Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Friend..


__ADS_3

Malam semakin larut tapi aku dan Nina masih sibuk dengan percakapan kami. Nina memberiku sedikit gambaran tentang langkah apa yang baik aku ambil kedepannya. Aku merasa Nina mengatakan itu hanya untuk membuatku tenang saja, meski begitu Nina terus-terus membuatku untuk mencoba berharap sekali lagi.


"Kalau kamu mau menyerah untuk berharap sama kak Fauzi aku yakin kamu gak akan bisa. Perasaanmu terlalu besar sama kak Fauzi, jadi menyerah untuk mengharapkannya pun sia-sia karena kamu masih terus-terusan menyimpan rasa cintamu pada kak Fauzi. Jadi yang bisa kamu lakukan sekarang adalah tetap berharap dengan terus berusaha menjadi lebih baik lagi. Agar kalau kak Fauzi kembali kamu tetap terlihat pantas buat ngedampingi dia"


"Tapi Nin, sampai sekarang aku tidak pernah tau kabar kak Fauzi"


"Dengar aku Wa, keluarga kak Fauzi sekarang ada di Mamuju sama dengan keluarga kamu. Suatu hari nanti kamu akan kembali kesana untuk ketemu sama keluargamu dan begitu juga sama kak Fauzi. peluang kalian untuk bertemu itu masih besar dan dengan perasaanmu yang seperti itu aku yakin kamu akan tetap mencintai kak Fauzi sampai di hari kalian bertemu nantinya"


Aku berfikir sejenak. Tidak ada yang salah dari apa yang dikatakan Nina. Aku mau menyerah pada perasaanku ke Fauzi pun tidak akan sanggup, jadi benar aku tidak ada pilihan lain selain berharap suatu hari nanti Fauzi kembali padaku. Aku hanya perlu menjalani hari-hariku menjadi lebih baik lagi agar nanti saat Fauzi kembali aku tetap terlihat sebagai perempuan yang pantas untuknya.


Aku tersenyum dan Nina balas tersenyum.


"Gimana? Udah ngerti sama yang aku maksud?" Tanya Nina.


Aku mengangguk.


"Ingat ya Salwa sayang, sejauh apapun kamu terpisah dengan kak Fauzi sekarang ini, sebuta apapun kamu dengan kabar kak Fauzi saat ini, kalau dia benar jodohmu suatu hari nanti dia akan datang kerumah orangtuamu untuk meminta hak tanggung jawab orangtuamu untuk di jadikan kewajibannya. Berdoa saja perasaan tulus dan cintamu ini bisa sampai pada kak Fauzi. Aku juga yakin, kak Fauzi tidak akan mudah ngelupain kamu karena aku tau betul seperti apa kak Fauzi menyayangimu"


"Makasih Nina, perasaanku sekarang jadi lebih baik.."


Nina kembali memelukku.


"Ingat, ada aku yang diciptakan Tuhan sebagai sahabatmu tempatmu untuk berbagi segala keresahanmu, jadi jangan disimpan sendiri.."


"Iya, selama aku selalu menyimpannya sendiri sampai akhirnya aku terpuruk terlalu lama. Tapi sekarang aku gak akan seperti itu.."


"Uwu anak yang baik.."


Perasaanku benar-benar lega setelah menceritakan semuanya pada Nina dan Nina yang memberiku semangat membuatku menjadi lebih baik lagi.


"Oh ya Nin, tadi kamu bilang kak Farhan nyusulin kamu? Nyusulin kemana?"


"Ke tempatku lah.."


"ketempatmu? Kamu gak tinggal disini?"

__ADS_1


"Gak Salwa, aku kuliah di Palu. Jadi waktu itu kak Farhan terbang dari Makassar ke Palu buat ngebujuk aku yang lagi ngambek. Uwuuu pacarku ternyata romantis sekali, gak kalah sama oppa oppa yang biasa kita nonton di drakor.."


"Jadi kamu disini?"


"Cuman nambah liburan, hehehe.. "


"Kamu bukannya balik ke Palu malah kesini? Kuliahmu gimana?"


"Mumpung ngambil cuti ya sekalian aja nambah-nambah libur kan. Lagian aku kangen sama kak Farhan.."


