Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Review 38


__ADS_3

"Kak Fauzi...." Panggil Afifah sambil terus-terusan mengetuk pintu kamar Fauzi.. "Kak Fauzii.. Kakkkk..." Teriakan Afifah makin kencang.


"Ck, kenapa lagi sih ini bocah??" Gerutu Fauzi kesal sambil melangkah membukakan Afifah pintu. "Hem kenapa??"


"Kak lambungku sakit..." Keluh Afifah.


"Kamu sudah minum obat?? Mama mana? Mau aku buatkan kompres air hangat??" Tanya Fauzi khawatir. Ya sekesal-kesalnya Fauzi pada Afifah tapi tetap saja dia akan khawatir jika Afifah sakit. Afifah sudah seperti adik kandungnya sendiri, Fauzi berusaha menjadi kakak yang baik bagi Afifah yang sudah ditinggal orangtuanya diusianya masih cukup muda sekarang.


Afifah menggeleng. "Lambungku udah agak baikan.."


"Ah syukurlah.. Ya sudah sana istirahat, biar aku buatin bubur dulu.."


"Mama udah masakin bubur.."


"Ya terus ngapa ngegedor-gedor pintu kamarku terus Afifah..." Perasaan khawatir Fauzi perlahan hilang dan berubah menjadi sedikit kesal.


"Kakak bisa gak ngegantiin aku??" Tanya Afifah dengan wajah memelas.


"Ngegantiin apa?"


"Ketemu sama kak Annisa.."


"Lah kenapa aku??"


"Aku kan lagi sakit kak..."


"Ya kapan-kapan aja ketemunya..."


Mendengar jawaban Fauzi, Afifah seketika memasang wajah cemberut


"Aku udah terlanjur janjian sama kak Annisa hari ini.. Ayolah kak.. Kan file foto yang mau dipasang di undangan juga ada sama kakak semua.."


"Ck.. Kamu ini bener-bener.."


"Kak.. Mau yaaa...." Rengek Afifah.


"Ya sudah, jam berapa janjinya???"


"Jam sepuluh..."


"Astagfirullah.. Kenapa bilangnya pas udah setengah sepuluh sih Afifah???" Kata Fauzi setelah melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan lewat duapuluh lima menit.


"Ya karena kakak kalau gak kerja tidurnya kaya kebo', butuh ekstra tenaga buat dibangunin.."


"Ck.. Yasudah sana sana.. Aku mau mandi dulu.."


"He he makasih ya kak.. Afifah sayang deh sama kak Fauzi.."


"Heleeeh...." Kata Fauzi sambil menutup pintu kamarnya.


.


.


.

__ADS_1


Fauzi tiba disebuah cafe tempat janjian Annisa dan Afifah. Fauzi kembali mengecek ponselnya melihat pesan masuk yang dikirimkan Annisa setelah dia mengabari Annisa bahwa dia yang akan menggantikan Afifah bertemu hari ini. Fauzi kembali mengecek pesan Annisa untuk mengetahui meja nomor berapa.


"Ah itu..." Kata Fauzi saat melihat nomor meja 13 seperti yang dikatakan Annisa pada pesannya. "Tu tunggu.. I itu bukannya...." Fauzi sudah pernah bertemu dengan Annisa sebelumnya dan dia masih ingat betul bahwa Annisa menggunakan hijab, tapi mengapa perempuan yang duduk di meja itu tidak menggunakan hijab dan lagi perempuan yang duduk itu seperti tidak asing baginya.


Fauzi berjalan mendekati meja no 13, selain untuk memastikan bahwa meja itu adalah tempat janjiannya bertemu dengan Annisa juga memastikan siapa perempuan duduk di meja itu yang sepertinya tidak asing baginya.


"Salwa..." Tegur Fauzi.


Salwa menoleh menatap Fauzi.


"Ck, kenapa malah jadi ketemu sama Salwa sih disini?? Bisa-bisa gak konsen aku ngebahas undangan Afifah, dan lagi apa Annisa salah ngirim nomor meja??" Pikir Fauzi.


"Fa Fauzi..." Salwa sama terkejutnya dengan Fauzi.


"Meja nomor 13..." Fauzi kembali mengecek pesan masuk yang dikirimkan Annisa. "Benar kok meja yang ini, apa dia salah ngasih nomor meja.." Gumam Fauzi kebingungan.


Bagaimana tidak, Annisa mengatakan bahwa janji ketemunya di meja nomor 13, tapi kenapa yang duduk di meja nomor 13 malah Salwa.


"Ada janji??" Tanya Salwa memecah kebingungan Fauzi.


"Iya, hari ini aku ada janji ketemu dengan seseorang dan katanya dia sudah sampai dari tadi dan menungguku di meja nomor 13, tapi ini..." Fauzi ragu-ragu melanjutkan kata-katanya, takutnya benar salah meja.


"Kamu mesen undangan?" Tanya Salwa


"Iya, sepertinya dia salah ngasih nomor meja"


"Gak kok, ini benar mejanya. Yang ngebuat undangan namanya Annisa?"


"Ah iya betul.."


"Kamu temennya Annisa??"


"Iya..."


"Oh, haha.. Aku kira aku salah meja.." Kata Fauzi segera duduk


"Astagfirullah, cobaan apalagi ini.. Kenapa Salwa harus temenan sama Annisa. Kalau Salwa terus-terusan disini aku benar-benar gak bisa konsen ngerjain undangan ini karena grogi.. Ck, aku bisa kelihatan kayak orang bodoh nanti dimata Salwa.." Batin Fauzi kesal.


Tidak cukup lama Fauzi dan Salwa berada di meja yang sama berdua sampai akhirnya Annisa datang kembali dari toilet.


