Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Pertemuan Faiq & Sasa


__ADS_3

Hari-hari yang di nantikan Faiq pun akhirnya tiba, hari-hari yang membuatnya begitu bersemangat sekaligus membuat jantungnya memompa lebih cepat dari biasanya. Detak jantungnya nyaris terdengar keluar karena perasaan gugup yang menghampirinya.


Faiq duduk disebuah kursi yang bersampingan dengan jendela, ia mengambil tempat yang memudahkannya untuk bisa memantau kedatangan Fauzi bersama wanita yang dia nanti-nantikannya kedatangannya. Sungguh, kesabaran tidak bisa Faiq hadirkan untuk dirinya.


Sembari menunggu, Faiq terus memainkan ponselnya, mengirim pesan pada Fauzi tentang sudah dimana dia saat ini. Sesekali bahkan Faiq menekan jari-jarinya satu sama lain untuk meredam kegugupan yang sedang dia rasakan saat ini. Rasa gugup yang jauh lebih terasa dibandingkan saat ia mengambil ujian lulus dari pendidikannya kemarin.


Setelan jas terbaik yang dia miliki, dia gunakan hari ini untuk membuatnya terlihat lebih keren dari biasanya, meski jas dengan model terbaik itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan wajahnya yang putih bersih dan tampan. Namun wajah yang dapat mencuri perhatian para wanita yang berpapasan dengannya itu, tengah di selimuti oleh ekspresi yang tidak karu-karuan akan perasaan gugup yang dia rasakan.


Faiq terus-terusan menatap keluar, sembari menunggu dengan tidak sabar kedatangan Fauzi, meski sebagian dari dirinya merasa tidak siap untuk bertemu dengan wanita yang dia cintai beberapa tahun terakhir ini.


Sementara itu, Fauzi yang terus-terusan mendapat kiriman pesan dari Faiq membuat ponselnya terus saja mendapatkan notif dan menarik perhatian Salwa.


“Ada apa?” Tanya Salwa bingung tatkala suaminya itu terus-terusan menatap layar ponselnya yang menerima pesan dari Faiq.


“Ah? Gak ada apa-apa?” Jawab Fauzi tersenyum.


“Ponselmu??”


“Ah ini, orang yang akan kita temui itu mengirim lokasi tempat pertemuannya, juga nomor meja tempat dia duduk sekarang”


“Bukannya sudah ada janji sebelumnya tentang tempat pertemuannya”


“Iya, dia ngirim lagi mungkin buat ngingetin aja..”


Salwa hanya mengangguk, tidak mempersalahkan masalah notif yang terus-terusan masuk pada ponsel suaminya. Salwa kembali berbalik bercerita bersama Sasa yang jalan disisi lainnya. Salwa tidak lagi memiliki memori tentang keberadaan Sasa di masa lalunya, yang dia tahu Sasa adalah orang yang baru dia kenali beberapa hari terakhir ini.


Pandangan Fauzi sudah menemukan sosok Faiq saat ia memasuki tempat pertemuan yang sudah disepakati sebelumnya, memulai kepura-puraannya dengan menunjuk nomor meja yang sebelumnya ia katakan, diberitahu oleh orang yang ingin dia temui itu melalui pesan.


Jantung Faiq semakin bergemuruh saat sapaan Fauzi menyentuh pendengarannya.


“Maaf, anda yang di maksud oleh pak Fatir?” Tanya Fauzi memulai aktingnya, seolah ini adalah kali pertama ia bertemu dengan Faiq.


“Ah iya..”

__ADS_1


Faiq yang sudah setuju dengan rencana Fauzi mengenai mereka yang seolah-olah tidak saling tahu satu sama lain itu, mencoba memasang ekspresi se terkejut mungkin melihat Fauzi yang sekarang berdiri di depannya.


“Faiq???” Tanya Fauzi seolah memperjelas apa yang dia lihat sekarang ini. Fauzi dengan sengaja memberi penakanan pada suaranya saat menyebutkan nama Faiq untuk menarik perhatian Sasa yang berdiri di belakang Salwa.


Ya, Fauzi yang memperjelas penyebutan nama Faiq itu benar-benar mampu menarik perhatian Sasa, Sasa mengangkat wajahnya dan memastikan nama yang baru saja Fauzi sebut tadi.


“Fauzi? Ah aku sudah dengar namamu, tapi aku tidak pernah mengira kalau Fauzi yang di maksud itu adalah kamu”


“Wah, seharusnya kamu sudah menebaknya. Berbeda dengan aku yang memang tidak mendengar namamu, hanya disebutkan orang yang akan menggantikanku..” Kata Fauzi dengan akting yang dia usahakan mampu menipu Sasa.


“Ah silahkan duduk..” Faiq mempersilahkan dengan ramah, masih belum mengarahkan pandangannya pada Sasa yang dia sadari keberadaannya berada di belakang Salwa.


Fauzi melirik Sasa yang berdiri di belakang Salwa dan sepertinya benar tengah menyembunyikan dirinya itu. Fauzi menatap Sasa, seolah berbicara melalui telepati, mengucapkan kata maaf pada Sasa akan ketidaksengajaan yang terjadi dengan pertemuan bersama Faiq. Sasa hanya tersenyum, memberi tanda bahwa ia memaklumi keadaannya.


