Salwa, terimakasih sudah mau terus terang dengan apa yang ada dipikiranmu selama ini?"


"Tentang apa?"


"Tentang aku yang sudah beristri" Fauzi kembali tertawa. "Kamu ini masih saja seperti dulu.."


"Ma maksudnya.."

__ADS_1


"Bukan apa-apa. Sana masuk, ini sudah malam..."


Aku terdiam sejenak. Fauzi melihatku bingung yang belum beranjak keluar dari mobilnya.


"Kak.." Panggilku berusaha menatapnya. "Dari kata-kata kakak yang aku dengar tadi, i itu berarti kakak belum menikah dan..."


"Cari tahu sendiri.." Kata Fauzi memotong perkataanku. "Sudah sana masuk..."


Aku hanya diam sejenak, aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Aku sudah mengumpulkan keberanianku untuk bertanya pada Fauzi tapi Fauzi dengan segala ketidakjelasannya memintaku untuk menemukan jawaban dari pertanyaanku sendiri.


"Kenapa? Gak mau turun? Masih mau tinggal sama aku disini?" Tanya Fauzi menggodaku dengan senyumannya yang terkesan sedang meledekku sekarang.


"Ga gaak... A aku turun.." Jawabku terbata-bata entah karena gugup atau karena masih bingung dengan apa yang baru-baru ku ketahui tentang Fauzi.


"Kamu ini kenapa selalu lupa melepas sabuk pengamannya kalau aku antar sih??" Kata Fauzi lagi membantuku membuka sabuk pengamanku.


Dengan jarakku yang dekat seperti ini, aku dengan jelas melihat wajah Fauzi yang terlihat senang meski aku tidak tahu apa yang membuatnya senang. Dan lagi, aku ini benar-benar kenapa sih?? Sekali lagi aku hampir membuka pintu mobil tapi lupa melepas sabuk pengamanku. Kegugupanku ini benar-benar membuatku malu.


"Ah aku juga tidak tauu..." Kataku berusaha menghindari kontak mata dengan Fauzi. "Ka kalau begitu aku, ah terimakasih sudah mengantarku.." Aku benar-benar gugup sampai bingung bagaimana cara berbicara yang benar.


Fauzi hanya menatapku lalu tertawa.


"Jangan ngeliat aku.." Aku berusaha menutup wajahku, aku tidak tahu harus berekspresi bagaimana, aku tidak mau Fauzi melihat ekspresiku yang kebingunan seperti orang bodoh dan wajahku yang mugkin saja sudah memerah sekarang karena malu.


"Te terimakasih udah nganter aku pulang.." Kataku setelah turun dari mobil Fauzi.


Fauzi ikut turun "Kenapa dia jadi ikut keluar dari mobilnya??" Tanyaku bingung.


Fauzi melepas jas yang dia gunakan dan memasangkannya dipundakku. "Sana masuk, kamu bisa kedinginan kalau terlalu lama diluar"


"I iyaa.. Ma makasih kak. Kakak hati-hati dijalan, aku masuk dulu.." Kataku berbalik.


"Salwa.." Panggil Fauzi menahanku.


"Iya?"


"Selanjutnya jangan panggil aku kakak lagi, aku tidak suka ngedenger kamu manggil aku kayak gitu"


"Eh??" Aku bingung dengan perkataan Fauzi.


"Sudah sana masuk, intinya jangan panggil aku kakak lagi.."


Aku hanya terdiam.


"Sana masuk, kamu bisa kedinginan nanti.."


"Ka kalau begitu hati-hati di jalan.."


Aku melangkah masuk, sejenak aku berhenti dan kembali menoleh melihat Fauzi. Dia masih ada disana berdiri melihatku dengan senyumannya, aku hanya balas tersenyum lalu melanjutkan langkahku.

__ADS_1


__ADS_2