Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Flashback : Story of Faiq & Karin (8)


__ADS_3

Faiq tidak tahu akan apa yang dia rasakan sebelumnya. Rasa nyaman yang dia rasakan saat bersama Karin masih ambigu sehingga membuatnya kebingungan. Satu hal yang pasti menurutnya, bahwa Karin adalah perempuan baik yang tidak akan mempermasalahkan masa lalunya yang buruk.


Pikirannya terus menghubung-hubungkan apa yang ia dengar dari Ayahnya dan apa yang menjadi jawaban Karin saat ini, juga dari apa yang sudah ia lalu bersama Karin yang di saksikan langsung oleh indra penglihatan dari kedua bola matanya. Faiq akhirnya menyimpulkan dari semua yang telah Faiq kumpulkan dari mendengar jawaban Karin, juga dari kemungkinan-kemungkinan yang sudah Ayahnya jabarkan semalam, bahwa benar Karin adalah perempuan baik yang belum tentu bisa ia dapatkan lagi jika ia sia-siakan saat ini.


Faiq mulai menepis keberadaan Sasa, dia berpikir rasional dengan memahami yang terjadi saat ini. Benar kata Ayahnya, jangan sampai ia menyesal karena telah mengabaikan keberadaan Karin yang begitu baik, hanya karena mempertahankan perasaannya pada Sasa, yang keberadaannya pun dia tidak tahu sekarang.


Meski tidak berpikir lebih jauh, Faiq akhirnya memutuskan untuk menggunakan kesempatan yang diberikan untuknya berupa Karin, dan melepaskan hal yang tidak pasti. Dia percaya, Karin adalah orang yang dikirim untuknya, sebagai pengganti Sasa yang sudah lama hilang.


Cintanya memang masih mekar subur untuk Sasa, namun realita sudah tidak menjajikan jika cintanya itu bisa membuatnya bahagia di kemudian hari. Saat ini, meski baru pucuk muda, namun Karin bisa memberinya gambaran akan masa depannya yang bisa lebih baik. Ya, tidak banyak wanita yang bisa memahami seperti Karin yang begitu mengerti akan dirinya, dia tidak boleh egois dengan merajakan perasaannya dan meterbelakangi akal dan fakta yang ada.


Faiq tidak bisa menolak kebenaran yang Ayahnya katakan setelah mendengar sekali lagi penjelasan Karin. Tidak lagi Faiq berpikir dua kali, tanpa aba-aba ia mengeluarkan kata-kata yang sangat jelas meminta Karin untuk berada di sisinya selamanya, ingin menjadikan wanita yang begitu memahaminya itu sebagai perempuan yang akan membawanya keluar dari belenggu perasaannya pada Sasa, dan memulai semuanya dari awal dalam bentuk nyata.


“Kamu tidak mempermasalahkan masa laluku, dan kamu mendukungku. Apa salah kalau aku bilang, kamu adalah perempuan baik itu?” Faiq perlahan mengungkapkan keinginan hatinya untuk memiliki Karin.


Karin tercengang, kedua kelopak matanya sercara refleks melebar. Ia berusaha menyadarkan dirinya akan apa yang baru saja dia dengar.


“Kalau aku meminta kamu menjadi ‘perempuan baik’ untuk terus mendukungku dan menemaniku, apa kamu mau? Apa kamu mau menjadi istriku??


Kelopak mata Karin dua kali lipat lebih lebar dari biasanya. Perkataan Faiq benar-benar membuatnya terkejut.


“Apa ini sebuah lamaran?” Karin berusaha memahami apa maksud dari perkataan laki-laki yang tiba-tiba saja memintanya menjadi perempuan dengan gelar istri untuknya.


“Ka-kamu bilang apa??

__ADS_1


Ia terlalu syok mendengar perkataan Faiq, sehingga ia bertanya ulang untuk memperjelas apa yang baru saja indra pendengarannya itu dapat.


“Aku minta kamu buat jadi istriku. Kamu memenuhi kriteria sebagai ‘perempuan baik’ yang kamu katakan tadi. Kamu mendukungku, dan memberiku semangat. Jadi, apa sekarang aku salah kalau aku memintamu menjadi istriku??”


Karin masih saja syok, belum bisa mencerna dengan baik sepenuhnya apa yang Faiq katakan.


“I-ini sebuah lamaran?” sekali lagi Karin meminta Faiq untuk memperjelas apa yang baru saja dikatakannya.


Faiq mengangguk pelan.


