Dear, Jodohku!!

Dear, Jodohku!!
Terang-terangan??


__ADS_3

Aku duduk tersungkur dikursi, berusaha memahami apa saja yang baru aku baca. Apa memungkinan hubungan antar teman tapi saling memanggil dengan panggilan romantis yang seperti itu.


Aku tidak ingin berfikiran yang negatif pada Farhan, tapi tidak ada pikiran yang lain terbesit dikepalaku selain bahwa Farhan sedang selingkuh dariku.


Perlahan airmataku menetes, ada rasa sakit yang tidak bisa aku jabarkan rasanya, aku seperti sedang memergoki kekasihku sedang berselingkuh.


Kulihat Farhan dari kejauhan berjalan menghampiriku sambil membawa beberapa botol minuman dan cemilan, aku menyeka airmataku berusaha tenang.


"Maaf lama, pemebelinya lumayan banyak mungkin karena gak banyak penjual yang buka.." Kata Farhan sambil menyodorkan sebotol air padaku. Aku mengambilnya.


"Udaranya cukup panas, padahal kukiranya akan sedikit sejuk karena kita sedang berbaur dengan alam.." Komentar Farhan. Aku terdiam saja.


"Kamu kenapa?" Tanya Farhan yang melihatku tidak merespon perkataannya dari tadi. "Kamu sakit?" Tanyanya kemudian. Aku menggeleng. "Lalu kenapa?"


Aku mengangkat wajah memandang wajah Farhan yang terlihat bingung. "Kak,bagaimana tanggapan kakak kalau suatu hari nanti kakak tau kalau pacar kakak selingkuh?"


"Ka.. kamu tumben nanya gini? Ada apa?"


"Jawab aja.."


"Kamu lagi mencoba melihat sudut pandang Fauzi dari hubungan kita?"


Aku menggeleng.


"Terus?" Tanyanya bingung.


"Kalau suatu hari nanti kakak ngedapatin aku lagi selingkuh, gimana pendapat kakak?"


"Ini kamu udah selingkuh.. Dan aku bisa menerimanya.."


"Iya, kakak bisa menerima karena yang jadi selingkuhan itu kakak... Aku tanya gimana kalau semisal suatu hari nanti kakak yang diselingkuhi?" Tanyaku menatapnya lekat. Farhan mengalihkan pandangannya.


"Aku pasti marah, kesal, sedih, dan... Tunggu.." Farhan tidak melanjutkan kata-katanya. "Kamu mau aku ngebayangin posisi Fauzi sekarang?" Tanyanya.


Aku menggeleng "Gak.. Ini gak ada hubungannya dengan Fauzi.."


"Terus.."


"Kak, kakak tau kan kalau sekarang aku beneran sayang sama kakak.. Bukan perkara mudah buat aku bisa sayang sama kakak seperti ini, aku mengabaikan perasaanku sama Fauzi dan mengarahkan perasaanku yang sebenarnya ke kakak.."


"Iya aku tau, aku sangat bersyukur kamu udah sayang beneran sama aku.. lalu kenapa?"


"Aku yang harusnya tanya kenapa kak.." Airmataku mulai menangis..


"Ka kamu kenapa sayang?" Kata Farhan berusaha membantu menyeka airmataku, tapi aku dengan cepat mengalihkan wajahku.


"Aku yang harusnya tanya kenapa? Kenapa setelah kakak tau tentang perasaanku, kakak malah ngelakuin ini ke aku.. Apa kakak sengaja? Apa aku cuman trophy yang sedang berusaha kakak dapatkan yang setelah kakak dapatkan kakak abaikan begitu saja?"


"Maksud kamu??"


Aku kembali memandang wajah Farhan dengan airmataku yang masih saja menetes terus-menerus.


"Kak, aku ini apa buat kakak?"

__ADS_1


"Kamu? Kamu kekasihku Salwa, kamu kenapa tanya-tanya hal seperti ini? Ada apa?"


"Kenapa kakak selingkuh?" Tanyaku semakin tidak bisa membendung airmataku. "Dulu kakak udah pernah ngeliat aku yang buruk setelah ngeliat Fauzi dengan perempuan lain, kakak yang datang untuk nenangin aku waktu itu, tapi kenapa kakak yang ngebuat aku ngerasain hal yang sama sekarang?"


"Maksud kamu apa? Siapa yang selingkuh?"


"Tadi ada yang nelfon kakak, perempuan, dan dia..." Aku mengalihkan padanganku.


"Siapa?" Tanya Farhan.


Aku terisak, tidak bisa menjawab pertanyaan Farhan lagi. Farhan meraih ponselnya dan mengecek panggilan masuknya.


"Key? Key bilang apa sama kamu?"


Aku menggeleng..


"Terus ada apa?"


