
Hari menjelang siang. Salwa baru saja selesai merapikan rumah yang sempat berantakan saat melakukan aktifitas paginya dalam menyiapkan segala kebutuhan suami dan anak tercintanya.
Salwa melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang 15 menit, yang menandakan 15 menit lagi Mikayla akan pulang sekolah dan dia harus segera menjemputnya.
Salwa bergegas keluar dari rumah, dia tak ingin Mikayla jadi menunggunya di sekolah. Namun belum beberapa langkah Salwa berjalan, ia bergegas kembali.
“Ah aku lupa mengunci pintu..”
Salwa membongkar tas kecil yang ditentengnya, berusaha menemukan kunci, yang seingatnya ia taruh dalam tas sebelum keluar rumah.
“Kok gak ada?” Keluh Salwa, masih sibuk mencari. “Astaga aku lupa, kayaknya masih didalam”
Salwa kembali masuk dan mempercepat langkahnya mengambil kunci rumah. Namun seperti hal umum yang terjadi pada manusia, semakin terburu-buru, semakin sulit menemukan sesuatu yang di cari.
Salwa hampir mengelilingi seluruh bagian rumahnya, mencari kunci rumah yang tak kunjung dia temukan. Rasa kesal mulai menghampirinya, ia begitu khawatir jika terlambat menjemput Mikayla, namun ia juga tidak bisa meninggalkan rumahnya dalam keadaan kosong tanpa dikunci.
“Astaga.. Ternyata ada disitu..” Gerutu Salwa, melihat benda yang sedari tadi dicarinya ternyata bergelantungan tepat ditempatnya dibalik pintu.
Salwa mempercepat langkahnya setelah sebelumnya ia begitu terlambat karena waktunya tersita oleh kegiatan mencari kunci, yang ternyata tetap berada di tempatnya itu. Salwa berjalan dengan tergesa-gesa sambil sesekali melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Jarak rumah dari sekolah Mikayla tidaklah begitu jauh. Untuk seusia Mikayla, jarak yang dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki itu, seharusnya bisa ia tempuh tanpa ditemani kedua orangtuanya, namun Salwa tidak pernah membiarkan putri semata wayangnya itu, berangkat dan pulang sekolah sendiri. Setiap paginya, Mikayla akan berangkat bersama Fauzi, dan pulang di jemput oleh Salwa.
Bruukk...
Karena langkah yang terburu-buru dan pandangan yang tidak sepenuhnya fokus pada jalan, Salwa sampai tidak sengaja menabrak seorang pejalan kaki lainnya. Namun karena berat badannya yang tidak sebanding dengan yang ditabraknya, Salwa sampai terhuyung dan jatuh tersungkur.
“Maaf, maaf.. Saya tidak sengaja”
Seseorang yang ditabraknya spontan merendah dan membantu Salwa untuk bangkit.
“Ah tidak apa-apa, saya yang terburu-buru sampai tidak memperhatikan jalan..”
“Ibu tidak apa-apa?”
Salwa hanya mengangguk dan tersenyum. Menjawab dengan isyarat yang menandakan dia baik-baik saja.
Salwa memungut tasnya yang terjatuh, membersihkan beberapa debu yang menempel dengan menepuk-nepuknya. Kembali mengangkat pergelangan tangannya dan melihat jarum jam yang makin mendekati pukul sepuluh.
__ADS_1
Sebelumnya semua baik-baik saja, niat yang akan ditujunya masih membekas dengan kuat. Penyebab ia terjatuhpun masih ia sadari yang dikarenakan terlalu terburu-buru ingin menjemput Mikayla. Namun dalam waktu sedetik, sesuatu telah berubah menjadi hal yang membingungkan.
Salwa mengangkat pandangannya setelah sibuk menepuk-nepuk tasnya, membersihkan beberapa debu yang menempel disana setelah terjatuh. Namun hal yang ia temui setelah kejadian singkat itu ialah, kebingungan yang menyebabkan ia buta akan tempat yang dipijakinya saat ini.
Salwa memandang sekitarnya dengan kebingungan. Berbalik ke kanan dan kekiri secara bergantian, hingga berputar untuk memastikan keadaan sekitarnya. Tempat yang seharusnya menjadi familiar itu, seketika berubah menjadi asing.
Salwa seperti orang yang tengah buta arah, buta lokasi. Dia merasa familiar dengan tempat itu, tapi tidak mampu membuatnya mengetahui lokasinya saat ini.
Tersesat. Ya, Salwa tengah tersesat di daerah yang bahkan tidak jauh dari rumahnya. Ia tidak tahu harus melanjutkan langkahnya kemana. Ia bahkan tidak ingat lagi, apa yang menyebabkannya berdiri mematung di tempat itu. Tujuannya untuk menjemput Mikayla juga hilang dari pikirannya.
Perasaan khawatir bercampur takut mulai menyerangnya. Pandangannya tidak lepas menyapu wilayah sekitarnya, namun benar-benar ia tidak bisa mengenali dan mengetahui dimana dia sekarang.