"Ck setelah kupikir-pikir bukan kak Farhan aja yang bucin. Kamu juga kayaknya bucin deh.."


"Serah lah apa namanya, mau bucin atau apapun itu aku gak peduli. Namanya juga orang lagi di landa cinta, gula merah aja bisa rasa coklat.."


"Ck ck ck.. Serah kamu deh Nin.." Kataku sambil melempar bantal ke wajah Nina. Nina balas melempariku dengan bantal.


Apa yang aku simpan semuanya selama ini akhirnya aku keluarkan. Andai saja hari itu aku bisa berfikir jernih dan tidak menutup diri sampai terpuruk mungkin aku bisa lega lebih cepat dengan bercerita pada Nina hari itu juga. Tapi percuma juga aku menyesalinya, dengan menyesali hal sudah berlalu tidak akan bisa mengubah kenyataan yang ada sekarang, tapi dengan memikirkan hal yang sudah berlalu itu bisa membuatku mengambil tindakan yang lebih baik kedepannya.


Aku juga seharusnya tidak bisa serta merta menyesali waktu itu, toh dengan aku yang terpuruk waktu itu bisa membuatku menyadari sejauh apa perasaanku pada Fauzi sehingga aku tidak bimbang hari ini untuk memutuskan tetap melanjutkan harapanku untuk bisa bersama Fauzi nantinya.


Semua sudah menjadi takdir yang sudah diatur. Sekarang tinggal aku menjalani takdir dari pilihanku waktu itu dan kembali menentukan pilihan hari ini untuk menentukan takdirku kedepannya.


Aku kembali teringat, kata-kata Fira hari itu. Dia bilang Fauzi mengejarku tapi sekuat apapun aku mencoba mengingat aku tetap yakin kalau aku tidak melihat Fauzi yang mengejarku malam itu.


.


.


.


Entah jam berapa aku tertidur semalam, setelah sesi curhat-curhatan dengan Nina kami lanjut saling melempar candaan dan meceritakan hari-hari yang kami lalui setelah lulus SMA. Tentu saja tidak banyak yang bisa aku ceritakan mengingat aku cukup depresi waktu itu, berbeda dengan Nina.


Meskipun aku tidur terlambat semalam, tapi aku tetap harus bangun pagi untuk mengerjakan laporanku dan belajar untuk mempersiapkan respon pintu sebelum masuk praktikum nantinya.


"Kamu bangunnya pagi sekali.." Keluh Nina yang baru terbangun.

__ADS_1


"Oh udah bangun. Mau sarapan pakai apa?"


"Apa ya? Nanti aku telfon kak Farhan deh minta anterin makan kesini.." Kata Nina dengan suaranya yang terdengar masih mengantuk


"Manjah deh.." Ledekku.


"Karena aku udah disini jadi kak Farhan harus memperlakukan aku dengan baik, termasuk nyiapin makananku.."


"Yasudah, telfon kak Farhan gih. Sekalian nanti aku numpang ke kampus sama kak Farhan. He he he"


"Oke.. Harusnya bisa sih kamu setiap harinya berangkat ke kampus samaan sama kak Farhan, kan kalian searah, lumayan uang ojekmu bisa buat beli kebbutuhan yang lain.."


"Ck sejak kapan seorang Nina bisa berfikiran seperti itu, wah setelah kuliah pikiranmu lebih bisa meminimalisir uang ya??" Ejekku.


"Ck, aku ini anak ekonomi Salwa, pikiran-pikiran seperti itu sudah jadi pikiran dasar kepalaku.."


"Ha ha ha serah katamu, yasudah cepat hubungi kak Farhan, aku mandi dulu.."


"Heemm..."


.


.


.


Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan Nina setelah satu tahun kami tidak pernah bertemu. Banyak hal yang bisa aku ceritakan padanya yang membuat perasaanku menjadi lebih baik.


Pagi ini sebelum ke kampus, aku dan kak Farhan mengantar Nina ke Bandara. Semoga perjalanannya aman dan nyaman sampai tujuan.


.


.


.

__ADS_1


Maaf episode ini tidak efektif :'(


__ADS_2