“Ke-kenapa tiba-tiba??”


“Tidak semua orang butuh waktu lama untuk mengambil keputusan dalam memilih calon pengantinnya. Aku merasa kamu yang terbaik, jadi aku tidak ingin buang-buang waktu lebih lama”


“Kalau begitu, aku akan memberimu waktu untuk memikirkan apa yang baru saja aku katakan. Aku tahu kamu kaget dan masih tidak percaya sama apa yang aku katakan, jadi pikirkan dulu hal ini baik-baik, aku akan menunggu jawabanmu” Kata Faiq, disusul dengan senyum manisnya.


Karin masih melongo dengan rasa terkejut yang belum bisa ia atasi.


.


.


.

__ADS_1


.


Masih menggunakan baju yang sama dengan baju yang ia kenakan saat di kantor tadi, rasa terkejut yang dia rasakan membuatnya tidak memiliki tenaga untuk sekedar membersihkan tubuh dan berganti pakaian.


Karin masih sulit pecaya dengan apa yang dia dengar dari mulut Faiq tadi, ia bahkan memberi sengatan kecil dengan mencubit pelan lengannya, untuk menyadarkannya apakah ini mimpi atau benar ini nyata.


Setelah lelah menyadarkan diri, perlahan pikiran Karin mulai melayang-layang tak jelas dan tidak tentu arah. Namun sejenak saja, karena pikiran yang beranjak sejenak itu telah kembali dan lagi bermain disekitar apa yang terjadi padanya siang tadi.


Karin terbangun, dan mulai memikirkan mengenai jawaban apa yang harus ia berikan pada Faiq. Otaknya mulai berperan penting, berpikir keras agar kiranya ia tidak salah mengambil langkah untuk menjawab pertanyaan Faiq yang bisa dikatakan sebagai lamaran itu.


Bayangan Faiq mulai muncul dipikirannya. Ingatannya kembali pada masa dimana dia pertama kali bertemu dengan laki-laki yang baru ia kenal beberapa bulan itu. Ia mulai memikirkan akan hal apa yang terjadi jika dia menerima lamaran Faiq ataukah menolak.


Jelas sekali ia tidak memungkiri kalau ia merasa kagum pada Faiq, namun ke kagumannya hanya sebatas itu saja. Sebuah rasa kagum yang tetap bertahta sebatas itu, tanpa berformulasi menjadi rasa cinta atau sayang. Karin mengakui akan kenyaman yang dia rasakan saat bersama Faiq, namun ia masih sadar bahwa kenyamanan yang dia rasakan itu bukan rasa nyaman yang berlandaskan cinta, itu hanya rasa nyaman yang dia dapatkan dari seorang teman saja.


Jika ia mengambil keputusan menggunakan perasaannya, jelas ia tidak akan menerima Faiq karena ia sama sekali tidak memiliki perasaan dalam bentuk cinta pada laki-laki yang melamarnya siang ini, dia hanya menganggap Faiq sebagai teman berbagi waktu pada jam istrahat dan teman berbagi cerita.


Namun, jika Karin menggunakan logikanya, pastilah jawaban yang dia miliki adalah menerima lamaran Faiq. Jika dipikir, apa yang kurang dari Faiq. Dia adalah pengusaha muda yang sukses, meski belum memegang perusahaannya sendiri, dia menyenangkan untuk hal berbagi cerita, materinya tercukupi dan jelas jika masalah visual, wajah tampan Faiq tidak lagi di ragukan.


Selain itu, ia akan merasakan kebanggan sendiri jika bersama Faiq, karena dari banyaknya wanita yang melirik dan menyukai Faiq, tapi dialah yang menjadi pilihan Faiq untuk mendampinginya. Dia akan menjadi wanita yang beruntung karena telah dipilih oleh laki-laki yang disukai banyak wanita. Sebegai perempuan, ini memiliki kebanggan tersendiri.


Karin mulai memikirkan pilihannya. Ia akan menikah dengan laki-laki yang tidak atau mungkin belum dia cintai itu, namun bisa memberinya kehidupan yang baik. Ataukah menolak, dan dia akan kehilangan kesempatannya untuk bisa menjadi perempuan beruntung karena telah dipilih oleh Faiq.


Karin masih memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, hingga akhirnya dia memilih untuk menerima lamaran Faiq. “Toh jika masalah perasaan, perlahan juga akan muncu seiring berjalannya waktu” Pikirnya

__ADS_1


__ADS_2