"Aku mau pulang.." Kataku menyeka airmataku dan beranjak.


"Salwa.." Farhan menahanku "Kamu kenapa? Apa yang Key bilang?"


"Key itu siapa?"


"Key? Dia temanku.. Memangnya kenapa?"


"Teman?"


"Iya teman.."


"Oh, itu bukan seperti apa yang kamu pikirkan, Key memang seperti itu ketika memanggilku, bukan aku saja tapi dengan teman yang lain juga Key seperti itu.."


"Lalu kenapa kakak jawabnya dengan panggilan sayang juga?? Apa kakak manggil sayang kesemua teman perempuan kakak juga.."


"Bu.. bukan begitu Salwa.. Aku..."


"Kenapa sekarang?? Kenapa sekarang kakak harus seperti ini? Kenapa setelah aku benar-benar sayang sama kakak, kakak ngelakuiin ini sama aku? Kenapa kak?" Tanyaku beruntun sambil terisak-isak menangis.


"Salwa.. Gak ada maksud yang lain, aku hanya terbawa suasana saat manggil Key dengan panggilan sayang juga.. gak ada hal lain seperti yang kamu pikirkan.."


"Kita sudahan saja.." Kataku melangkah. Serentak Farhan menarik tanganku dan memelukku. Aku memberontak.. "Lepaskan..."


Farhan tidak menjawab, Farhan semakin mempererat pelukannya.


"Lepaskan, lepaskan aku..." Kataku terus memukuli Farhan. Farhan terdiam saja menerima pukulanku dan tetap mempererat pelukannya.


Aku menyerah, aku berhenti memukulnya meski airmataku terus mengalir.


"Maafkan aku Salwa, aku benar-benar tidak seperti yang kamu fikirkan, dia hanya temanku. Tolong jangan minta sudahan. Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi aku janji.." Kata Farhan terus memelukku.


"Lepaskan.. aku mau pulang.."


"Gak, aku gak akan ngelepasin kamu sebelum kamu percaya sama aku, maafin aku.. aku gak akan seperti itu lagi.."

__ADS_1


Aku hanya terus-terusan menangis dipelukan Farhan.


.


.


.


Waktu jam pelajaran terakhir selesai, guru tidak ada hentinya mengingatkan kami tentang Ujian Sekolah dan Ujian Nasional yang semakin dekat, hampir tiap akhir pelajaran guru-guru akan mengingatkan kami itu.


Kemarin Farhan mengantarku pulang, aku mengiyakan Farhan mengantarku pulang karena seperti biasa Farhan orang yang cukup nekat. Tidak sekali dua kali Farhan memelukku ditempat umum dan aku harus mengiyakan agar Farhan melepas pelukannya. Sepanjang perjalanan Farhan mengantarku pulang aku terdiam saja. Farhan juga tidak banyak bicara.


Aku keluar dari kelas dengan lusuh, kejadian kemarin masih saja mengangguku. Semalam beberapakali Farhan menelfonku tapi aku mengabaikannya saja, beberapa pesan singkat dikirim oleh Farhan juga tapi aku juga hanya mengabaikannya. Moodku sangat buruk hari ini, rasanya aku hanya ingin cepat-cepat pulang dan rebahan dirumah.


"Salwa.."


Aku menoleh mendengar seseorang memanggilku. Kulihat Farhan berjalan mendekatiku, aku berjalan menjauhinya.


"Salwa tunggu.." Panggil Farhan mempercepat langkahnya menahanku. "Ayo aku antar pulang.."


"Aku mau pulang sendiri saja.."


"Gak, ayo aku antar pulang.."


"Gak, aku mau pulang sendiri.."


Farhan menarikku tanpa persetujuanku.


"Lepasin..." Kataku sambil menarik tanganku.


"Salwa, kalau kita seperti ini disni akan ada beberapa teman yang melihat kita apa kata.."


"Terserah.. aku tidak peduli.."


"Iya, tapi aku yang peduli.. " Kata Farhan terus menarikku menuntunku menuju mobilnya.


"Aku bilang gak mau.." Aku menarik tanganku dengan kuat sampai pegangan Farhan terlepas.


"Ada yang ingin aku omongin sama kamu Salwa.."


"Apa? bilang aja.."


"Gak bisa disni.. ayo kita bicarakan dimobil.."


"Gak.." Tolakku dengan tegas.


"Ada seseorang juga yang menunggumu di mobil.."


"Siapa?"


"Ayo ikut.."


Karena penasaran, aku akhirnya mengikut Farhan menuju mobilnya. Farhan membukakan pintu mobilnya.

__ADS_1


"Kenapa? Apa inign terang-terangan sekarang??" Tanyaku ketika melihat seseorang didalam mobil Farhan.


Aku menatap Farhan dengan lekat, rasanya kesal sekali..


__ADS_2