"Oh sudah datang" Seru Annisa tersenyum memecah keheningan sejenak yang terjadi antara Fauzi dan Salwa. Fauzi yang sedari tadi pura-pura sibuk mengurusi foto agar kegugupannya tidak terlihat oleh Salwa.


Fauzi balas tersenyum pada Annisa.


"Maaf ya aku bawa teman.." Kata Annisa.


"Gak papa, kita saling kenal kok.." Kata Fauzi tersenyum. "Ck sebenarnya ini apa-apa banget.." Batin Fauzi yang bertolak belakang dengan apa yang dia katakan.


"Loh kalian saling kenal?" Tanya Annisa terkejut.


"Iya, Fauzi kakak kelasku sewaktu SMA.." Jawab Salwa.


"Ck, aku cuman dianggap kakak kelas doang... Ini pasti karena Salwa udah terlanjur salah paham kemarin.. Tapi salahku juga sih, soalnya aku duluan yang bilang kalau dia adik kelasku di depan Afifah. ya mau bagaimana lagi jujur bahwa Salwa adalah mantanku didepan Afifah cuman nyariin diri masalah saja.." Gerutu Fauzi dalam hati.


Salwa yang mendapat telfon dari seseorang meminta izin pada Annisa dan Fauzi untuk mengangkat telfonnya. Fauzi sesekali melirik Salwa jika ada kesempatan. Ya andaikata boleh, Fauzi ingin menatap Salwa sepuasnya hanya saja itu tidak bisa dia lakukan sekarang.

__ADS_1


"Kenapa Wa?" Tanya Annisa selepas Salwa menyelesaikan telfonnya.


"Aku ada panggilan untuk ke rumah sakit sekarang, ada pekerjaan mendesak. Aku tinggal gak apa ya??"


"Salwa benar-benar sudah berubah sekarang, dia mulai sibuk dengan pekerjaannya dan sangat terlihat profesional. Bagaimana bisa aku berharap dia masih suka sama aku kalau sekarang dia sudah sehebat ini. Pasti banyak laki-laki yang mendekatinya sekarang..." Gumam Fauzi dalam hati yang mulai merasa pesimis sekarang.


"Iya gak apa, makasih udah nemenin.."


"Iya beb.." Jawab Salwa tersenyum. "Maaf aku pamit duluan" Kata Salwa pada Fauzi. Fauzi hanya balas tersenyum dan semakin merasa pesimis.


Fauzi menatap langkah demi langkah Salwa yang semakin menjauh. Ada rasa tidak rela Salwa berlalu karena masih ingin melihatnya namun ada rasa lega juga setidaknya Salwa tidak bersama mereka sehingga Fauzi bisa berkonsentrasi mendiskusikan undangan Afifah dengan Annisa. Namun selain itu ada juga rasa pesimis yang mulai menganggu pikiran Fauzi.


Fauzi dan Annisa mulai mendiskusikan masalah undangan Afifah. Fauzi membuka file foto preweeding Afifah dan mulai memilah-milah foto mana yang kiranya pas untuk diletakkan di undangannya.


"Kamu sudah lama temenan sama Salwa?" Tanya Fauzi pada Annisa setelah mereka selesai mendiskusikan desain undangan Afifah.


"Hemm lumayan, dari awal kami masuk perkuliahan, kenapa??" Tanya Annisa balik.


"Ah enggak.." Jawab Fauzi tersenyum. "Salwa cuman terlihat berbeda dari dia waktu SMA dulu.."


"Hehe Salwa makin cantik ya yang sekarang??" Tanya Annisa sambil menutup laptopnya.


"Iya, makin dewasa juga.. Waktu SMA banyak banget yang suka sama dia, mungkin sekarang lebih banyak lagi.." Tanya Fauzi seolah basa basi padahal sedang mencari tahu tentang Salwa melalui Annisa.


"Jelas.. Sewaktu kuliah ada beberapa temen yang ngedekatin Salwa, tapi ya Salwa gak ada respon. Sekarang kerja juga banyak yang ngedekatin Salwa tapi ya Salwa begitu lagi, gak ada responnya.."


"Kenapa?"


"Ya gak tau juga.. Kata kak Farhan dia lagi nunggu seseorang.. Gak tau dah dia nungguin siapa.."


"Farhan? Kamu kenal sama Farhan?"


"Iya.. Dia kakak seniorku di kampus. Kenapa? Kamu kenal?"


"Iya.. Dia temenku waktu SMA"


"Ah iya aku lupa, Salwa pernah bilang kalau kak Farhan itu kakak kelasnya sewaktu SMA, dan barusan dia bilang kalau kamu juga kakak kelasnya.. Hem. Padahal awalnya aku kira Farhan dan Salwa itu ada hubungan spesial karena kak Farhan baik banget sama Salwa, tapi ternyata kak Farhan baik cuman karena Salwa itu adik kelasnya dulu dan lagi kak Farhan udah punya tunangan sekarang.."


"Ternyata Annisa cukup banyak tahu.." Gumam Fauzi dalam hati.


"Ah sudah jam berapa ini? Aku masih ada kerjaan lain.."


"Iya, karena keasyikan ngobrol jadi lupa. Maaf karena sudah menganggu waktumu.."


"Ah gak papa.. Kalau gitu saya permisi dulu.." Kata Annisa berlalu..


"Nis tunggu..." Tahan Fauzi.


"Iya??"


"Bisa minta nomornya Salwa, kapan-kapan bisa aku ajak buat reunian bareng bertiga sama Farhan" Kata Fauzi beralasan.


"Tentu.." Jawab Annisa sambil mengeluarkan ponselnya dan mengirim kontak Salwa pada Fauzi.


"Makasih.."

__ADS_1


Annisa hanya tersenyum kemudian berlalu


__ADS_2