Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Review 47


__ADS_3

Perlahan kesadaran Fauzi menurun dan kembali tertidur karena menunggu Salwa yang terlalu lama. Fauzi sadar, Salwa yang terlambat menghampirinya dan terjebak dalam kamarnya itu karena sudah menemukan sesuatu disana. "Puaskan rasa ingin tahumu disana, saat kembali kesini nanti aku akan mewujudkan semua keinginan yang aku tulis dalam buku itu.."


.


.


Entah berapa lama Fauzi tertidur, perlahan dia membuka matanya dan yang pertama kali ditangkap oleh pandangannya adalah Salwa yang tertidur didepannya. "Punggungnya bisa sakit nanti.." Gumam Fauzi yang melihat Salwa tertidur hanya dengan menyenderkan kepalanya di tepi tempat tidur.


"Terimakasih sudah datang merawatku dan maaf karena harus membuatmu kerepotan hari ini, maaf juga karena sudah membuatmu khawatir tapi rasa khawatirmu itu membuatku senang..."


Fauzi terus-terusan memandangi Salwa yang sedang tertidur, tatapan cinta dan sayang mengalir begitu lembut dimatanya.


"Sudah bangun?" Tanya Fauzi saat Salwa mulai tersadar dari tidurnya.


"Sejak kapan kamu bangun?" Tanya Salwa ulang.


Salwa bergegas memberikan bubur yang tadinya sudah dia siapkan untuk Fauzi dan menyiapkan obat untuk Fauzi.


"Kamu bakalan tetap disini kan kalau aku sudah membaik?" Tanya Fauzi. Rasanya dia tidak ingin berpisah dengan Salwa hari ini.


Salwa terdiam sejenak.


"Ka kalau kamu sudah sembuh ya aku pulang lah, ngapain lagi aku tetap disini kalau kamu sudah sembuh" Jawab Salwa.


Fauzi menatap Salwa sejenak lalu mengalihkan pandangannya dan tertunduk. "Apa aku tidak harus sembuh agar bisa menahanmu tetap bersamaku disini?" Fauzi meletakkan sendoknya.


"Kenapa? Sudah kenyang? Tapi makanmu sedikit sekali.."


"Kalau aku makan terus minum obat, aku bakalan sembuh dan kamu akan pergi ninggalin aku. Aku mau kamu disini dulu, jangan pergi.." Jelas Fauzi menatap Salwa lekat.


Ingin tampil cool dan selalu menjaga image adalah hal yang selalu Fauzi lakukan didepan Salwa untuk membuat Salwa kembali tertarik padanya, namun hari ini pertahanan Fauzi untuk menjadi laki-laki keren seperti itu didepan Salwa runtuh. Dia tidak peduli lagi Salwa suka atau tidak, yang dia inginkan sekarang hanyalah Salwa yang bisa berada disisinya saat ini.


"Ke kenapa aku harus..."


"Apa kamu gak bisa nemenin aku sekali ini saja??"Tanya Fauzi dengan dengan memohon pada Salwa.


Melihat kondisi Fauzi yang seperti ini akhirnya Salwa mengiyakan untuk tetap tinggal menemaninya hari ini.


Fauzi tersenyum. "Makasih karena udah datang nemenin aku, dan makasih karena masih mau tinggal sebentar sama aku disini?"


Salwa hanya mengangguk tersenyum.


Beberapa hal mereka bahas, Fauzi sempat menanyakan perihal mengapa Salwa terlalu lama di dalam kamarnya hingga akhirnya.. "Aku harus mengatakannya sekarang karena tidak ada gunanya lagi untuk menundanya"


"Salwa, aku memulai lagi untuk masuk dalam kehidupanmu, aku ingin menjadi yang istimewa bagimu. Aku tahu tindakan ini egois karena sebelumnya aku pernah ninggalin kamu tapi percaya atau tidak, saat aku gak sama kamupun di waktu itu perasaanku tidak pernah berubah. Perasaan yang tetap mencintaimu seperti sebelumnya dan seperti hari ini.."

__ADS_1


Ekspresi Salwa berubah-ubah membuat Fauzi sulit menebak apa yang Salwa pikirkan.


"Aku akan melamarmu secara pribadi bulan depan, dihari ulangtahunmu.. Aku butuh jawabanmu dulu sebelum akhirnya melamarmu secara resmi pada orangtuamu.."


Fauzi akhirnya mengatakannya sebelum Salwa kembali mengambil kesimpulan sendiri dan membenarkan semua anggapan konyolnya.


Salwa hanya terdiam mendengar pernyataan Fauzi, pipinya mulai memerah dengan detak jantungnya yang mulai berdetak tidak karuan.


.


.


.


Waktu berlalu, hari ini adalah hari ulangtahun Salwa.