Ya, Fauzi berhasil menipu Sasa. Sebuah tindakan buruk, namun mengandung maksud tertentu demi kebaikan dua temannya yang sama-sama ia ketahui masih menyimpan perasaan satu sama lain. Usaha yang dilakukan Fauzi agar perasaan keduanya bisa tertebuskan.


“Anu.. Aku tidak tahu akan situasi ini, mungkin ini bisa di sebut sebagai reuni atau apalah. Hari ini aku datang bersama Salwa, kamu masih ingat kan?”


“Tentu, pacar kesayanganmu bukan?”


“Bukan, dia istriku” Jawab Fauzi tersenyum.


“Wah selamat. Haha ini nih yang kalau berantem ribet banget, akhirnya sekarang menjadi pasangan yang semoga tidak terpisahkan”


Nada bicara Faiq yang seketika berubah menjadi santai membuat Fauzi sedikit terkejut. Pasalnya mereka sudah menyetujui untuk berbahasa formal layaknya seorang yang dipertemukan oleh pekerjaan. Tapi ya sudahlah, Faiq yang terlanjur menggunakan bahasa santai itu, membuat Fauzi akhirnya turut berbalas dengan bahasa yang sama. Ya kan akan menjadi pembicaraan yang lucu jika dua frasa bahasa dalam obrolan itu berbeda.


“Hehe iya, makasih doanya. Dan juga...” Fauzi dengan sengaja memperlihatkan dirinya yang seolah-olah merasa canggung untuk menyebutkan keberadaan Sasa di tengah-tengah mereka.


“Kenapa?” Tanya Faiq dengan kepura-puraannya, mengikuti alur yang sedang dimainkan Fauzi.


“A-aku membawa teman lama yang lainnya..”


“Tidak apa, tidak masalah..” Jawab Faiq tersenyum masih memainkan drama yang sudah ia susun bersama Fauzi, meski hatinya sudah tidak karuan setelah menyadari keberadaan Sasa.

__ADS_1


“Dia Sasa” Fauzi memperlihatkan dirinya yang seolah canggung menyebutkan nama Sasa.


“Si-siapa???”


“Sasa..” Jawab Fauzi memperjelas.


Faiq berbalik, menatap wanita yang sedari tadi bersembunyi dibelakang Salwa. Detak jantungnya semakin kencang, bergemuruh dan nyaris membuatnya sesak. Ini bukan disebabkan oleh keterkejutan yang dia rasakan akibat kehadiran Sasa yang seolah tiba-tiba. Melainkan perasaannya yang mulai meluap, perasaan gugup yang semakin meledak dan campuran perasaan lainnya yang tidak bisa ia jabarkan dengan baik.


Perasaan yang tidak beda jauh dengan Sasa, dalam konteks yang berbeda. Sasa begitu terkejut mengetahui bahwa orang yang akan ditemui Fauzi hari ini adalah Faiq, laki-laki yang dulunya menjadi satu-satunya yang bertahta di hatinya, laki-laki yang ia cintai dulunya, mungkin juga sampai sekarang. Ada ketidaksiapan bagi Sasa untuk bertemu dengan Faiq secara mendadak seperti ini.


Sasa tidak berani mengangkat kepalanya untuk melihat laki-laki yang berdiri tidak jauh dari dirinya yang dia ketahui adalah Faiq. Berbeda dengan Faiq yang tidak mengalihkan pandangannya sama sekali dari Sasa, menatap wanita yang dicintainya tanpa berkedip dan dengan enggan mengalihkan pandangannya.


Wanita yang dicintainya kini hadir di depan matanya. Garis wajah yang begitu ia rindukan, kini terpampang nyata di depannya. Meski sudah melihatnya secara langsung dan sedekat ini, rindunya masih saja menggebu-gebu. Bukannya mereda, rindu itu semakin menjadi-jadi dan berfomulasi menjadi tidak hanya puas dengan melihatnya, melainkan ingin memeluk dengan erat seperti yang biasa ia lakukan beberapa tahun silam.


Fauzi yang melihat keadaan ini, hanya terdiam. Memberi waktu keduanya untuk mengatur perasaan masing-masing dan mempersilahkan keduanya untuk larut dalam rindu yang untuk sementara hanya bisa mereka tebus melaui tatapan dan suara.


Fauzi menarik pelan istrinya yang sedari tadi menjadi bagian penghalang pandangan Faiq pada wanita yang dicintainya bertahun-tahun itu. Salwa hanya menurut tanpa tahu apa yang terjadi. dan lagi, perasaan Faiq semakin meronta ingin menghampiri memeluk Sasa saat pandangannya menggapai Sasa dengan seluruhnya.


Ya perasaannya yang hanya bisa ia tahan untuk sementara saat ini. Sangat tidak etis bukan ketika ia berhambur seketika memeluk Sasa di pertemuan pertama mereka.


.


.


.


.


Huhu maafkan, yang pertama salah Up 😭


mau di hapus gak bisa 😥


Maafkan keteledoranku 🙏😩

__ADS_1


__ADS_2