Beberapa pejalan kaki lainnya menatap Salwa dengan sedikit aneh. Tingkah Salwa yang terus-terusan memandang sekitarnya dengan ekspresi bingung, membuatnya menarik perhatian beberapa orang.
Salwa memaksakan dirinya untuk mengenali posisinya saat ini, tapi tak sedikitpun yang terbesit. Tas yang baru saja dipungutnya tadi, lepas dari genggamannya dan kembali jatuh.
“A-aku dimana?? Ke-kenapa aku disini??”
Salwa menepi, ia menepi tanpa menghiraukan tasnya yang tergeletak di tengah jalan. Satu-satunya yang di sadarinya saat ini adalah, dia yang akan tertabrak oleh pejalan lain jika terus-terusan berada ditengah jalan.
Tatapan kebingungan masih terpancar dimatanya, masih menatap sekelilingnya, berharap akan ada hal yang bisa ia kenali nantinya.
Salwa hanya mengangguk, ketika seseorang menyerahkan tas miliknya yang dia tinggal tergeletak di tengah jalan sebelumnya. Salwa memeluk tasnya dengan erat, tanpa tahu apa yang harus dia lakukan sekarang.
Ponsel yang Salwa letakkan dalam tasnya bergetar, membuat pandangan Salwa yang sedari tadi dia arahkan di sekitarnya, dialihkan pada tas dan mulai mencari ponselnya.
Satu pesan tampil di taskbar ponselnya, pesan yang dia abaikan begitu saja.
“Ah Fauzi..”
Tampilan foto Fauzi yang digunakan Salwa sebagai wallpaper ponselnya mengingatkannya, bahwa ada hal yang bisa dia lakukan sekarang untuk membantunya keluar dari kebingungannya akan tersesat yang dialaminya sekarang.
Salwa dengan cepat memanggil Fauzi. Namun lagi, bahkan setelah panggilannya di jawab oleh Fauzi, Salwa masih sibuk mengamati sekitarnya dan tidak menghiraukan panggilan Fauzi dari seberang telfon.
“Halo... Halo Salwa...”
Spontan perhatian Salwa teralihkan dan memandangi ponselnya setelah panggilan Fauzi dari seberang telfon menyadarkannya.
__ADS_1
“Fa Fauzi...”
“Iya kenapa sayang? Kamu kenapa???”
“A-aku... Aku tersesat..”
“Tersesat?? Tersesat dimana? Kamu mau kemana??”
Pertanyaan Fauzi kembali menyadarkan Salwa akan tujuannya, meski ia masih tidak bisa mengenali wilayah sekitarnya.
“Mikaylaa.. A-aku mau jemput Mikayla..”
“Kamu mau jemput Mikayla, dan kamu tersesat??”
Fauzi tidak mendapatkan jawaban yang sesuai dengan pertanyaan sebelumnya. Rasa takut Salwa membuatnya tidak lagi bisa menjelaskan mengapa ia bisa tersesat.
“Fa-Fauzi, aku gak tahu harus kemana. A-ku gak tahu..”
“Apa yang kamu lihat sekarang???”
“Ha??” Tanya Salwa bingung dengan pertanyaan Fauzi yang tiba-tiba.
“Apa yang bisa kamu lihat sekarang?? Ada apa disana??”
Salwa kembali memutar pandangannya, berusaha menemukan sesuatu yang bisa dia sebutkan pada Fauzi, padahal sedari tadipun dia sudah memandangi sekitarnya.
“La-lapangan.. To-toko yang bergambar bayi dan..”..
“Kamu tidak tahu tempat itu??”
“Ti-tidak.. Fauzi cepat kesini, aku takut..”
“Oke.. Tetap disitu, jangan kemana-mana, aku kesitu sekarang. Jangan matikan telfonnya!!”
“Iya...”
Salwa terus memegang ponselnya, sesekali menjawab ketika Fauzi memanggilnya. Beberapa pertanyaan Fauzi, tidak sepenuhnya ia gubris. Salwa hanya memegangi ponselnya sembari terus memandang ke kanan, bergantian ke kiri menunggu sembari mencari keberadaan Fauzi. Salwa bahkan tidak tahu, suaminya itu akan datang dari arah kanan atau kiri, ia benar-benar buta akan lokasinya saat ini.
__ADS_1
Wajah yang diselimuti dengan eskpresi bingung bercampur kekhawatiran yang sedari tadi tak lepas dari wajah Salwa, perlahan memudar dan berganti dengan senyuman kecil, tatkala pandangannya mulai mendapati Fauzi yang telah memarkir mobilnya di seberang jalan dan berlari kecil menghampirinya.
Ada perasaan lega bagi Salwa setelah melihat keberadaan suaminya, ekspresi yang sangat berbeda dari Fauzi yang sangat mengkhawatirkan istrinya saat ini.