"Hufftt hari ini aku harusnya menepati janjiku pada Salwa, tapi ini...." Keluh Fauzi sambil menatap tumpukan dokumen-dokumen didepannya.


Besok adalah akhir pekan sehingga ada begitu banyak kerjaan yang Fauzi harus selesaikan sebelum berlibur dua hari kedepannya.


Fauzi kembali membuka-buka dokumen itu dan mulai mengerjakannya, berharap semua pekerjaan itu bisa selesai sebelum malam ini sehingga dia masih bisa meminta Salwa untuk bertemu dan melamarnya sesuai dengan janji yang dia ucapkan pada Salwa.


Dunia sedang tidak berpihak pada Fauzi hari ini, bahkan ketika waktu sudah menunjukkan pukul empat sore kerjaannya masih saja belum selesai, bahkan dia harus membawa beberapa pekerjaannya pulang kerumah.


Seharian sudah bekerja, dan lagi masih ada beberapa pekerjaan yang harus dia selesaikan saat ini. Fauzi benar-benar tidak bisa membawa Salwa keluar malam ini dan menyampaikan keinginan hatinya. Fauzi melirik setumpuk pekerjaannay diatas meja "Ck.. Kenapa banyak sekali sih????" Keluh Fauzi kesal.


Seperti biasa, ketika kebingungan yang seperti ini menghampirinya, Fauzi akan menelfon sesorang yang tidak lain adalah Ibu Salwa.


"Halo.."


"Halo Bu, maaf aku menganggu.."


"Tidak apa nak, ada apa??"


"Bagaimana keadaan Salwa hari ini?? Apa dia baik-baik saja??"


"Ibu sudah menebak kalau ini semua ada kaitannya denganmu.."


"Maksud Ibu??"


"Hem.. Salwa keliatan galau seharian, Ibu tidak tahu apa yang sedang terjadi sama dia.."


"I itu.. Mungkin Salwa kepikiran dengan apa yang aku katakan sama dia.."


"Memangnya kamu bilang apa??"

__ADS_1


"A aku.. Aku bilang untuk melamar Salwa dihari ulangtahunnya Bu, di hari ini..."


"Kamu serius?? Terus kenapa dia galau begitu kalau kamu mengatakan hal yang seharusnya membuatnya bahagia.."


"Ma maaf Bu, karena sampai malam ini aku belum juga mengatakannya sama Salwa.."


"Fauzi maksud kamu apa? Kamu bilang untuk melamar Salwa hari ini tapi kamu tidak melakukannya, kamu sengajaa.."


"Gak gak Bu.." Seru Fauzi memotong perkataan Ibu Salwa. "Aku ingin mengatakannya, hanya saja..."


"Hanya saja apa??" Terdengar suara Ibu Salwa yang sedikit kesal. Ya Ibu mana yang tidak kesal jika putrinya diperlakuakn seperti itu.


"Aku banyak kerjaan hari ini Bu, aku juga tidak ingin melamar Salwa tanpa mempersiapkan apa-apa seperti saat ini. Aku bisa saja menelfonnya sekarang, tapi aku ingin memberitahu Salwa dengan cara yang lebih baik.."


"Jadi kamu mau bagaimana??"


"Aku gak tahu Bu.. Aku bingung.."


"Hem.. Pikirkan itu sekarang, biar Ibu yang datang untuk bicara dengan Salwa malam ini agar perasaannya bisa lebih tenang..."


"Ah.. Iya bu.."


Telfon terputus.


"Bu.. Aku menelfonmu karena aku tidak tahu harus melakukan apa.. Ini malah aku disuruh mikir sendiri.."


Fauzi meletakkan ponselnya, memandangi langit-langit kamarnya dan berusaha mencari cara seperti apa yang harus dia lakukan.


"Berfikir berfikir berfikirrr Fauzii... Setidaknya sekarang Salwa sedang ditenangkan oleh Ibunya, jadi pikirannya yang suka aneh-aneh itu bisa teratasi.." Gumam Fauzi.


Cukup lama Fauzi berfikir sampai akhirnya..


Fauzi kembali menghubungi Ibu Salwa.


"Bu, maaf aku menganggu lagi.."


"Tidak apa, Ibu juga baru selesai berbicara dengan Salwa. Ada apa??"


"Bu, aku mau meminta izin sama Ibu untuk membawa Salwa subuh nanti, aku ingin melamar Salwa disuatu tempat tepat saat matahari datang.."


"Subuh??"


"Iya, tidak apa kan Bu??"


"Tidak apa, semoga besok adalah hari yang bahagia untuk kalian.."

__ADS_1


"Terimakasih Bu.."


Niat yang baik tidak seharusnya ditunda-tunda lagi.


__ADS_2