
Salwa yang niat awalnya bertemu dengan Farhan untuk mengakhiri hubungan mereka berakhir tanpa hasil. Berkali-kali Salwa meminta untuk mengakhiri hubungannya dengan Farhan, namun berkali-kali juga Farhan menolak. Salwa yang tidak memiliki ketegasan pada Farhan akhirnya ikut larut dalam alur cinta segitiga antara dia dengan Fauzi dan Farhan. Sesekali Salwa merasa takut jika pada akhirnya Fauzi mengetahui tentang hubungannya dengan Farhan, namun karena sampai hari ini hubungannya dengan Farhan masih aman-aman saja membuat rasa takut yang awalnya selalu ada perlahan menjadi hilang dan terbiasa dengan hubungan cinta segitiga ini.
Farhan sendiri sadar akan posisinya, Farhan tahu dia salah berada diantara Fauzi dan Salwa namun perasaan Farhan yang sangat besar pada Salwa tidak bisa membuatnya menyerah begitu saja melepaskan Salwa. Harus bagaimana lagi, semua sudah terlanjur terjadi. Farhan sudah cukup lama menahan perasaannya sampai pada akhirnya malam itu, perasaan Farhan pada Salwa kembali meluap dan tanpa berfikir lagi milik siapa Salwa itu dia tetap meminta Salwa untuk menjadi kekasihnya. Bagian dari diri Farhan merasa menyesal dan merasa bersalah pada Fauzi sahabatnya, namun sesekali Farhan berusaha membenarkan perlakuannya dengan berfikir "Fauzi yang terlebih dahulu jalan dengan perempuan lain tanpa memperdulikan Salwa malam itu, jadi wajar saja aku sebagai laki-laki yang mencintainya tidak akan rela melihat perempuan yang kucintai menangis seperti itu"
.
.
.
.
Nina duduk tersungkur didepan Tv sambil membaca sebuah komik.
"Kamu ini mau nonton Tv atau baca komik sih Nak??" Tegur Ibunya sambil menutup buku komik yang dipegang Nina membuat Nina memperlihatkan wajahnya yang cemberut.
"Ya nonton Tv sambil baca komik lah Bu.. Tuh Papa saja nonton sambil baca koran.." Kata Nina tidak mau kalah. Ayah Nina yang merasa tersebut menoleh.
"Kenapa jadi ngikut-ngikutin Papa??"
"Buah jatuh kan gak jauh dari pohonnya.." Jawab Nina kembali membuka buku komiknya.
"Betul-betul anak sama bapaknya sama.." Keluh Ibu Nina.
"Engg Ninaa..." Ayah Nina melipat korannya memulai pembicaraan pada Nina.
"Kenapa Pa?" Tanya Nina tanpa mengalihkan pandangannya dari buku komik yang sedang dia baca.
Tidak ada kata-kata lagi yang terdengar dari Ayahnya. Nina mengarahkan pandangannya ke Ayahnya yang sepertinya sibuk berkode mata dengan Ibunya.
"Iya, kode-kode mata aja teruss..." Tegur Nina.
"Ngg Sayang, Mama mau nanya.."
__ADS_1
"Tanya apa Mah??"
"Kamu punya pacar??"
"Kenapa? Mama udah kepengen punya mantu??" Tanya Nina dengan wajah tidak senang.
"Kalau Papa sih mauu.." celetuk Ayahnya.
"Ish.. Nina masih kecil Pa.." Jawab Nina cemberut.
"Hem... Pertanyaan Mama belum dijawab.."
"Belum.. Kalau Mama kebelet punya mantu ya cariin aja Nina" Kata Nina santai sambil bersandar di sofa.
"Tuh kan Ma, anak kita itu emang butuh dicariin aja. Udah cocok kalau gituu.." Kata Ayah Nina penuh semangat.
"Cocok apanya?" Tanya Nina bingung.
Mata Nina seketika terbelalak.
"Ma maksud Papa??"
"Papa udah nemu calon mantu Papa" Jawab Ayahnya kesenangan.
"Lah ini serius Papa sama Mama udah kepengen punya mantu?? Nina masih kecil loh Pah.."Kata Nina mengeluh.
"Papa kan gak bilang nikahnya sekarang sayang, Papa cuman bilang kalau Papa sudah ketemu sama calon mantu yang Papa suka.."
"Itu kan yang Papa suka, bukan yang Nina suka.."
"Ya gimana kamu tahu suka atau enggak sayang kalau kamu belum ketemu sama orangnya" Jelas Ibunya.
"I ini.. Ma maksudnya Nina di jodohin gitu??"
__ADS_1
Ayah dan Ibunya hanya tersenyum membenarkan pertanyaan Nina.
"Ma Mama sama Papa serius??"
Ayah dan Ibunya mengangguk serempak.
"Mama pernah ketemu satu kali sama orangnya, ganteng loh Nak, putih dan tinggi.."
"Yah, Nina yang sawo matang begini disamain sama yang putih, yang ada Nina makin kelihatan gelap Mah.." Nina terus-terusan mengeluh.
"Hem.. Setidaknya ketemu dulu lah.." Saran Ayahnya.
"Iya sayang, kami gak akan maksa kamu kalau kamu gak suka sama dia, tapi setidaknya ketemu dulu ya sama dia.."
"Kalau Nina gak suka, boleh kan Nina bilang gak.."
"Tentu sayang.."
"Ya sudah terserah Papa sama Mama saja"
Berbeda dengan Farhan yang diberitahu masalah perjodohan lebih awal, Nina diberitahu sekitar setahun setelah Farhan. Yah, orangtua Farhan berusaha dengan keras mengulur waktu mengingat putranya sedang mencintai oranglain saat ini. Ayah Farhan mengatakan kalau Farhan masih terlalu mudah dan siap mempertemukan Nina dan Farhan saat Farhan sudah kuliah agar Farhan sudah lebih dewasa, karena itu juga yang membuat Ayah Nina untuk menunda memberitahu Nina lebih awal. Seusaha orangtua Farhan mengulur waktu, orangtua Nina yang sudah terlanjur suka pada Farhan akhirnya mendesak untuk mempertemukan mereka.
Ayah Farhan sangat mengerti keadaan putranya meski dia tidak terlalu dekat dengan Farhan, dia sendiri ingin membuat Farhan bersama dengan wanita yang dicintainya namun karena keluarga besarnya yang dari awalnya sangat senang menjodoh-jodohkan mereka akhirnya Ayah Farhan mau tidak mau menurut demi kebaikan Farhan sendiri. Ayah Farhan sempat berniat untuk melawan keluarga besarnya demi putranya, namun niat itu diurungkan setelah dia tahu kalau perempuan yang dicintai putranya ternyata milik oranglain, dan karena itu seperti Salwa yang menyembunyikan hubungannya dengan Farhan pada orangtuanya, Farhan juga menyembunyikan semuanya dari orangtuanya, apapun yang terjadi Farhan tidak pernah membiarkan Salwa untuk sampai dirumahnya. Yah, saat ini Farhan masih menyembunyikan Salwa tapi Farhan tetap berniat besar untuk membawa Salwa dalam hubungan yang serius bagaimanapun caranya.
.
.
.
Ala bisa karena terbiasa, ya seperti inilah yang terjadi pada hubungan Salwa dan Farhan. Salwa tidak lagi sekuat dulu untuk selalu membahas perpisahan dengan Farhan. Saat ini Salwa sedang menjalani hubungan long distance realitionship dengan Fauazi dikarenakan Fauzi yang sedang melanjutkan pendidikannya di kota lain. Karena tidak adanya Fauzi juga yang bisa selalu ada buat Salwa membuat Salwa perlahan-lahan mulai nyaman dengan Farhan yang dekat dengannya dan bisa selalu bertemu.
Hubungan Farhan dan Salwa yang disembunyikan dari orangtua masing-masing dan teman-teman Salwa tetap berjalan meski rintangan bukan hanya ada pada usaha mereka untuk menyembunyikan semuanya. Salwa dengan wataknya yang terbiasa dituruti oleh Fauzi terus-terusan mengharapkan hal yang sama dari Farhan. Ada masa ketika Salwa meminta Farhan untuk menjemputnya tapi karena kegiatan Farhan yang mendesak membuat Farhan tidak bisa seketika datang. Salwa marah dan kesal namun seketika rasa marah dan kesalnya menjadi sebuah ketakutan ketika Farhan berbalik marah dan mengabaikan Salwa begitu saja. Salwa sempat mempertanyakan perasaannya sendiri "Apa aku benar menyukai Farhan?? Aku merasa seperti ada yang hilang tanpa Farhan sekarang". Salwa yang tidak bisa membedakan perasaan cinta dan terbiasa dengan kehadiran Farhan akhirnya menyatakan perasaannya pada Farhan yang membuat hubungan perselingkuhan mereka semakin kuat dan seolah melupakan tentang keberadaan Fauzi.
__ADS_1